
Hezkiel sedang minum bersama Joe. Mereka berbincang membicarakan pekerjaan. Tiba-tiba perbincangan mereka mengarah pada hal lain. Di mana Hezkiel mengeluh pada Joe, Ia mengatakan ia sangat merindukan Celine. Tentu saja Joe kaget mendengarnya.
"Apa pekerjaanmu lancar, Joe?' tanya Hezkiel.
"Ya, tentu saja. Aku harus segera menyelesaikannya dan kembali. Minggu depan adalah pernikahan saudariku, setelah pernikahan aku akan pergi. Saat aku tidak ada, kau jangan minum sendiri. Ajaklah seseorang yang bisa kau ajak bicara. Kau dengar aku, kan" kata Joe.
"Hm, aku dengar. " jawab Hezkiel.
"OH, kau bilang bertemu seseorang beberapa hari lalu. Siapa?" tanya Joe penasaran.
"Oh, itu. Tuan Kang, Kang Jihyuk. Dia CEO baru perusahaan yang cukup lama menjalin kerjasama dengan perusahaan kami. Sebelumnya, orang lain yang mengelola tapi, karena ada alasan tertentu, posisi itu dipegangnya. Dia anak pemilik perusahaan." jelas singkat Hezkiel.
"Pertemuan kalan lancar?" Joe kembali bertanya.
"Ya, lancar-lancar saja. Tidak ada sesuatu hal yang istimewa, tetapi juga tidak buruk. Aku terkesan, dia pria yang punya banyak pertimbangan. Selalu memikirkan ujung akhir sesuatu hal, sebelum dia mengambil keputusannya. " kata Hezkiel memuji Jihyuk.
"Wah, perbincangan kalian pasti seru, kan. Jarang sekali kau mau bertemu secar pribadi dengan orang luar kecuali aku. Biasanya kan, pertemuan kalian hanya di ruang rapat atau kedai kopi. itupun yang dibahas juga hanya soal pekerjaan, tidak lebih dan tidak kurang." Joe heran. Ada perubahan dalam diri sahabatnya itu.
"Hm, kau benar." jawab Hezkiel.
Setelah itu Hezkiel dan Joe saling diam. keduanya lebih memilih menikmati minuman yang mereka pesan. Hezkiel minum minumannya dengan sekali teguk, ia meletakan gelas dan memanggil sahabatnya yang duduk tepat di sampingnya.
"Joe," panggil Hezkiel.
"Hm, apa?? jawab Joe bermain ponsel. Joe melihat apakah ia menerima pesan atau panggilan dari seseorang dan ternyata ia melihat Joana yang tak lain adalah kembarannya mengirim pesan.
"Aku merindukan Celine," kata Hezkiel tiba-tiba.
Joe yang membalas pesan Joana, langsung menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengetik keyboard ponselnya. Ia memalingkan pandangan menatap Hezkiel.
"Apa? kau tadi bilang apa?" tanya Joe, berharap sahabatnya itu mau mengulangi ucapannya.
"Aku merindukan Celine," ulang Hezkiel berbicara.
Joe mengernyitkan dahi, "Jadi, aku tidak salah dengar, ya." batin Joe.
"Kau mabuk, ya?" tanya Joe.
__ADS_1
"Aku sangat merindukannya, Joe. Bagaimana, ini. Aku ingin mencarinya, aku ingin bertemu dengannya." kata Hezkiel. Ia meminum lagi minuman dalam gelasnya dengan sekali teguk. Dipandanginya gelas kosong yang ada di tangannya.
"Untuk apa kau bertemu dengannya?" tanya Joe, ingin tahu apa yang sahabatnya itu pikirkan.
"Untuk meminta maaf. Untuk berbalikan. Apa itu mungkin?" jawab Hezkiel.
"Kiel, dengar. Untuk bertemu, kemungkinan bisa. Tergantung keberuntunganmu, apakah kau bisa menemukannya atau tidak. Tapi, untuk meminta maaf dan berbalikan, aku tak jamin. Kau kan tahu, kesalahan apa yang sudah kau lakukan. Meski pada akhirnya semua hanya kebohongan dan melukai hatimu. Tapi, tetap saja. Kau sudah terlanjur melukai hatinya." jelas Joe, memberikan pendapatnya.
Hezkiel meletakan gelasnya lalu, mengisi kembali gelasnya yang kosong dengan minuman yang ia tuang dari sebuah botol. Ia diam tidak menjawab apa-apa. Begitu gelasnya terisi, Hezkiel kembali meneguk habis minuman dalam gelas dengan sekali teguk.
"Jadi, aku memang tidak pantas menerima maaf. Begitu kan maksudmu?" kata Hezkiel.
"Bukan, au salah paham, Kiel. Aku bukan mengatakan kau tidak pantas atau kau tak berhak dimaafkan. Aku berkata, setelah bertemu tidak ada jaminan. Bisa kau pahami kata-kataku? Jaminan yang ku maksud adalah, saat kau bertemu lalu minta maaf, jika dia tiba-tiba pergi, bagaimana? saat kau meminta maaf, dia justru teringat kejadian itu dan semakin marah padamu, bagaimana? Jika kau meminta maaf, kau langsung ditampar, bagaimana? semuanya mungkin saja terjadi, kan. Kau dengar?" Joe kembali menjelaskan detail maksud ucapannya.
Hezkiel menunduk dengan tubuh gemetar, "Karena itu aku bertanya. Apakah itu mungkin? dan jawabannya adalah tidak." Air mata Hezkiel tiba-tiba berjatuhan. Hezkiel menangis.
Melihat sahabatnya terpuruk dan sedih, Joe merasa sedih juga. Ia ingin sekali membantu sahabatnya itu. Tapi, ia tidak mau juga Celine kembali tersakiti, setelah ia melihat celine baik-baik saja dan tampak bahagia dengan kehidupan baru yang dijalani.
"Maaf, Kiel. Bukannya aku tidak mau atau ingin menutupinya darimu. Meski aku tahu keberadaan Celine, aku tidak bisa memberitahumu. Bagaimanapun, aku ingin melihat Celine menjalani hidupnya dengan baik seperti saat aku tidak sengaja bertemu dengannya. Dia lebih banyak tersenyum dan terlihat ceria daripada saat berada di rumahmu. Maaf, temanku." batin Joe.
***
Selesai dari bar, Joe mengantar Hezkiel pulang. Ia yang tidak mabuk karena minum minuman tidak beralkohol, tidak bisa meninggalkan sahabatnya begitu saja. Apalagi, membiarkan Hezkiel mengemudi dalam keadaan mabuk.
Di rumah, kedatangan Joe dan Hezkiel disambut oleh Bibi Anha. Bibi Anha langsung membantu Joe, dengan membukakan pintu kamar Tuan mudanya.
Joe lalu membaringkan Hezkiel ke tempat tidur. Bibi Anha melepas sepatu Hezkiel lalu, menyelimuti tubuh Hezkiel dengan selimut. Joe dan Bibi Anha pun keluar dari kamar Hezkiel.
"Anda ingin minum, Tuan??" tawar Bibi Anha.
"Ya, Bi. Air putih saja." jawab Joe.
"Akan saya buatkan air madu. Tunggu sebentar." kata Anha yang langsung ke dapur.
Joe berjalan mengikuti bIbi Anha. Ia sudah lama tidak bertemu dan berbicara dengan Bibi asuh sahabatnya itu. Sementara Anha membuat air madu, Joe menunggu dengan duduk di kursi di meja makan.
Anha datang, ia membawa secangkir air madu hangat untuk Joe. Di letakannya cangkir itu ke atas meja di hadapan Joe.
__ADS_1
"Kenapa minum begitu banyak?" tanya Anha, berdiri di samping Joe.
"Bi, duduklah. KIta kan sudah lama tidak mengobrol. Dan tolong, bicara santai saja seperti bisanya. Aku tidak nyaman bibi terus memanggilku Tuan muda dan bicara formal." kata Joe menegaskan.
Bibi Anha menarik kursi dan duduk di samping Joe, "Ceritakan. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bibi Anha.
Joe lantas menceritakan apa yang terjadi pada Hezkiel. Semua diceritakan Joe dengan detail, tanpa terkecuali. Mendengar cerita Joe, Bibi Anha merasa sedih. Bibi Anha diam tidak bicara apa-apa lagi.
"Bi, aku mau bicara sesuatu. Tapi, kuharap Bibi Anha tidak menceritakannya pada Hezkiel." kata Joe.
"Ya, bicaralah," pinta Bibi Anha.
"Sebenarnya, aku pernah bertemu Celine beberapa kali. Itu terjadi, sebelum aku datang ke sini." kata Joe.
Anha kaget. Ia lantas berpikir keras. Ia baru menyadari jika negara kelahiran Joe adalah tempat tujuan Celine tinggal. Jadi, kemungkinan bisa bertemu meski kemungkinan itu kecil.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Anha, menatap Joe.
"Ya. dia baik. Dia terlihat lebih sering tersenyum dan ceria. seperti seseorang yang sudah melepaskan beban beratnya." jawab Joe.
"Ah, syukurlah. Au selalu khawatir akan keadaannya." jawab Bibi Anha.
"Bibi tidak kaget, saat kuberitahu aku bertemu dengannya?" tanya Joe.
Bibi Anha tersenyum, "Kaget untuk apa? sudah pasti kalian akan bertemu jika satu negara, kan. Meski kemungkinannya kecil, tapi jika kebetulan kalian berada di satu kota yang sama, pasti akan bertemu." jelas Bibi Anha.
"Tunggu, tunggu ... ini seolah seperti bIbi mengatakan, jika aku tahu segalanya. Apa pikiranku salah?" tanya Joe.
"Tidak salah. Kau benar. Kami semua sudah tahu, Termasuk Tuan dan nyonya besar. Tapi, kami memang sengaja merahasiakannya dari Tuan muda. Ini kami lakukan, demi kenyamanan bersama. Tuan dan Nyonya, tidak ingin melihat Nyonya muda menderita lagi. Jadi, Bibi harap kau juga merahasiakan hal ini. Ok." kata Bibi Anha.
Joe menganggukkan kepalanya, " Aku mengerti, Bi. Ya, meski sejujurnya ini cukup sulit bagiku. Aku merasa kasihan dan tidak tega dengan Hezkiel, tetapi aku juga tidak mau celine terluka lagi jika bertemu Hezkiel. Bukankah, alasan Celine pergi sudah jelas? ia ingin mengubur semua lukanya? aku tidak tahu, apa jadinya jika mereka bertemu." kata Joe berpendapat.
"Aku setuju. Untu saat ini biarlah seperti ini. Jika Yang memiliki kehidupan berkehendak mereka bertemu, pada akhirnya juga akan bertemu. Jika, tidak. maka tidak. Meski sulit dan jika ketahuan kita akan ada dalam masalah, tapi inilah yang terbaik." kata Bibi Anha berpendapat.
Ternyata, Bibi Anha dan Joe satu pemikiran. Mereka berada di jalur yang sama. Memilih diam, seakan tidak tahu apa yang terjadi. Meski sebenarnya tahu. Keduanya tidak memikirkan apa yang akan terjadi, jika Hezkiel tahu. Tapi, mereka lebih memikirkan apa yang terbaik untuk semuanya.
*****
__ADS_1