Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
25. Pertengkaran (1)


__ADS_3

Monna mengirim pesan pada Hezkiel. Ia ingin dijemput di bandara. Namun, Hezkiel menolak dengan alasan ada acara penting yang tidak bisa tidak dihadiri. Monna menghubungi Hezkiel, tetapi panggilannya diabaikan. Sampai Monna tiba di rumahpun, panggilannya tidak dijawab oleh Hezkiel.


"Sialan! ke mana perginya si bodoh, ini?" tanyanya dalam hati.


Lissa menghampiri Monna, "Apa semua baik-baik saja?" tanya Lissa.


"Ya, baik. Kau boleh pulang, Lissa. Terima kasih untuk semuanya. Besok kan libur, kau bisa istirahat." kata Monna.


"Ya, kau juga Monna. Sampai lusa," pamit Lissa.


"Hm," gumam Monna.


Melihat Lissa pergi, Marie bergegas menemui Monna. Ia menyambut Nyonya majikannya itu.


"Nyonya ... " panggil Marie.


Monna menatap Marie, "Oh, Marie. Ada apa?" tanya Monna.


"Tidak ada, Nyonya. Saya hanya ingin menyapa. Anda butuh sesuatu?" tanya Monna.


"Tidak ada. Aku ingin ke kamar dan segera mandi. Oh, ya. Apa Tuan mengatakan sesuatu padamu? mereka pergi bersama?" tanya Monna.


Marie menggelengkan kepala, "Tidak, Nyonya. Wanita jahat itu pergi sendiri dengan supir. Dan Tuan belum pulang sejak pergi ke kantor tadi pagi." jawab Marie.


"Apa saja yang mereka lakukan?" tanya Monna lagi.


"Tadi pagi mereka makan bersama. Saya melihat Tuan hanya diam. Mereka tidak saling bicara apa-apa. Karena saya lihat tidak akan ada apa-apa yang terjadi, saya langsung pergi ke kamar Anda. Saya sedang merapikan lemari pakaian Anda, Nyonya." jelas Marie.


"Ah, baiklah. Aku masuk dan mandi dulu. Kau siapkan makan malam untukku." kata Monna, yang langsung masuk ke dalam rumah.


***


Monna sedang makan malam. Ia makan di temani Marie yang berdiri di sampingnya. Anha hanya melihat sekilas, lalu kembali mengerjakan pekerjaanya di dapur.


"Apa mereka tidak pulang makan malam? ini bahkan sudah lewat jam makan." batin Monna memakan salad sayurnya.


"Anda ingin minum sesuatu yang hangat, Nyonya?" tawar Marie.


"Tidak, Marie. Kau bisa pergi jika kau ada pekerjaan. Aku tidak apa-apa." kata Monna.


"Baik, Nyonya. Saya masih ada beberapa pekerjaan kecil di dapur. Saya permisi," pamit Marie.


"Hm," gumam Monna.


Monna menghabiskan salad sayurnya. Ia melihat ponselnya, lalu mengambil ponselnya dari atas meja. Ia mencoba menghubungi Hezkiel lagi. Kali ini panggilannya diterima oleh Hezkiel.


"Hallo," jawab Hezkiel, sesaat setelah menerima panggilan.


"Kau, di mana?" tanya Monna.

__ADS_1


"Aku dalam perjalanan pulang. Kau sedang apa?" tanya Hezkiel.


"Tidak perlu banyak bertanya. Sedang apa tidak penting. Kenapa kau tidak balas pesanku dan panggilanku? aku kan memintamu menjemputku." kata Monna kesal.


"Aku kan sudah bilang padamu. Aku ada acara penting yang memang harus kuhadiri." jawab Hezkiel.


"Sepenting apa? lebih penting dariku? acara apa yang sampai mengharuskanmu datang." cecar Monna.


Pada saat Monna dan Hezkiel sedang bicara. Tiba-tiba ada suara Celine yang sedang mendesis.


"Ouch ... shhh ... " desis Celine.


Monna mengernyitkan dahi, "A-apa itu? suara siapa? kau ... " tanya Monna penasaran. Namun, pertanyaan Monna dipotong oleh Hezkiel.


"Nanti aku jelaskan di rumah. Sebentar lagi aku sampai," jawab Hezkiel yang langsung menutup panggilan Monna.


Monna kaget. Ia tidak senang dengan sikap Hezkiel. Monna menatap layar ponselnya, ia penasaran dengan suara yang ia dengar.


"Apa tadi itu. Seperti suara wanita. Hezkiel bersama dengan siapa? apa jangan-jangan wanita itu?" batin Monna.


"Ahh, menyebalkan sekali. Lihat saja nanti, aku akan benar-benar marah dan kesal padamu, Kiel." gumam Monna.


***


Hezkiel melihat ujung jari tangan kanan Celine memerah. Ia segera mengakhiri panggilannya dengan Monna.


"Ah, tidak apa-apa. Ini tadi hanya tergores saja. Aku tidak tahu, saat kutekan langsung terasa sakit" jawab Celine.


Hezkiel menepikan mobil dan menghentikan laju mobilnya. Ia menarik tangan Celine, lalu mengusap ujung jari tangan Celine yang terluka.


"Ahh ... " kaget Celine. Tidak menyangka Hezkiel akan mengusap jarinya.


Deg ... deg ... deg ....


Jantung Celine berdegup kencang. Wajahnya pun merona. Namun, ia langsung ingat dengan sesuatu. Jika ia sudah tidak boleh lagi mengharap apa-apa dari Hezkiel.


Celine menarik tangannya, "Aku tidak apa-apa, Kiel." kata Celine.


Hezkiel kaget, "Oh, tunggu. Aku punya plaster." katanya.


Hezkiel mengeluarkan plaster dari saku jasnya. Ia lalu menempelkan plaster itu ke ujung jari tangan kanan Celine.


"Meski kecil, kau harusnya memperhatikan. Luka kecil bisa berbahaya jika diabaikan. Kau mengerti?" kata Hezkiel menatap Celine.


"Ya, terima kasih. Lebih baik kita segera pulang." jawab Celine, langsung memalingkan muka.


"Oh, kau benar. Kita harus segera pulang." kata Hezkiel.


Mobil kembali melaju. Celine menggenggam jemarinya kuat. Ia tidak ingin jatuh dan terluka untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Sadarlah, Celine. Lupakan saja ini. Berpikirlah jauh, dia mungkin saja baik pada semua orang. Jadi kau tidak perlu terpedaya oleh sikap baiknya tadi." batin Celine.


***


Setibanya di rumah, Hezkiel dan Celine disambut oleh Monna. Dengan amarah yang berkobar, Monna langsung mencecar Hezkiel.


"Oh, bagus. Kau ternyata sibuk dengannya, ya." kata Monna bernada dingin.


"Monna, sayang kumohon tenanglah." kata Hezkiel.


"Tenang? aku kau suruh tenang? hah, kau ini sedang bercanda denganku, ya." kesal Monna.


"Maaf, aku tadi memang sedang ada urusan. Aku harus pergi ke rumah orang tua Celine. Kau kan tahu, resiko jika aku tidak pergi." jelas Hezkiel.


"Aku tidak perlu penejelasan apapun. Aku sangat kecewa dengan sikapmu, Kiel. Kau lebih memilih wanita itu dibandingkan aku. Kau tidak mau menjemputku di bandara, padahal aku sudah sangat berharap kau menyambutku pulang. Segini saja rasamu padaku. Ok, tidak apa-apa. Lakukan sesukamu," kata Monna semakin kesal.


"Sayang, dengarkan dulu. Aku tidak bermaksud seperti itu, ok. Tolong pengertianmu, kali ini saja." kata Hezkiel memelas.


"Tidak. Aku tidak akan memaafkanmu kali ini." jawab Monna.


Hezkiel menggapai tangan Monna, tetapi ditepis oleh Monna langsung. Monna menatap tajam ke arah Hezkiel, ia merasa amat kesal.


"Monna ... " panggil Hezkiel.


"Jangan panggil namaku seperti itu. Menjijikan," kata Monna berbalik dan ingin melangkah pergi.


"Monna tunggu ... " panggil Celine.


Monna terdiam, ia tidak berpaling ataupun bicara. Celine mendekati Monna, ia mengatakan alasan kepergian Hezkiel pada Monna. Agar Monna tidak kesal lagi.


"Umh, itu. Akulah yang mengajak Hezkiel. Aku tidak tahu jika kau akan kembali hari ini. Karena itu aku mengajaknya. Karena Papaku juga ingin bertemu dengannya." kata Celine.


Monna mendorong bahu Celine, "Kau memang rubah, ya. Kau pandai merayu sekarang." kata Monna.


"Bukan seperti itu, Monna. Maaf jika kau sakit hati. Aku tidak tahu, sungguh. Aku tidak bermaksud membuatmu kesal." kata Celine.


"Cukup! jangan berpura-pura merasa bersalah di hadapanku, Nyonya Winter. Katakan saja, kau memang sengaja melakukan ini karena kau cemburu denganku yang bisa selalu bersama Hezkiel, kan. Kau sengaja memanfaatkan kesempatan untuk mendekatinya dan ingin meratunya. Benar, kan? percuma kau sembunyikan wajahmu itu. Topengmu pasti akan terlepas dan niat aslimu akan terkuak. Dasar rubah! sekali rubah akan tetap menjadi rubah." maki Monna.


Celine mengernyitkan dahi. Ia merasa kesal dan ingin mengatai Monna balik. Tetapi ia tidak ingin membuat suasana semakin panas. Celine tahu kesalahannya. Ia tidak tahu jika Monna akan kembali, itulah sebabnya ia menawarkan mengajak Hezkiel datang ke undangan makan malam di kediaman Greey. Jika ia tahu Monna akan datang, Celine tidak akan mungkin mengajak Hezkiel. Karena ia tidak mau sampai ads pertikaian antara ia dan Monna lagi.


"Monna, hentikan!" kata Hezkiel. "Ayo masuk dan bicara. Kau tidak bisa begini di depan rumah." lanjut Hezkiel, menarik paksa tangan Monna agar mengikutinya.


"Auh ... " teriak Monna kesakitan. "Lepaskan tanganku, Kiel. Ini sakit. Kau menyakitiku," kata Monna.


"Diam! ikut aku, kita harus bicara di dalam." sahut Hezkiel yang juga kesal.


Celine hanya diam. Menatap kepergian Hezkiel dan Monna. Anha menghampiri Celine, ia menyelimuti punggung Celine dengan selimut, lalu mengajak Celine masuk ke dalam rumah.


*****

__ADS_1


__ADS_2