
Sudah hampir tengah malam. Kang Ji-Hyuk baru saja menyelesaikan pekerjaanya. Saat akan pulang, ia melihat ponselnya. Ternyata Mamanya berkali-kali menghubungi.
"Mama ... " gumam Kang Ji-Hyuk.
Ia melihat jam tangannya, "Sudah hampir tengah malam. Mama pasti sudah tidur. Tapi, aku coba saja dulu," batinnya.
Kang Ji-Hyuk mencoba menghubungi Mamanya. Tidak perlu menunggu lama, panggilannya langsung diterima oleh Kim Ji-Eun, Mamanya.
(Percakapan di telepon)*
"Hallo, Ji-Hyuk. Nak, kau di mana?" tanya Kim Ji-Eun terlihat cemas.
"Masih di kantor, Ma. Ada apa?" tanya Kang Ji-Hyuk, merasa ada sesuatu yang terjadi.
"Soo-Hyuk. Dia ... dia kabur lagi dari rumah. Kali ini Papamu marah besar dan berniat mengirimnya ke tempat Kakek dan Nenekmu." Kim Ji-Eun sedih, ia menyayangkan tindakan putranya.
Kang Ji-Hyuk mengeryitkan dahi, "Aku mengerti. Aku akan coba bicara dengannya. Mama tidurlah, ini sudah tengah malam." Kang Ji-Hyuk mencoba menenangkan Mamanya.
"Anak itu benar-benar melewati batas. Mengesalkan sekali," batin Kang Ji-Hyuk.
"Kau tidak pulang? besok saja kita cari, Papamu juga pasti sudah mencarinya." Kata Kim Ji-Eun.
"Tidak apa-apa, Ma. Aku akan sekalian membawa Soo-Hyuk pulang." jawab Kang Ji-Hyuk.
"Kalau begitu hati-hati. Jangan sampai kau terluka, Ji-Hyuk. Apa kau mengerti?" Kim Ji-Eun khawatir.
"Aku mengerti, Ma. Aku bukan anak-anak lagi. Aku bisa menjaga diriku dengan sangat baik. Jadi, Mama tidak perlu cemas dan khawatir. Mama lekas tidur, kesehatan Mama lebih penting. Jangan juga pikirkan Soo-Hyuk. Dia pasti baik-baik saja." Kang Ji-Hyuk berusaha membujuk Mamanya untuk tidak khawatir.
"Baiklah. Mama mengerti maksud ucapanmu. Maafkan Mama yang terlampau khawatir. Kau kan tahu, adik bungsumu memang sangat meresahkan." sahut Kim Ji-Eun.
"Ya, Ma." jawab Kang Ji-Hyuk.
Kim Ji-Eun mengakhiri panggilan dari Kang Ji-Hyuk. Mendapat kabar yang tidak menyenangkan, membuat Kang Ji-Hyuk kesal. Ia sudah terbiasa dengan tingkah Adik bungsunya yang sangat tidak terkendali. Meski sudah ditegur berkali-kali pun, Kang Soo-Hyuk tidak pernah memperbaiki sikap.
Ia mengenakan jasnya dan langsung pergi meninggalkan ruang kerjanya. Sepertinya Kang Ji-Hyuk tahu di mana keberadaan Kang Soo-Hyuk, Adiknya.
***
Kang Soo-Hyuk sedang merokok. Dari belakang, Melissa memeluknya erat.
"Sayang, aku mengantuk." rengek Melissa.
"Tidurlah dulu. Aku masih belum mengantuk." jawab Kang Soo-Hyuk.
Melissa memendamkan wajahnya ke punggung Kang Soo-Hyuk. Meski diminta tidur lebih dulu, ia terlihat tidak berminat.
Kang Soo-Hyuk memegang tangan Melissa lalu, mengusapnya. Dipadamkan puntung rokok ke asbak yang ada di atas meja di sampingnya berdiri. Tubuhnya berbalik perlahan, sehingga ia berhadapan dengan Melissa.
Melissa menatap kekasihnya itu, "Kau kenapa? terlihat tidak seperti biasanya. Apa aku punya salah?" dengan nada sedih, Melissa bertanya.
__ADS_1
Kang Soo-Hyuk mengusap wajah Melissa, "Aku tidak apa-apa. Ayo, kita tidur." ajaknya.
Kang Soo-Hyuk adalah seorang yang tidak benar-benar bisa mencintai seorang wanita. Ia kerap berganti-ganti kekasih. Melissa adalah salah satu dari sekian banyaknya wanita yang terjerat oleh bujuk rayu si playboy, Kang Soo-Hyuk.
Saat ingin naik ke tempat tidur bersama Melissa. Ia mendengar ponselnya berdering. Diambilnya ponsel di atas nakas, ia melihat layar ponselnya. Terlihat sebuah nama bertuliskan 'Hyung' di layar ponselnya.
"Siapa?" tanya Melissa.
"Kakakku," jawab Kang Soo-Hyuk.
"Ka, kakakmu? apa yang terjadi, sayang?" tanya Melissa.
Kang Soo-Hyuk menatap Melissa, "Kau tidur duluan. Aku terima dulu panggilan Kakakku, ok." kata Kang Soo-Hyuk. Ia mencium kening Melisa mesra.
Melissa menganggukkan kepala, "Ya," jawab singkat Melissa.
Kang Soo-Hyuk pergi dari kamar dengan membawa kausnya. Ia tahu, jika Kakaknya ada di sekitaran apartemen kekasihnya.Maka dari itu, ia langsung keluar dari apartemen menuju parkiran.
Di perjalanan menuju Parkiran, ia menerima panggilan dari Kang Ji-Hyuk, Kakaknya.
(Percakapan di telepon)*
"Ya," jawab Kang Soo-Hyuk.
"Di mana?" tanya Kang Ji-Hyuk.
"Di jalan. Ingin menemui Hyung." jawab Kang Soo-Hyuk.
Kang Soo-Hyuk menatap layar ponselnya, "Dasar Ji-Monster." gumamnya.
***
Sebelumnya ....
Kang Ji-Hyuk sudah sampai di suatu tempat, tepatnya diparkiran. Ia menarik napas dalam lalu, menatap sebuah gedung apartemen tak jauh dari hadapannya.
"Lagi-lagi aku ke sini. Ini sudah kelima kalinya." gumam Kang Ji-Hyuk.
Ia mengeluarkan ponselnya, ia langsung menghubungi Adik bungsunya, agara segera datang menemuinya.
Beberapa kali ia menghubungi. Tapi, panggilannya tidak dijawab. Kang Ji-Hyuk tidak menyerah, ia terus menghubungi ponsel Kang Soo-Hyuk.
"Dasar merepotkan. Awas saja kau," batin Kang Ji-Hyuk murka.
Panggilannya di terima. Ia dan Kang Soo-Hyuk pun berbincang. Ia merasa lega, ternyata Adiknya itu tahu ia datang dan menunggu di parkiran yang lokasinya tak jauh dari gedung Apartemen Melissa.
Di dalam mobil Kang Ji-Hyuk menunggu. Ia mencoba menahan diri agar tidak emosional menghadapi tingkah Kang Soo-Hyuk, Adik bungsunya.
***
__ADS_1
Kang Soo-Hyuk masuk ke dalam mobil. Ia duduk di bangku mobil depan, samping bangku kemudi. Keduanya sama-sama saling diam. Mereka seperti hanyut dalam pemikiran masing-masing.
"Mau sampai kapan?" tanya kang Ji-Hyuk.
Kang Soo-Hyuk menatap Kang Ji-Hyuk, "Apanya yang sampai kapan?" tanyanya bingung.
"Sampai kapan kau akan bertindak memalukan seperti ini?" tanya Kang Ji-Hyuk lagi.
"Oh, itu." jawab Kang Soo-Hyuk, "Ya, ent kapan. Aku kan masih muda, masih ingin menikmati banyak hal." jawab Kang Soo-Hyuk.
Mendengar jawaban Adiknya yang tak sesuai harapannya, membuat Kang Ji-Hyuk sakit kepala. Ia ingin sekali marah dan mengatai Adiknya, tetapi itu tidak ia lakukan. Ia lebih memilih menahan emosinya dan menekan amarahnya.
"Ayo, kita pulang." ajak Kang Ji-Hyuk.
"Sekarang?" tanya Kang Soo-Hyuk.
"Lalu, kapan? apa kau kira akku datang ingin membiarkanmu tinggal di sini? JIka kau punya pikiran seperti ini, lebih baik kau urungkan saja pikiranmu. Mau tidak mau, suka tidak suka, ingin tidak ingin, aku akan bawa kau pulang." tegas Kang Ji-Hyuk menjawab.
"Tapi, Hyung. BIsakah besok saja? aku sudah berjanji pada Melissa akan tidur bersamanya." jawab Kang Soo-Hyuk tanpa rasa malu.
Dahi Kang Ji-Hyuk berkerut, "Apa? kagetnya.
"Kenapa ekspresi Hyung seperti itu? Hyung kan tahu pasti. Jika ada wanita yang tergila-gila padaku, aku tak akan melewatkannya. Tidur bersama mereka, aku sangat menikmatinya." jawab Kang Soo-Hyuk.
Telinga Kang Ji-Hyuk terasa panas saat mendengar ucapan Adiknya. Ia mengepalkan tangan dipangkuannya. Kang Ji-Hyuk menilai Adiknya terlalu berpikir di luar batas.
"Hentikan ucapanmu, Kang Soo-Hyuk! apa kau sudah gila, bicara seperti itu di hadapanku? kau mau mati rupanya." ucap Kang Ji-Hyuk murka.
Kang Soo-Hyuk langsung diam. Ia kembali mengingat ucapan yang ia lontarkan di hadapan Kakaknya. Dan ia pun kaget. Ia tidak menyangka mulutnya akan mengatakan hal-hal yang tidak-tidak.
"Umh, Hyung. Itu ... aku salah, maafkan aku. Tolong jangan marah." Kang Soo-Hyuk pun meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
"Kau kira cukup dengan itu? bukankah kau masih harus menjelaskan, kenapa kau punya pikiran seperti itu? besar juga keberanianmu, ya." kata Kang Ji-Hyuk.
Kang Soo-HYuk menundukkan kepalanya, "Maaf. Aku hanya mengutarakan apa yang kupikirkan saja. Tanpa ingat jika ada Kakak di sini." jawab Kang Soo-Hyuk, mencoba triknya membujuk Sang Kakak agar tidak kesal.
Tahu jika ucapan dan permintaan Maaf Adiknya hanya pemerah bibir, tentu membuat Kang Soo-Hyuk semakin kesal. Ia tidak tinggal diam dipermainkan Adiknya.
"Aku maafkan, dengan sebuah syarat." jawab Kang Ji-Hyuk tanpa ragu.
"Apa syaratnya?" tanya Kang Soo-Hyuk.
"Ikut pulang bersamaku dan minta maaflah pada Papa juga Mama." jawab Kang Ji-Hyuk.
"Tapi, aku ..." jawaban Kang Soo-Hyuk langsung di potong oleh Kang Ji-Hyuk.
"Tidak peduli sekesal apapun, atau sejengkel apapun. Papa dan Mama adalah orang-orang yang menyayangimu, Soo-Hyuk. Apa yang kau dapatkan di rumah, belum tentu kau dapatkan di luar rumah. Ini adalah ucapan yang akan kuucapkan sekali. Hanya kali ini saja. Kau paham?" Kang Ji-Hyuk berusaha membuat Adiknya sadar akan perilakunya yang buruk.
Kang Ji-Hyuk lantas diam. Ia merasa sudah terlalu banyak bicara . Pikirannya lelah, begitu juga tubuhnya. Ia sudah tidak punya lagi kekuatan untuk bicara lebih banyak lagi demi menyadarkan Adiknya.
__ADS_1
Hal yang sama juga dilakukan Kang Soo-Hyuk. Ia hanya bisa diam. Seakan ia terbungkam oleh ucapan Kakaknya.
*****