Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
92. Dipertemukan Kembali


__ADS_3

Jihyuk mendapat panggilan dari Celine. Ia melihat ke arah Hezkiel. Hezkiel mengerti dan memberikan isyarat, mempersilakan untuk Jihyuk menerima panggilan.


Percakapan di telepon*


"Ya sayang. Sesuatu terjadi?" tanyan Jihyuk. Sesaat setelah menerima panggilan Celine.


"Suamiku, apa kau masih di kedai kopi? aku baru selesai dengan pekerjaanku. Aku akan menyusulmu sekarang." kata Celine memberitakukan.


"Ya, datanglah. Ada seseorang yang ingin kukenalkan juga. Aku saat ini sedang bersama rekan bisnisku. Kami tidak sengaja bertemu." jelas Jihyuk.


"Oh, ok. Aku ke sana sekarang. Kututup teleponnya. Dahh ... " Celine langsung mengakhiri panggilannya.


Jihyuk tersenyum menatap layar ponselnya. Di sana ada foto pernikahannya dengan Celine yang terpasang sebagai wallpaper layar tampilan utama ponsel Jihyuk.


"Apa itu istri Anda?" tanya Hezkiel.


"Ya, benar. Rupanya dia sudah menyelesaikan pekerjaanya." jawab Jihyuk.


"Apa Anda akan berkencan? saya akan pindah meja saja, agar tidak mengganggu Anda dengan istri Anda." kata Hezkiel.


"Tidak perlu, Tuan. Istri saya bukan orang yang akan menolak untuk berbagi meja dengan orang lain. Kita kan rekan kerja, jadi dia pasti mengerti. Oh, ya. Bagaimana bisnis Anda? apakah lancar?" tanya Jihyuk.


"Untuk saat ini masih terkendali dan lancar. Anda sendiri bagaimana?" tanya balik Hezkiel.


"Ya, sejauh ini masih lancar-lancar. Semoga ke depanny juga demikian." jawab Jihyuk.


Perbincangan keduanya dilanjutkan dengan perbincangan bisnis. Mereka membahas tentang pekerjaan masing-masing.


***


Celine*


Saat ini, aku sedang berjalan menuju kedai kopi, di mana suamiku menunggu. Ya, aku dan Jihyuk sudah menikah. Kami hidup bahagia bersama. Kedua mertuaku sangat-sangat baik. Sayangnya, saat penikahan kami hanya Siane yang datang sebagai pendampingku. Papa dan Mama tiriku tak bisa hadir karena suatu alasan. Papa da Mama Hezkiel juga tak bisa datag karena sedang ada di luar kota. Dion ... dia hanya mengucapkan selamat lewat pesan. Dia juga tak bisa hadir karena sibuk.


Hahhhh ... haruku kuakui, aku kecewa. Tapi, Jihyuk dan keluarganya memberiku penghiburan dan semangat yang luar biasa. Sungguh, aku beruntung dipertemukan dengan mereka. Betapa beruntungnya aku ini. Dulu, saat aku memiliki dua mertua yang penyayang dan baik. Demikian juga sekarang. Papa dan Mama Jihyuk tak pernah mengatur juga mengekangku harus ini dan itu. Inikah nikmat Tuhan yang selalu ku syukuru. Baik saat itu maupun saat ini.


Kulihat sekeliling, banyak orang berlalu lalang. Karena ini adalah daerah pertokoan, tentu saja ramai pengunjung. Tak jauh dari pandanganku, ada sebuah kedai kopi. Aku tersenyum karena sebentar lagi aku akan menemui orang yang ku cintai.

__ADS_1


Langkah kakiku terhenti di depan pintu utama kedai. Aku buka pintu dan masuk ke dalam kedai. Ku lihat ke kiri kanan, aku masih belum menemukan keberadaan Jihyuk. Sampai akhirnya, pandanganku dan Jihyuk bertemu. Dia tersenyum tampan menatapku.


"Tampan sekali ... " gumamku.


Aku berjalan menghampiri Jihyuk. Di hadapan Jihyuk ada seseorang yang entah siapa. Aku tak bisa melihat wajahnya dan hanya bisa melihat punggungnya saja. Tapi, aku merasa tak asing saat melihat punggung itu. Siapa?


Tiba-tiba, aku merasa aneh. Semakin dekat langkah kakiku, aku merasa tak nyaman. Dadaku juga terasa sesak.


"Kemarilah, sayang." kata Jihyuk.


Aku mebganggukkan kepala, "Ya," jawabku.


Aku pun langsung mengambil posisi duduk di samping Jihyuk, "Maaf, ya. Kau harus menunggu lama." kataku menatap suamiku.


Jihyuk mengusap wajahku lembut, "Tidak apa-apa. Aku tak sendirian. Ada rekan kerjaku di sini." kata Jihyuk yang memalingkan pandangan ke arah lain.


Kuikuti arah pandang Jihyuk. Aku sangat terkejut. Ternyata ... aku melihat seseorang yang tak ingin kulihat. Rupanya, tak hanya aku yang kaget. Tapi, dia juga kaget.


"Ahh ... " gumamku. Aku tak tahu aku harus bicara apa.


"Kalian saling kenal?" Jihyuk bertanya.


"Celine ... Kau, kau ... kau, bagaimana bisa kau di sini?" tanya Hezkiel.


Aku menurunkan pandangku. Kulihat tangan yang kupangku. Aku lalu melihat, tangan Jihyuk memegang tanganku.


"Sayang, kau kenapa?" tanyanya.


Aku menatap Jihyuk, "Ke, kenapa dia di sini?" tanyaku.


Jihyuk menatap Hezkiel lantas menatapku, "Siapa? Tuan Winter? dia rekan kerjaku, katanya kebetulan lewat daerah di sini. Beliau hendak menemui seseorang yang akan menikah. Ada apa? kau terlihat kaget. Dan lagi, kenapa beliau bisa tahu namamu?" Jihyuk terlihat bingung. Dahinya sedikit berkerut.


Aku memejamkan mata sekilas, "Dia, dia ... dia mantan suamiku, Jihyuk. Aku tidak tahu dia di sini, jika tahu aku lebih baik tak datang." jawabku.


"Apa yang kalian bicarakan?" tegur Hezkiel. Dia penasaran, karena aku dan Jihyuk bicara setengah berbisik.


Jihyuk menatap Hezkiel, "Jadi, dia ... " Jihyuk menghentikan kata-katanya.

__ADS_1


"Tuan Kang. Bagaima Anda bisa mengenal Celine? dia, dia ... " kata-kata Hezkiel juga terhenti. Sepertinya ia bingung, tak tahu ingin berkata apa.


"Celine adalah istriku, Tuan Winter." jawab Jihyuk tanpa ragu.


"Apa?" kaget Hezkiel melebarkan mata, "Jadi, wanita yang saat itu Anda Ceritakan, adalah Celine?" tanya Hezkiel menyakinkan.


"Ya. dialah orangnya. Saya tidak sangka. Saya aka bertemu seseorang yang telah menyakiti hari istri saya pada masa lalu." kata Jihyuk menahan rasa kesal. Ia mengepalkan tangannya.


"Ah, itu. Aku ... aku ... " ucapan Hezkiel terpotong Oleh Jihyuk.


"Apapun itu, tidak akan merubah kenyataan. Jika sekarang Anda tak akan bisa lagi menyentuh Celine. Dia adalah wanita yang sangat saya cintai sampai saya bsrsedia berearuh nyawa. Anda paham maksud saya, kan." kata Jihyuk.


Aku tak sangka. Jihyuk akan langsung menekan Hezkiel. Meski aku tidak tahu, apakah sebelumnya kedua orang ini sudah membicarakan apa.


"Maaf untuk itu. Apa boleh aku bicara berdua dengan Celine? ada hal yang ingin kubicarakan secara pribadi dengannya." Hezkiel meminta hal gila pada Jihyuk dan itu membuatku kesal.


Jihyuk terdiam sebentar, "Lakukan. Jika masih ada yang belum terselesaikan. Kalian bisa menyelesaikannya. Aku akan pergi meninggalkan kalian." kata Jihyuk, berdiri dari duduknya.


Disaat yang bersamaan, aku memegang tangan Jihyuk. Aku menariknya untuk kembali duduk. Aku pun angkat suara.


"Aku tidak setuju. Mau apapun yang ingin kau katakan. Katakan dihadapan suamiku. Kita tidak sedekat itu sampai harus bicara berdua secara pribadi. Kau bukan siapa-siapa bagiku, begitu sebaliknya." kataku. Aku gugup, tetapi aku tak mau menyakiti hati Jihyuk dengan meladeni Hezkiel.


Hezkiel menatapku tajam, "Tapi, ini hal yang sangat ingin kusampaikan." katanya.


"lalu, apa? kau mau mengusir suamiku pergi? tidak, Tuan Winter. Dia adalah pria yang mendampingiku dalam keadaan apapun. Jika kau melakukannya, lebih baik kau urungkan saja niatanmu bicara denganku." tegasku. Aku sedikit kesal pada pria yang duduk di hadapanku ini.


"Sayang, aku tidak apa-apa. Meski aku sedikit kesal, tetapi aku tidak mau membuatnya kesulitan. Bicaralah baik-baik dengannya. Aku akan tunggu di mobil." kata Jihyuk.


"Tidak. Aku tidak mau. Jika kau pergi, aku juga pergi." kataku menatap Jihyuk tajam.


"Sayang, jangan begitu. Berilah dia kesempatan untuk bicara, ok." bujuk Jihyuk.


"Tidak, sayang. Aku tegaskan lagi padamu. Aku tak akan bicara berdua dengannya. Jika dia ingin bicara, biarlah bicara juga di hadapanmu. Aku tak harus mengikuti kemauannya, kan." aku tetap pada pendirianku.


Jihyuk pun diam. Begitu juga denganku. Suasana seketika terasa hening dan canggung. Aku tak habis pikir dengan pria ini. Kenapa dia meminta hanya bicara berdua, padahal dia tahu aku sudah bersuami. Menyebalkan sekali.


*****

__ADS_1


__ADS_2