
Joana terus menatap Monna dan Hezkiel dari jarak jauh. Leon menatap ke arah yang sama ssperti yang dilihat joana.
"Ada apa, sayang?" tanya Leon.
"Apa kau kenal wanita itu?" tanya Joana.
"Monna?" tanya balik Leon.
"Monna? kau kenal?" tanya Joana lagi.
Leon menganggukkan kepala, "Bukankah sudah aku jelaskan kemarin." kata Leon.
Joana terdiam sejenak. Ia seperti sedang berpikir. Joana mengingat sesuatu, ia lalu menarik tanga. Leon dan membawa Leon pergi dari pesta. Mereka menuju parkiran.
Di parkiran, di dalam mobil. Joana menginterogasi Leon. Joana menanyakan semua yang ingin ia ketahui. Leon tidak mau menutupi apapun, ia menjawab semua pertanyaan Joana dan menjelaskan secara detail.
Joana kesal, tetapi ia juga senang Leon mau jujur mengakui semuanya. Semua kesalahan yang sudah ia perbuat. Usai bertanya jawab, mereka segera pergi. Leon mengantar Joana pulang. Kedua orang itu terdiam satu sama lain sepanjang perjalanan.
Setibanya di rumah, Joana menawarkan Leon masuk ke rumah untuk minum teh. Leon mengiakan dan turun dari mobil. Di dalam rumah, ada Joe. Joepun menyapa saudari dan kekasih dari saudarinya itu.
"Oh, Hallo." sapa Joe.
"Hai," sapa balik Leon.
"Kalian dari mana?" tanya Joe, lalu mempersilakan Leon duduk di sofa ruang tamu. "Ayo, duduklah."
"Dari pesta." jawab Joana. "Joe, kau mau teh?" tawar Joana.
"Hm, boleh. Tidak perlu gula, ya." jawab Joana.
"Ok," jawab Joana. Yang langsung bergegas ke dapur.
"Jadi, pesta apa yang kalian hadiri?" tanya Joe menatap Leon.
"Oh, itu. Pesta ulang tahun rekan seprofesiku. Karena pesta itu wajib membawa pasangan, aku membawa Joana bersamaku." jawab Leon.
"Hm, begitu. Oh, ya. Apa hubungan kalian sudah membaik? aku hanya ingin tahu saja. Jika kau tidak ingin memberitahu tidak apa-apa." kata Joe.
Leon tersenyum tipis, "Aku tidak akan menutupinya, Joe. Aku kan memang salah. Aku juga sudah jelaskan dan mau menyesal. Akupun sudah bersiap untuk kemungkinan terburuknya." jawab Leon.
__ADS_1
"Aku tidak bisa terlibat lebih jauh untuk urusan pribadi kalian. Namun, aku juga tidak bisa melihat saudariku satu-satunya menangis karenamu. Kau memang salah, tetapi kau sudah mau mengakui kesalahanmu dan berjanji tidak akan mengulanginya. Jadi, semua keputusan ada di tangan Joana. Aku tidak bisa membujuknya mendekat atau menjauhimu. Jika aku melakukan itu, sama seperti aku menekan dan memaksanya." jelas Joe.
"Aku tahu," sahut Leon lesu.
Joana datang dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh. Ia meletakan satu per satu cangkir di hadapan Joe dan Leon. Joana duduk di samping Leon.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Joana.
"Tidak ada. Hanya seputar pekerjaan saja," jawab Joe.
"Iya, itu benar." sahut Leon.
"Hm, begitu." kata Joana menganggukkan kepala.
Joana, Joe dan Leon berbincang santai beberapa saat. Sampai teh di cangkir habis, Leon berpamitan pulang. Joana dan Joe mengantar kepergian Leon sampai di depan rumah.
"Jadi, bagaimana hubunganmu dengannya?" tanya Joe.
"Apa? tidak ada hal yang perlu dibicarakan, kan." jawab Joana.
"Kau kan mencintainya," kata Joe.
"Ya, sudah. Itu orang yang kita kenal." jawab Joe.
"Kita kenal?" tanya Joana.
"Itu Hezkiel Winter, Joana. Kau kan pernah sekali, dua kali bertemu. Saat aku mengajakmu ke pesta." jawab Joe.
"Oh, maaf. Kau kan tahu ingatanku buruk untuk mengingat wajah seseorang." jawab Joana.
"Sayang sekali, pria itu terlalu bodoh. Bisa-bisanya ia tidak tahu sudah dipermainkan wanita itu." gumam Joe.
Joana semakin bingung. Ia tidak mengerti saudaranya itu sedang membicarakan apa. Karena penasaran, Joana akhirnya bertanya.
"Apa maksudmu, Joe?" tanya Joana.
"Baiklah, aku akan ceritakan detailnya padamu. Dengar baik-baik," kata Joe.
Karena Joe dan Joana mempercayai satu sama lain. Joe tidak masalah berbagi apapun dengan Joana. Meski Joana adalah orang yang sedikit tertutup, tetapi ia juga sering kali mengeluh pada Joe. Jika sudah tidak tahan memendam masalah.
__ADS_1
Joe menceritakan semuanya. Ia menceritakan rahasia yang secara tidak sengaja diungkapkan oleh Hezkiel saat pertama kali bertemu dengannya setelah dua tahun tidak bertemu. Mendengar cerita saudaranya, Joana menjadi geram.
" ... ya, kurang lebih seperti itu." jelas Joe.
"Hahhh ... " hela napas Joana. "Bukan main. Dia pria hebat sampai bisa melakukan hal seperti itu." keluh Joana.
"Jika kau tahu, istrinya adalah wanita cantik dan baik hati." kata Joe.
"Ehemmm ... apa maksud ucapanmu, Joe? jangan katakan kau jatuh hati pada istri sahabatmu yang payah itu." kata Joana curiga. Membuat Joe kaget.
"A-apa maksudmu, Joana? aku tidak begitu. Yah, wanita itu memang sa-sangat cantik. Namun, aku tidak sejahat itu sampai mau memiliki istri temanku juga. Aku tahu posisiku, aku sadar diri. Jadi jangan berpikir macam-macam." jawab Joe, menampik kecurigaan Joana.
"Baguslah jika kau punya pikiran seperti itu, Joe. Kita memang bebas mencintai siapapun. Bukan berarti kita bisa memaksa memiliki siapapun yang kita cintai itu, kan." kata Joana tersenyum.
"Tentu saja. Aku masih punya akal sehat. Aku akui dia memang cantik, tetapi kan dia milik Hezkiel. Jika saja aku bertemu lebih dulu dengannya, mungkin yang kau katakan itu benar. Aku akan jatuh cinta padanya. Kenyataanya kan berlawanan. Namun, aku kecewa dengan sikap Hezkiel. Dia sudah menikah, tetapi juga masih membawa kekasihnya." kata Joe.
"Bukan kekasih, lebih tepatnya istri simpanan." sahut Joana.
"Ya, apapun itu. Tetap saja tidak dibenarkan. Bagaimanapun juga, ini kan terlihat janggal. Apa kau tidak kasian pada Celine?" ucap Joe menatap Joana.
"Benar juga. Di sini Celine korban. Hezkiel dan wanita itu membohonginya. Apa jadinya jika wanita yang kau katakan 'Cantik' itu tahu kebenarannya, ya. Sudah dipastikan malapetaka akan datang." kata Joana.
"Bagaimanapun, aku akan bantu Celine. Kasian wanita itu," batin Joe.
"Wanita selalu menjadi korban dari keserakahan pria. Pria selalu tidak mempunyai rasa puas dengan pasangannya. Sudah punya istri cantik, masih mencari wanita lain. Sudah punya kekasih, masih mau tidur dengan wanita lain. Ah, sialan! Aku jadi kesal jika ingat-ingat ini." batin Joana.
Perbincangan Joana dan Joe pun berakhir. Mereka kembali masuk dalam rumah dan pergi ke kamar masing-masing.
***
Di kamar, Joe sedang berpikir. Ia berbaring di tempat tidurnya dan memikirkan seseorang. Seseorang yang membuatnya tiba-tiba tersenyum.
"Ah, gila. Ini gila! tidak boleh, Joe. Dia kan istri temanmu. Pikirkan wanita lain. Ya, pikirkan wanita lain." gumam Joe.
Joe mengusap kasar wajahnya. Ia memikirkan apa yang sebaikny ia lakukan untuk menyadarkan Hezkiel dan menguak sisi lain istri simpanan sahabatnya itu.
"Apa yang harus kulakukan, ya? jika langsung kuberitahu, Hezkiel tidak akan semudah itu percaya, kan?" batin Joe.
Malah semakin larut. Joe sibuk berpikir sampai lelah dan akhirnya tertidur.
__ADS_1
*****