Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
34. Kesepakatan Hezkiel Dan Monna


__ADS_3

Di sebuah rumah, di dalam ruang kerja. Ada seorang pria paruh baya yang sedang bicara dengan Asistennya. Ia mencari seseorang lain yang menjadi tawanannya.


"Di mana Bibi tua itu, Bob?" tanya pria itu.


"Sedang berbelanja, Tuan." jawab sang Asisten.


"Belanja? ah, benar saja. Dia kan tidak mau makan masakan pelayan. Apa kau meminta supir dan pengawal menjaganya?" pria itu khawatir jika seseorang yang dimaksud akan kabur secara tiba-tiba darinya.


"Tentu, Tuan. Saya akan selalu memperhatikannya. Bibi itu 'kan kunci anada mengendalika Nona." jawab sang Asisten dengan lantang.


"Ya, kau benar. Tanpa wanita tua itu, Anaknya tidak akan patuh. Apa belum ada kabar darinya? dia terus saja mengulur waktu." pria itu sedikit kesal karena sesuatu.


"Belum ada, Tuan." jawab cepat sang Asisten.


Tidak lama, pintu ruang kerja di ketuk seseorang dari luar. Yang ternyata adalah seorang pelayan rumah.


Tok ... tok ... tok ....


Ketukan pintu terdengar keras. Tidak lama pintu terbuka dan seorang pelayan masuk lalu menutup pintu perlahan.


"Tuan, Nyonya Merry sudah pulang. Apa perlu saya panggilkan?" pelayan itu dengan nada bicara lembut bicara. Ia berhati-hati agar tidak salah bicara pada majikannya.


Pria paruh baya itu menganggukkan kepala, "Ya, panggil dia. Aku akan beri tahu peraturan baru di rumah ini. Agar dia juga tidak bisa seenaknya." jawabnya dengan dingin.


Pelayan merasa takut dan menjadi gugup, "Ba-baik, Tuan. Saya akan segara panggilkan. Permisi," pamitnya yang langsung keluar dari dalam ruangan.


"Saya juga pamit undur diri, Tuan. Masih ada hal yang harus saya kerjakan." kata sang Asisnten berpamitan.


"Hm," gumam sang majikan.


Asisten itu lalu keluar dari dalam ruangan. Di luar, ia berpapasan dengan seorang wanita yang dipanggil majikannya.


"Bibi," sapanya.


"Hallo, Bob. Kau sedang kerja, ya" sapa balil wanita itu.


"Ya, seperti biasa. Bibi berhati-hati saja. Tolong jangan buat Tuan marah hari ini. Karena emosinya sedang tidak baik." kata Bobby, sang Asisten.


"Ya, terima kasih. Di rumah ini, hanya kau yang selalu baik padaku. Maaf, karenaku kau harus memasang dua muka di depan majikanmu yang jahat itu." kata Merry, wanita yang selalu dilindungi Bobby diam-diam.


"Tidak apa, Bi. Bagaimanapun, kita harus bertahan. Aku masih ada urusan, Bibi masuk saja." kata Bobby tersenyum pada Merry.

__ADS_1


"Kau hati-hati, ya. Jaga dirimu baik-baik, Bob." Merry memperingatkan Bobby. Ia ingin Bobby selalu baik-baik saja dalam segala keadaan. Karena dia tau, betapa gilanya atasan yang mempekerjakannya.


Bobby pergi, Merry masuk ke dalam ruangan. Merry mempersiapkan hatinya dengan baik seperti bisanya. Ini bukan kali pertama ia menghadapi monster jahat.


Klekkk ....


Pintu ruangan terbuka. Merry berjalan perlahan mendekati pria yang sedang berdiri menatapi sebuah foto.


"Kau memanggilku?" tanya Merry pada pria itu.


"Oh ... " pria itu ber oh ria. Ia memalingkan pandangan mebatap Merry, "Apa belanjanya menyenangkan, Bi?" tanyanya.


"Biasa saja," jawab Merry singkat.


"Bagaimana rumah ini? Bibi suka?" tanya pria itu lagi.


"Tidak buruk. Bukankah hal ini sudah bisa terjadi. Kau mebawaku berpindah-pindah tidak pasti." keluh Merry.


"Apa ini, Bibi merasa kesal, ya? hmm ... jagan bersikap dingin dan tidak tahu terima kasih begitu, Bi. Ingat, berapa banyak uang yang aku keluarkan untuk putri tercintamu itu. Seumur hidup pun, Bibi dan dia tidak kan bisa membayarnya lunas." kata pria itu mulai emosi.


"Apa kau tidak pernah puas mempermainkan kami? jangan terus mendesak anakku berbuat jahat. Jika kau mau, lakukan semua padaku. Aku akan menanggung semua untuknya. Aku ... aku ... " Merry menangis. Ia tidak bisa menahan air matanya lagi.


"Selama dia patuh dan menuruti kemauanku, aku tidak akan menghukumnya. Selama dia bersikap manis, aku akan selalu memanjakannya. Namun, aku punya batasan menghadapi sikap keras kepalanya. Kesabaranku tidak seluas yang Bibi pikirkan. Yang perlu Bibi perhatikan adalah, baik-baik patuh tinggal di sini. Jangan macam-macam, atau sesuatu hal buruk terjadi padanya." tegas pria itu bicara. Membuat Merry terdiam.


Pria itupun akhirnya meminta Merry elrgi dari ruang kerjanya. Ia merasa kesal, mengingat pesan-pesanya tidak dibalas oleh seseorang yang ditunggu kabarnya.


***


Hezkiel dan Monna sarapan bersama. Monna hany makan sesuap saja dan menyudahi sarapannya. Ia lantas kembali ke kamar. Saat ia melewati Hezkiel, tangan Hezkiel menahan tangan Monna. Membuat langkah kaki Monna terhenti tiba-tiba.


"Monna ... " panggil Hezkiel.


"Lepas ... " kata Monna pelan.


"Dengarkan aku dulu. Aku mau bicara sesuatu." kata Hezkiel.


"Tidak perlu banyak bicara. Pilih saja, perceraian atau kau berikan sahammu padaku. Aku tidak mau bicara sebelum kau buat keputusanmu." kata Monna melepaskan tangannya yang dipegang Hezkiel.


Hezkiel terdiam. Ia tidak bisa bicara apa-apa dibuat Monna. Dua pilihan yang sulit baginya. Monna kembali melangkahkan kaki menuju kamar.


Hezkiel berdiri dari duduknya, "Apa lagi, ini. Bercerai? tidak, aku tidak akan menceraikanmu, Monna. Apapun alasannya. Tapi, bagaimana caraku bicara padamu agar kau mau mengerti dan memberiku waktu?" Kata Hezkiel lantang. Ia tidak tahan lagi mengungkapkan pikirannya.

__ADS_1


Monna menghentikan langkah kakinya, "Kau bisa berikan aku sahammu jika aku beri waktu?" tanya Monna.


Hezkiel mengepalkan kedua tangannya erat, "Ya, aku bisa. Beri aku waktu sedikit lagi." jawab Hezkiel. Ia memutuskan untuk memenuhi keinginan Monna.


"Berapa lama?" tanya Monna, berbalik menatap Hezkiel.


"Satu bulan. Ya, satu bulan. Tolong, beri aku waktu. Aku akan berikan apa yang kau inginkan itu." kata Hezkiel menatap Monna yang jaraknya tidak terlalu jauh dari posisinya berdiri.


"Ya, satu bulan. Jika kau tidak tepati janji, kita bercerai. Itu kesepakatan kita, Kiel. Jangan menawar lagi. Aku lelah berdebat denganmu." Monna berbalik, ia kembali melangkah menuju kamar.


Hezkiel mengelurkan ponsel, ia menghubungi seseorang. Ia sedang berusaha meminta bantuan dan pendapat dari Asistennya, Sebastian.


"Hallo ... Tuan ... " sapa Sebastian.


"Tian, kau di mana?" tanya Hezkiel.


"Saya, baru saja selesai sarapan. Saya di Apartemen. Apa ada sesuatu?" tanya Sebastian.


"Yang kubicarakan semalam. Kau bisa lakukan untukku, kan. Ku mohon, bantu aku." kata Hezkiel meminta bantuan Asistennya.


"Maaf, Tuan. Apakah itu tidak akan menimbukkan masalah? kenapa Anda akan menjual saham Anda? perusahaan tidak sedang dalam keadaan genting sampai harus ada saham yang dijual." Sebastian merasa curiga, tetapi ia tidak mau banyak berkomentar.


"Sebenarnya, aku tidak berniat menjual. Tapi, akan kuberikan pada seseorang." jawab Hezkiel. Ia jujur mengakui niatannya.


"Apa?" kaget sebastian. "Maaf, Tuan saya lancang bertanya. Pada siapa Anda berikan? jangan katakan pada ... " sebastian menjeda ucapanya. Seolah tidak mau menyebut nama seseorang yang dipikirkannya.


"Ya, kau tau siapa orangnya. Jadi, Tolong aku." jawab Hezkiel.


"Tidak, Tuan. Terlalu beresiko. Maafkan saya. Sebagai Asisten, tugas saya juga termasuk dalam melingdungi keamana dan kesejahteraan atasan juga perusahaan. Saya tidak akan membantu Anda. Maaf," dengan tegas Sebastian menolak. Ia tidak mau sampai sesuatu hal buruk terjadi.


"Hanya lima persen dari sahamku yang akan kuberikan. Bukan semuanya. Apa itu juga tidak bisa membuatmu membantuku?" tanya Hezkiel lagi.


"Tuan, lebih baik Anda pikir ulang kembali. Ini semua demi kebaikan Anda. Nol koma satu persen pun akan jadi masalah jika saham diberikan pada seseorang yang tidak bisa bertanggung jawab. Saya bicara bukan karena saya menyudutkan Anda. Saya hanya tidak ingin Anda terlibat masalah." Sebastian kembali menjelaskan niatannya.


"Ya, sudalah. Aku akan hubungi lagi nanti. Sepertinya, aku masih harus di sini beberapa hari lagi. Karena aku ada janji temu dengan klien kita." Hezkiel mengalihkan pembicaraan.


"Baik, Tuan. Saya akan tangani perusahan sementara Anda tidak di tempat. Hubungi saya jika Anda butuh sesuatu." kata Sebastian.


"Ya, kau bekerjalah dengan baik. Sampaikan pada Jeslyn untuk mengatur ulang jadwalku minggu ini." pesan Hezkiel pada Sebastian.


"Baik, Tuan." jawab Sebastian.

__ADS_1


Hezkiel mengakhiri panggilannya. Ia meletakan ponselnya ke atas meja dan kembali duduk. Ia memikirkan cara untuk bisa membujuk Seabstian membantunya. Agar bisa memberikan sebagian sahamnya pada Monna. Demi Monna Hezkiel akan melakukan apapun, meski harus bertaruh hal besar sekalipun. Karena ia telah dibutakan oleh cinta.


*****


__ADS_2