Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
13. Tidak Hanya Satu


__ADS_3

Hiks ... hiks ... hiks ...


Suara isak tangis Celine pecah. Diam-diam Celine duduk di lantai bersandarkan tempat tidur. Hatinya terasa sakit, namun ia tidak bisa mengungkapkan rasa sakit itu.


"Bagaimana kau bisa lakukan itu padaku, Kiel? aku memang tidak ada di hatimu, tetapi kau juga perlu menyebut namany saat bercinta denganku. Kenapa kau sebegitu mencinya? istrimu itu aku." batin Celine mencengkram kuat bantal yang dipeluknya.


Celine menyeka air matanya perlahan, terdengar juga deru napasnya yang tersengal. Celine tidak ingin menyerah begitu saja. Meski ia hanyalah tempat pelampiasan.


Tempatnya saat ini, jauh lebih baik dibandingkan tempat sebelumnya. Di rumahnya ia mendapatkan banyak tekanan dari Mama tiri dan gangguan yang tidak wajar dari Kakak tiri. Kedua orang yang selalu membuat Celine tertekan dan stres. Menghadapi Monna memang bukan hal mudah, namun Celine masih bisa mengatasinya. Ia masih bisa membuat Monna bungkam dan mundur dengan statusnya yang merupakan 'Nyonya Muda Winter'.


Cukup lama Celine menangis. Ia meluapkan semua kesedihanya sampai air matanya mengering. Setelah itu, Celine berdiri dan pergi ke kamar mandi. Ia ingin membasuh wajahnya agar lebih segar.


***


Monna terjaga dari tidurnya. Ia duduk bersandar melihat sisi tempat tidurnya. Tampak Leon yang sedang bertelanjang dada tertidur lelap. Monna tersenyum, ia kembali mengingat hal manis yang luar biasa.


"Aku puas sekali. Kau lebih segalanya dari Hezkiel, Leon." batin Monna tersenyum.


Monna membelai wajah Leon, ia mencium lembut kening Leon. Tangan Leon langsung merengkuh tubuh Monna. Seketika mata Leon terbuka. Leon juga terjaga dari tidurnya.


"Apa yang kau lakukan, sayang?" ucap Leon tersenyum tampan.


"Kau bangun? karena aku, ya? maaf, aku tidak bermaksud membangunkanmu." kata Monna.


Leon menggelengkan kepala, "Tidak apa-apa. Kenapa kau bangun? apa ada sesuatu?" tanya Leon.


"Ya, aku baru saj melihat pesan dari Managerku. Dia khawatir karena aku tidak menerima panggilannya tadi. " jelas Monna.


"Oh, begitu ... " sahut Leon.


Leon begitu lekat menatap Monna. Ia menciumi leher Monna, ia ingin mencetak jekak ciuman di sana. Sebelum jejak itu tercetak, Monna buru-buru mendorong Leon.


"Leon, jangan! Besok aku ada pemotretan memakai bikini. Kau tidak boleh meninggalkan bekas ciumanmu." kata Monna, mengingatkan


"Hm, ok." jawab Leon murung.


Monna menagkup wajah Leon. Ia mengecup lembut bibir Leon sekilas. Monna tersenyum, mengusap-usap kepala Leon.


"Apa kau marah? memiliki tubuhku, tidakkah kau senang?" tanya Monna.

__ADS_1


"Aku tidak hanya ingin tubuhmu. Aku juga ingin hatimu, Monna. Apakah ada laki-laki lain dalam hatimu? apa kau punya seseorang yang kau sukai?" cecar Leon.


"Tidak, Leon. Aku mencintaimu. Aku tidak pernah mencintai pria seperti aku mencintaimu. Bukankah aku sudah buktikan padamu, bentuk rasa cintaku. Apa kau masih meragukanku?" tanya Monna lagi.


Leon tersenyum, "Tidak, sayang. Ini sudah lebih dari cukup. Aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Kita saling mencintai. Bukankah, begitu?" kata Leon.


"Ya, sayang. Ini pertama kalinya aku mengenal pria asing dan langsung jatuh cinta. Bahkan langsung tidur bersama. Entahlah, mungkin aku memang sudah gila." kata Monna.


"Jika kau gila, aku lebih gila lagi. Kaulah wanita yang membuatku menggila. Bagaimana kau akan bertanggung jawab, Nona?" kata Leon membelai wajah Monna.


"Hm ... bagaimana, ya?" gumam Monna.


"Kau terlalu lama berpikir. Aku akan membuatmu bertanggung jawab sekarang." kata Leon. Yang segera menyerang Monna.


Leon mencium bibir Monna dengan penuh nafsu Monna membalas ciuman Leon. Keduanya berciuman panas sampai suhu tubuh mereka juga ikut naik. Gairah dan hasrat memenuhi pikiran Monna dan Leon. Mereka kembali melakukan, hal yang sebelumnya sudah mereka lakukan.


***


Hezkiel terjaga dari tidurnya. Ia meraba keningnya dan memijat area tersebut perlahan-lahan. Kedua mata Hezkiel terbuka, ia melihat langit-langit kamar yang tidak asing baginya.


"Ini ... " gumamnya.


"Celine ... " batin Hezkiel.


Celine tidur dalam posisi miring menghadap ke arah Hezkiel. Melihat wajah Celine yang terlelap, Hezkiel penasaran untuk mendekatkan wajahnya menatap wajah cantik Celine. Cukup lama Hezkiel menatap lekat wajah Celine.


"Apa ini memang wajahnya? dia terlihat cantik." batin Hezkiel.


Tangan Hezkiel menjulur ia ingin mengusap kepala Celine. Namun, niatannya diurungkan karena matanya tertuju Pada sesuatu. Ia melihat dada dan bahu Celine merah-merah.


"Apa itu? jangan bilang ... " batin Hezkiel.


Potongan-potongan ingatan sisa semalam mulai tertata. Wajah Hezkiel merona, meski ini bukan kali pertam ia melakukan hubungan suami-istri dengan Celine. Tetap saja, ada perasaan aneh yang dirasa oleh Hezkiel.


"Aarggghhh ... sial! aku sudah berjanji pada diriku sendiri, tak ingin menyentuhnya. Kenapa aku malah bertindak jauh seperti ini? jika Monna tahu, di pasti akan kesal. Oh, ya. Sudah jam berapa ini. Harusnya Monna sudah datang." batin Hezkiel.


Pikiran Hezkiel kembali teralihkan oleh Monna, wanita kesayangannya. Ia menarik turun dari tempat tidur. menarik selimut menutupi tubuh Celine. Setelah itu, Hezkiel pergi meninggalkan Celine.


***

__ADS_1


Monna baru saja datang, ia membuka pintu kamarnya dan melihat Hezkiel yang sedang berganti pakaian.


"Hei, kau baru mandi?" tanya Monna.


"Ya, baru saja. Kau sudah sarapan?" tanya Hezkiel.


Monna menggelengkan kepala. Ia melempar tasnya ke tempat tidur, lalu menanggalkan pakaian yang dikenakannya.


"Belum. Aku masih ingin mandi," jawab Monna.


Melihat wanita kesayangannya tanpa pakaian. Membuat pikiran kotor Hezkiel datang. Saat Monna melangkahkan kaki hendak ke kamar mandi, langkah kakinya dihentikan Hezkiel.


"Kau sengaja, ya?" bisik Hezkiel, memeluk Monna dari belakang.


"Kiel ... " panggil Monna manja.


Hezkiel menciumi bahu dan punggung Monna. Ada aroma asing yang tercium dari tubuh Monna. Dan itu langsung membuat Hezkiel berkomentar.


"Parfum pria. Kau ... " kata Hezkiel terhenti.


Seketika, Monna terkejut. Ia tidak menyangka jika aroma parfum Leon melekat di tubuhnya dan disadari oleh Hezkiel.


"Bagaimana, ini? aku tidak boleh ketahuan oleh Hezkiel. Jika aku melewati malam panas bersama pria lain." batin Monna.


Monna langsung berbalik. Ia mengalungkan tangannya ke leher Hezkiel. Monna tersenyum cantik menatap Hezkiel. Ia berusaha mencari alasan untuk menutupi perbuatannya.


"Umh, sayang. Kau 'kan tahu. Aku seorang model. Jika aku berfoto dan berdampingan dengan pria, tentu saja aroma mereka akan menempel. Pria yang kutemuo di studio juga tidak hany satu atau dua orang saja, bukan?" alasan Monna.


Hezkiel tersenyum, "Hei, kenapa kau panik begitu? aku hanya bicara saja. Aku 'kan tidak menuduhmu macam-macam, sayang. Aku tahu pekerjaanmu, dan aku juga tidak bisa melarang itu. Meski sebenarnya aku tidak suka kau harus dekat dengan pria lain, bahkan sampai mengenakan pakaian minim untuk pemotretan." kata Hezkiel murung.


Monna berjinjit, mencium lembut bibir Hezkiel. Ciuman Monna dibalas Hezkiel. Ciuman keduanyapun semakin panas.


Monna melepas ciuman, "Apa kau mau ... " goda Monna, meraba dada Hezkiel.


"Mau apa?" tanya Hezkiel. Berpura-pura tidak tahu.


Monna berbalik, "Ya, sudah. Ganti saja pakaianmu. Aku mau mandi." gerutu Monna.


Hezkiel tersenyum, ia langsung menghempaskan tubuh Monna ke tempat tidur. Tubuh kekar Hezkiel menindih tubuh Monna. Ia kembali menciumi setiap inci tubuh Monna, membuat Monna berisik dengan mengeluarkan suara manjanya.

__ADS_1


*****


__ADS_2