
Karena Hezkiel tak kunjung datang. Joe meeasa terpojok oleh pertanyaan-pertanyaan Monna. Joe mencoba tenang, ia menyakinkan dirinya jika semua akan baik-baik saja.
"Tidak boleh takut, tidak bisa mundur. Ini demi Hezkiel, sahabatku." batin Joe.
Monna tersenyum tipis, "Joe ... " panggilnya.
Joe menatap Monna, "Ya, Nona. Ada apa?" tanya Joe.
"Jangan terlalu formal begitu. Panggil saja aku Monna. Coba panggil aku," pinta Monna.
"Umh, Mo-Mo-monna ... " panggil Joe tegang.
"Hahaha," tawa Monna. "Astaga, Joe. Kau menggemaskan sekali. Memanggil nama sK kenapa setegang itu? kau takut ku terkam, ya?" goda Monna.
"Bagaimana, ini? bisa-bisanya aku tegang menghadapi rubah betina ini. Sial!" batin Joe mengumpat diri sendiri.
"Maaf, ini pertama kalinya buatku bicara berdua dengan wanita." dusta Joe.
"Oh, ya. Kau tidak pernah berkencan sebelumnya?" tanya Monna lagi.
Joe menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak pernah," jawab Joe.
"Apa pria ini punya kelainan? sampai-sampai tidak pernah mengenal wanita. Ck ... sangat disayangkan. Kalau begitu, aku harus menjadi gurunya." batin Monna.
"Apa yang akan wanita ini lakukan? lihat tatapannya, seakan ingin menerkamku hidup-hidup." batin Joe.
"Bagaimana aku menurutmu, Joe?" tanya Monna.
"Ah, ini dia. Kalau begini, aku harus terus memancingnya, kan. Akan ku ajari kau sesuatu, Monna. Jika pembisnis tidak semua berpikiran mesum. Asal kau tahu, otakku ini masih sehat." batin Joe.
"Hm, kau ingin penilaian jujur atau bohong?" tanya Joe menatap Monna.
"Apa yang kau katakan, Joe. Tentu saja jujur. Apakah aku kurang cantik? atau tidak cantik?" cecar Monna khawatir.
Joe teesenyum tampan, "Sejujurnya, kau amat sangat cantik, Monna." jawab Joe.
"Bohong! daripada kau, masih lebih cantik Celine. Kau bahkan tidak ada setengahnya," batin Joe.
Monna senang, "Wah, terima kasih. Aku senang kau memujiku," kata Monna.
__ADS_1
"Oh, ya. Boleh aku bertanya, Monna?" tanya Joe.
"Ya, boleh. Katakan, apa yang ingin kau tanyakan?" jawab Monna, menunggu pertanyaan dari Joe.
"Apa yang kau lihat dari Hezkiel? kau kan tau, bagaimana sifat buruknya." tanya Joe, memancing Monna.
"Maksudmu?" tanya Monna bingung.
"Ah, kau tidak tahu rupanya. Dia kan terkenal dengan seseorang berhati dingin. Apa mungkin dia memperlakukanmu begitu hangat, sehingga kau terpesona olehnya?" jelas Joe.
"Oh, itu. Kau benar, Hezkiel memang memiliki sisi buruk. Memang benar dia selalu memihakku dan menyayangiku, tetapi semenjak dia menikah, sikapnya perlahan berubah. Dan itulah yang membuatku kesal," keluh Joe.
"Kau baik-baik saja, saat Hezkiel menikah?" tanya Joe lagi.
"Mau bagaimana lagi. Aku kan tidak direstui kedua orang tuanya. Namun, satu hal yang ku suka. Wanit itu bukan lawanku, meski statusnya istri, dia bukanlah istri yang dicintai suaminya. Karena Hezkiel hanya akan mencintaiku, dia hanya akan melihatku seorang." jelas Monna.
"Wanita jahat! hatimu sungguh hitam rupanya," batin Joe kesal. Joe menahan dirinya agar rasa kesalnya tidak terlihat.
Joe tersenyum, "Sayang sekali jika kau masih mau dengan pria beristri, kan. Bagaimana jika kau mencari pria lain saja. Masih banyak pria lanjang yang akan mau denganmu, Monna." kata Joe memberikan saran.
Monna tersenyum, "Jika itu kau, akan kupikirkan." goda Monna.
"Ya, Joe. Jika pria itu kau, akan kupikirkan. Kenapa? kau tidak suka padaku? aku bukan tipemu, ya?" tanya Monna.
Joe tersenyum canggung, "Ah, bu-bukan seperti itu maksudnya. Aku hanya kaget. Kita kan baru pertam kali bertemu, bagaimana bisa kau mengatakan sesuatu yang mengejutkan seperti itu." jelas Joe.
"Kenapa harus kaget? kita kan sudah dewasa, pembicaraan seperti ini tidak perlu bertele-tele." sahut Monna.
"Gila! wanit ini benar-benar gila! bagaimana bisa dia dengan mudahnya bicara seperti itu padaku. Dia sudah bersama Hezkiel, dan dia berani menggodaku secara terang-terangan. Sungguh wanita yang mengerikan," batin Joe.
"Manisnya. Pria ini harus aku dapatkan, bagaimanapun caranya. Jika aku bisa mendapatkannya, aku pasti akan puas dan bahagia. Aku harus cepat menjalankan misi yang diberikan Direktur, agar aku segera bisa melepaskan diri dan mendorong Hezkiel jauh dariku." batin Monna.
Joe dan Monna saling diam. Keduanya larut dalam pemikiran masing-masing. Joe dengan pemikiran yang ingin menjebak Monna, agar sahabatnya sadar. Sedangkan Monna memikirkan cara mendapatkan Joe.
***
Sepulang makan siang, Joe kembali ke kantornya. Joana sudah lama menunggu kedatangan Joe, karena ingin berdiskusi sesuatu.
"Kau makan di luar?" tanya Joana, melihat saudaranya masuk dalam rungan.
__ADS_1
"Oh, kau datang. Kau tidak sibuk, ya?" tanya balik Joe.
"Ada sesuatu yang ingin kuserahkan padamu. Ini soal kerja sama yang kita bahas minggu lalu." jawab Joana.
"Kau letakan saja di sini. Nanti aku lihat. Ada hal penting yang ingin kuceritakan padamu, Joana." kata Joe, duduk di sofa, di hadapan Joana.
"Ada apa? wajahmu tegang," Tanya Joana penasaran.
"Aku tadi makan siang bersam Hezkiel. Kau tahu, ada siapa lagi selain kami?" tanya Joe menatap Joana.
Joana terdiam, lalu menggeleng. Ia tidak tahu apa-apa.
"Memangnya siapa?" tanya Joana.
"Monna ... ini kali pertama aku melihatnya langsung. Dan kau tau, apa yang dia lakukan di belakang Hezkiel padaku? dia menggodaku, Joana. Wanita itu benar-benar menggunakan kecantikannya untuk memikat pria-pria yang terpesona karena kecantikannya." jelas Joe.
"Hah? ini gila, Joe! apa dia tidak tahu siapa kau? sampai-sampai dia nekat menggodamu?" tanya Joana lagi.
"Hahhh ... " Joe menghela napas, "Bagaimana mungkin tidak tahu. Hezkiel saja sudah memperkenalkan kami." jawab Joe.
"Wanita licik! aku sangat kesal mendengar ini, Joe. Awas saja, sampai kau tergoda olehnya, akan kuhabisi kau tanpa ampun." ancam Joana.
"Mana mungkin aku tergoda. Wanita seperti Monna bukanlah tipeku. Aku punya tipeku sendiri," jawab Joe, tanpa sadar Joe membayangkan sosok Celine.
"Hei, Joe. Kenapa kau membayangkan Celine? dia kan istri sahabatmu. Jangan jadi pria sampah!" batin Joe.
"Ya, kuharap kau tidak terpedaya olehnya seperti Leon. Lalu, apa kau punya rencana? mau tak mau kita harus bergerak, Joe. Wanita licik itu, kita harus buat dia mengakui semua perbuatannya kepada Hezkiel." kata Joana.
"Hm, itu kelihatannya tidak mudah. Dari yang kulihat, Kiel sudah tergila-gila padanya. Bahkan, jika harus mengeluarkan jantungnya pun dia akan melakukannya. Jika ingin membongkar kebohongan Monna, kita harus siapkan rencana yang matang. Jika setengah-setengah itu akan sia-sia." jawab Joe.
"Kau punya rencana?" sambung Joana.
"Ada," jawab Joe.
Joe pun menjelaskan rencana yang sudah ia pikirkan sejak diperjalanan. Ia tidak ingin setengah jalan membongkar kebongan Monna. Mulai hari itu, Joe akan menyelidiki Monna lebih lagi. Mencari titik lemah, dan menyerang kelemahan Monna. Bagi Joe, kini Hezkiel hanya pria bodoh yang dibutakan oleh cinta. Joe tidak mau teman baiknya itu terjatuh begitu dalam. Karena itu, ia mengajak Joana dan mengusulkan Leon ikut serta dalam rencana mereka.
" ... saat ini, kita perlu banyak informasi dari wanita itu. Satu-satunya cara mendekatinya adalah menjadi temanya bicara, buat dia nyaman dengan kita agar dia mau berkeluh kesah seperti dia yang mengeluh padaku tadi." jelas Joe.
"Hm, akan kucoba. Aku akan bicara nanti pada Leon. Semoga saja Leon mau membantu kita. Ini aku lakukan demi hubunganku dengan Leon, aku kesal jika ada wanita yang suka merebut pria milik wanita lain. Wanita itu buta, sampai dia tidak bisa melihat penderitaan wanita lain yang prianya diambil. Sampah! dia benar-benar seperti sampah di dapur kita." kesal Joana.
__ADS_1
*****