
Beberapa hari berikutnya ....
Jihyuk sudah selesai dengan pekerjaannya. Ia dan Asistennya kembali ke Hotel tempatnya menginap. Di dalam kamarnya, Jihyuk dan Asistennya berbincang.
"Tidak terasa, ini sudah hari ketiga." kata Jihyuk menanggalkan jasnya, ia melepaskan kancing kemejanya dan menanggalkan kemejanya.
"Silakan Anda istirahat, Pak CEO. Nanti malam, saya akan datang untuk membawa Anda bertemu Pak CEO Hezkiel Winter." kata sang Asisten.
"Oh, aku hampir lupa. Jika beliau mengundangku makan malam. Kukira beliau tidak tertarik bertemu secara pribadi diluar jam pekerjaan." kata Jihyuk.
"Ya, dari rumor yang saya dengar, dulu beliau tidak seperti itu. Beliau pasti akan membatasi pertemuan pribadi di luar jam pekerjaan." Asisten menjelaskan.
Ternyata, Asisten Jihyuk sudah mencari informasi sedikit tentang orang-orang yang hendak bertemu atasannya. Ia juga memberikan sedikit informasi tersebut kepada Jihyuk.
"Maksudmu? aku tidak mengerti." kata Jihyuk.
Asisten Jihyuk diam sesaat, "Hm, saya tidak tahu pasti apa penyebab perubahan beliau. Tapi, dari informasi yang saya dengar, akhir-akhir ini beliau mengalami keterpurukan. Beberapa sumber menyebutkan banyak pemicu. Salah satunya perceraian yang tiba-tiba dan skandal perselingkuhan yang dilakukan kekasihnya." jelas si Asisten.
Jihyuk mengernyitkan dahi, "Waw, kau sampai tahu semuanya. Apa kau menyewa wartawan di sini, untuk mencari tahu itu?" Jihyuk sedikit kaget, karena Asistennya tahu sampai jauh kehidupan pribadi rekan bisnisnya.
"Bukan itu maksud saya, Pak CEO. Saya sedikit mencari tahu, untuk jaga-jaga jika informasi ini dibutuhkan. Kita kan tidak tahu, bagaimana lawan bicara kita. Karena Anda baru pertama kali berkunjung ke sini dan bertemu beberapa orang baru." jawab Asisten menjelaskan apa alasan ia mencari informasi.
"Ya, aku mengerti. Aku tidak akan menyalahkanmu juga untuk itu. Bagaimanapun, informasi yang kau berikan itu cukup berguna. Hanya saja, tadi aku heran." jawab Jihyuk.
"Heran?" tanya si Asisten bingung.
"Tapi, seharusnya aku tidak boleh punya pikiran itu. Bukankah itu hal wajar? orang-orang yang memiliki posisi tinggi pasti memiliki skandal dan kehidupan pribadi yang rumit. Tidak terkecuali atasanmu sendiri." sahut Jihyuk. Ia bicara dengan raut wajah yang murung.
Si Asisten itu langsung terkejut, "Pak CEO tidak boleh bicara seperti itu. Anda ... ah, maaf. Saya lebih baik pergi untuk menyiapkan bahan pertemuan esok. Silakan Anda istirahat saja. Permisi." si Asisten langsung pergi begitu saja meninggalkan Jihyuk. Sepertinya, si Asisten tahu batasannya untuk bicara.
Jihyuk terdiam, ia menatap jauh ke depan dengan tatapan mata kosong. Pikirannya sedikit terganggu dengan apa yang diceritakan Asistennya.
__ADS_1
"Perselingkuhan, ya? kenapa selalu ada pihak ketiga? kenapa sebuah hubungan selalu hancur karenanya?" gumam Jihyuk. Yang terlihat kesal. ia memejamkan mata dan mengepalkan kedua tangannya.
***
Sebuah taksi menepi dan berhenti di tepi jalan. Terlihat seorang wanita keluar dari dalam taksi dan berdiri di pinggir jalan. Taksi itu segera pergi meninggalkan wanita itu.
Wanita itu melihat sekeliling. Ia memalingkan pandangannya menatap sebuah rumah. Saat ia hendak melangkah memasuki halaman rumah, sebuah mobil datang dan masuk ke halaman.
Mobil itu berhenti. Dari dalam mobil, turun seseorang. Seseorag dan wanita itu saling bertatapan. Seseorang itu adalah Dion, dan wanita itu adalah Merry. Dion penasaran saat melihat Merry. Ia pun berjalan mendekati Merry dan bertanya.
"Hallo, Nyonya. Sedang mencari sesuatu?" tanya Dion.
Merry menganggukkan kepala, "Ya, apakah alamat ini benar?" tanya Merry sambil menyerahkan kertas yang sedari tadi ia genggam.
Dion menerima dan membaca tulisan yang tertulis di kertas, "Ya, benar. Anda mencari siapa?" tanya Dion penasaran.
Merry melihat sekeliling lalu, melihat Dion. Terlihat Merry ragu dan kebingungan. Melihat itu, Dion pun kembali bertanya untuk memastikan.
"Apa kau kenal Christian Greey?" tanya Merry menatap Dion.
Dion mengernyitkan dahinya, "Maaf, ada apa mencarinya? apakah saya boleh tahu alasannya?" tanya Dion lagi.
Merry terlihat gelisah, "Begini. Aku tidak tahu harus bicara darimana. Tapi, aku datang untuk meminta bantuan." jawab Merry dengan suara yang terdengar sedih.
Dion melihat sekeliling, "Mari, ikutlah dengan saya dulu. Kita bisa bicara pelan-pelan. Saat ini, seseorang yang Anda cari masih ada di kantor. Akan saya ajak Anda menemuinya. Namun, pertama-tama. Saya butuh penjelasan yang meyakinkan, jika Anda mengenal seseorang yang Anda cari itu." kata Dion.
Keduanya berpindah tempat. Dion membawa Merry kesebuah kedai kopi yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Dion tidak mau Mamanya melihat kehadiran Merry yang sempat membuat Dion curiga. Terlebih Merry ternyata mengenal Christian, Papa tirinya.
***
Di kedai kopi ....
__ADS_1
Merry akhirnya mengungkapkan rahasia terbesarnya. Sesuatu hal yang ia sembunyikan sekian lama. Meski sebenarnya enggan, tapi Merry tidak punya pilihan lain saat itu.
Dari pengakuan Merry, terungkap jika Merry dan Christian dulunya menjalin sebuah hubungan. Namun, hubungan itu harus kandas, karena Christian dijodohkan dengan wanita lain oleh orang tua Christian. Tidak bisa mempertahankan hubungan, Merry lantas memilih pergi. Saat itulah ia menyadari sesuatu, yaitu kehamilan. Merry mengandung anak dari Christian. Pada saat Merry ingin memberitahukannya pada Christian, Merry melihat pujaan hatinya itu sudah menikah dengan wanita hasil perjodohan. Merry pun mengurungkan niatannya dan memilih pergi menjauh.
" ... begitulah," panjang lebar Merry bercerita.
Dion kaget, "Apa Anda yakin dan sungguh-sungguh dengan pernyataan Anda, Nyonya?" tanya Dion masih tidak percaya.
"Sangat yakin. Aku bisa buktikan, jika Christian ingin menjalani tes DNA. Putriku memang anak kandungnya." jawab Merry.
"Berapa usia putri Anda sekarang?" tanya Dion lagi.
"Dua puluh tujuh tahun," jawab Merry tanpa ragu. Merry menatap Dion, "Maaf, jika aku lancang. Tapi, kau belum menjawab pertanyaanku. Apakah kau mengenal Christian?" tanya Merry.
"Bagaimana, ya. Bisa dikatakan lebih dari sekedar kenal. Beliau adalah Papa tiriku." jawab Dion jujur.
"Pa, papa tiri?" gumam Merry. "Maksudnya? wanita itu punya anak saat menikah dengan Christian, begitu?" Merry yang tidak tahu hanya asal menebak.
"Oh, itu. Anda sepertinya salah paham. Wanita yang Anda maksud mungkin istrinya terdahulu yang sudah meninggal. Aku dan Mamakku, hanyalah orang yang beruntung, yang dipungut oleh Beliau di jalanan. Meski aku dan beliau tidak memiliki keterikatan darah, Beliau sangat peduli dan sudah menganggapku seperti anak kandungnya sendiri." jelas Dion.
Merry terlihat kaget mendengar cerita Dion. Ia tidak sangka, jika wanita yang dinikahi pujaan hatinya sudah meninggal dan pujaan hatinya menikah kembali.
"Jadi, Mamamu dinikahi Christian?" tanya Merry.
Dion menggelengkan kepala, "Tidak. Pernikahan keduanya tidak pernah terjadi. Namun, demi melindungi kami, beliau membuat surat pernikahan palsu. Kurasa, beliau hanya berniat menikahi satu wanita dalam hidupnya." jelas Dion.
Merry mengernyitkan dahi, "Lalu, apa dari pernikahan itu ... Christian memiliki anak? dan apa kau hanya berdua saja dengan Mamamu?" tanya Merry lagi.
"Aku hanya berdua dengan Mamaku. Dan untuk pertanyaan pertama dari Anda ... Papa memiliki seorang putri." jawab Dion.
Merry terdiam, begitu juga Dion. Mereka larut dalam pemikiran masing-masing.
__ADS_1
*****