
Monna mendapat kabar dari Marie. Marie melaporkan sesuatu hal yang mengejutkan Monna.
"Nyonya, ada hal penting. Wanita itu, dia hamil."
Begitulah isi pesan dari Marie untuk Monna. Seketika Monna kaget, ia tidak menyangka jika Celine akan hamil.
"Si*l*n! Bagaimana bisa jadi seperti ini. Baru saja aku membuat kesepakatan dengan Hezkiel. Sudah muncul masalah baru. Jika Hezkiel sampai tahu dia akan punya anak, posisiku akan tersingkirkan. Hezkiel memang mencintaiku, tetapi ia lebih cinta pada perusahaan yang dibesarkannya. Tentu saja harus ada penerus yang dia inginkan." batin Monna. Ia menggigit ujung jari telunjuk tangan kanannya.
"Terus awasi dia. Aku akan segera pulang."
Balasan yang baru saja dikirim Monna. Ia memutuskan untuk pulang lebih dulu. Karena ia punya rencana.
***
Sebelumnya ....
Di rumah. Celine terlihat senang. Setelah tahu bahwa ia hamil dengan melihat hasil tes kehamilan, Celine langsung pergi ke dokter kandungan ditemani Anha. Celine ingin memeriksa keadaan janin yang ia kandung.
Sepulangnya dari dokter, Celine langsung ingin istirahat. Marie pada saat itu sedang membawa sekeranjang pakaian milik Monna. Hendak pergi ke kamar Monna. Marie mendengar percakapan antara Anha dan Celine, memutuskan diam sejenak mencuri dengar permbicaraan keduanya.
"Aku akan dengar pembicaraan mereka. Siapa tahu ada hal penting yang bisa ku laporkan pada Nyonya." batin Marie. Ia meletakan kembali keranjang pakaian dan berdiam diri dibalik dinding dekat dapur.
Pada saat itu, posisi Anha dan Celine berbincang tepat di dapur. Karena Celine meminta Anha menghangatkan susu untuknya.
"Bi, tolong hangatkan susu untukku." pinta Celine.
"Baik, Nyonya." jawab Anha tersenyum senang.
"Bibi terlihat senang. Lihat, wajah Bibi berseri." kata Celine, yang juga tersenyum.
"Tentu saja. Saya sangat senang karena saya akan melihat bayi nantinya. Hahhh ... saya sudah tidak sabar, Nyonya." ungkap Anha bahagia.
"Masih lama untuk melihatnya, Bi. Aku mau ke kamar dulu, bisa antar susunya ke kamar?" tanya Celine.
"Tentu saja. Selamat istirahat, Nyonya. Ibu hamil perlu banyak istirahat dan tidak boleh stres." Anha tampak begitu perhatian pada Celine.
Celine hanya tersenyum, sesaat kemudian ia melangkahkan kaki pergi meninggalkan Anha di dapur seorang diri. Anha tidak menunggu lagi, ia segera pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Marie tersenyum, "Aha, ada berita panas. Aku siap melapor pada Nyonya." batin Marie.
Melihat Anha yang sudah berlalu pergi, Marie segera mengangkat keranjang pakaian dan bergegas ke kamar Monna. Sesampainya di kamar, Marie menata pakaian ke dalam lemari. Ia melihat arah pintu, takut jika ada yang tiba-tiba masuk. Dirasa aman, ia mengeluarkan ponsel dan langsung mengirim pesan pada Monna.
***
Dengan alasan ada pekerjaan mendadak, Monna memilih kembali lebih dulu. Hezkiel tidak mencegah kepergian Monna. Ia tidak ingin berdebat lagi dengan Monna.
Monna pergi dengan menggunakan taxi. I menolak pergi dengan supir pengganti menggunakan mobil Hezkiel. Monna meminta Hezkiel tidak tergesa-gesa pulang. Karena ia kemungkinan akan tidur di luar
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, Monna pun akhirnya sampai di rumah. Ia memijat bahunya dan tengkuk lehernya. Merasakan sakit karena merasa lelah, sudah duduk terlalu lama dalam perjalanan.
Di dalam rumah, Monna di sambut Marie. Marie senang melihat Nyonya majikannya pulang ke rumah.
"Selamat datang, Nyonya." sapa Marie tersenyum.
"Hallo, Marie. Kerja bagus. Karena kau satu-satunya orang yang menyambutku." kata Monna.
"Anda ingin mandi atau berendam? perlu saya siapkan bak mandi untu berendam? saya akan pijat bahu dan punggung Anda." Marie menawarkan diri melayani Monna.
Monna tersenyum, "Ya, boleh saja. Ayo ... " Monna mengajak Marie pergi kamarnya.
***
"Tidak, tidak. Aku tidak boleh tergoda oleh apapun. Lepas dari situasi saat ini ataupun masa laluku. Wanit yang dia suka 'kan Monna. Jadi, sudah jelas Hezkiel pasti akan menerima anak dari Monna. Meskipun dia mengatakan jika Papa dan Mamanya ingin cucu. Ini hanya sebuah formalitas untuk melanjutkan generasi, bukan? apakah anaku akan dia sayangi? Ah, sudahlah. Aku pikirkan esok. Aku lelah sekali hari ini. Aku mau tidur sebentar lalu memasak makan malam." batin Celine.
Ia mengusap perutnya lembut. Ia tersenyum tipis, membayangkan jika anaknya lahir, dia akan sempurna sebagai seorang wanita.
"Baik-baik selalu, sayang. Mama menyayangimu," gumam Celine.
Mata Celine perlahan terpejam. Ia sangat lelah. Tidak beberapa lama, Celine pun terlelap tidur.
***
Di kamarnya Celine sedang tidur, sedangkan Monna sedang menikmati pijatan pembut dari Marie. Pelayannya itu sungguh sangat lihai memanjakan tubuh.
"Apa pijatan saya terlalu kuat, Nyonya?" tanya Marie.
__ADS_1
"Tidak. Itu sudah cukup, Merie. Kau memang sungguh luar biasa. Kau bisa selau ku andalkan, ya. Aku senang kau patuh dan bisa membantuku. Aku akan berikan kau hadiah nanti." ucap Monna merasakan nikmatnya pijatan Marie.
Ponsel Monna berdering. Monna mendapatkan panggilan dari Antonio. Di ponselnya, Monna menyimpan nama Antonio dengan nama 'Tuan'. Melihat nama itu tampil di layar ponselnya, Monna pun meminta Marie menyudahi pijatan dan pergi meninggalkannya yang sedang berendam di bak mandi.
"Cukup, Marie. Kau bisa pergi. Aku ada panggilan dari Direktur perusahaanku." kata Monna.
"Oh, saya mengerti. Saya permisi," jawab Marie yang langsung bergeges pergi meninggalkan kamar mandi.
Melihat Merie sudah keluar dan menutup pintu, Monna langsung menerima panggilan Antonio dan marah-marah.
"Ada apa lagi? bukankah sudah aku jawab?" sentak Monna emosi.
"Hei, kau sedang kesal? aku menghubungimu karena aku merindukanmu. Bukan karena hal lain, sayang. " kata manis Antonio.
"Aku sedang tidak ingin melakukanya denganmu. Lupakan saja keinginanmu." jawab Monna menolak. Ia sedang kesal, emosinya tidak stabil.
"Apa kau tidak merindukan Bibi? ah, akau tidak ingin bertemu dengannya?" pancing Antonio. Sebisa mungkin, Antonio ingin menggoyahkan hati Monna.
"Mama ... " batin Monna, mengepalkan dua tangannya.
"Di mana Mamaku? kau sembunyikan dia di mana?" tanya Monna dengan nada kasar.
"Di mama, ya ... ah, entahlah. Kau cari saja sendiri, hahaha ..." jawab Antonio sengaja mempermainkan Monna. "Jika kau ingin bertemu Mamamu? mudah saja. Kau hanya peru dapatkan saham dari Hezkiel Winter. Jika tidak, maka kau tidak akan pernah bisa bertemu Mamamu. Paham!" lanjut Antonio menekankankan kata-katanya.
"B*r*ngs*k! sampah tua ini selalu saja mengancamku. Lihat saja, begitu aku berhasil tahu keberadaan Mama. Kau orang pertama yang kan kuhabisi." batin Monna.
"Jangan berpikir kau akan menghabisiku, Monna. Kau tidak akan bisa lakukan itu." kata Antonio tiba-tiba. Seakan tahu isi pikiran Monna.
"Aku mengerti," jawab Monna.
"Di mana kau? temui aku nanti malam. Ayo makan malam bersama," pinta Antonio.
"Hm, ok. Kirim saja alamatnya lewat pesan." jawab Monna. Monna langsung mengakhiri panggilan dari Antonio secara sepihak.
"Aaarghhhh! S*al*n! B*d*bah itu sungguh menyebalkan. Aaahhh ... aku bersumpah, aku akan melenyapkamu, Antonio Wistton!" maki Monna. Mengertakan giginya kuat.
Tidak lama Monna menangis. Ia menenggelamkan kepalanya ke air. Ingin agar kepalanya dingin. Monna sedih, kesal dan kecewa. Ia tidak pernah beruntung, seakan takdir selalu mempermainkannya.
__ADS_1
*****