
Kang Soo-Hyuk mendapatkan panggilan dari Melissa. Panggilan pertama dan kedua Melissa diabaikan oleh Kang Soo-Hyuk. Sampai Melissa mengirim pesan. Berisi permohonan, agar Kang Soo-Hyuk mau menerima panggilannya.
"Tolong angkat teleponku, Soo-Hyuk."
Begitulah isi pesan dari Melissa. Yang membuat Kang Soo-Hyuk ragu. Ditengah dilema, ponselnya kembali berdering. Melissa tidak menyerah untuk menghubungi Kang Soo-Hyuk.
"Wanita ini, benar-benar." gumam Kang Soo-Hyuk.
Kang Soo-Hyuk lalu menerima panggilan dari Melissa. Dan mereka pun berbincang.
"Ya, ini aku." jawab Kang Soo-Hyuk.
"Ya, aku tau itu kau. Siapa lagi, jika bukan kau yang akan menerima panggilanku." kata Melissa, suaranya terdengar tenang.
"Ada apa? kau terdengar lebih tenang. Setelah kau buat semuanya jadi kacau tadi." kata Kang Soo-Hyuk yang juga mulai tenang.
"Maaf ... " ucapa Melissa.
Kang Soo-Hyuk megernyitkan dahi, "Kau kenapa?" tanyanya Kang Soo-Hyuk lagi.
"Maaf, Soo-Hyuk. Maafkan aku." kata Melissa.
Semakin lama, Kang Soo-Hyuk semakin bingung dengan sikap Melissa yang menjadi aneh. Melissa hanya meminta maaf, tanpa bicara apa-apa lagi.
"Melissa ... katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi, ok. Jangan menyembunyikan apapun dan jujurlah padaku." desak Kang Soo-Hyuk.
"Maaf, maafkan aku Soo-Hyuk. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Kau tahu, pada saat pertama kali kita bertemu, pada saat itu juga, aku jatuh cinta padamu. Meski aku tahu, kau bersamaku hanya untuk kesenanganmu, tetapi aku tidak menyesali semua yang telah kita lakukan. Kuharap, kau bisa temukan kebahagiaanmu." kata Melissa dengan setulus hati.
"Mel ... " ucapan Kang Soo-Hyuk terputus oleh Mellisa.
"Maafkan aku. Aku minta maaf, Soo-Hyuk. Maaf ... " kata Melissa yang tiba-tiba memutuskan panggilannya.
"Hallo, Melissa ... Hallo ... " Tiba-tiba Kang Soo-Hyuk panik dan cemas. Ia ingin pergi menemui Melissa. Tapi, itu suatu hal mustahil Mengingat ia sedang dalam masa hukuman.
"Kenapa dia terus meminta maaf padaku. Sebenarnya apa yang terjadi. Apa?" batin kang Soo-Hyuk penasaran.
***
Melissa menangis tersedu-sedu. Ia tidak tahu, apakah keputusannya untuk meminta maaf benar atau tidak. Ia merasa cukup lega, karena sudah mengutarakan apa yang selama ini ia pendam.
"Maaf, Soo-Hyuk. Maafkan aku. Aku sellau membuatmu jatuh dalam kesulitan, Aku tidak tahu, bagaimana perasaanmu yang sebenarnya padaku. Aku juga tidak tahu, apa yang sebenarnya kau pikirkan tentangku. Satu hal yang pasti. Aku mencintaimu," batin Melissa yang kemudian menangis lagi. Air mata Melissa jatuh berhamburan.
***
Keesokan harinya ....
Marc yang baru pulang ke rumahnya, langsung berjalan menuju kamar Adiknya, Melissa. Ia ingin membicarakan sesuatu dengan Adiknya itu.
Tok ... tok ... tok ....
"Melissa ... " panggil Marc sambil mengetuk pintu kamar Melissa.
__ADS_1
"Meliss, ku belum bangun? aku bawakan kau sarapan. Mel, Melissa ... " panggil Marc lagi.
Tok... tok ... tok ....
"Melissa ... " panggil Marc sekali lagi.
"Aneh sekali. Kenapa dia tak keluar dari kamar? biasanya dia langsung keluar hanya dengan sekali panggil. Apa dia masih tidur?" gumam Marc. Marc lantas melihat jam di tangannya, "Sudah pukul enam tiga puluh, harusnya dia sudah bangun. Kenapa dengannya?" lanjutnya bergumam.
"Melissa ... ayo, bangun! jika kupanggil sekali lagi kau tak menjawab aku akan buka paksa kamarmu." kata Marc menggertak.
Lima menit Marc berdiri di depan pintu kamar melissa. Berharap Melissa segera membukakan pintu untuknya. Merasa kesal, Marc pun langsung membuka paksa kamar Melissa dengan mendobrak pintu kamar Melissa, meski dengan susah payah.
Brakkk ....
Pintu kamar Melissa pun terbuka. Marc langsung masuk dan kaget. Saat Melihat Melissa tergeletak di lantai dengan tangan yang berlumuran darah. Di dekat Melissa ada sebuah pisau buah yang juga berlumuran darah.
Mata Marc melebar, "Me, me, melissa ... " teriak Marc menghampiri Adiknya itu.
Ia memeriksa ke adaan Melissa. Tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan di tubuh Melissa. Suhu tubuh Melissa pun mulai dingin. Hal itu membuat marc sedih bercampur kecewa.
"Melissa, bagaimana bisa kau melakukan ini?" batin Marc.
Marc melihat berdiri, ia merogoh kantung celananya ingin menghubungi temannya meminta bantuan. Saat melihat ke arah meja, Marc menemukan sebuah surat yang ditujukan untuknya dari Adiknya, Melissa. Di simpannya surat itu ke saku celana, Marc ingin mengurusi Melissa lebih dulu.
***
Sementara itu, Kang Soo-Hyuk yang tidak bisa tidur semalaman, meminta izin sang Kakak untuk menemui Melissa. Tapi, Kakaknya tak mengizinkan. Meminta Kang Soo-Hyuk untuk tetap tenang agar tidak menimbulkan masalah lainnya.
"Tidak, Soo-Hyuk. Jangan memohon untuk sesuatu hal yang tidak perlu." Kang Ji-Hyuk menolak permintaan Adiknya yang ingin pergi.
"Hyung ... kumohon." mohon Kang Soo-Hyuk lagi.
Kang Ji-Hyuk diam sejenak memikirkan. Ia lalu, mengizinkan Adiknya itu, dengan syarat Adiknya harus pergi dengannya.
"Baiklah. Kau boleh pergi, tapi ... " kata-kata Kang Ji-Hyuk terjeda.
"Tapi ... " sambung Kang Soo-Hyuk.
"Kau harus pergi denganku. Kau tidak kuizinkan pergi sendiri." kata Kang Ji-Hyuk menegaskan.
Kang Soo-Hyuk tersenyum, "Ya, Hyung juga boleh ikut bersamaku Melihat keadaan Melissa. " kata Kang Soo-Hyuk, menerima tawaran Kakaknya.
"Kalau begitu bersiaplah. Kita sarapan lalu, pergi." kata kang JI-Hyuk, yang langsung pergi dari kamar Adiknya.
Tak menunda-nunda waktu. Kang Soo-Hyuk langsung bersiap. Ia ke kamar mandi untuk membasuh muka dan bersih-bersih.
***
Sebelumnya ....
Kang bersaudara sampai di rumah, tempat tinggal Melissa dan Marc. Namun, di sana Kang Soo-Hyuk dan Kang Ji-Hyuk dan bisa bertemu Melissa atau Marc. Sampai ada seorang tetangga sebelah rumah yang memberitahu, jika kejadian buruk datang. Melissa telah meninggal dan kini sedang menjalani proses pemakaman. Seseorang itu, menyarankan Kang bersaudara pergi ke pemakaman. Tidak menunggu lagi, Kang Soo-Hyuk dan Kang Ji-Hyuk langsung pergi menuju pemakaman.
__ADS_1
Di pemakaman ....
Kang Soo-Hyuk dan Kang Ji-Hyuk ikut menjalani prosesi pemakaman sampai selesai. Kang Soo-Hyuk tampak kaget dan shock. Ia melihat foto Melissa menjadi penghias nissan.
Marc melihat Kang Soo-Hyuk, ia pun langsung emosi dan menyerang Kang Soo-Hyuk dengan brutal. Kang Soo-Hyuk babak belur dihajar Marc yang bertubuh besar. Kang Ji-Hyuk melerai. Sebagai Kakak, ia mewakili kang Soo-Hyuk, Adiknya. Untuk meminta maaf."
"Saya mewakili Adik saya, meminta maaf. Tolong maafkan Adiknya saya yang sudah tidak sopan." kata Kang JI-Hyuk dengan tenang.
"Apa? maaf? hohoho, tidak semudah itu untuk meminta maaf. Kau sudah membuat Adikku menderita dan akhirnya dia memilih bunuh diri. Aku juga harus menghabisimu, agar Adikku bisa tenang. Kemari kau!" teriak Marc.
"Kau sudah gila, ya? aku, bagaimana bisa punya pikiran untuk menyakiti Melissa. Aku juga tidak pernah lagi bertemu dengannya , setelah kejadian kemarin dia menghebohkan rumahku." jelas Kang Soo-Hyuk.
Marc rupanya sedang merencanakan sesuatu. Ia mencoba memanfaatkan keadaan dan kematian Melissa, Adiknya. Tiba-tiba saja Marc meminta Kang Soo-Hyuk bertanggung jawab atas kematian Melissa dengan meminta uang ganti rugi.
"Kau yang menyebabkan Adikku bunuh diri. Kau harus bertanggung jawab, Kang Soo-Hyuk. Aku akan melaporkanmu kepada polisi." ancam Marc.
Kang Soo-Hyuk dan Kang Ji-Hyuk kaget. Keduanya saling memanddang dengan wajah keheranan.
"Tuan, tenangkan diri Anda lebih dulu. Mari, kita bicara baik-baik. Tidak perlu kita melibatkan polisi." kata Kang Ji-Hyuk.
"Kenapa? apa kalian takut?" tanya Marc.
"Bukan takut. Tapi, kami pasti akan kesulita kedepannya, karena harus menjadi bahan pembicaraan orang-oang. Seluruh kota akan tahu, jika Putra bungsu keluarga Kang terlibah sebuah kasus yang melibatkan seseorang harus kehilangan nyawa. Lagipula, kami juga tidak yakin, jika Melissa meninggal karena Kang Soo-Hyuk Adikku. bisa saja karena hal lain." jelas Kang Ji-Hyuk.
"Apanya yang tidak yakin? sudah jelas dengan bukti yang ada. Adikku sedang hamil, dan Adikmulah Ayah janin yang dikandung Adikku. Adikmu, bahkan seluruh keluargamu tidak mau mengakuinya, makanya Adikku bunuh diri." Marc berbohong dengan mengarang cerita kematian Adiknya.
Kang Ji-Hyuk mengeryitkan dahinya, " Jadi, apa maumu?" tanya Kang Ji-Hyuk menatap Marc.
"Aku mau Adikmu bertanggung jawab. Tapi, karena Adikku sudah meninggal. Maka, dia bisa membayar ganti rugi dengan sejumlah uang." kata Marc.
"Ahaaa ... kau mau memeras kami rupanya, " sahut Kang Ji-Hyuk.
"Memeras katamu?" Marc mulai emosi.
"Ya, memeras. Lalu, aku menyebutnya apa lagi kalau bukan memeras. Kau sengaja, kan. Ah, atau jangan-jangan ... " kata-kata Kang Ji-Hyuk langsung dipotong oleh Marc.
"Untuk saat ini, aku tidak mau bertemu kalian. Aku akan menagih semuanya nanti, " kata Marc, yang langsung pergi meninggalkan Kang bersaudara.
"Hyung, ada apa?" tanya Kang Soo-Hyuk.
"Pria tadi terlihat aneh. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu." kata Kang Ji-Hyuk, merasa ada yang aneh.
"Apa, ya? seperti ada sesuatu yang janggal di sini." batin Kang Ji-Hyuk.
Kang Soo-Hyuk mendekati nissan Melissa dan berdoa. Ia merasa sedih juga kehilangan sosok wanita yang melekat seperti lem dan selalu menghiburnya. Meski melisa bukan satu-satunya wanita yang Kang Soo-Hyuk kencani, tetapi Melissa adalah satu-satunya wanita yang paling mengerti keadaanya.
"Maafkan aku, Melissa. Mungkinkah kita masih bisa bertemu semalam? jika aku melarikan diri dari rumah dan menemuimu? kenapa kau lakukan ini? apa kau sangat kecewa terhadapku yang menolak calon bayimu? apa yang sebenarnya terjadi? Melissa yang kukenal tidak akan seperti ini. Tidak mungkin berpikir pendek dan tergesa-gesa. Melissa yang ku kenal adalah, wanita yang selalu ceria, cerewet dan suka mengkritik peda. Tidak mudah menyerah dan pekerja keras. Kau bahkan tidak pernah menangis di hadapanku Melissa. Kau ... " Batin Kang Soo-Hyuk yang tiba-tiba menangis.
Entah mengapa, tiba-tiba air matanya keluar. Ia merasa sangat sedih sekarang. Melihat Adiknya menangis, Kang Ji-Hyuk mencoba menenangkan, dengan menepuk-tepuk punggung sang Adik. Kang Ji-Hyuk sendiri juga tidak menyangka, Melissa akan melakukan hal nekat. Semua terasa begitu aneh dan penuh tanda tanya besar.
*****
__ADS_1