Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
45. Pura Pura Tidak Kenal (2)


__ADS_3

Hezkiel gelisah. Ia ingin sekali menemui Papa dan Mamanya untuk mengatakan sesuatu. Tepat pada saat itu, Lily berjalan keluar dari sebuah ruangan sambil berbincang di telepon.


"Mama ... " gumam Hezkiel menatap Mamanya.


Monna menatap Hezkiel, "Kiel, ada apa?" Monna menatap arah pandang Hezkiel yang sedang memandang Mamanya dari kejauhan.


Hezkiel memalingkan pandangannya menatap Monna, "Tidak apa-apa. Ayo, pesanlah yang ingin kau makan." kata Hezkiel.


"Kau mau menemui Mamamu? apa kalian ada masalah?" tanya Monna lagi penasaran.


"Sedikit. Kami sedikit berselisih paham. Seperti yang kau tahu, Papa dan Mama sudah tahu semuanya tentang kita." kata Hezkiel.


"Ya, pasti wanita itu yang beritahu. Dia tidak akan diam saja." gumam Monna.


Hezkiel memegang tangan Monna, "Jangan cemas. Selagi aku bersamamu, mereka tak akan bisa menyakitimu." kata Hezkiel.


Monna menatap dalam mata Hezkiel, "Sejujurnya aku takut. Kalau-kalau kejadian dulu berulang kembali. Kau kan tahu, betapa tidak sukanya Papa dan Mamamu padaku." keluh Monna.


Hezkiel melihat lagi ke arah Lily. Rupanya Lily sudah selesai berbicara di telepon. Terlihat, Lily ingin kembali masuk dalam ruangan. Melihat kesempatan itu, Hezkiel pun buru-buru berdiri dari duduknya dan berlari menghampiri Mamanya. Ia meninggalkan Monna sendirian tanpa bicara apa-apa.


"Mama ... " panggil Hezkiel, mendekati Lily.


Lily memalingkan pandangannya, "Oh, kau." kata Lily..


"Ya, ini aku. Mama ada waktu? Bisa bicara sebentar denganku?" tanya Hezkiel.


Lily ragu, "Hm, sebenarnya ini cukup sulit, Kiel. Mama sedang ada acara. Bisa lain waktu saja?" jawab Lily.


"Apa? Mama mengabaikanku, sekarang?" kata Hezkiel kesal.


"Terserah kau menganggap Mama seperti apa. Yang jelas Mama tidak bicara denganmu. Tapi, jika itu dangat mendesak. Kau bisa katakan sekarang." kata Lily.


"Mama, kenapa Mama seperti ini? sebelumnya Papa bahkan tidak pernah membiarkanku kesulitan sedikit pun." kata Hezkiel meluap-luap.


Lily menarik napas dalam lalu, mengembuskan napas perlahan. Ia tidak tahu, harus menjawab pertanyaan putranya itu seperti apa.


"Mama memang sangat menyayangimu. Tapi, kali ini Mama kau sangat kecewa, Kiel. Jangan berdebat lagi dengan Mama atau Papamu. Pikiran kami tidak akan pernah berubah, jika kau masih berhubungan dengan wanita itu." jelas Lily.


"Mama," panggil Hezkiel merengek. "Kenapa Papa dan Mama tega padaku. Monna itu segalanya untukku," lanjut Hezkiel. Ia tetap pada pendiriannya dan tidak mau melepaskan Monna.

__ADS_1


Lily kesal, Hezkiel tidak mendengarkan ucapannya. Ia lalu, memberikan pilihan terakhir untuk dipilih Hezkiel.


"Jika begitu, hiduplah dengannya dan lupakan Mama juga Papamu. Anggap kami tidak pernah ada." kata Lily.


Hezkiel kaget, "Mama ... apa yang Mama katakan. Bagaimana bisa Mama bicara seperti itu?" Hezkiel tidak menyangka, jika Mamanya akan melontarkan kata-kata tidak menyenangkan seperti itu. "Apa yang sebenarnya Mama pikirkan? kenapa Mama bicara seperti ini. Bagaimana bisa aku anggap Papa dan Mama yang merupakan orang tuaku tidak pernah ada." lanjut Hezkiel berkomentar.


"Cukup, Kiel. Mama mau masuk, Papamu sudah menunggu. Terserah kau mau berpikir apa. Meski saat ini kau memohon pun, tidak akan ada yang berubah." jawab Lily, yang langsung pergi meninggalkan Hezkiel.


"Ma, Mama ... " panggil Hezkiel.


Lily tidak peduli, ia tetap melanjutkan langkah kakinya. Meski berat, LIly tetap harus menahan keinginannya untuk memberikan Hezkiel keringanan. Mengingat apa yang sudah Hezkiel lakukan. Baik padanya, pada suaminya, juga pada Celine.


Langkah kaki Lily terasa berat. Ia masuk ke dalam ruangan dengan wajah yang kusut. Melihat istrinya demikian, Hans langsung berbisik menanyakan.


"Sayang, kau kenapa?" bisik Hans.


Lily berbalik berbisik, "Aku bertemu Hezkiel tadi. Nanti aku ceritakan detailnya, kita selesaikan makan malam ini dulu, lalu pulang." kata Lily.


Hans menganggukkan kepala, "Ok," jawabnya pelan.


Lily dan Hans melanjutkan berbincang dan acara makan malam dengan melupakan sejenak semua tentang putra mereka.


***


"Aku terpaksa mengurungkan niatanku bertanya. Hahh ... mengesalkan sekali," batin Monna.


"Sayang, makanlah walaupun sedikit. Jangan biarkan perutmu kosong." Monna bersikap baik dan lembut. Ia juga perhatian pada Hezkiel.


Ia bahkan memotongkan steak milik Hezkiel dan menyuapi hezkiel. Monna tersenyum, meski sebenarnya ia terpaksa melakukannya. Tidak ada pilihan lain, ia tidak boleh semakin memanasi Hezkiel yang kesal. Monna berusaha untuk meredam kekesalannya sendiri.


"Aku baik-baik saja. Kau makanlah, sayang." kata Hezkiel. Ia merasa tidak enak, karena Monna harus repot melayaninya. "Aku bisa makan sendiri," kata Hezkiel tersenyum paksa.


"Tidak. Biarkan aku yang menyuapimu. Aku kan mau menjadi istri yang baik untuk suamiku." kata Monna dengan manisnya.


Hezkiel tertegun sesaat melihat senyuman Monna. Sama seperti sebelumnya, sepertinya Hezkiel kembali terpesona pada Monna.


"Bagaimana bisa aku tidak mencintaimu, Monna. Kau selalu bisa membuat aku berdebar. Kau membuat pikiranku kacau, kau juga yang membuatku tenang." batin Hezkiel.


Hezkiel teringat akan ucapan Mamanya yang memintanya untuk berpisah dari Monna. Tentu saja itu tidak akan pernah bisa dilakukan Hezkiel. Karena Hezkiel sangat menggilai Monna. Tapi, di sisi lain, ia belum siap kehilangan semuanya, termasuk jabatan, pekerjaan dan semua yang diberikan Papanya padanya.

__ADS_1


***


Setelah selesai makan, Hezkiel memanggil pelayan untuk membayar tagihan. Hezkiel mengeluarkan sebuah kartu, karena ia tidak membawa uang tunai. Namun, hal tidak terduga terjadi. Kartu yang diberikan Hezkiel tidak bisa digunakan untuk bertransaksi.


"Maaf, Tuan. Apakah Anda memiliki kartu yang lain?" tanya pelayan.


Hezkiel kaget, ia pun mengeluarkan semua kartu yang ia miliki di dalam dompetnya. Tapi, tidak ada satupun kartu yang bisa digunakan. Hezkiel berpikir, ia menduga, jika Papanya sudah membekukan semua kartu yang ia miliki.


"Apa ini semua pekerjaan Papa?" batin Hezkiel.


Monna menatap Hezkiel, "Sayang, ada apa?" tanya Monna.


"Sayang, bisa bayar tagihannya, dulu. Sepertinya Papa membekukan semua kartu milikku." kata Hezkiel.


Monna kaget, "Apa?" kata Monna, ia pun segera mengiyakan permintaan Hezkiel, karena tidak mau terus ditatap pengunjung restoran yang lain. Monna mengambil dompetnya, mengeluarkan kartunya untuk diberikan pada pelayan. "Pakai ini," kata Monna memberikan kartunya.


Pelayan menerima, "Baik, Nyonya." kata pelayan.


Transaksi pembayaran pun dilakukan. Akhirnya, tagihan terbayarkan berkat Monna. Dengan tersenyum terpaksa, Monna menerima kembali kartunya. Dalam hatinya iya kesal, karena ia harus mengeluarkan uang pribadinya untuk membayar tagihan makan malamnya dan Hezkiel. Setelah itu, mereka langsung pergi meninggalkan restoran.


Dari jauh, diam-diam Hans memperhatikan. Ia jelas melihat wajah Hezkiel yang panik. Meski demikian, ia tidak merasa sedih atau kasihan.


"Itulah yang harus kau bayar, Nak. Selama ini kau membohongi kami yang sudah merawat dan membesarkanmu dengan baik. Beginikah caramu membalas kebaikan kami? apa ini yang kami ajarkan?" batin Hans menahan rasa kesal.


Lily menghampiri Hans, "Sayang, maaf aku lama. Perutku tiba-tiba tidak nyaman." kata Lily mengeluh.


Hans menatap Lily, "Oh, kau baik-baik saja?" tanya Hans.


"Ya, akku tidak apa-apa.Hanya saja perutku terasa sedikit nyeri. Mungkin karena sejak tadi aku tegang." jawab Lily.


"Ayo, kita ke rumah sakit saja." ajak Hans.


"Untuk, apa? aku tidak apa-apa, sayang. Kita pulang saja," kata Lily.


"Tidak. Kita ke rumah sakit dulu, sekalian melihat keadaan Celine. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa. Atau, aku akan benar-benar membenci diriku sendiri." kata Hans.


Tidak mau berdebat, Lily pun mengiyakan ucapan suaminya. Ia tahu, jika ia tidak akan bisa membantah ucapan suaminya. Hans yang sangat mempedulikan istrinya tidak mau hal buruk terjadi pada istrinya. Baginya, di Dunia ini tidak ada yang lebih berharga selain istrinya, Lily. Keduanya pun pergi meninggalkan restoran. Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. Hans ingin memeriksakan keadaan Lily, sekalian melihat keadaan Celine.


*****

__ADS_1


__ADS_2