
Hezkiel*
Aku melarikan diri seperti seorang pecundang. Ya, aku memanglah seorang pengecut dan pecundang. Aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa saat tahu kebenaran di depan mataku sendiri.
Apa ini semua? apa ini mimpi? ini pasti mimpi. Ya, ini adalah mimpi buruk seumur hidupku. Hatiku tersayat-sayat, sampai aku tak bisa merasakan rasa sakitnya lagi.
Monna adalah wanita yang amat kucintai. Bahkan aku rela memperbudak diri sendiri untuk bisa membuatnya senang dan tertawa. Aku mau menjadi satu-satunya pria yang membuatnya terkesan. Aku ingin dia menyematkan namaku di dalam hati dan pikirannya. Aku mengira semua akan mudah dan baik-baik saja. Mengira semua cerita ini akan berjalan sesuai naskah yang kubuat. Ternyata tidak, wanita itu bahkan mengaku dengan bibirnya sendiri, jika ia tidak pernah memiliki rasaku.
Jangankan cinta, kasih sayang atau semacamnya. Rasa sukanya padaku saja tidak ada. Lalu, apa semua, ini? Aku bahkan melakukan hal lebih gila lagi, dengan kami menikah. Bahkan pernikahan yang sebenarnya, melainkan hanya sebuah rekayasa semata.
Ini di luar pikiranku. Aku sama sekali tidak menduga hal ini akan ku alami. Aku sudah ditipu, Monna adalah seorang pembohong. Wanita itu membohongiku sampai seperti ini. Sebenarnya untuk apa? apa ini sungguh demi uang semata? kurasa tidak. Monna juga bukan orang yang kekurangan. Ia bekerja dan menghasilkan uang pribadinya.
Pikiranku kacau. Isi kepalaku penuh, sampai rasanya bisa meledak kapan saja. Langkah kakiku yang cepat, akhirnya membawaku ke parkiran. Aku lalu, masuk ke dalam mobil dan menyandarkan kepalaku untuk istirahat sejenak.
"Aku bisa gila!" gumamku sembari menutup mataku.
Saat mataku terpejam, kata-kata Monna satu per satu muncul kembali. Dengan rasa takut ia mengakui semuanya. Ia mengatakan semua yang ia rasakan selama berada di sisiku. Dia ... ahhhh, sudahlah. Kepalaku sakit sekali rasanya.
Monna, Monna, Monna. Kenapa aku harus menyukaimu? apa hubunganmu dengan pria itu? sehingga kau terus melihatnya dengan tatapan penuh rasa takut. Semakin kupikirkan, semakin aku tidak percaya.
Plakkk ....
Aku menampar pipiku sendiri dengan keras. Tapi, aku masih saja merasa seperti mimpi. Lalu, apa yang harus ku lakukan?
Ponselku berdering. Pada saat seperti ini, siapa orang yang menghubungiku? Aku meraba saku celanaku, dan melihat nama 'Joe Albert' di layar ponselku.
Joe? ada angin apa dia menghubungiku? apapun itu, pasti bukan sesuatu yang biasa-biasa saja.
"Hallo," jawabku.
"Oh, hallo, Kiel. Kau tidak di rumah? Bibi Anha mengatakan kau keluar." kata Joe.
"Ya, aku di luar. Kau datang? kapan?" tanyaku.
SElama ini yang ku tahu Joe sedang sibuk dengan perusahaan cabangnya di luar negeri. Kapan dia datang?
"Tadi pagi. Maaf, aku tidak langsung menemuimu. Karena aku langsung pergi ke kantor. Ada hal mendesak yang harus segera ku kerjakan." jelasnya padaku.
"Ya, tidak apa-apa. Mau bagaimana lagi, kau kan sedang sibuk. Oh, ya. Joe ... ini terdengar egois. Tapi, bisakah kau meluangkan waktumu? Ayo, kita minum. Aku ... aku, ingin minum sepuasnya malam ini." Aku tanpa rasa malu mengajak Joe untuk minum-minum. Padahal aku tahu, dia pasti sangat sibuk.
__ADS_1
"Baiklah. Kita bertemu di Bar seperti biasa. Ayo, kita minum sepuasmu." jawabnya.
Jawabannya sedikit memberikan penghiburan untukku. Aku lega juga senang. Joe mau meluangkan waktunya b untuk menemaniku minum.
"Ya, ok. Aku akan segera ke sana," kataku.
"Ya, aku juga." jawabnya.
"Sampai nanti," kataku lagi.
Hati-hati," sahutnya, mengingatkanku.
"Ya, kau juga." jawabku.
Joe pun mengakhiri panggilannya. Aku meletakan ponselku ke bangku yang ada di samping bangku kemudi. Aku langsung mengemudikan mobilku pergi meninggalkan parkiran Hotel. Aku dan mobilku melaju cepat, menuju Bar di mana aku dan Joe biasa bertemu untuk minum-minum.
***
Aku sampai di Bar. Di sana, aku melihat Joe yang sudah datang dan duduk. Aku berjalan menghampirinya lalu, duduk di sampingnya.
"Kau menunggu lama, Joe?" tanyaku.
Aku langsung menghela napas. Bagaimana bisa aku menyembunyikan perasaan kacau balau ini padanya.
"Hahhhh ... " hela napasku, aku menatap sekeliling bar tempat kami minum saat ini.
"Hei, kau kenapa diam? kenapa juga kau menghela napas, seolah kau baru saja mengalami sesuatu hal yang tidak menyenangkan." tanyanya mendetail.
"Ya, aku baru saja mengalami shock. Kemungkinan aku juga mengalami kejang jantung dan otak." jawabku asal.
"Hah? kau kenapa?" tanya Joe lagi terlihat bingung sekaligus cemas.
"Kita minum saja dulu. Nanti, pelan-pelan aku akan ceritakan semuanya dan sedetail-detailnya padamu.
"Ya, baiklah. Sesuai apa katamu saja." jawabnya pasrah.
Kami pun mulai minum. Aku tidak bisa menikmati minuman yang aku minum. Yang kurasakan hanyalah perasaan kecewa. Dan tanpa ku sadari, aku sudah menghabiskan tiga gelas minuman beralkohol.
"Kau tidak minum alkohol?" tanyaku pada Joe.
__ADS_1
"Tidak. Aku kan masih harus mengerjakan beberapa pekerjaan lagi nanti. MInumlah pelan-pelan. Tidak akan ada orang yang merebut minuman itu darimu." katanya.
"Joe ... " panggilku.
"Hm, iya. Apa? bicaralah, jika kau ingin mengatakan sesuatu." Joe langsung tahu, jika aku ingin menceritakan apa yang kualami sebelum aku bertemu dengannya.
"Tadi aku melihat sesuatu yang tidak pernah sekalipun kubayangkan." kataku memulai cerita.
"Melihat apa? jangan setengah-setengah. Aku mau dengar cerita lengkapnya tanpa ada yang kau tutupi." katanya tegas.
Dengan nada suara lemah, aku memulai ceritaku. Ku ceritakan semua. Di mulai dari terbongkarnya hubunganku yang sesungguhnya dengan Monna oleh Celine. Sehingga gara-gara itu Celine pun meminta perceraian. Aku ceritakan juga soal Papa dan Mama yang sudah tidak menganggapku lagi. Ya, mereka sangat kecewa, saat tahu kebenaranny.
Lalu, aku bercerita juga tentang keseharianku selama sebulan ini. Apa yang dan bagaimana aku melewati hari-hari yang melelahkan. Pada saat aku menceritakan tentang Monna, hatiku terasa nyeri.
" ... Aku memergoki Monna bersama pria asing di kamar sebuah Hotel. Bahkan aku melihat Monna tanpa pakaian. Lebih gilanya, Pria yang bersama Monna , memamerkan tubuhnya yang penuh jejak ciuman." kataku bercerita.
Joe kaget. Ia menatapku tajam dengan dahi yang berkerut.
"Apa? apa ini sungguhan? kau tidak sedang bergurau kan kiel? jangan buat lelucon seperti ini." katanya tidak percaya. Jangankan dia yang mendengar. Aku yang mengalaminya saja, masih seperti mimpi.
"Untuk apa aku berbohong? Jujur saja, Joe. Ini seperti mimpi bagiku. Aku ingin mimpi ini berakhir, agar hatiku tidak terasa nyeri." kataku pada Joe.
"Lalu, apa yang Monna katakan?" tanya Joe lagi.
"Dia mengakui semuanya. Dia memanfaatkanku . Di daam hatinya, ternyata memang tidak pernah ada aku. Semua ia lakukan karena pria itu, dengan sebuah alasan yang tidak ia katakan." jelasku.
"Wah, dia sudah gila!" sahut Joe. "Tapi, KIel. Bicara soal celine, bagaimana perasaanmu setelah kau bercerai dengannya?" lanjutnya bicara, menanyakan sesuaatu yang membuatku cukup kaget.
"Apa? perasaanku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Mungkin ini adalah jalan yang memang harus ku lalui.
"Hm ... apa kau tidak merasa menyesal?" tanya Joe lagi.
Deg ... deg ... deg ....
Mendengar Pertanyaan Joe, membuatku merasakan sesuatu. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyelimuti tubuhku.
Menyesal? aku? hmmm ... mungkin. Mungkin aku menyesal. Mungkin juga tidak. Karena aku tidak pernah memikirkan soal celine lagi semenjak hari itu.
*****
__ADS_1