Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
31. Permintaan Monna


__ADS_3

Di cafe. Celine, Joana dan Joe berbincang santai. Anha duduk di meja lain, tidak ingin menganggu majikannya bicara.


"Kaku ternyata sangat ramah, ya. Jika aku lelaki, pasti akan menyuakimu." kata Joana.


Celine tersenyum cantik, "Jangan menggodaku, Joana. Kau juga ramah, kau wanita yang cantik." puji Celine.


"Sepertinya penglihatanmu bermasalah, Celine. Kau lihat Joana cantik dan ramah darimananya? dia jelek dan kejam, juga menjengkelkan." sambung Joe.


"Joe ... " sentak Joana, mencubit perut Joe.


"Ouch ... sakit, Joana!" kata Joe kesakitan. Ia memegang perutnya.


"Siapa suruh kau asal bicara begitu, huh. Menyebalkan," gumam Joana.


Celine terkekeh, "Hehehe ... kalian ini lucu sekali, ya. Apa kalian memang seperti ini setiap harinya?" tanya Celine.


"Ya, dia selalu mengejekku." jawab Joana.


"Bukankah kau memang bertingkah menjengkelkan dan mengesalkan?" sahut Joe.


"Hei, hei, sudah. Minumlah minuman kalian. Nanti dingin." kata Celine. Ia mengambil cangkir kopinya dan mencicipi sedikit kopi yang dipesannya itu.


"Ini lumayan," kata Joana berkomentar.


"Ya, aku setuju." sahut Joe.


"Hm, menurutku juga lumayan." gumam Celine.


"Oh, ya. Kenapa kau tidak berbelanja dengan Hezkiel, Celine? bukankah ini akhir pekan? dia pasti libur kerja, kan?" tanya Joana. Sengaja memancing pembicaraan.


Deg ... deg ... deg ....


Jantung Celine berdegup. Ia sempat bingung mau menjawab apa. Ia berpikir untuk membuat alasan.


"Apa yang harus kukatakan, ya. Apa boleh aku berbohong?" batin Celine.


"Oh, Hezkiel sedang ada urusan. Aku juga tidak mau mengganggunya," jawab Celine tersenyum.

__ADS_1


"Kasian sekali wanita ini. Bisa-bisanya Hezkiel b*r*ngs*k itu melukai hati Celine dengan mendua. Semua ini pasti karena rayuan si j*l*ng itu. Ingin rasanya kutarik rambutnya dan kubenturkan dinding." batin Joana memaki.


"Dia berbohong demi menutupi perselingkuhan suaminya. Hahh ... kehidupan pernikahan apa yang kau jalani, Celine." batin Joe.


"Oh, begitu. Dia sangat sibuk rupanya." sahut Joe tersenyum.


"Ya, begitulah. Oh, ya. Apakah kalian tinggal bersama atau berbeda tempat?" tanya Celine ingin tahu.


"Kami serumah, Celine. Karena kami masih saling bergantung satu sama lain." jawab Joana.


"Itu bagus. Kalian kan saudara kembar, ikatan batin di antara kalian pasti lebih kuat. Tidak heran kalian saling bergantung satu sama lain. Senang sekali jika aku juga punya saudara. Sayangnya ... " ucapan Celine terhenti. Ia teringat akan Dion, Kakk tirinya.


"Sayangnya ... apa?" sambung Joana.


Melihat Celine yang murung Joe pun khawatir, "Hei, Celine. Kau baik-baik saja?" tanya Joe.


Celine menatap Joe dan Joana yang duduk berdampingan di hadapannya. Senyumnya mengembang, meski terlihat canggung. Celine ingon cerita tentang Dion, tetapi niatnya diurungkan.


"Sayangnya, aku hanya punya Kakak tiri yang kurang perhatian dan begitulah ... hahaha ... " kata Celine tertawa kaku.


"Terima kasih, Joana. Kau juga, Joe. Senang rasanya bisa bertemu kalian." ucap Celine kembali tersenyum.


"Joana benar. Jika sesuatu terjadi, atau kau butuh bantuan. Jangan sungkan. Kita kan tidak tahu, ke depannya akan terjadi apa dan bagaimana." sambung Joe menambahi.


Celine menganggukkan kepala, "Ya, ok. Kalian juga bisa menghubungiku jika butuh bantuan. Meski aku tidak tahu, nantinya akan bisa membantu atau tidak. Setidaknya, jika kalian butuh bantuanku. Aku akan berusaha membantu sebisa dan semampuku." jawab Celine.


"Hatimu memang begitu baik, Celine. Sangat berbeda dengan ular itu." batin Joana.


Mereka terus berbincang. Banyak topik mereka bahas. Kopi yang dipesan Celine habis, Celine pun berpamitan karena sudah cukup lama pergi meninggalkan rumah. Ia merasa tidak enak juga karena harus memotong waktu Joana dan Joe yang sedang menghabiskan waktu bersama.


Setelah berpamitan, Celine akhirnya keluar dari supermarket dan pulang ke rumah dengan mengendarai mobil yang di kemudikan supir pribadi.


***


Di tempat lain di luat kota. Hezkiel dan Monna baru saja datang di rumah pribadi Hezkiel yang baru saja ia bangun untuk Monna. Rencana hari itu Hezkiel akan memberikan kejutan untuk Monna, dengan menyerahkan rumahnya itu sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka. Namun, hal itu tidak jadi dilakukan Hezkiel karena Monna meminta sesuatu yang lebih dan membuat Hezkiel harua berpikir berkali-kali untuk mengabulkan permintaan kesayangannya itu.


" ... apa?" tanya Hezkiel kaget.

__ADS_1


"Ya, berikan aku saham perusahaanmu. Aku tidak butuh rumah atau apalah itu. Aku hanya ingin saham," kata Monna.


"Itu bukan hal yang bisa kupindah tangankan seenaknya, Monna. Kenapa kua tiba-tiba minta saham?"tanya Hezkiel menatap Monna tajam.


"Aku butuh jaminan. Jaminan jika sewaktu-waktu kau mencampakkanku. Angap saja itu kompensasi yang kau berikan padaku," jelas Monna.


Hezkiel terdiam, "Apa lagi ini. Bisa-bisanya Monna meminta sesuatu yang tidak biasa. Saham, kenapa harus saham? aku tidak bisa semudah itu berikan. Terkait saham, aku harus pikirkan ulang. Aku tak bisa memint saham dari Papa untuk Monna. Mau tidak mau aku harus berikan saham milikku. Untuk apa sebenarnya dia meminta ini?" batin Hezkiel kebingungan.


"Kenapa dia diam dan tidak menjawab? apa dia tidak akan berikan?" batin Monna.


"Kenapa diam?" tanya Monna.


"Maaf, aku tidak bisa memberikannya, Monna. Kau bisa meminta apapun, kecuali itu. Aku akan berikan semuanya, tidak dengan saham, ok." jawab Hezkiel.


"Aku tidak mau apa-apa, aku hanya mau itu." jawab Monna.


"Jawabanku tetap sama. Aku tidak bisa berikan," kata Hezkiel memalingkan pandangan membelakangi Monna.


"Jadi kau lebih mencintai ssham daripada aku? kau lebih baik kegilanganku daripada saham, begitu?" sentak Monna mulai kesal.


Hezkiel berbalik, "Apa yang kau katakan, Monna. Tentu saja kau segalanya untukku. Kau lebih penting dari apapun di Dunia ini. Kau kan tau itu," jawab Hezkiel.


"Bohong! kau pembohong! aku tidak percaya padamu. Aku tidak mau bicara denganmu, pergilah." usir Monna.


"Monna ... " panggil Hezkiel.


"Pergi dari kamar ini. Aku tidak mau melihatmu!" Sentak Monna lagi.


Monna mendorong Hezkiel keluar dari kamar. Hezkiel tidak melawan dan menerima keputusan Monna yang marah padanya. Dia pergi ke ruang tengah untuk istirahat.


Hezkiel merebahkan punggungnya ke sofa, ia mengusap kasar wajahnya. Berat baginya mengabulkan permintaan Monna, meski Monna adalah wanita yang sangat berharga dan sangat ia cintai.


"Apa aku berikan saja, ya? Lima persen cukup, kan?" batin Hezkiel.


"Tidak, tidak, tidak bisa." gumam Hezkiel menggelengkan kepala. "Jika sampai Papa tau saham yang kumiliki kuberikan sedikit saja untuk Monna, Papa bisa murka. Tidak hanya itu, Papa dan Mama akan tahu jika selama ini aku menyembunyikan hubunganku dengan Monna secara diam-diam. Arrghhh! ini membuatku sakit kepala." ucap Hezkiel mer*m*s rambutnya kasar.


*****

__ADS_1


__ADS_2