
Marc sedang dalam perjalanan dengan temannya. Keduanya terlihat panik dan berusaha melarikan diri.
"Apa yang kau lakukan. Marc?" tanya temannya gelisah.
"Entahlah. Bukan itu yang penting sekarang. Kita harus sesegera mungkin melarikan diri." jawab Marc panik. "Kau mengemudilah dengan cepat." perintah Marc setengah berteriak.
"Apa kau gila? kita akan ada dalam masalah jika aku menambah kecepatannya." jawab teman Marc menolak.
"Apa kau mau kita tertangkap, huh?" bentak Marc.
"Siapa yang tadi bicara tidak peduli semua resiko, hah? dasar kau plin plan." ejek teman Marc.
"Diamlah, dan fokus mengemudi. Jika kau masih bicara lagi, biar aku yang mengemudi." sahut Marc memejamkan mata.
"Oh, tidak! aku masih belum kehilangan akal sehatku dengan menerima kau sebagai supirku. Bisa-bisa aku mati sebelum menikah. Sudahlah. Tidak ada gunanya aku bicara dengan orang yang tidak jelas sepertimu." kata teman Marc.
Kecepatan laju mobil pun ditambah. Mobil melaju cepat menuju tempat tujuan yang entah ke mana.
***
Celine yang terluka saat kejadian, langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh Jisoo dan Managernya. Jisoo langsung menghubungi Kakaknya, Jihyuk. Ia menceritakan semuanya sambil menangis tersedu-sedu.
Tak butuh waktu lama, Jihyuk akhirnya datang dan menenangkan Adiknya. Jisoo terus menangis, ia merasa bersalah pada Celine. Jihyuk mencoba bicara dengan Jisoo, agar adiknya itu bisa tenang dan mengendalikan emosi.
Jihyuk berhasil, Jisoo perlahan mulai tenang dan bisa menekan emosionalnya. Jisoo mengatur pernapasannya berulang-ulang agar semakin tenang. Jisoo pun mulai bercerita kronologi kejadian saat itu.
" ... Jadi, temanmu itu langsung menghadang?" tanya Jihyuk.
Jisoo menganggukkan kepala, "Ya, Oppa. Tiba-tiba saja dia ada di depanku." kata Jisoo dengan suara serak.
"Hahh ..." hela napas Jihyuk. "Tenanglah, aku sudah minta orang- orang kepercayaan untuk memeriksa kamera pengawas di sana. Aku sangat khawatir tadi, karena tiba-tiba kau menangis di telepon." kata Jihyuk.
"Aku takut, Oppa. Bagaimana jika ada apa-apa padanya? dia sudah membantuku sebelumnya, kali ini pun dia terluka karena menolongku." kata Jisoo sedih dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tahu, tenangkan dirimu dulu. Ok." Jihyuk merangkul Jisoo, mengusap-usap kepala Jisoo.
Keduanya menunggu Celine yang masih menjalani perawatan. Jisoo merasa bersalah dan tidak tenang. Sedangkan Jihyuk sibuk menelepon untuk mengerahkan orang-orangnya mencari pelaku yang hendak mencelakai Adiknya, tetapi justru mencelakai Celine.
***
Malam harinya ....
Celine sudah menerima perawatan dan dipindahkan ke ruangan rawat inap. Jihyuk memasukan Celine ke ruang VIP.
__ADS_1
"Celine, maafkan aku. Kumohon, cepatlah bangun." kata Jisoo, memegang tangan Celine.
Tok ... tok ... tok ....
Pintu ruangan terbuka. Terlihat Kang Soohyuk yang masuk ke dalam ruangan. Berjalan perlahan mendekati kedua Kakaknya.
"Hyung, Nuna ... " sapa Soohyuk.
"Oh, kau sudah datang." sapa Jihyuk.
Soohyuk menganggukkan kepala, "Apa yang terjadi? kenapa dia seperti ini?" tanya Soohyuk, menatap kedua Kakaknya bergantian.
"Dia menolongku lagi. Tadi, tiba-tiba ada seseorang yang mau menyerangku. Aku tidak tahu siapa. Yang jelas, dia ingin sekali aku celaka." jawab Jisoo.
"Soohyuk, bawalah Jisoo pulang. Aku sudah meminta Bibi pelayan memasak sup. Sampai di rumah, ajaklah dia makan. SEharian dia tidak mau makan." kata Jihyuk.
"Tidak, Oppa. Aku tidak mau pulang. Aku mau menjaganya di sini." sahut Jisoo.
"Jisoo, pulanglah dengan Soohyuk. Aku yang akan menjaganya. Kesehatanmu juga perlu kau perhatikan. Jangan buat apa yang dia lakukan menjadi sia-sia. Dia juga pasti tidak mau melihatmu sakit," kata Jihyuk menjelaskan.
"Nuna, ayo pulang denganku. Hyung benar. Nuna harus menjaga kesehatan. Bukankah keselamatan Nuna juga terjamin jika di rumah." kata Soohyuk, mencoba membujuk Kakak perempuannya.
Jisoo menatap Jihyuk. "Oppa ... " panggil Jisso pelan.
"Oppa akan terus di sini, kan? Oppa tidak akan pergi, kan?" tanya Jisoo.
Jihyuk mengusap kepala Jisoo, "Ya, aku akan di sini dan menjaganya. Kau tidak perlu khawatir. Pulanglah dengan Soohyuk." jawab Jihyuk.
Jisoo menganggukkan kepala tanda setuju. Ia menatap dan mengusap wajah Celine yang pucat.
"Aku pulang dulu, Celine. Di sini, kau akan dijaga Oppa-ku. Cepatlah sembuh," bisik Jisoo.
Soohyuk menatap Celine sesaat, ia dan Jisoo lalu, pergi meninggalkan Jihyuk seorang diri. JIsoo menoleh ia melihat Kakaknya berdiri di samping Celine yang sedang terbaring tidak sadarkan diri.
"Ayo, Nuna ... " ajak Soohyuk. Merangkul Kakaknya.Keduanya pun keluar dari ruangan. Jisoo dibawa pulang oleh Soohyuk.
Sementara itu, di dalam ruangan. Jihyuk memandangi Celine. Pandangannya teralihkan, saat ponselnya berdering. Jihyuk menerima sebuah pesan.
"Tidak salah lagi. Itu pasti kau, Marc. Jika semua terbukti, kau akan benar-benar ku habisi." batin Jihyuk.
Jihyuk terlihat kesal setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Ia menatap Celine lagi, membenahi selimut Celine dan ia pun berjalan menuju sofa yang tersedia di dalam ruangan. Ia langsung duduk bersandar sofa.
***
__ADS_1
Di perjalanan pulang, Jisoo dan Soohyuk saling bertukar pendapat. Mereka membicarakan kejadian buruk yang menimpa Jisoo dan Celine.
"Apa Nuna punya musuh? seseorang yang tak menyukai Nuna mungkin." tanya Soohyuk.
"Ya, orang-orang seperti itu pasti ada. Tidak mungkin kan seseorang hanya disukai tanpa dibenci. Tak ada yang dipuji tanpa dicaci maki. Tapi, kurasa mereka tak akan berani melakukan itu." jawab Jisoo.
"Ah, iya juga. Jika mereka berani, mungkin mereka akan melakukannya sejak dulu. Benar, kan?" sahut Soohyuk.
Jisoo menatap Adiknya, "Soohyuk, kau mencurigai seseorang? tanya Jisoo.
"Entahlah, ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. siapa pelakunya bisa saja dari orang terdekat yang mengenal Nuna. Atau, orang yang membenci keluarga kita. Ah ... apa mungkin ada yang membenci keluarga Kang?" jawab Soohyuk menduga-duga.
"Benar juga. Segala kemungkinan bisa terjadi." gumam Jisoo. Jisoo mengusap bahunya sendiri, "Aku sangat lelah, Soohyuk. Bangunkan aku, jika kita sudah sampai rumah. Ok." kata Jisoo.
"Ya," jawab Soohyuk.
Jisoo menyandarkan kepalanya ke bangku mobil, Ia memejamkan matanya. Bayangan kejadian sebelumnya masih terlihat jelas. Membuat Jisoo resah dan terus gelisah.
***
Tengah malam ....
Celine terbangun. Ia membuka matanya perlahan. Dilihatnya lekat langit-langit ruangan itu.
"Ini di mana? tempat ini seperti ... " batin Celine meraba selimut yang ia kenakan. "Rumah sakit?" lanjutnya dalam hati.
Saat tubuhnya sedikit bergerak, Celine merasakan sakit di bagian perutnya.
"Ouch ... ssshh ... sakit sekali." gumam Celine.
Celine hendak meraba perutnya yang terluka, tetapi tangannya dipegang oleh Jihyuk.
"Jangan sentuh lukanya," kata Jihyuk.
Celine menatap Jihyuk, "Si, si, siapa? kau siapa?" gumam Celine lekat menatap Jihyuk.
Jihyuk menatap Celine, "Oh, maaf. Aku tidak bermaksud lancang menyentuhmu." kata Jihyuk yang langsung melepaskan tangan Celine yang ia pegang. "Aku, Kang Jihyuk. Kakak Jisoo." lanjut Jihyuk memperkenalkan diri.
"Kang Ji-Hyuk?" ulang Celine.
"Hm," gumam Jihyuk merasa canggung.
Celine Mengangguk-anggukkan kepala. Sementara Jihyuk hanya diam mematung di samping Celine. Suasana seketika hening. Karena keduanya terdiam.
__ADS_1
*****