Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
40. Tidak Berkutik


__ADS_3

Hans dan Lily tidak bisa berkata apa-apa lagi selain meluapkan kesedihan mereka.Setelah mendengar pengakuan Celine. Mereka menjadi kesal dan kecewa atas sikap putra kesayangan mereka.


Hans yang sudah kesal, langsung datang ke perusahaan dan membuat keputusan sepihak. Ya, Hans langsung mencoret nama Hezkiel sebagai Direktur Utama perusahaan. Ia kembali mengambil alih mengelola perusahaan untuk sementara waktu, selama posisi Direktur Utama masih kosong.


Keputusan Hans langsung disampaikan Hans di ruang rapat. Dengan alasan pemindahan tugas, Hans langsung mencopot posisi Hezkiel tanpa ragu. Tentu saja, hal itu langsung mendapatkan Banyak kritik dan perdebatan para staf. Tapi, Hans tidak peduli. Ia langsung berpamitan setelah mengumumkan keputusannya. Ia berjalan menuju ruangan Direktur Utama, yang biasanya ditempati oleh putranya.


Dilihatnya seksama isi dalam ruangan itu. Hans benar-benar terlihat kecewa. Ia tidak tahu lagi apa yang akan ia lakukan pada Hezkiel, putranya.


Tidak beberapa lama, Hezkiel datang dan memprotes tindakan Hans yang sepihak. Hezkiel marah, ia tidak terima jabatannya dicopot begitu saja.


"Pa, apa yang Papa lakukan? bagaimana bisa Papa seperti ini?" kata Hezkiel marah.


Hans mendengus kesal, "Huhhh ... bagaimana bisa, ya? kau sendiri? bagaimana bisa kau membawa j*l*ng itu ke rumahmu, hah? apa kau sudah tidak menganggap Papamu ini? jawab!" sentak Hans murka.


Hezkiel melebarkan mata, "A ... a-a-apa? bagaimana Papa tahu? jika Monna ada di rumah?" gagap Hezkiel kebingungan.


"Kau sudah gila, kiel. Kau lupa akan janjimu pada kami. Jadi, selama ini kau diam-diam masih berhubungan dengan dia? bahkan karena dia, istrimu pun jadi korban. Kau ini, Ahhhh ... " hela napas panjang Hans.


"Pa, tolong dengar penjelasanku dulu. Aku tahu, aku salah. Tapi, aku ... " kata-kata Hezkiel terpotong oleh Hans.


"Jangan datang lagi ke kantor. Juga jangan datang ke rumah. Aku dan Mamamu tidak akan sudi melihatmu. Perbaiki sikapmu, Kiel. Aku malu menjadi Papamu, jika sikapmu seperti ini. Bagaimana bisa? apa salahku sampai kau seperti ini, Nak? Papa, Mamamu ini kurang apa? sehingga kau tega pada kami." keluh Hans tidak tahan lagi.


"Pa, maafkan aku. Aku bersalah. Tolong, jangan usir Hezkiel, Pa. Tolong!" seru Hezkiel memohon.


"Tidak! keputusanku sudah bulat. Kau diberhentikan sementara dari jabatanmu dan kau dilarang keras datang ke perusahaan juga kediaman Winter, apapun alasannya." jawab Hans.


"Pa ... " panggil Hezkiel merengek.


"Keluar atau kuusir. Pilihlah!" Hans meneguhkan hatinya. Ia tidak peduli, jika Hezkiel menilainya sebagai orang tua yang kejam dan berhati dingin.

__ADS_1


"Papa, aku tidak mau pergi.Tolong, beri aku kesempatan." pinta Hezkiel.


Hans mengangkat gagang telepon, ia langsung menghubungi kantor keamanan dan meminta dikirim beberapa orang. Hezkiel kecewa, Hans seperti sedang melihat sosok lain dari sisi Papanya sendiri.


"Bagaimana, ini. Aku tidak bisa kehilangan kekuasaanku begitu saja. Aku tidak boleh tinggal diam. Papa harus mau dengar perkataanku." batin Hezkiel.


"Jangan pernah berpikir untuk membujukku. Itu tidak akan bekerja. Kau sudah sangat membuatku kecewa, Kiel." kata Hans lagi.


Hezkiel diam. Sepertinya ia tidak punya pilihan selain pergi meninggalkan Papanya seorang diri di dalam ruangannya. Ia tidak mau menambahkan masalah dengan harus diusir dari ruangannya sendiri.


***


Di rumah, Monna menunggu kedatangan Hezkiel. Ia sudah tidak sabar menerima saham yang dijanjikan Hezkiel. Ia mondar mandir di ruang tamu.


Tidak lama, Hezkiel datang dengan langkah lemas. Ia tampak bersemangat sama sekali. Melihat itu, Monna langsung merangkul lengan dan memberikan kecupan di pipi Hezkiel.


Hezkiel diam tidak menjawab, langkahnya berat menuju kamar tidur. Monna lagi-lagi dibuat bingung oleh Hezkiel. Tahu pikiran dan perasaan Hezkiel sedang tidak bagus, Monna hanya bisa diam mengikuti.


Di kamar, Hezkiel langsung menghempaskan tubuhnya sendiri ke atas tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamarnya. Tatapannya kosong. Ia merasa sangat tidak berguna.


"Sekarang aku harus bagaimana? Papa dan Mama pasti tidak mau lagi bertemu denganku, begitu juga Celine. Oh, Celine, aku lupa datang ke rumah sakit. Ah, iya ... tadi kan kami bertengkar dan dia mengusirku." batin Hezkiel.


Hezkiel lalu bangun dari posisi berbaringnya dan memanggil Monna. Sepertinya ia ingin memastikan sesuatu pada Monna.


"Monna ... " panggil Hezkiel.


"Ya? ada apa?" jawab Monna cepat.


"Apa yang kau katakan pada Celine?" tanya Hezkiel menatap Monna.

__ADS_1


Monna melebarkan mata, "Apa? kau baru datang dan langsung menanyakan itu? kau bahkan tidak bertanya apakah aku sudah makan atau belum, atau ... " kata-kata Monna terputus oleh Hezkiel yang mendesak Monna segera menjawab.


"Jawab!" seru Hezkiel berteriak. Membuat Monna seketika diam karena kaget.


"A-apa, ini? dia berteriak padaku? Hezkiel, pria ini sungguh memarahiku, ya. S*al! semua gara-gara j*l*ng itu. Kenapa juga dia terjatuh dan membuat kekacauan. Wanita itu pasti sengaja menjatuhkan dirinya. Ya, kan. Ya ... itu benar, pasti seperti itu." batin Monna berpikir keras.


"Kau diam? cepat jawab, Monna. Jangan buat kesabaranku habis." kata Hezkiel mulai emosi.


Monna manarik napas dalam lalu, mengembuskan napas panjang. Kali ini, ia ingin menyerang Celine dengan kejadian yang sebelumnya terjadi. Monna pun akhirnya mengarang naskah dramanya sendiri.


"Kiel, aku tahu kau kecewa padaku. Tapi, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Maaf, pada saat aku bekerja. Aku sempat mendengar rumor aneh tentangmu dan Celine. Staf itu bahkan membuatku kesal dengan mengatakan kalian pasangan serasi. Kau kan tahu, aku pencemburu. Bagaimana bisa aku tahan mendengar ucapan yang menusuk seperti itu. Karena itu, saat aku pulang aku mengatakan yang sebenarnya pada Celine. Aku juga mau dia menerimaku. Bukan Monna sebagai kekasih atau selingkuhanmu. Melainkan Monna, sebagai istrimu. Bukankah, jika kita susun, aku adalah istri pertama? aku tidak minta apa-apa darinya juga darimu. Yang kuinginkan hanyalah sebuah pengakuan. Aku mau berdiri di sisimu, kiel. Aku, aku, Hiks ... aku tidak mau menjadi bayangan yang terus berada di belakangmu dan Celine. Apa aku salah? katakan, apa aku salah?" dengan menangis tersedu Monna bercerita. Ia mencoba mengalihkan perhatian Hezkiel dengan manatap kasihan padanya.


Monna menatap Hezkiel dengan mata sembab berkaca-kaca, "Dia pasti akan memihakku, kan. Dengan ini dia pasti akan luluh. Monna, keinginanmu semakin dekat. Pastikan Hezkiel tidak berpaling dan membuangmu. Kau harus membuatnya selalu berpihak padamu." batin Monna.


Melihat Monna yang kacau, Hezkiel segera berdiri dan merengkuh Monna dalam pelukannya. Ia tidak sanggup, melihat wanita kesayangannya menangis seperti itu.


"Maaf, " lirih Monna dengan napas berat.


"Sudah, lupakan saja. Tidak apa-apa," jawab Hezkiel.


"Tapi, aku sudah membuatmu marah. bagaimana bisa baik-baik saja?" kata Monna, melepas pelukan menatap Hezkiel.


Hezkiel menyeka air mata Monna, "Apa yang kau katakan kan benar. Kau hanya ingin terlihat. Akulah yang seharusnya minta maaf, karenaku kau menjadi seperti ini. Aku yang lemah ini, tidak bisa menjagamu dengan baik. Maafkan aku, sayang." kata Hezkiel sedih.


"Tertangkap! Hah, s*al! aku harus berakting menangis sampai seperti ini. Untung saja bakat menangisku alami. Jika tidak, dia tidak akan semudah ini percaya." batin Monna senang.


Monna menggelengkan kepalanya, ia menangkup wajah Hezkiel yang berdiri di hadapannya. Monna mengusap lembut wajah Hezkiel dengan tatapan sedih.


*****

__ADS_1


__ADS_2