Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
73. Kang Jihyuk Menjaga Celine (2)


__ADS_3

Celine tidak tahu harus bicara apa lagi. Demikian juga Jihyuk. Yang memang jarang sekali bicara dengan wanita, selain Mama, Adik dan Sekretarisnya.


"Ma, maaf. Membuat Tuan harus di sini menjaga saya." kata Celine, yang merasa tidak enak hati.


"Jangan terlalu kaku, Nona. Bicara santai saja." kata Jihyuk.


"Celine, Anda bisa memanggilku Celine." kata Celine canggung.


"Oh, ok. Ce, Celine. Sebelumnya, aku minta maaf atas kejadian yang menimpamu. Juga, terima kasih. Karena kau sudah berkorban untuk Adikku. Tapi, jika boleh aku bertanya. Kenapa kau lakukan ini?" tanya Jihyuk penasaran.


"Kenapa?" gumam Celine berpikir dan mengingat kejadian itu. "Entahlah, aku tiba-tiba saja berlari menghampiri Jisoo. Kakiku tak terkendali," jawab Celine tersenyum.


Jihyuk mengernyitkan dahi, "Apa kau tidak sadar, jika tindakanmu bisa mengancam keselamatanmu?" kata Jihyuk.


"Sudah kukatakan, kan. Jika aku tidak memikirkan hal lain lagi. Tiba-tiba saja aku sudah berlari mendekati Jisoo." jawab Celine menjelaskan.


"Ya, apapun itu aku ucapkan terima kasih banyak. Lain waktu jangan seperti ini lagi." kata Jihyuk.


Celine menatap Jihyuk, "Ya, aku tidak akan melakukannya lagi lain waktu. Oh, di mana Jisoo? apakah dia baik-baik saja? Dia pasti sangat kaget, karena tiba-tiba ada seseorang yang mau menyerangnya." kata Celine.


"Jisoo, dia kuminta pulang bersama Adik laki-lakiku. Di sini dia terus menangis dan mengomel." jawab Jihyuk.


"Ohh ... begitu." Celine lagi-lagi menganggukkan kepalanya. "Lalu, kau? kau juga tidak pulang? aku tidak apa-apa sendirian." kata Celine.


"Aku harus menjagamu, karena itu janjiku pada Jisoo." kata Jihyuk.


Celine langsung terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jihyuk menarik kursi dan duduk di kursi di samping tempat tidur pasien.


"Istirahatlah. Atau kau butuh sesuatu?" tanya Jihyuk.


Celine menatap Jihyuk, "Aku merasa tidak nyaman saja. Bisa tolong panggilkan perawat? aku mau menyeka tubuhku dan ganti baju." jawab Celine.


"Ya? ah, i, iya. Akan ku panggilkan. Tapi, malam-malam begini kau mau menyeka tubuhmu. Apa itu tidak apa-apa? kau bisa kena flu." kata Jihyuk.


"Begitukah? tapi, ini tidak nyaman." gumam Celine yang langsung murung.


Melihat Celine yang murung Jihyuk merasa tidak enak. Ia menhela napas panjang dan lalu pergi meninggalkan Celine di kamar.


"Tunggulah. Akan ku pangggilkan perawat. Aku akan berjaga di luar ruangan." kata Jihyuk, sambil melangkahkan kaki pergi meninggalkan ruangan.


Celine menatap kepergian JIhyuk, sampai menghilang dibalik pintu. Pandangannya lantas teralihkan, ia menatap langit-langit ruangannya.


"Kang Ji-Hyuk. Ji-Hyuk. Ji ... " gumaman Celine terjeda, Celine langsung mengernyitkan dahi. "Eh, kenapa aku terus bergumam memanggil namanya? kau sudah tidak waras, Celine. Bagaimana jika dia sampai dengar dan salah paham." gumamnya lagi.


Celine mengacak-acak rambutnya, "Ahhhh ... bisa-bisanya memikirkannya. Dia kan orang yang baru kau kenal. Terlebih dia laki-laki." batin Celine.


Tidak lama, dua orang perawat masuk dalam kamar dan langsung berjalan mendekati Celine.


"Hallo, Nyonya. Tun tadi menemui kami, meminta kami membantu Anda berganti pakaian dan membersihkan diri." kata salah seorang perawat.


"Oh, i, i, iya." jawab Celine tersenyum.


"Permisi, Nyonya." kata perawat, meminta izin, membuka pakaian Celine.


Sementara satu perawat membuka pakaian Celine, perawat lain menyiapkan baskom dan handuk. Saat menanggalkan pakaian Celine, kedua perawat itu bekerja sama. Rambut Celine di ikat dan seorang perawat memulai menyeka tubuh Celine.

__ADS_1


"Anda memiliki kulit yang bagus, Nyonya." puji perawat yang membasuh tangan Celine.


"Ya, apa? tidak ada yang istimewa. Semua kulit kan sama." jawab Celine merasa aneh.


"Tapi, kenapa suami Anda berjaga di luar? bukannya menunggu di dalam." tanya perawat yang membantu membasuh wajah Celine.


Celine kaget, "Apa su, suami? suami apa?" tanya Celine menatap perawat yang membasuh wajahnya.


"Itu, Tuan tampan yang menemui saya tadi. Bukankah itu suami Anda?" tanya perawat itu lagi.


Seketika wajah Celine memerah, "Perawat ini, apa yang dia pikirkan sebenarnya? Bisa-bisanya mengatakan sesuatu hal yang bisa membuat orang salah paham.


"Wah, Nyonya. Wajah Anda memerah. Apa Anda baru menikah?" tanya perawat A.


Perawat B memukul lengan perawat A, "Kau ini. Apa yang kau tanyakan? jangan tidak sopan pada pasien." kata perawat B.


"Oh, maaf. Aku tidak bermaksud. Aku kan hanya ingin tahu saja." jawab perawat A.


Celine tersenyum, "Sudah-sudah. Tidak apa-apa. Tapi, apakah Nona perawat ada masalah? wajah Nona terlihat tidak baik." tanya Celine pada perawat A.


"Bagaimana bisa baik-baik saja, Nyonya. Suaminya sedang bermain dengan wanita lain. Terlebih rekan seprofesi." jawab perawat B.


Celine kaget, "Apa?" kata Celine.


"Jangan hiraukan, Nyonya. Saya tidak apa-apa. Bukan masalah besar." kata perawat A.


"Kau gila, ya? perselingkuhan bukan masalah besar katamu? kau pasti sudah sangat depresi." kata perawat B.


"Emh, Nona. Boleh saya bicara? maaf, saya tahu tak seharusnya saya ikut campur. tapi, sebagai sesama wanita, hati saya tergerak untuk mengatakan ini." Celine menatap perawat A yang ada di hadapannya.


"Jika pasangan berselingkuh, kita tidak bisa diam saja. Karena ... " Celine menjeda ucapannya. Tiba-tiba, ia teringat akan kisahnya, "Karena, jika kita diam saja, itu akan menimbulkan bibit penyakit. Yang bisa saja tidak bisa diobati seumur hidup. Jangan terlalu bergantung pad pasangan, karena saat kita mengantungkan seluruh harapan, kita tidak akan tahu balasan yang kita dapatkan. Rasa suka, rasa sayang dan cinta, memiliki keterbatasan. Jika terlalu berlebihan, bukankah akan menyakiti? Bukankah hati ini akan terasa seperti tertusuk duri, saat melihat pasangan kita punya orang lain? bahkan, jika sampai pasangan kita memiliki hubungan yang lebih jauh lagi, seperti ke jenjang yang lebih intim. Anda tidak boleh diam saja. Anda harus marah dan meminta keadilan. Kita menikah bukan untuk sekedar mengubah status dari lajang ke bersuami atau beristri. Menikah untuk menyatukan dua hal yang berbeda agar bisa berjalan berdampingan sehidup semati." panjang Celine bicara, tanpa sadar mata Celine berkaca-kaca.


Dua perawat yang bersama Celine langsung tertegun. Sadar mereka diam tidak bekerja, dua perawat itu sedikit kelabakan.


"Ah, maaf. Silakan mengenakan pakaian Anda." kata perawat B.


"Tidak apa-apa. Tolong pelan-pelan," kata Celine.


"Baik," jawab perawat B.


"Maaf, saya terlalu banyak bicara, Saya hanya ingin mengungkapkan perasan saya saja." kata Celine tersenyum.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya lega, saya jadi tahu apa yang harus saya lakukan sekarang. Berkat Nyonya, saya bisa lebih berani dan percaya diri." kata perawat A.


"Ya, semangat. Semoga Anda bisa bijak memutuskan pilihan dan menemukan solusi terbaik." jawab Celine. Celine menatap perawat B, "Kalau Anda? apakah Anda sudah menikah?" tanya Celine.


Perawat B menggelengkan kepala, "Belum, Nyonya. Saya ragu, apakah kedepannya saya akan menikah atau tidak. Melihat dan mendengar keluhan teman-teman yang selalu bertengkar dengan pasangan karena orang ketiga, membuat saya takut. Saya tidak mau kehidupan pernikahan saya dihantui orang ketiga." jawab perawat B.


"Apa yang Anda katakan memang benar. Tapi, tidak ada salahnya juga membuka hati dan memberikan kesempatan. KIta tidak akan tahu yang namanya keberuntungan. Benar, kan?" kata Celine.


"Tapi, Nyonya. Jika Anda ada di posisi saya, apakah Anda memaafkan? misalkan saja, Tuan tampan suami Anda itu punya wanita li dan mereka bermain panas dibelakang Anda. Apakah Anda akan melakukan sesuai perkataan Anda? meminta keadilan dan marah? atau Anda akan membalasnya?" tanya perawat A.


Celine kaget, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.


"Jawabanku ... aku telah mengakhiri semuanya dan memilih sendiri." batin Celine.

__ADS_1


"Itu semua tergantung situasi dan keadaan. AKu akui, tak sedikit laki-laki yang memang punya pikiran nakal dan genit. Sehingga mereka terkadang terjebak dengan wanita. Ada yang sekali mencoba lalu, menyudahi. Karena hanya sekedar penasaran. Ada yang tidak punya hati sampai membawa pulang selingkuhannya. Kalau itu aku, suamiku membawa pulang selingkuhannya, dan ternyata hubungan mereka lebih dari apa yang kubayangkan. Aku memilih pergi. Aku tidak bisa mempertahankan pernikahan itu, meski aku menyayangkannya." jawab Celine.


Suasana seketika hening. Tiba-tiba, terdengar pintu yang diketuk dari luar. Pintu itu sedikit terbuka, tidak terlihat siapa yang membuka pintu, hanya terlihat sedikit celah.


"Ah, maaf. Apakah sudah selesai? ada sesuatu yang mau ku ambil di dalam." kata Jihyuk yang berdiri di depan pintu.


Celine sudah selesai dan ia kembali berbaring. Dua perawat itu pun berpamitan pada Celine, tidak lupa mengucapkan terima kasih.


"Sudah, Tuan. Silakan masuk." jawab perawat B.


"Hm, Nyonya. Kami permisi dulu. Karena suami Anda sudah datang. Terima kasih, apa yang Anda katakan akan saya ingat. Selamat malam, Nyonya. Selamat istirahat." kata perawat A.


"Permisi, Nyonya. Semoga lekas sembuh." kata perawat B.


"Ya, terima kasih sudah membantu dan mengobrol bersama. Maaf, ya. merepotkan kalian berdua." kata Ceeline.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Permisi." jawab perawat A, perawat B hanya tersenyum.


Kedua perawat itu pergi meninggalkan ruangan. Sebelum meninggalkan ruangan, mereka juga menyapa dan berpamitan pada Jihyuk.


Jihyuk menutup pintu ruangan setelah kedua perawat keluar. Ia lalu, melangkahkan kaki mendekati Celine.


"Lapar, tidak? aku tadi minta makananmu dan mereka memberikanku ini." JIhyuk meletakan nampan di atas nakas samping tempat tidur.


"Kau mau ambil apa tadi? apa ada sesuatu yang tertinggal saat kau keluar?" tanya Celine beralih topik.


"Oh, itu. Ponsel. Aku mau menghubungi seseorang, tapi aku lupa bawa ponselku." jawab Jihyuk.


"Oh ... " jawab Celine ber-oh ria.


"Makanlah," Jihyuk meminta Celine untuk makan.


"Aku tidak selera makan." jawab Celine.


"Kenapa? apa karena kau memikirkan perawat tadi?" tanya Jihyuk.


Celine menatap Jihyuk, "Maksudmu?" tanya Celine menatap tajam.


"Maaf, aku tadi tidak sengaja dengar percakapan kalian bertiga." jawab Jihyuk canggung.


"Lalu?" sambung Celine.


Jihyuk terdiam sesaat, "Boleh aku bicara jujur?" tanya Jihyuk.


"Kenapa tidak boleh. Bicaralah," jawab Celine.


"Setelah aku dengar, aku menyimpulkan sesuatu. Aku merasa apa yang kau katakan pada kedua perawat itu adalah apa yang kau alami. Kau tak sekedar hanya merasakannya, tetapi mengalaminya sendiri." jawab Jihyuk.


Deg ... deg ... deg ....


"Pria ini. Bagaiman dia tahu?" batin Celine.


"Apa dia malu? atau marah? haruskah aku minta maaf? kurasa aku terlalu jauh bicara. Aku merasa bersalah." batin Jihyuk.


Celine tercengang. Ia tidak tau jika pria dihadapannya adalah pria dengan tinggal kepekaan tinggi. Celine langsung terdiam. Begitu juga Jihyuk. yang merasa bersalah karena bicara terlalu terbuka. Suasana hening dan canggung.

__ADS_1


*****


__ADS_2