
Satu minggu kemudian ....
Siane baru saja pulang dari luar kota. Ia pulang lebih awal dari jam yang seharusnya. Siane membawa banyak oleh-oleh. Termasuk camilan kesukaan Celine.
Sampai hari terakhirnya bekerja, Celine masih belum memberitahukan apa-apa pada Siane. Tentang kejadian yang menimpanya, yang mengharuskannya tinggal di rumah sakit untuk beberapa waktu.
***
Pagi itu, Jihyuk sedang menyuapi Celine makan. Satu minggu ini, Jihyuk benar-benar memperhatikan kesehatan Celine.
"Aku makan sendiri," kata Celine.
"Diamlah dan buka saja mulutmu. Aku akan menyuapimu. Terakhir kali kau makan sendiri, kau menumpahkan makannya. Apa kau ingat?" jawab Jihyuk. Bersikeras tak mau memberikan mangkuk berisi bubur pada Celine.
Celine terdiam. Ia ingat, saat itu juga di pagi hari. Karena tidak hati-hati, ia menumpahkan bubur ke jas yang akan digunakan Jihyuk ke kantor. Meski Jihyuk tidak marah, Celine merasa bersalah. Terlebih jas itu terlihat mahal.
"Ya, aku ingat. Maaf untuk itu. Aku akan menggantinya." gumam Celine.
"Mengganti, ya? sayang sekali, designer jas ku itu, dia sudah meninggalkan dunia ini. Kau mau menggantinya dengan apa? apa kau mau mendesign jas baru untukku? kata Jihyuk, setengah menggoda Celine.
Celine kaget, "Sungguh? designernya sudah tiada? oh ... lalu? bagaimana bisa aku menggantinya?" Celine kembali bergumam di akhir kalimatnya.
"Mau tahu caranya?" tanya Jihyuk.
"Mau, beritahu aku. Bagaimana caranya?" jawab Celine antusias dengan wajah serius menatap lekat Jihyuk.
"Hahaha ... " Jihyuk tertawa. Melihat ekspresi wajah Celine yang terlihat lucu. "Ah, bagaimana, ya. Hahhhh ... " hela napas Jihyuk.
"Aku serius. Cepat beritahu aku. Bagaimana caranya?" tanya Celine lagi penuh harap.
Jihyuk mendekatkan wajahnya menatap Celine, "Cukup habiskan buburmu dan lekaslah sembuh." kata Jihyuk lalu tersenyum.
Celine melebarkan mata, "Apa?" tanyanya hampir tak percaya apa yang baru saja didengarnya.
"Ayo, buka mulutmu dan makan." pinta Jihyuk dengan nada suara lembut.
Ponsel Jihyuk berdering. Ia merogoh kantung celananya dan mengeluarkan ponselnya. Jihyuk menerima panggilan tersebut.
Celine menatap Jihyuk. Terlihat Jihyuk sedang berbincang dengan seseorang dan sepertinya sedang membahas pekerjaan. Jihyuk menatap Celine, pandangan keduanya bertemu. Jihyuk ingat jika ia harus menyuapi Celine. Lalu, ponselnya di sangganya dengan bahunya sebelah kanan, agar tangannya bisa menyuapi Celine.
__ADS_1
Jihyuk menyendok bubur lalu, menyuapkan ke Celine. Sambil menyuapi ia juga sambil menjawab telepon. Celine yang merasa Jihyuk kerepotan ingin memegang sendok, tetapi tangannya dipegang Jihyuk.
" ... baik. Kita bahas itu secara rinci dipertemuan selanjutnya." kata Jihyuk.
Celine merasa tidak nyaman. Tangannya masih digenggam Jihyuk. Jihyuk kembali menatap Celine, ia melepaskan tangan Celine dan menyuapi Celine lagi. Jihyuk memegang ponselnya kembali, saat hendak memalingkan pandangan ke belakang, dasi Jihyuk di tarik Celine.
Jihyuk kaget, ia menatap Celine. Celine tersenyum menatap Jihyuk. Celine memasangkan dasi Jihyuk, karena dasi itu belum terpasang. Jihyuk terpaksa diam dan menurut, posisi keduanya sangat dekat. Sampai mereka bisa saling merasakan embusan napas satu sama lain.
" ... Tuan, saya hubungi lagi nanti. Karena saya masih sibuk saat ini. Terima kasih karena Anda sudah menghubungi saya lebih dulu." kata Jihyuk mengakhiri panggilan. Ia menatap Celine, "Apa yang kau lakukan?" tanya JIhyuk.
Celine menatap Jihyuk, "Apa lagi? aku sedang memasangkan dasi untukmu. Kenapa kau memutus teleponnya? apa sudah selesai?" tanya Celine, tangannya masih sibuk memasang dasi.
"A, a, apa harus begini?" tanya Jihyuk dengan wajah memerah.
"Apanya yang begini? kau ini kenapa? diamlah dulu, sebentar lagi selesai." kata Celine.
"Wanita ini, benar-benar membuatku sakit kepala." batin Jihyuk.
Celine tidak sadar, jika jarak wajahnya dan wajah Jihyuk amat dekat. Ia hanya fokus memasang dasi. Celine baru sadar jarak wajahnya dengan Jihyuk sangat dekat, saat secara tidak sengaja hidungnya bersentuhan dengan hidung Jihyuk.
Celine langsung memalingkan wajah, "Sudah selesai. Lain kali setelah memakai pakaian, sekalian pasang dasinya." omel Celine dengan wajah bersemu merah.
Deg ... deg ... deg ....
"Apa-apaan, ini. Kenapa juga aku berdebar seperti ini. Aku pasti sudah gila, krena hanya terkurung bersamanya. " batin Celine.
Deg ... deg ... deg ....
Dada JIhyuk berdegup kencang. Jihyuk menyentuh dadanya sambil mengerutkan dahi.
"Apa ini? apa aku sakit jantung? aku harus periksakan jantungku sesegera mungkin." batin Jihyuk.
"Celine ... " panggil Jihyuk.
"Jihyuk ... " panggil Celine.
Keduanya saling memanggil satu sama lain di waktu bersamaan. Menyadari hal itu, keduanya saling memalingkan pandangan dan bertatapan.
"Kau duluan," kata Jihyuk.
__ADS_1
"Kau duluan," kata Celine.
Keduanya kembali bersamaan bersuara. Mereka pun tertawa, karena merasa lucu.
"Ada apa memanggilku?" tanya Celine.
"Oh, tidak. Aku hanya ingin bilang, jika aku akan terlambat datang karena ada urusan di kantor. Jisoo nanti akan datang menemanimu." jawab Jihyuk.
"Ya, tidak apa-apa. Kau tidak perlu terlalu menjagaku dan mengabaikan pekerjaanmu." kata Celine.
"Tetap saja, aku sudah janji pada Jisoo. Selama kau masih dirawat di rumah sakit ini, kau adalah tanggung jawabku." jawab Jihyuk. "Oh, ya. Tadi kau memanggilku, ada apa?" tanya Jihyuk.
"oh, bukan apa-apa. Hanya ingin bilang, berangkat saja, jika ingin berangkat. Aku bisa makan sendiri." kata Celine.
Jihyuk meletakan mangkuk bubur di atas nakas di samping tempat tidur, " Ya, makanlah kalau begitu. Aku juga harus berangkat lebih awal. Pelan-pelan makan, ya. Juga, berhati-hatilah. Aku berangkat dulu." Jihyuk mengingatkan Celine untuk berhati-hati. Ia juga berpamitan untuk segera berangkat ke kantor,
Celine tersenyum dan menganggukkan kepala, "Ya, aku akan makan pelan-pelan dan berhati-hati. Kau juga, hati-hati mengemudi. Semangat bekerja Jihyuk. " kata Celine menyemangati Jihyuk.
"Ingin sesuatu? akan kubelikan sepulang dari kantor nanti." tanya Jihyuk.
"Apa boleh makan kue atau cake? aku mau makan yang manis-manis." kata Celine ragu-ragu.
"Manis-manis, ya? hm, ok. Akan kubelikan sesuatu yang manis nanti. Jangan lupa minum obatmu juga. Sampai nanti." kata Jihyuk.
Jihyuk melangkah pergi membawa jasnya menuju pintu. Baru setengah jalan ia berjalan, Jihyuk memalingkan pandangan dan menatap Celine. Celine yang menatap JIhyuk sedikit bingung, tetapi Celine tidak mau menunjukkan kebingungannya. Ia tersenyum melambai ke arah Jihyuk
"Daah ... " kata Celine melambai-lambaikan tangannya.
Deg ... deg ... deg ....
Jantung Jihyuk kembai berdegup.
Jihyuk tersenyum tampan, "Daahh ... " katanya yang juga melambaikan tangan.
Sesegera mungkin, Jihyuk berbalik dan kembali melangkah menuju pintu. Ia kembali meraba dadanya, ia merasakan detak jantungnya yang semakin lama semakin cepat dan tidak beraturan.
Jihyuk akhirnya keluar dari dalam ruangan. Ia berdiri di depan pintu ruang rawat Celine. Ia menoleh ke arah pintu,
"Aku harus benar-benar pergi ke dokter. Sepertinya tidak hanya jantungku, tetapi juga isi kepalaku yang bermasalah." batin Jihyuk.
__ADS_1
*****