Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
67. Rasa Sakit


__ADS_3

Monna duduk terdiam di ruang tamu. Ia menanti kedatangan Antonio. Sudah beberapa hari ia tidak bisa menemui antonio, karena Antonio selalu sibuk. Dihubungi pun, Antonio seakan menghindar dengan tidak menerima panggilan darinya. Pesan-pesan yang dikirim Monna pun tidak ada yang di balas oleh Antonio.


Ia tampak gelisah. Monna mondar mandir sambil menggigit ujung jari telunjuk tangan kanannya. Ia berharap sesegera mungkin bisa bertemu Antonio, untuk bisa membahas soal Mamanya.


"Dia ke mana, ya? Kenapa terkesan menghindar dariku. SEmenjak kedatanganku ke sini, dia bersikap berbeda. Dia menjadi dingin dan lebih sedikit bicara. Saat bicara pun dia lebih memilih memalingkan pandangan, seakan muak melihatku. Apa aku punya salah? atau ... " batin Monna terjeda, karena mendengar suara pintu ddibuka dari luar.


Kleeekk ....


Pintu terbuka. Antonio datang bersama seorang wanita cantik dan seksi. Wanita itu terlihat sedang memapah Antonio yang sedang setengah mabuk.


Monna menatap ke arah Antonio dan wanita yang baru datang itu. Pandangan Monna dan wanita itu bertemu.


"Tu, tuan ... " panggil Monna mendekati Antonio.


"Minggirlah. Aku mau ke kamarku," jawab Antonio tak mau disentuh Monna.


"Ta, tapi ... " Monna memegang tangan Antonio, berharap ingin bicara secara empat mata dengan Antonio.


"Nona, apa kau tidak dengar Tuan berkata apa? kau punya telinga, kan." Wanita yang datang bersama Antonio langsung menegur Monna.


Monna menatap wanita itu, "Kau, kau siapa? apapun yang kulakukan, bukan urusanmu. Jangan menghalangiku untuk bicara dengan Tuan." kata Monna dengan ekspresi wajah kesal. Ia lalu menatap Antonio dan memohon pada Antonio sekali lagi agar bisa bicara. "Tuan, saya mohon. Bisa kita bicara?" tanya Monna dengan hati-hati.


Antonio menatap Monna, Aku sibuk. besok saja kita bicara." jawab Antonio. Ia lantas menatap wanita di sampingnya dan mengajak wanita tersebut untuk cepat pergi ke kamarnya.


Kedua orang itu pergi. Monna diam terpaku melihat kepergian dua orang dari hadapannya. lagi-lagi, kesempatannya pupus.


"Kenapa?" gumam Monna menatap tajam punggung Antonio.


"Kenapa?" kata Monna, kali ini dengan suara agak keras.


"Kenapa" teriak Monna.

__ADS_1


Teriakan Monna menghentikan langkah kaki Antonio dan wanita yang bersamanya. Melihat Antonio terhenti dari langkahnya, harapan Monna untuk bicara berdua akhirnya kembali mencuat.


"Kenapa? kata Monna dengan tatapan mata sedih, "Apa aku punya kesalahan?" tanya Monna.


Antonio berbalik menatap Monna, "Apa yang ingin kau bicarakan? sampai kau memaksa seperti ini. Hal sepenting apa?" cecar Antonio mengernyitkan dahinya.


Mata Monna melebar, "Itu, itu, itu ... a, aku ... " MOnna menundukkan sedikit kepalanya karena takut dengan sorot mata Antonio yang terlihat kesal. "Tidak apa-apa, silakan lanjutkan apa yang ingin Anda lakukan." kata Monna, berlari masuk menuju kamarnya.


Antonio mengepalkan kedua tangannya erat. Ia terlihat sangat kesal. Wanita di samping Antonio merangkul lengan tangan Antonio.


"Tuan, jangan terbawa emosi. Ayo, aku akan antar Anda masuk dalam kamar. Anda perlu beristirahat." kata-kata wanita itu begitu lembut sampai akhirnya meluluhkan hati Antonio.


***


Di kamar, Monna menangis tersedu-sedu. Ia merindukan kehidupannya sebelum ikut bersama Antonio. Dulu ia bebas, pergi ke mana saja. bertemu siapa saja. Kini ia bagaikan burung dalam sangkar. Antonio membawanya hanya untuk mengencangkan tali kekang di lehernya.


Hiks ....


Tangisan Monna semakin keras. Ia amat merindukan sosok Mamanya.


Antonio adalah satu-satunya orang yang tahu di mana Mamanya berada. Tak ada seorangpun yang tahu keberadaan Mamanya, karena Antonio lah yang menyembunyikan Mamanya.


Tak ada pilihan selain menunggu dan bergantung pada keberuntungan. Monna tidak mau membuat masalah lagi, atau dia akan benar-benar tak bisa melihat Mamanya lagi.


***


Di tempat lain. Di rumah Melissa. Melissa sedang di hukum oleh sang Kakak. Kakak Melisa bernama Marc, dia seorang pecandu alkohol dan seorang psikopat. Ia tidak segan menganiaya Melissa yang merupakan Adik kandungnya sendiri.


Melisa dan Marc, hanya hidup berdua saja sejak Melisa berumur lima tahun. Kedua orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan dan hal itu membuat Marc depresi sehingga timbul keinginan untuk balas dendam.


Pada usia ke tujuh belas tahun, saat Marc tahu siapa dalang dibalik kematian Papa dan Mamanya. Marc pun dengan brutal membunuh dalang dan orang-orang yang terkait dengan kematian orang tuanya. Tak ada lagi rasa kasihan atau iba di hati Marc. Pintu hatinya seakan telah tertutup dan membeku.

__ADS_1


Marc mengasuh dan membesarkan Melissa dengan hasilnya bekerja sebagai pembunuh bayaran. Melissa awalnya tidak tahu, sampai suatu hari Melissa menemukan sebuah petunjuk yakni bercak darah di mobil sang Kakak.


Pada suatu saat, karena penasaran dengan pekerjaan Kakaknya, Melissa pun mengikuti Kakaknya pergi. Dari situlah ia tahu, jika selama ini, Kakaknya bekerja sebagai orang panggilan. Yang kebanyakan memanggil Marc, untuk menyingkirkan seseorang tanpa jejak.


Melissa yang tahu menegur Kakaknya. Ia tidak mau Kakaknya menjadi seorang kriminal. Tapi, Marc justru mengingatkan Melissa akan tempat tinggal, pakaian dan makanan yang sehari-hari di makan. Tanpa pekerjaannya itu, mereka tak akan bisa hidup. Marc menyakinkan Melissa, jika semua akan baik-baik saja. Meminta Melissa untu berpura-pura tidak melihat apa-apa.


Hari ke hari, hari ke minggu, minggu ke bulan, sampai bulan ke tahun. Kehidupan Melissa dan Marc masih baik-baik saja. Sampai suatu saat, Marc mendapatkan tugas yang begitu berat. Ia harus membunuh seseorang, yang tidak lain adalah Kekasih Adiknya sendiri. Marc yang tidak tahu keseharian Melissa, tentu tidak tahu, jika Melissa sudah punya kekasih. Adik tiri kekasih Melisa, menyewa Marc dan meminta batuan Marc. Semua terungkap, saat kejadian terjadi, ternyata Melissa menyaksikan semuanya.


Melissa yang murka langsung mendorong Kakaknya dari tangga. membuat sebelah kaki Kakaknya cidera dan cacat permanen. Semenjak itu kehidupan Marc menjadi kacau. Ia sering minum dan menjadi pecandu alkohol. Marc terus menyalahkan Melissa atas keadaannya.


Tak memiliki uang untuk membeli Alkohol dan tidak diberi uang oleh Mellisa. membuat Marc bertindak ekstrim. Marc menjual Adiknya sendiri pada temannya dengan harga yang sangat mahal. Marc merencanakan sedemikian rupa, agar kejadian yang menimpa Adiknya terkesan seperti kecelakaan saat mabuk.


Kebusukan yang di tutup rapat pun pada akhirnya akan mengeluarkan baunya. Sampai Melissa lagi-lagi memergoki Kakaknya yang sedang melakukan transaksi. Melissa marah dan menampar Marc. Marc yang emosi berbalik menampar Melissa. Sejak kejadian itu, Marc selalu memukul Melissa, jika Melissa tidak patuh padanya.


Melissa pernah mencoba kabur ke rumah temannya. Tapi, temannya itu ternyata juga seseorang yang sama seperti Kakaknya. Bahkan ternyata mereka rekan satu tim. Tentu saja, Melissa tidak dapat perlindungan apapun dati temannya itu.Ia justru di kembalikan ke rumah ia dan Kakaknya tinggal.


Sejak saat itu, Melissa terus mendapatkan tekanan dan dikekang sang Kakak. Sampai Melissa harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan juga Kakaknya.


Enam bulan bekerja keras dengan tubuhnya, Melissa bertemu Kang SooHyuk dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi, Melissa sadar, jika ia tidak boleh membawa perasaan lagi dalam pekerjaannya. Hubungan biasa-biasa, menjadi sebuah hubungan istimewa. Melissa tahu, jika Kang SooHyuk adalah pria b*r*ngs*k yang suka berganti -ganti kekasih. Namun, Melissa tidak bisa berhenti memikirkan dan jauh dari Kang SooHyuk. Lebih beruntungnya, ternyata Kang SooHyuk menilai Melissa berbeda. Ia menyayangi Melissa, meski tak bisa menjanjikan Melissa sebagai sesuatu yang ia harus perjuangkan di masa depan.


Kang SooHyuk memperingatkan batasan Melissa, dan Melissa mengerti. Melissa paham pemikiran Kang Soo-Hyuk, begitu sebaliknya. Kang Soo-Hyuk paham pemikiran Melisa. Dari situlah hubungan ketidakjelasan terbina. Bukan kekasih, tetapi sering tidur bersama dan bercinta. Hubungan yang lebih condong kebutuhan s*ksualitas. Memberi dan menerima, adalah inti hubungan Kang SooHyuk dan Melissa.


***


Rambut Melissa di tarik paksa. Membuat Melissa berteriak kesakitan. Namun, teriakan Melissa, seakan tidak ada artinya.


"Dasar b*doh! aku merawat dan membesarkanmu secantik ini. Tapi kau bahkan tak bisa memikat seorang pria? untuk apa kau bersolek dan melakukan banyak perawatan, Melissa. Untuk apa?" geram Marc.


"Sa, sakit ... " gumam Melissa menangis.


"Kau tahu sakit, tetapi kau membuatku kesal, Melissa. Kau sangat, sangat, sangat tidak berguna. Jika aku tahu begini jadinya, aku tak akan memeliharamu. Lebih baik membuangmu ke panti asuhan." kata Marc kasar, menyakiti hati Mellisa.

__ADS_1


Melissa hanya bisa menangis, menahan rasa sakit di kepala dan hatinya. Kakaknya sudah tidak manusiawi lagi, baginya sudah seperti monster.


*****


__ADS_2