Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
60. Hanya Ingin Menolong


__ADS_3

Sebulan berlalu, tampaknya Celine sudah menemukan sesuatu yang menarik untuk mengisi waktu kesehariannya. Ia dibantu Siane mendirikan sebuah toko bunga. Rupanya keahlian saat dulu sekolah berguna pada saat ini. Meski dulu hanya belajar secara asal-asalan, tetapi Celine memberanikan diri untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan tanpa rasa takut.


Keberuntungan memang berpihak pada Celine. Baru sebulan dibuka, toko bunganya selalu ramai pembeli dari berbagai kalangan. Entah karena bunga-bunga yang dijual atau karena kecantikan sang penjual. Yang mampu menjadi sihir untuk memikat hati sang pembeli untuk datang ke toko bunga miliknya.


Tidak hanya kehidupan Celine yang berupah. Penampilan Celine pun berubah. Ia memangkas rambut panjangnya menjadi sebahu. Dengan rambut pendek, Celine terlihat lebih segar dan lebih cantik memesona.


***


Celine baru saja menutup tokonya. Ia mengunci pintu tokonya dan pergi untuk mencari taksi. Tapi, ia ingat untuk membeli sesuatu di supermarket. Langkah kakinya berjalan menuju supermarket yang lokasi tidak seberapa jauh.


Celine memasukan tangannya ke dalam mantelnya, "Huhhhfffhh ... dingin sekali. Sepertinya hari ini lebih dingin dari kemarin?" gumam Celine berjalan perlahan-lahan


Celine mendengar suara teriakan. Langkah kakinya terhenti, ia memalingkan pandangan ke arah suara teriakan. Tak jauh darinya ada seorang wanita yang tasnya dirampas oleh seseorang dan dibawa lari. Pencuri itu berlari ke arah Celine.


"Dia berlari ke arahku. Aku harus apa? apa aku harus menghentikannya? Tapi, aku juga tidak mungkin membiarkan kejahatan terjadi." batin Celine.


Saat pencuri itu berpapasan dengan Celine. Secara tiba-tiba Celine sengaja menabrakkan dirinya ke si pencuri. Membuat tas yang dibawa si pencuri terjatuh. Tas itu langsung dipungut Celine, dan membuat si pencuri marah.


"Hei, Nona. Berikan tas itu. Itu bukan milikmu." kata salah seorang petugas keamanan. dengan sopan


"Apa tas ini juga milikmu? kurasa tidak. Inikan tas wanita." kata Celine


Pencuri itu terlihat panik. Tetapi, ia tidak bisa mengulur waktu dan harus segera berlari. Pencuri itupun kembali merebut tas dari tangan Celine. Terjadilah tarik menarik, sampai pencuri itu mengeluarkan pisaunya dan berniat menikam Celine.


Entah mengapa, Celine seperti tahu apa yang hendak dilakukan si pencuri dengan pisau itu. Meski berhasil menghindar, tetap saja pisau itu menggores lengannya. Merasa sakit dan terdesak, Celine pun langsung menendang sela-sela paha si pencuri. Membuat si pencuri teriak kesakitan.


"Och ... wanita s*alan!" umpat si pencuri.


Tidak lama, seseorang yang kehilangan tas datang dengan membawa petugas keamanan restoran.


"Dia pelakunya, Pak. cepat tangkap." seru wanita yang kehilangan tas.


Wanita itupun, memaki pria yang mencuri tasnya dan mengatakan akan menuntut pria tersebut. Pihak keamanan langsung meringkus si pencuri, dan membawa si pencuri pergi


Celine menatap wanita asing di hadapannya. "Permisi, Nona. Apakah ini tas milik anda?" tanya Celine memastikan.


"Ah, iya. Terima Kasih. Nona" ucap wanita itu.


Celine mengembalikan tas yang ia pegang pada sang empu. Wanita itu menerima tasnya kembali. Ia melihat darah di punggung tangan Celine.


"Nona, Anda terluka?" tanya wanita itu, langsung memegang tangan Celine.


Celine tersenyum, "Tidak apa-apa. Hanya tergores saja." jawab celine seakan tidak ingin wanita di depannya tahu lukanya.


Wanita itu menaikan lengan mantel Celine agar bisa melihat luka Celine. Ternyata goresan luka di lengan Celine cukup panjang.


"Astaga ... kita harus segera ke rumah sakit. Luka ini panjang dan terus mengeluarkan darah." kata wanita itu panik.

__ADS_1


Celine menarik tangannya dan menurunkan lengan mantelnya. Ia bersi keras menjawab, jika semuanya baik-baik saja.


"Tidak apa-apa, Nona. Saya harus segera pulang. Saya akan ke klinik sendiri. Lain waktu Anda harus lebih berhati-hati, ya." kata Celine yang langsung berjalan pergi.


"Nona, tunggu ... " kata wanita itu menahan kepergian Celine.


"Ya?" jawab Celine menghentikan langkah kakinya dan menatap wanita yang ditolongnya. "Ada sesuatu yang lain, Nona?" lanjut Celine bertanya.


"Jika Anda tidak mau diantar ke rumah sakit. Bisa minta kontak Anda? saya perlu membalas kebaikan Anda." kata wanita itu dengan sopan dan nada suara lembut.


Celine membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya pada wanita itu.


"Sebenarnya, Anda tidak perlu membalas apa-apa. Saya bak-baik saja, Nona. Tapi, ini saya berikan agar perasaan Anda tenang. Silakan mampir ke toko bunga yang saya kelola." jawab Celine tersenyum.


Wanita itu menerima dan melihat kartu nama Celine, "Oh, ok. Akhir pekan ini saya akan berkunjung. Ayo, kita minum kopi bersama." ajak wanita itu, membalas senyuman Celine.


"Silakan. Saya menantikan kunjungan Anda. Selamat malam," jawab Celine berpamitan. Celine lalu, pergi meninggalkan wanita itu sendirian.


Karena merasa sakit di lengannya, Celine memutuskan untuk pergi ke klinik langganannya. Ia tidak jadi pergi ke supermarket untuk membeli sesuatu yang diinginkannya.


***


Siane buru-buru datang ke klinik. Ia memarahi Celine habis-habisan, setelah tahu apa yang Celine lakukan. Siane mengganggap, apa yang dilakukan Celine terlalu beresiko.


"Apa yang kau lakukan, Celine? kau mau mati, hah ... " kata Siane gemas.


"Untung saja hanya lenganmu yang tergores. Bagaiman jika penjahat itu berhasil menusukmu? ahhhh ... aku bisa mati kena serangan jantung, jika seperti ini." keluh Siane.


"Ya, ya. Aku salah. Aku minta maaf. Hal ini tidak akan terulang lagi, ok. Aku hanya ingin menolongnya saja." Celine meyakinkan temannya agar tidak khawatir padanya.


"Aku khawatir, Celine. Aku tahu kau orang yang baik. Bahkan sangat baik, sampai kau rela melakukan apapun untuk kebahagiaan orang lain. Tapi, tolong lebih hati-hati lain kali. Ok." kata Siane.


Celine menganggukkan kepala, "Ya, ok." jawab Celine.


"Kau duduk saja, biarkan aku yang siapkan makan malam." kata Siane, yang bergegas mengambil peralatan makan di dapur.


Celine duduk diam di meja makan. Ia tidak ingin kena omel lagi oleh sahabatnya. Dari posisinya, ia melihat Siane yang sibuk di dapur.


"Hahhh ... " hela napas Celine. "Siapa sangka juga akan terjadi hal seperti ini. Hanya ingin menolong, tetapi aku malah terluka. Inilah yang dinamakan, kejahatan tidak mengenal tempat, waktu dan orang. Mau itu pagi, siang, sore atau malam. Mau itu di jalan atau supermarket. Mau itu anak-anak atau orang tua, pria wanita. Jika ada kesempatan, pasti kejahatan itu bisa saja terjadi." batin Celine menatap lengannya yang dibalut perban.


Siane datang membawa peralatan makan, ia menyiapkan makan malam untuknya dan Celine.


"Nah, makanlah. Ini kan kesukaanmu." kata Siane , meletakkan pring berisi makanan di atas meja di hadapan Celine.


Celine tersenyum, "Terima kasih, Nona Robert. Kebaikan Anda tiada tara." puji Celine sekaligus menggoda sahabatnya.


"Ya, nona Greey. Selmat makan," jawab Siane.

__ADS_1


Keduanya makan malam dengan tenang. Mereka menikmati makan malam mereka.


***


Di lain tempat. Di kediaman keluarga Kang. Seorang wanita datang dan langsung membuat gempar seisi rumah.


"Aku pulang ... Papa, Mama ... " teriak seorang wanita berjalan masuk ke dalam rumah.


Di meja makan, ada Kang Soo-Ji dan istrinya, Kim Ji-Eun. Seseorang itu langsung mendekat dan memeluk mereka.


"Papa, Mama. Aku merindukan kalian." kata wanita cantik itu.


"Kau akhirnya ingat rumah, setelah berkeliaran seperti lalat." kata Kang Soo-Ji.


"Sayang ... jaga ucapanmu." Kim Ji-Eun meminta suamiya untuk diam.


Wanita itu mengeryitkan dahi, "Lalat? apa tidak ada binatang lain selain lalat? Papa, putrimu ini seorang model papan atas, ok. Aku tour bukan berkeliaran." protesnya.


"Sama saja. Yang jelas kan kau sellau pergi dari satu tempat ke lainnya dan pergi sampai ke luar negeri juga." sahut Kang Soo-Ji.


"Appa ..." wanita itu menatap kesal pada sang Papa.


"Sudah-sudah. Hentikan kalian berdua. Ji-Soo pergilah ganti baju lalu, makan." perintah Kim Ji-Eu pada putrinya.


"Ne," jawab Kang Ji-soo, yang langsung pergi meninggalkan Papa dan Mamanya untuk pergi ke kamarnya.


Saat ingin naik ke lantai dua menuju kamarnya. Kang Ji-Soo bertemu Kang Ji-Hyuk.


"Oppa ... " sapa Kang Ji-Soo.


"Oh, Ji-Soo. Kau sudah pulang?" tanya Kang Ji-Hyuk.


"Ya, Oppa juga?" tanya balik Kang Ji-Soo.


"Hm," jawab Kang Ji-Hyuk bergumam.


Keduanya naik ke lantai dua bersamaan. Kakak beradik itu mengobrol santai. Kang Ji-Soo bahkan sampai mengeluh dengan kejadian yang baru saja ia alami saat di supermarket. Hal itu tentu membuat Kang Ji-Hyuk sebagai Kakak merasa khawatir.


"Kau baik-baik saja? tidak terluka, kan?" tanya Kang Ji-Hyuk pada adik perempuannya.


"Aku tak apa, Oppa. Yang terluka bukan aku, melainkan orang yang membantuku. Tangannya tergores, tetapi dia tidak mau kuantar ke rumah sakit. Ya, dia wanita yang cukup dingin dan keras kepala seperti Oppa." kata Kang Ji-Soo menggoda Kakaknya.


"Hentikan itu. Masuk dan ganti bajumu. Papa dan Mama sudah menunggu kita." kata Kang Ji-Hyuk yang langsung membuka pintu kamarnya dan masuk ke kamarnya.


Kang Ji-Soo mengernyitkan dahi, "Baru saja dibicarakan, dia sudah menunjukkan sikapnya yang dingin. Ssshh ... " Kang Ji-Soo mendesih dengan tatapan tidak senang. Ia pun segera membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamar.


*****

__ADS_1


__ADS_2