Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
78. Menata Hati


__ADS_3

Hezkiel kembali bekerja. Ia sudah diterima kembali oleh kedua orang tuanya. Kali ini, Hezkiel tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mengejar ketertinggalan, selama ia diberhentikan sementara sebagai CEO oleh Papanya, Hans.


Sehari-hari, Hezkiel sibuk bekerja dari pagi sampai malam. Bahkan sampai tengah malam. Malam itu, setelah ia selesai mandi. Hezkiel pergi ke ruang kerjanya. Di sana ia duduk di kursi menatap layar komputer. Lagi-lagi, waktunya dihabiskan untuk bekerja.


Tak lama, Hezkiel mencari-cari sesuatu. Ia membuka setiap laci meja yang ada di dibelakangnya. Saat sedang mencari sesuatu itu, ia melihat sebuah album putih. Hezkiel tertegun sejenak. Ia mengusap album tersebut perlahan-lahan.


Ia berbalik dan kembali duduk di kursinya. Dibukanya album foto itu, album foto itu berisikan foto-foto pernikahannya dengan Celine. Setiap foto dilihat cermat oleh Hezkiel. Dalam foto, tampak Celine yang tersenyum cantik saat acara pernikahan.


Tanpa sadar, jemari Hezkiel mengusap wajah Celine dalam foto. Ia berpikir dan termenung.


"Apa kau baik-baik saja, Celine? Kau selalu tersenyum dulu, meski aku acuh tak acuh padamu. Kau selalu peduli padaku, kau juga perhatian. Sekarang aku paham rasa sakitmu. Setelah aku dikhianati oleh cintaku. Kau ... kau, kau pasti sangat menderita saat itu." Mata Hezkiel memerah tak lama berkaca-kaca, ia pun menunduk lesu. "Maafkan aku, Celine. Maaf ... " lanjutnya bergumam.


Tubuh Hezkiel buat bergetar, pada saat ia membalik lembar demi lembar halaman album foto. Air matanya jatuh dengan sendirinya. Hal itu tidak di sadari oleh Hezkiel. Malam itu, Hezkiel terus memandangi foto-foto pernikahannya sampai menjelang dini hari.


***


Merry diam-diam bertemu dengan Bobby. Karena tidak tahan lagi melihat penderitaan Ibu dan Anak itu, Bobby juga berniat mempertemukan keduanya secara rahasia tanpa sepengetahuan Antonio.


"Bobby, ada apa kau datang? kau butuh sesuatu?" tanya Marry.


"Bibi, maaf. Aku baru datang dan menemui Bibi. Akhir-akhir ini Tuan sedang kacau. Jadi, aku tidak bisa bergerak bebas. Karena kami semua sibuk diberi tugas yang sebenarnya tak penting dilakukan." jelas Bobby.


"Ya, aku paham. Tidak apa-apa." jawab Merry.


Bobby memberikan sebuah kertas pada Merry, " Ini, Bi. Alamat yang Bibi inginkan. Aku meminta bantuan orang lain yang tidak berhubungan atau mengenal Tuan. Jadi, aku pastikan soal ini aman. Bibi tidak perlu khawatir." kata Bobby lagi meredam rasa cemas Merry.


Merry melihat kertas lalu, menatap Bobby. Terlihat mata Merry berkaca-kaca. Ia segera berterima kasih pada Bobby karena Bobby sudah mau membantunya.


"Terima kasih," ucap Merry.


"Ya, Bi. Bibi sudah aku anggap seperti Mamaku sendiri. Begitu juga Monna, yang sudah seperti Adik kandungku. Jangan sungkan meminta bantuan atau pertolongan." Bobby tersenyum menatap Merry.


Merry mengusap wajah Bobby, "Kau memang selalu baik pada kami. Bertemu denganmu di sini, adalah sebuah anugerah buatku. Sekali lagi terima kasih, Nak." kata Merry. Yang langsung dijawab Bobby dengan anggukan kepala.


"Oh, ya. Bibi akan ku pertemukan dengan Monna tidak lama lagi. Sebentar lagi, Tuan akan pergi ke luar negeri. Beliau pasti akan menyerahkan semua tanggung jawab pada saya sebagai Asisten pribadi yang merupakan tangan kanan beliau. Saat itu tiba, Bibi bisa bertemu Monna. Aku akan bawa Monna menemui Bibi di sini. Tolong tunggulah sebentar lagi, Bi. Bersabarlah." kata Bobby dengan sangat yakin.


Merry tersenyum, "Aku banyak berhutang budi padamu, Bobby. Bagaimana, ini? bisakah aku membalas semua kebaikanmu?" kata Merry sedih.

__ADS_1


"Cukup dengan Bibi baik--baik saja. Meski ini sulit, tapi kumohon bibi tetap mau bersabar. Bibi juga tidak boleh jatuh sakit. Demi Monna juga demiku. Ok." jawab Bobby, membalas senyuman Merry.


"Hahhh ... " hela napas Merry, "Aku sampai tidak bicara apa-apa lagi karenamu." kata Merry.


"Hm, Bi. Kalau boleh aku tahu. Siapa orang yang akan Bibi temui di alamat itu? setahuku, itu tempat tinggal keluarga Greey." Bobby bertanya karena penasaran.


Merry tersenyum lagi. "Aku belum bisa bercerita soal ini. Yang jelas, aku membutuhkan bantuan dari seseorang terkait Monna. Jika waktunya tiba, aku akan memberitahumu." jawab Merry.


"Ya, baiklah kalau begitu. Aku tidak akan banyak bertanya lagi. Bi, aku harus pergi sekarang. Dan ini, Bibi bisa pakai untuk keperluan Bibi." Bobby memberikan sejumlah uang yang dimasukan ke dalam amplop coklat pada Merry.


"Ini terlalu banyak. Aku tidak bisa menerimanya. " tolak merry, merasa pemberian Bobby berlebihan.


"Bi, tolong terima. Ini bisa Bibi simpan dan gunakan, jika ada sesuatu yang mendesak. Kita kan tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Bibi jangan menolak, ya." jelas Bobby. Ia mendesak Merry menerima pemberiannya.


"Ya, baiklah kalau kau memaksa. Aku akan terima dan menyimpan ini. Terima kasih," kata Merry. Akhirnya menerima pemberian Bobby walau terpaksa.


Setelah itu, Bobby pun pergi. Merry mengantar kepergian Bobby sampai ke depan pintu utama rumah yang ia tempati.


***


Di rumah sakit ....


Jihyuk terlihat sedang bertengkar dengan seorang wanita. Didalam mimpi itu, Jihyuk tampak kesal dengan wajah merah padam. SEdangkan si wanita menangis sembari memohon.


"Mianhae (maaf) ... " kata wanita itu.


"Mwo? (apa) ... " kata Jihyuk makin kesal.


Wanita itu memeluk kedua kaki Jihyuk sembari terus menangis dan meminta maaf.


"Aku salah, Jihyuk. Maafkan aku. Kumohon, maafkan aku... " kata wanita itu sesenggukan.


Hiks ... hiks ... hiks ....


"Setelah apa yang kau lakukan. Dengan mudahnya kau meminta maaf? Apa yang tidak kuberikan padamu? keinginan mana yang belum kupenuhi, huh? Kau ... " Jihyuk menjeda kata-katanya. Ia melepaskan tangan yang merekat di kakinya. "Kita sudahi saja sampai di sini. Aku tidak bisa hidup bersama seseorang yang membagi-bagi cinta bahkan tubuhnya untuk pria lain. Ayo, kita bercerai saja." lanjut Jihyuk berbicara.


Jihyuk pun pergi meninggalkan wanita itu seorang diri. Belum sampai ia keluar dari dalam kamar, wanita itupun berteriak kencang memanggil nama Jihyuk.

__ADS_1


"Kang Jihyuk ... " panggil wanita itu. Terlihat langkah kaki Jihyuk terhenti. "Berbaliklah dan tolong lihat aku. Sekali saja, ku mohon." kata Wanita itu.


Jihyuk pun berbalik, "Apa lagi yang ingin kau perlihatkan, Lee Seoyeon?" tanya Jihyuk.


Tak lama, Jihyuk pun melebarkan mata, saat melihat wanita itu sudah berdiri di balkon. Wanita itu terdiam sesaat, ia menyeka air matanya yang terus berlinangan.


"Aku salah. Seharusnya aku tidak melakukan itu padamu. Pada seseorang yang sangat mencintai dan peduli padaku. Pikiranku kacau dan aku terpengaruh alkohol. Aku tidak sadar jika aku melakukan itu. Maaf ... " kata perempuan itu terus menangis.


"Kau, sedang apa di situ. Masuk, dan tutup pintunya." perintah Jihyuk.


Wanita itu menatap Jihyuk, "Maafkan aku, sayang. Aku sungguh-sungguh menyesal. Daripada aku bercerai dan hidup sendirian, lebih baik aku pergi dari dunia ini. Maaf," kata wanita itu lagi.


Jihyuk melebarkan mata, "Jangan macam-macam Seoyeon. Kau ... " ucapan Jihyuk terhenti, Saat tiba-tiba wanita yang bernama Lee Seoyeon itu melompat dari balkon dan terjun bebas ke lantai dasar.


"Lee Seoyeon ... " teriak Jihyuk berlari mendekati balkon berniat menyelamatkan wanita itu.


***


Dalam keadaan terlelap, Jihyuk memanggil-manggil nama wanita di mimpinya itu.


"Tidak! Seoyeon. Seoyeon ... " Jihyuk memanggil-manggil.


Celine mengusap wajah Jihyuk, "Jihyuk, bangunlah. Jihyuk ... " panggil Celine membangunkan Jihyuk.


Jihyuk terbangun dan membuka lebar matanya. Dahinya berkeringat, napasnya terengah-enggah. Jihyuk sampai terbatuk-batuk.


Uhuukkk ... hukk ....


Celine memberikan segelas air, "Minum dulu, pelan-pelan saja." kata Celine.


Jihyuk menerima gelas berisi air minum dan minumannya. Kepala Jihyuk tiba-tiba terasa berat dan terasa pusing.


"Kau baik-baik saja?" tanya Celine pelan.


Jihyuk kaget, "Celine ... " panggilnya menatap Celine. "Kenapa kau bangun? kau turun dari tempat tidurmu?" lanjut Jihyuk menatap ranjang pasien yang kosong.


"Maaf. Aku mendengarkan kau mengigau. Aku khawatir kau kenapa-kenapa. Maaf ... " kata Celine merasa bersalah karena tidak menurut ucapan Jihyuk untuk tidak banyak bergerak.

__ADS_1


Kata maaf seakan terngiang-ngiang dipikiran Jihyuk. Ia tidak tahu apakah ia harus sedih atau marah atau bahagia saat mimpi itu datang padanya. Pada saat ia sudah berhasil menata hatinya.


*****


__ADS_2