Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
95. Akhir Dari Semuanya (Tamat)


__ADS_3

Keesokan harinya ....


Jihyuk dan Celine sedang sarapan. Jihyuk menyiapkan sarapan yang istimewa untuk Celine.


"Sayang, cobalah ini." kata Jihyuk. Menyajikan piring di atas meja di hadapan Celine.


Tiba-tiba saja, Celine merasa mual dan ingin muntah.


"Ukkhh .... "


Jihyuk langsung panik, "Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Jihyuk.


Celine mengerutkan dahi, "Kenapa mual? apa, jangan-jangan ... " gumam Celine. Ia langsung berdiri, "Sayang, tunggu sebentar. Aku akan segera kembali." kata Celine yang langsung pergi.


"Sayang, kau mau ke mana? a ... " Jihyuk menghentikan ucapannya. Ia langsung dia dan menghela napas.


Jihyuk bingung. Tapi, ia mencoba mengerti Celine. Ia hanya khawatir, jika istrinya sakit.


***


Sepuluh menit kemudian ....


Celine berlari dan langsung berteriak memanggil nama Jihyuk.


"Jihyuk ... " teriak Celine senang.


Jihyuk berdiri dari posisi duduknya, "Sayang, ada apa? kenapa kau berlari? bagaimana jika kau jatuh." kata Jihyuk menatap Celine.


Celine langsung memberikan alat tes kehamilan pada Jihyuk, "Lihat ini," kata Celine.


Jihyuk menerima alat tes tersebut dan kaget, "Ini, ini ... kau hamil?" Jihyuk terlihat kaget sekaligus senang.


Celine menganggukkan kepala, "Ya, aku hamil. Aku hamil ... " kata Celine berkaca-kaca.


Jihyuk langsung memeluk Celine, "Oh, sayang. Aku sangat bahagia." kata Jihyuk.


"Aku hamil, Jihyuk. Kita akan memiliki bayi." ucap Celine menangis.


"Ya, sayang. Kita akan punya bayi." Jihyuk mengeratkan pelukan. Ia tidak bisa membendung air mata bahagianya.


"Selama ini, aku memang tidak dituntut untuk cepat hamil oleh mertuaku. Jihyuk pun tidak mempermasalahkannya. Sejujurnya aku takut untuk hamil lagi. Bagaimana, jika aku kehilangan bayiku lagi? Karena itu aku tidak pernah kepikiran untuk hamil dan memiliki anak. Aku biarkan saja semua mengalir begitu saja. Sampai ... aku mendapatkannya lagi. Janin ini, anakku. Aku berjanji akan menjagamu dengan baik dan akan melindungimu, anakku." batin Celine menangis dalam pelukan Jihyuk.


Jihyuk melepaskan pelukan, "Setelah sarapan. Kita ke dokter. Lalu, kita pergi ke rumah Mama. Setidaknya, Mama akan memberitahu, apa saja yang perlu kau lakukan untuk menjaga kehamilanmu. Mama, Papa, Jisoo dan Soohyuk pasti akan sangat senang, sayang." Jihyuk terlihat bersemangat.


Celine tersenyum, "Ya, mari kita lakukan sesuai apa yang kau inginkan." jawab Celine.


"Kita akan menjaga calon anak kita bersama-sama. Jangan kau tanggung sendiri, karena ini juga anakku. Jadi, aku juga harus ikut bertanggung jawab. Karena itu, jika ada hal yang ingin kau bicarakan denganku, jangan menundanya dan jangan kau sembunyikan apapun dariku. Ok. Jangan juga mengatakan aku baik-baik saja, jika kenytaanya tak begitu. Kau lihat ini, dadaku lebar dan bidang, juga kuat. Aku mau kau bersandar padaku. Aku tahu, kau adalah wanita yang mandiri, Celine. Tapi, aku ingin mau mengandalkanku. Meski hanya untuk sesekali dan untuk hal kecil." Jihyuk meluapakan semua perasaanya. Ia ingin Celine tahu, jika Jihyuk selalu ada untuknya.


Celine tersenyum, ia mengusap wajah Jihyuk. Celine berjinjit, ia mencium kening, hidung, pipi kiri dan kanan, dagu dan langsumg mencium bibir Jihyuk.

__ADS_1


"Terima kasih, sayang. Aku akan mengandalkanmu mulai dari sekarang. Jangan mengeluh, ya. Karena mungkin ini akan sulit. Kau harus mengurus seorang ibu hamil ke depannya." kata Celine.


"Tidak masalah. Bukankah aku sudah berjanji untuk melakukan semuanya untukmu dan hanya bersamamu." jawab Jihyuk begitu manis.


Keduanya saling memandang. Jihyuk mengusap wajah Celine, ia mengecup kening Celine. Ia lalu, mencium bibir Celine dengan lembut.


"Umh ... " gumam Celine memejamkan mata.


Celine membalas ciuman Jihyuk. Ia mengalungkan tangannya ke leher Jihyuk. Ciuman lembut itu berubah menjadi ciuman panas. Jihyuk merangkul pinggag Celine, hendak membawa Celine masuk dalam kamar. Namun, sayangnya keinginanya harus tertunda. Karena bel rumah berbunyi. Tanda jika ada tamu yang datang.


Celine melepaskan ciumana, "Siapa?" gumam Celine menatap Jihyuk.


"Entahlah. Kau ada janji dengan Jisoo atau Siane?" tanya Jihyuk.


"Jisoo ingin ku temani ke dokter gigi. Tapi, itu kan nanti. Siane tidak mungkin datang pagi-pagi begini. Terlebih kan dia sedang hamil dan memeprsiapkan pernikahannya minggu depan. Joe pasti tak akan mengizinkan Siane pergi dari rumah." jawab Celine.


"Lalu, siapa? aku juga tidak mengundang orang ke rumah." sahut Jihyuk.


"Ayo, kita lihat saja." ajak Celine.


Jihyuk menganggukkan kepala, "Ya," jawab Jihyuk.


Mereka pun pergi dari menuju pintu utama kediaman mereka untuk membukakan pintu. Jihyuk membuka pintu. Ternyata Dion dan Monna datang bertamu. Celine kaget, ia tidak menyangka akan menerima tamu yang tidak diundangnya.


"Hallo, Celine." sapa Monna tersenyum.


"Mo, Monna ... " gumam Celine. "Kau di sini? dan kau juga, Dion. Kau kenapa kau bisa tahu rumah ini?" Celine menatap Dion. Ia bertanya-tanya, bagaimana bisa dua orang di depan pintu rumahnya tahu alamat rumahnya.


"Ya, kau benar. Ini pertemuan pertama kita, ya." jawab Dion.


"Oh, iya." jawab Jihyuk.


"Untuk apa kalian datang?" tanya Celine.


"Aku ke sini mebgantarnya. Dia mau bertemu sekalian berpamitan. Dan, aku mau beritahu kau sesuatu hal." jawab Dion.


Celine menatap Jihyuk, "Sayang, boleh aku membawa mereka masuk?" tanya Celine pada Jihyuk.


"Silakan saja. Kenapa tidak. Jika kau menginginkannya maka lalukan." jawab Jihyuk.


"Terima kasih," jawab Celine.


"Aku masuk dulu. Aku akan buatkan minuman untuk mereka," kata Jihyuk yang langsung pergi meninggalkan Celine, Monna dan Dion.


"Oh, aku akan ikut kau saja. Sekalian mau cuci tangan." kata Dion.


"Oh, ok." jawab Jihyuk yang menghentikan langkah kakinya sesaat lalu, kembali berjalan menuju dapur.


Celine menatap Monna, "Masuklah." kata Celine.

__ADS_1


"Ya, terima kasih." jawab Monna.


Monna pun masuk. Ia mengikuti Celine yang langsung berjalan menuju sofa dan duduk. Ia duduk sedikit jauh dari Celine. Terlihat Monna mengatur napas berulang-ulang, karena tegang.


"Jadi, boleh aku tahu tujuanmu?" tanya Celine.


"Aku hanya ingin mengunjungimu, saudariku. Juga ingin meminta maaf." jawab Monna.


"Saudari?" gumam Celine mengerutkan dahi.


"Ya, saudari. Kita memiliki satu Ayah yang sama. Bukankah itu artinya kita saudari?" jawab Monna.


"Apa maksudnya? Ayah yang sama. Jangan-jangan Ayah memiliki kekasih lain," batin Celine bingung.


"Kau pasti bingung dan bertanya-tanya. Maka aku akan ceritakan da jelaskan. Karena Papa tak akan mungkin bisa menjelaskannya dengan baik karena malu juga merasa bersalah padamu. Sebelum itu, tolong kau dengarkan apa yang akan kuceritakan ini dengan baik dan dengan pikiran jernih. Aku menceritaka ini, bukan untuk memprovokasimu atau menyakitimu. Aku sudah tidak mau membuatmu terluka, Celine. Kali ini aku hanya murni jngin memberitahumu, semua kebenarannya." jelas Monna.


"Ya, aku mengerti. Silakan cerita, aku akan dengarkan." jawab Celine.


Monna pun bercerita. Kisah asmara tentang Mamanya dengan Papanya. Kejadian di mana keduanya harus berpisah karena ditentang orang tua dan perjodohan. Lalu, Monna menceritakan mengapa bisa ia mendekati Hezkiel. Menceritakan kehidupan kelamnya saat masih berada di dalam kekangan Antonio, sampai ia ditolong Papa dan Dion untuk bebas dari semuanya. Monna menceritakan semuanya sampai Akhir.


" ... begitulah. Aku tidak melebih-lebihkan atau mengurangi apa yang kuceritakan. Karena itu tidaklah penting." kata Monna yang langsung berdiri.


Tiba-tiba, Monna berlutut dan menundukkan kepala, "Maafkan aku. Aku tak bermasud jahat untuk menyakitimu saat itu. Aku hanya ingin membuatmu kesal, tetapi tidak menyangka kau akan mengalami hal buruk. Aku merasa bersalah dan menyesal, Celine. Kau boleh hukum aku sekarang. Mau memukulku, memakiku, atau mengataiku. Tidak apa-apa, lakukan saja." Monna menangis, masih dengan posisi yang sama.


Celine kaget, ia tidak sangka seorang Monna yang duliu ia kenal angkuh dan sombong. Kini rela berlutut demi untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya.


Celine membantu Monna berdiri, "Berdirilah," kata Celine.


Monna menurut, ia langsung berdiri. Celine langsung memeluk Monna. Tentu saja Monna kaget dan bingung. Tidak beberapa lama, Celine melepaskan pelukan dan tersenyum menatap Monna.


"Aku memang tidak fokus karena perkataanmu saat itu. Sehingga aku hilang kendali dan jatuh. Tapi, bukan sepenuhnya salahmu. Karena aku juga tidak hati-hati dan tidak memanggil seseorang untuk membantuku turun. Tapi, lebih dari itu semua. Bukankah kau lebih menderita? kau harus melayai pria yang tak kau sukai. Kehilangan kekasih dan harus megikuti kemauan orang jahat itu demi melindungi nyawa Mamamu. Kau salah, tetapi aku tidak bisa membencimu. Jadi, ayo kita lupakan saja. Aku juga tidak mau menyimpan kenangan itu terus menerus." kata Celine mengungkapkan semuanya.


Monna kaget, "Kau, kau tidak marah? kau tidak membenciku?" suara Monna mulai serak dengan mata berkaca-kaca.


"Aku memang sempat kesal dan jengkel, karena kau menyebalkan. Tapi, itu kan dulu. Sebelum aku tahu semuanya. Sekarang aku tahu, dan aku harap kau juga tidak mengungkit itu lagi. Mari, kita akhiri saja sampai di sini. Kita mulai semuanya di lembar yang baru. Denga warna tinta yang berbeda. Tidak hanya hitam, tetapi berwarna warni." kata Celine tersenyum.


Monna menangis keras. Ia tidak bisa lagi membendung air matanya. Tak jauh, Jihyuk dan Dion menguping dari balik lemari. Jihyuk tersenyum bangga pada istrinya. Dion juga kagum, Celine bisa mengatasi semuanga dengan tenang.


*****


Hari H pernikaan Siane dan Joe. Semua orang berkumpul. Termasuk keluarga Celine. Ada Chritianz Lydia dan Merry. Merry sempat kaget saat bertemu Celine. Pada masa lalu, Celine perna membantunya dan mereka seikit mengobrol. Merry tidak sangka, jika itu adalah putri dari kekasihnya.


Hezkiel hadir, ia memberikan ucapan selamat pada Joe dan Siane. Tak hanya Henzkiel, Hans dan Erlisa, orang tua Hezkiel juga datang. Celine senang. Bisa bertemu mereka. Pertemua yang mengharukan terjadi. Mereka saling berpelukan dan mengobrol, Celine tanpa ragu memperkenalkan orang tua Hezkiel pada orang Tuan Jihyuk. Yang ternyata mereka saling kenal, karena mereka adalah rekan bisnis.


Celine senang. Pada akhirnya semua berakhir bahagia.


"Inilah langkah awal kebagaian kami .... "


*****

__ADS_1


Tamat~


"Terima kasih, buat semuanya. Sudah mau menemani saya yang masih banyak kurangnya ini. Akhirnya saya bisa menamatkan karya saya ini. Terima kasih untuk dukungan, like, komentar dan dukungan kalian semua. Saya meminta maaf, apabila selama ini ada salah-salah baik disengaja ataupun tidak. Sampai jumpa di karya selanjutnya. Bye-bye ... "


__ADS_2