
Celine*
Setelah selesai dengan Dion. Akupun kembali ke kamar. Aneh rasanya, aku merasa Dion berbeda. Tatapan matanya, ucapannya, sikapnya tidak sejalan. Ahh ... sudahlah, aku tidak ingin memikirkan itu. Dia adalah pria jahat yang selalu menggangguku. Aku sampai sesak tidka bisa bernapas karena sikap dominannya. Lebih baik sekarang aku melihat kamarku saja.
Kubuka pintu kamarku. Aku melihat, semua barangku masih utuh. Lemari pakaian, meja belajarku, lemari kaca dan rak buku. Bahkan lemari koleksi bonekaku juga masih ada. Senyumku mengembang, ini pertama kalinya semenjak statusku berubah menjadi Nyonya Muda Winter. Aku tidak sangka, pada akhirnya aku kembali menginjakkan kaki di sini.
Kulihat sekeliling, benar-benar tidak ada yang berubah. Bahkan letak tempat tidur dan sofapun tidak bergeser. Kamarku bersih, tidak berdebu dan tidak pengap. Ini tandanya ada yang selalu membersihkannya meski tidak di tempati.
'Siapa lagi, yang me.bersihkan ini selain Bibi June." gumamku.
Aku berdiri di depan rak buku. Tidak lama, pintu kamar terketuk dan terbuka. Seseorang masuk, aku hanya diam melihat arah pintu. Oh, itu Bibi June. Pelayan rumah ini, sekaligus orang kepercayaan Mama dulu.
"Bibi ... " sapaku.
"Nona ... ah, maaf. Maksud saya, Nyonya ... " jawabnya canggung.
Aku tersenyum lalu menggelengkan kepalaku, "Tidak apa, Bi. Panggil saja senyaman Bibi. Meksi aku sudah menikah, aku kan tetap Nona kecil kesayangan Bibi." kataku.
"Oh, Nona ... " katanya memelukku erat.
Ini hangat. Pelukan ini selalu menghangatkan dan menenangkanku. Inilah sosok yang selalu menghiburku. Selalu ada untukku, dan sosok yang paling mengerti aku.
Cukup lama kami berpelukan. Sampai kami akhirnya melepaskan pelukan masing-masing. Aku tersenyum menatap Bibi June yang matanya berkaca-kaca. Beliau sudah nampak menua, banyak keriput terlihat. Aku sedih, seandainya saja aku bisa dan boleh membawanya ke rumah di mana aku tinggal.
"Nona, Anda baik-baik saja? apa yang terjadi? apakah Tuan tidak menyayangi Anda?" cecarnya padaku.
Aku tersenyum lagi, "Memang ada yang bahagia dengan pernikahan paksa, Bi?" tanyaku.
__ADS_1
"Kenapa Anda tidak menolak saja, Nona. Anda sudah cukup menderita tinggal di sini. Anda tidak boleh lagi menderita di tempat lain. Saya tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa untuk bisa membela Anda, Nona. Maafkan saya." ucap Bibi June menyalahkan diri.
"Tidak, Bi. Jangan menyalahkan diri dan minta maaf. Bibi tidak salah apa-apa. Mungkin inilah jalan yang harus aku tempuh. Aku tidak apa-apa, Bi. Ini juga demi Papa, kan." jawabku.
"Tidak, Nona. Tuan tidak bisa mendapatkan pengorbanan Anda. Meski beliau adalah suami dari majikan saya, tetapi saya tidak bisa terima Anda diperlakukan seperti ini. Tidak, saya tidak bisa menerima ini. Nyonya pasti akan sedih, jika melihat Anda seperti ini." katanya lagi, yang lalu menangis.
Aku terdiam. Aku tidak bisa lagi bicara apa-apa. Apa yang dikatakan Bibi June tak sepenuhnya salah. Semenjak Mama tiada, Papa selalu menyibukkan diri dan terkesan menghindariku. Bahkan saat guruku meminta Papa hadir dipertemuan orang tuan, beliau justru mengirim Bibi June sebagai pengganti. Dan mengatakan sibuk, tidak ada waktu. Aku iri sebenarnya, tetapi aku tidak pernah bertanya apa alasan Papa seperti itu padaku.
Sampai suatu saat, Papa mengatakan jika ia ingin menikah kembali. Bukan hanya itu, ia bahkan membawa pulang seorang wanita berserta anak laki-laki yang usianya di atasku. Aku senang saat itu, kukira wanita dan anak laki-laki itu bisa menjadi keluarga baruku. Namun, semuanya salah. Apa yang kuharapkan sia-sia.
"Nona ... " panggil Bibi June.
Aku kaget, entah sudah berapa lama aku melamun dan berapa kali Bibi June memanggilku. Pikiranku memang sedang kacau.
"Ya, Bi. Maaf, aku melamun." jawabku.
Aku menggelengkan kepala, "Tidak ada hal seperti itu, Bi. Baik suami atau orang tua siamiku, mereka tidak pernah memukulku. Papa dan Mama mertuaku orang yang sangat baik. Dia selalu ramah, juga bicara dengan penuh kelembutan. Suamiku bukan orang yang seramah itu, dia dingin dan ... " kata-kataku terhenti.
Aku langsung ingat. Tidak mungkin bagiku untuk mengatakan jika Hezkiel mempunyai wanita lain selain aku. Bahkan kami tinggal di rumah yang sama.
"Dan ... " sahut Bibi June. "Dan apa, Nona. Kenapa Anda tiba-tiba berhenti bicara?" lanjutnya bertanya.
"Ah, itu bukan hal besar. Meski kami tidak saling mencintai, tetapi dia bisa berikan apa yang orang lain tidak bisa berikan. Bukankah aku punya status sekarang, Bi. Tidak ada yang bisa merendahkan aku dan menginjakku lagi sekarang. Meski itu Lidya ataupun Dion." jawabku.
"Benar juga. Karena Anda bukan orang biasa lagi sekarang. Ya, sudahlah. Setidaknya Anda tidak mendapatkan kekerasan secara fisik. Itu sudah cukup membuat hati saya lega. Saya dengar, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Jika sering bersama dalam jangka waktu yang lama, Cinta bisa saja datang. Anda dan Tuan juga pasti akan seperti itu. Semoga saja tidak ada orang ketiga di antara penikahan kalian berdua. Atau itu akan mejadi bencana." kata Bibi June.
Seketika aku kaget, ingin rasanya aku langsung bicara dan menjawab perkataan Bibi June. Kata semoga rasanya kurang tepat, Bi. Karena semua sudah terjadi. Ada orang ketiga dipernikahan kami, yaitu Monna. Yang ternyata adalah kekasih lama Hezkiel. Bagaimana aku akan jelaskan ini padamu, Bi. Akankah Bibi terkejut setelah dengar kebenaran ini?
__ADS_1
"Terima kasih, Bi. Semoga saja tidak. Sejauh ini semua baik-baik saja. Bibi tidak perlu khawatir." jawabku.
Aku jadi semakin yakin. Mustahil bagiku membawa Bibi June bersamaku, dia pasti akan tahu semuanya dan memprotes keras apa yang dilihatnya. Mingkin juga akan melakukan hal lebih, seperti mengadu dan sebagainya. Tidak, jika aku tidak bisa jika harus kehilangan apa yang baru saja kupijak ini. Aku baru saja keluar dari sangkar, aku tidak mau masuk kembali dalam sangkar dan disiksa.
"Saya harus pergi ke dapur. Nyonya Lidya pasti akan marah jika saya berlama-lama menemui Anda. Saya akan panggil Anda nanti, Nona." pamit Bibi June.
"Ya, Bi. Selamat bekerja," jawabku.
Bibi June tersenyum, lalu segera pergi dari kamarku. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Kepalaku sedikit nyeri, apakah karena aku terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak?
***
Makan malam berlangsung. Hezkiel benar-benar datang, meski terlambat. Hezkiel membawa bunga dan beberapa hadiah untuk diberikan kepada keluarga Celine. Sebagai seorang menantu, ia ingin mendapat kesan yang baik di mata keluarga istrinya.
"Hm, dia bekerja keras juga." batin Celine.
Hezkiel menatap celine, "Apa kau baik-baik saja, sayang? ada sesuatu yang membuatmu tidak senang?" tanya Hezkiel, membelai rambut Celine lembut.
Celine melebarkan mata, "Ah, oh, tidak. Ti-tidak ada apa-apa. Aku hanya teringat sesuatu saja. Bukan hal penting," jawab Celine tersenyum.
"Kenapa dia tiba-tiba seperti ini. Mengagetkan saja. Dia tidak perlu mencari muka sampai harus bertingkah aneh begini. Huh," batin Celine tidak senang.
"Wanita ini kenapa? dia seakan tidak senang datang ke rumah orang tuanya sendiri. Apa sesuatu terjadi tanpa sepengetahuanku?" batin Hezkiel.
Di sisi lain, tepat di hadapan Celine. Duduk Dion di samping Lidya. Dion memperhatikan semuanya dan merasa kesal. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam menahan diri.
*****
__ADS_1