Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
39. Pengakuan Celine


__ADS_3

Hans dan Lily mendapatkan kabar dari Anha perihal kejadian buruk yang menimpa Celine. Tanpa banyak membuang waktu, mereka langsung datang menemui Celine di rumah sakit. Awalnya Celine kaget, ia tidak tahu jika Anha yang sudah memberitahukan pada kedua mertuanya. Setelah Lily menjelaskan, barulah Celine paham.


" ... astaga, ini membuatku sakit kepala." keluh Lily.


"Duduklah, Ma. Jangan panik seperti itu. Aku baik-baik saja." kata Celine tersenyum.


Mata Lily berkaca-kaca, "baik dari mana? lihat wajah dan tubuhmu, sayang." kata Lily sedih.


"Di mana Hezkiel, Celine?" tanya Hans, Papa Hezkiel.


"Sudah pergi, Pa. Aku menyuruhnya pergi." gumam Celine sedih.


Lily mengeryitkan dahi,"Kau menyuruhnya pergi?" ulang Lily.


Hans juga mengertnyitkan dahi, "Kenapa, Nak? apa sesuatu terjadi? coba kau jelaskan." kata Hans.


"Apa kalian bertengkar? terjadi sesuatu? Iya, kan?" cecar Lily penasaran.


Celine menatap Lily dan Hans bergantian. Ia ragu, tetapi ia tidak bisa tinggal diam. Ia merasa sangat kecewa dengan tindakan Hezkiel.


"Mungkin ini waktunya. Aku akan akhiri pernikahanku dengan Hezkiel segera. Aku sudah tidak tahan lagi, ini terlalu menyakitkan. Jika hubungan mereka hanya sebatas kekasih, aku masih bisa diam dan menerima. Jika sudah ada pernikahan ... rasanya sulit aku bisa menerima. Aku ingin bercerai, Pa, Ma." kata Celine tanpa ragu.


Lily dan Hans kaget. Ia tidak tahu apa maksud ucapan Celine.


"Nak, kau bilang mereka? siapa?" desak Hans.


"Umh ... itu, Hezkiel dan Monna." jawab Celine ragu-ragu.

__ADS_1


"Apa?" Hans dan Lily bersamaan menyahut. Mereka tampak kaget.


Lily dan Hans lalu saling memandang. Hans menyipitkan mata, dan Lily langsung memasang wajah kesal.


"Jangan katakan Monna mantan kekasih Hezkiel," kata Hans.


Celine menganggukkan kepala, "Ya, Pa." jawab Celine setengah menunduk.


Celine pun langsung menceritkan semuanya. Dari awal sampai akhirnya terjadi kejadian buruk yang membuatnya harus kehilangan calon bayinya.


"Tidak lama setelah pernikahan kami, Hezkiel membawa Monna ke rumah. Ia memperkenalkan padaku Monan sebagai kekasih. Aku kira dia hanya laki-laki yang hanya sekedar bermain-main dengan wanita. Aku mengerti, sejak awal kami menikah memang tanpa rasa apapun. Kami menjalani pernikahan bisnis. Aku melihat, Hezkiel sangat dekat dan sangat menyayangi Monna. Lantas, Hezkiel mengatakan jika Monna adalah kekasihnya sejak lama. Karena Papa dan Mama tidak merestui keduanya, mereka menjalin hubungan rahasia. Jujur saja aku kesal, tetapi aku tidak punya pilihan menolak keinginan putra Papa dan Mama, karena tidak mau bertengkar. Aku cukup puas, hanya dengan menyandang status Nyonya rumah. Setidaknya ... saat itu aku berpikir, aku bisa bebas dari tekan keluargaku." Celine menyeka air matanya yang jatuh. Ia lalu, kembali bercerita, "Aku dan Monna sering kali bertengkar. Monna selalu mencelaku sebagai istri yang tidak dicintai suaminya. Sedangkan dia membanggakan diri karena bisa memiliki Hezkiel sepenuhnya. Aku lagi-lagi hanya bisa menyimpan rasa kesal dan marahku seorang diri. Apa yang dikatakan Monna memang kebenaran, dan aku tidak bisa menyangkalnya. Kemarin, entah mengapa ... tiba-tiba saja Monna mendatangiku saat aku sedang ada di ruang baca. Aku tidak menyangka dia akan mengatakan hal yang mmebuatku kaget sampai rasanya aku tidak percaya. Dengan tanpa keraguan sedikItpun, dia mengaku hubungannya dengan Hezkiel bukan hanya sekedar pasangan kekasih. Tapi, mereka sudah menikah sejak lama. Jauh sebelum adanya pernikahanku dengan Hezkiel. Monna bilang, pernikahan mereka memang tertutup dan tanpa kehadiran pihak keluarga. Dan itu semua karena Hezkiel yang mendesak. Setelah mendengar pernyataan itu, aku langsung keras berpikir. 'Bagaimana bisa?' hanya kata itu yang aku gumamkan berkali-kali. Jika seperti ini, bukankah artinya aku sudah tertipu dan dipermainkan? karena itu juga aku harus kehilangan calon anakku. Hezkiel juga tidak memberikan penjelasan berarti. Namun, ia juga tidak menyangkal pernyataan Monna. Dia hanya meminta maaf, tetapi itu tidaklah cukup buatku. Aku harus apa, Papa, Mama? haruskah aku bertahan? tidak. Aku tidak mau bertahan menjalani hubungan yang seperti ini. Aku tidak mau berbagi suami dengan wanita lain. Tidak, aku tidak bisa hidup seperti ini. Aku tidak bisa. Tidak bisa!"


Celine langsung histeris. Setelah bercerita, Celine terus berteriak mengatakan kata 'Tidak bisa dan tidak mau' membuat Lily dan Hans sedih.


"Sayang, Celine ... tolong tenangkan dirimu. Jangan begini, Nak. Tolong jangan begini ... " pinta Lily menangis. Lily pun meminta maaf pada Celine. "Maafkan Mama. Mama sungguh tidak tahu jika akan terjadi hal seperti ini. Mama juga tidak tahu Hezkiel menajalin hubungan dengan Monna. Maafkan Mama sudah membuatmu menderita, Celine. Maaf ... " gumam Lily berderai air mata.


Di luar, di ruang tunggu. Hans mencoba menghubungi Hezkiel. Sajahnya sudah kusut, dahinya sudah berkerut.


"Dasar anak tidak tahu diri! berani sekali dia menentangku. Selama ini aku percaya, dia bisa diandalkan. Namun, apa semua, ini? dia bahkan masih menjalin hubungan dengan wanita itu. Wanita yang sudah berhubungan dengan temanku sendiri. Hahhh ... bisa gila aku. Kenapa aku bisa dihadpakan dengan keadaan seperti, ini? kenapa?" batin Hans.


Beberapa kali panggilannHans diabaikan begitu saja oleh Hezkiel. Ia lalu menghubungi Lily, istrinya dan berpamitan.


"Hallo," jawab Lily dengan suara serak.


"Sayang. Kau temani Celine dulu. Kau juga jangan ke mana-mana. Aku akan pergi sebentar. Ada hal yang ingin kupastika." kata Hans.


"Kau mau ke mana?" tanya Lily terdengar cemas.

__ADS_1


"Nanti aku ceritakan. Yang jelas. Untuk saat ini, hiburlah dulu Celine. Dan kau juga jangan terlalu banyak berpikir. Jangan sampai kau jatuh sakit." jawab Hans.


"Baiklah. Kau hati-hati pergi. Beri kabar padaku jika terjadi apa-apa, atau jika kau butuh sesuatu, ya. Jangan membuatku khawatir, sayang." kata Lily.


"Pasti, sayang. Aku tidak akan membuatmu khawatir. Jadi, kau bisa tenang. Aku mencintaimu. Sampai nanti," pamit Hans.


"Ya, aku juga." jawab Lily.


Hans mengakhiri panggilannya dengan Lily. Ia mencengkram kuat ponsel di tangannya, dan segera pergi.


"Kau berani tidak menjawab panggilanku, Kiel. Tidak ada pilihan lain, selain Papa yang mendatangimu. Lihat, apa yang akan kau katakan nanti." batin Hans.


***


Sementar itu, di dalam ruangan. Lily terus mencoba menenangkan Celine. Celine kuga sudah mulai tenang. Ia tidak lagi histeris dan berteriak-teriak.


Lily memberikan gelas berisi air minum. Celine tanpa menjawab menerima apa yang Lily berikan. Dengan perlahan dan hati-hati, Celine minum air dalam gelas.


"Sudah merasa baik?" tanya Lily.


"Sudah, Ma. Maaf, membuat Mama khawatir." kata Celine.


Lily membelai rambut Celine, "Tidak, Nak. Jangan meminta maaf. Karena kau tidak bersalah. Mama memang khawatir, karena kau berharga buat Mama. Meski kau hanya anak menantuku, tetapi aku selalu anggap kau seperti putri kandungku." kata Lily.


Celine menatap Lily dalam, "Terima kasih, Ma." ucap Celine.


Lily mencium kening Celine. Merasa kasian pada Celine, juga merasa bersalah. Lily langsung kesal, jika mengingat itu semua adalah ulah anak kesayangannya.

__ADS_1


*****


__ADS_2