Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
47. Terdesak


__ADS_3

**Peringatan!!!


Bacaan di bawah ini mengandung unsur yang tidak pantas dicontoh. Berupa, makian dan kata-kata kasar. Dimohon, pembaca bijak dalam menyikapi. Terima kasih**.


Di rumah, Monna mendapatkan pesan dari Antonio. Tertulis di pesan, jika Antonio ingin Monna segera menyerahkan saham yang sudah Monna dapat dari Hezkiel.


"Cepat berikan apa yang akau inginkan. Jika kau masih ingin bertemu dengan Mamamu."


Monna mencengkram kuat ponsel yang ia pegang. Ia tidak tahu harus membalas apa untuk pesan yang dikirim Antonio.


"Pria b*r*ngs*k!" umpat Monna dalam hatinya. "Bisa-bisanya dia mengirim pesan seperti ini padaku. Dia anggap aku apa?" lanjutnya bicara dala hati.


Hezkiel keluar dari kamar mandi. Ia melihat Monna masih belum tidur dan terus memandangi ponsel. Hezkiel pun mendekati Monna. Memeluk tubuh Monna dari belakang. Hal itu membuat Monna kaget, ia buru-buru mematikan layar ponselnya dan menyembunyikan ponselnya, seolah Hezkiel tak boleh melihat ponselnya.


"Oh, hai ... kau sudah selesai membasuh muka?" tanya Monna tersenyum kaku.


"Ya, sudah. Apa yang kau lihat di ponselmu? kau terlihat serius sekali." tanya Hezkiel.


Monna melebarkan mata, "Apa? oh, ini bukan apa-apa. Biasa saja. Hanya soal pekerjaan." jawab Monna mulai menenangkan diri.


"Ah, begitu. Apa kau akan sangat sibuk?" tanya Hezkiel lagi.


Monna menganggukkan kepala, "Ya, sepertinya akan sibuk." jawab Monna lagi.


"Hm ... " gumam Hezkiel.


Monna merasa tidak tenang. Ia melepaskan tangan Hezkiel yang melingkar di perutnya. Monna ingin mengambil air minum, dan meminta Hezkiel untuk tidur lebih dulu.


"Kiel, aku haus dan mau ambil air minum di luar. Kau bisa naik ke tempat tidur dulu." kata Monna.


Hezkiel sedikit kaget. Ia merasa Monna seperti sedang gelisah dan cemas. Sehingga, membuat


Monna menghindarinya.


"Ok. Kau juga, segeralah menyusul tidur, jika sudah selesai minum." jawab Hezkiel.


"Ya," jawab Monna.


Monna pun pergi meninggalkan Hezkiel di dalam kamar. Hezkiel berjalan menuju tempat tidur, ia duduk di tepi tempat tidur. Ia mengambil ponselnya di nakas.

__ADS_1


Hezkiel ingat, jika di hari itu, ia dan Celine akhirnya resmi bercerai. Ia menatap layar ponselnya. Ia ingin mengirim pesan pada Celine. Jemarinya mulai mengetik di keyboard ponsel.


Cukup lama Hezkiel mengetik pesan. Setelah pesan ditulis, ia hapus lagi. Hal itu dilakukan Hezkiel beberapa kali. Rupanya, Hezkiel sedang bingung. Ia ingin sekedar basa basi pada Celine, tetapi ia juga merasa tidak enak. Karena Celine tidak mau lagi menjalin hubungan dengannya dalam bentuk apapun. Itu sudah dikatakan Celine, saat keduanya bertemu untuk menandatangani surat perceraian.


"Apa yang kau pikirkan, KIel. Bagaimana kau masih punya niatan untuk mengiriminya pesan. Dia sekarang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa bagimu. Ingat, dia hanya mantan istrimu." batin Hezkiel. Mencoba menasihati diri sendiri


Pada akhirnya, Hezkiel tidak jadi mengirim pesan. Ia kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia segera menaikkan kakinya ke tempat tidur lalu, berbaring.


***


Monna ada di dapur. Setelah minum dan meletakan gelasnya, Monna pergi menuju belakang rumah. Monna membuka pintu lalu, keluar dari dapur menuju teras belakang.


Monna kembali membaca pesan beruntun yang dikirim oleh Antonio. Dengan perasaan kesal, Monna pun langsung menghubungi Antonio dan marah-marah.


" Wah,wah, wah. Ada apa, sayang?" tanya Antonio.


"Jangan tanya ada apa. Kau itu yang kenapa? apa kau tidak tahu ini sudah malam. Ada Hezkiel bersamaku. Kau ingin aku ke tahuan, hah?" Monna yang emosi lalu, marah-marah. Ia tidak peduli lagi pada Antonio, karena ia sudah cukup bersabar.


"Hoho, kau marah rupanya. Apa kau lupa sesuatu, Monna kesayanganku?" kata Antonio dingin.


"Aku tidak peduli!" sahut Monna.


"Oh, benarkah? baiklah, jika itu kemauanmu. Ucapkan saja selamat tinggal pada Mamamu tersayang." kata Antonio mengancam serius.


Monna sudah mencapai batas kesabarannya. Setelah seminggu lebih ia bersabar dan terus meredam murka Antonio. Semua kata-kata kasar Antonio ditelannya mentah-mentah. Kini, ia tidak mau lagi diinjak.


"B*r*ngs*k! pria b*r*ngs*k! b*r*ngs*k!" batin Monna mengumpati Antonio.


Di ujung panggilan, Antonio terdiam. Monna yang tadinya juga diam langsung bicara, ia akhinya meluapkan semua kekesalannya pada Antonio. Semua ucapan kasar dan makian dilontarkan Monna pada Antonio.


"Kau masih dengar aku, kan? Dengar ini, Antonio Wistton. Aku tidak akan pernah mau lagi kau perbudak. Ini keputusanku. Terserah kau mau melakukan apa. Silakan saja." kata Monna geram. " Selama ini aku terus mengikuti kemauan konyolmu. Aku sudah lelah, aku lelah. Kau dengar, kan. Aku lelah, Antonio. Aku lelah!" lanjut Monna menangis terisak.


"Lalu, apa maumu sekarang?" tanya Antonio dengan nada suara rendah.


"Lepaskan aku. Lepaskan juga Mamaku. Biarkan kami menikmati hidup bebas kami. Kita sudahi semua sandiwara ini. Aku tidak akan menceritakan pada siapapun tujuanmu dan niatan busukmu. Sebagai gantinya, jangan lagi menghubungiku." jawab Monna. Ia mengutarakan keinginanya.


"Begitu, ya?" sahut Antonio tidak senang.


Monna diam berpikir, Ia tahu jelas, jika Antonio bukan orang yang mudah dihadapi. Ia sudah mengenal Antonio selama bertahun-tahun. Tidak mungkin Monna tidak paham sifat kejam Antonio, juga trik-trik liciknya.

__ADS_1


"Rasanya percuma saja. Toh aku juga sudah ketahuan oleh keluarga Hezkiel. Tinggal menunggu waktu sampai aku ditendang." kata Monna bercerita.


"Itu terjadi karena tindakan bod*hmu, Monna. Coba kau lebih sabar dan bisa menahan diri. Tidak akan seperti ini akhirnya." kata Antonio menyalahkan Monna.


"Aku tahu. Ini salahku. Tapi, aku sudah muak dengan semuanya. Aku tidak bisa diam begitu saja saat j*l*ng itu semena-mena." kata Monna murung.


"Tenangkan dirimu dulu. Sementara waktu ini kau akan kuberi kebebasan. Untuk permintaanmu, kau tahu sendiri jawaban apa yang akan kuberikan padamu. Ku juga jangan terus menguji kesabaranku. Ku paham benar, jika kau tidak akan pernah bisa lepas dariku. Kau dan seluruh tubuhmu adalah milikku, milik Antonio Wistton. Ingat ini baik-baik, Monna." kata Antonio menegaskan apa yang perlu ia tegaskan pada Monna.


Monna kaget, "Sudah kuduga. Akan sulit bicara dengan kepala batu sepertinya. Mau bagaimana lagi, aku akhirnya kalah." batin Monna mengeluh.


"Tolong, perhatikan kesehatan Mama. Aku tidak Mama sakit," pinta Monna pada Antonio.


"Ya, soal itu kau tidak perlu khawatir. Mamamu sehat dan baik-baik saja. Kau fokus pada dirimu sendiri dulu. Satu bulan, kuberikan kau libur panjang selama satu bulan. Gunakan waktumu sebaik-baiknya untuk memutar otakmu. Dalam waktu itu, aku jamin aku tidak akan mengganggumu." jelas Antonio.


Kening MOnna berkernyit, Satu bulan?" ulang mOnna bertanya. ia ingin memastikan apa yang ia dengar.


"Ya, satu bulan. Kenapa? kau tidak mau?" tanya balik Antonio menggoda Monna.


"Siapa yang mengatakan aku tidak mau. Kau memberiku waktu satu bulan libur, ini adalah momen pertama yang kau berikan. Tentu saja, aku akan manfaatkan dengan sangat baik." jawab Monna tanpa ragu.


"Bagus. Kali ini kumafkan semua kata-kata kasar dan menyakitkan telingaku. Tidak ada kali kedua, Monna. Ingat ini baik-baik." Antonio kembali mengingatkan Monna.


"Ya, aku mengerti." jawab Monna pelan.


"Tidurlah. Ini sudah malam." kata Antonio lembut.


"Ya, kau juga tidurlah. Maaf, aku sudah emosional tadi." kata Monna dengan mata sembab.


"Bukan sepenuhnya salahmu. Salahku juga terlalu terburu-buru dan mendesakmu. Meski begitu, aku tak akan minta maaf." jawab Antonio.


"Aku tahu," sahut Monna. "Aku tutup teleponnya," pamit Monna ingin mengakhiri panggilan.


"Hm ... " gumam Antonio.


Monna pun mengakhiri panggilannya. Ia menatap layar ponselnya. Dipandanginya fotonya dengan Mamanya dilayar ponselnya. Mata yang berkaca pun perlahan mengeluarkan air mata. Monna menangis, ia bersimpuh di lantai bersandarkan dinding. Dipeluknya kedua lututnya sendiri.


Hiks ... hiks ... hiks ....


Suara tangisan Monna terdengar keras. Ia merasa sedih. Hatinya terasa penuh sesak.

__ADS_1


"Meski mencoba melawan, pada akhirnya aku hanya kan berakhir sama. Aku tidak akan pernah bisa lepas dari Antonio dan belenggunya." batin Monna.


*****


__ADS_2