Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
43. Bantuan Teman


__ADS_3

Celine*


Ponselku berdering, aku melihat layar ponsel dan ternyata seseorang tidak diduga menghubungiku. Dia adalah sahabat baikku semasa kecil. Namanya, Siane Robert. Saat ini dia sedang berada di luar negeri. Ia mengejar cita-citanya setinggi langit.


Kugeser panel hijau di layar ponselku. Aku menerima panggilan darinya. Kamipun berbincang.


Pembicaraan di telepon*


"Hallo," jawabku, sesaat setelah menerima panggilannya.


"Hallo, Celine. Kau tidak ada di rumahmu, ya. Aku sempat mampir ke sana dan Bibi mengatakan kau sudah pindah ke rumah suamimu. Apa benar? bisa kita bertemu? ada hal yang ingin kuceritakan padamu," katanya panjang. Ia langsung mengatakan tujuannya padaku.


Aku tersenyum, "Bisa saja. Kita bertemu di ... " ku berikan alamat rumah sakit tempatku di rawat padanya. "Jangan tanya apa-apa dulu. Datang saja, nanti aku jelaskan langsung." lanjutku.


Siane terdiam sesaat, "Baiklah. Aku akan langsung ke sana." jawabnya.


"Ya, hati-hati." pintaku.


"Ok," jawabnya singkat. Ia mengakhiri panggilan kami.


Aku sedikit kaget. Cukup lama kami tidak bertemu. Terakhir aku bertemu dengannya sebelum aku menikah. Berbeda dengan teman-temanku yang lain, Siane adalah tipikal teman yang tidak berbelit. Jika senang dia akan berkata senang, jika tidak maka tidak.


Sejak kecil, dia selalu membantuku dalam kesulitan. Sifatnya yang ke Ibuan membuatku nyaman. Dia selalu mengomel, jika tahu aku sakit. Entah apa yang akan dia katakan, saat tahu kondisiku yang seperti ini. Aku bisa bayangkan tanduk yang akan tubuh di kepalanya.


***


Lama menunggu, Siane pun datanh. Dia membawa dessert kesukaanku. Sesampainya Siane di ruangan, dia hanya diam tidak bicara. Ditatapnya wajahku, dengan dahinya yang berkerut.


"Jadi, aku ... " kataku terjeda. Aku bingung, mau bicara dari mana dulu.


"Aku, apa?" sambung Siane. "Bicara santai saja. Katakan apa yang mau kau katakan. Dari mana saja, tidak perlu pikirkan aku mengerti atau tidak. Aku akan cerna sendiri ceritamu." katanya.


Aku pun mulai bercerita. Aku menceritakan kehidupan pernikahanku dengan Hezkiel. Semuanya kuceritakan, sampai hal sekecil apapun.


" ... begitulah." ceritaku terhenti.


"Lalu, bagaimana bisa kau berada di rumah sakit ini? ceritakan," pintanya, masih dengan ekspresi wajah yang sama.


"Ok," jawabku yang langsung bercerita lagi.


Kuceritakan juga soal Monna. Monna yang kusangka simpanan Hezkiel. Monna yag tiba-tiba membongkar rahasianya sendiri, dan juga Hezkiel yang tidak menyanggah pernyataa jika keduanya adalah pasangan suami istri sebelum Hezkiel menikah denganku. Lagi-lagi, kuceritakan semuanya pada Siane. Aku melu sebenarnya, tetapi anehnya aku tidak bisa menyembunyikan apa-apa dari Siane.

__ADS_1


" ... mungkin karena aku kurang hati-hati. Aku jatuh dan terjadilah hal yang tidak diinginkan. Sampai aku harus kehilangan calon bayiku," kataku bercerita.


"Celine, boleh aku jujur?" Tanyanya.


Aku menganggukkan kepala, "boleh saja, kenapa tidak." jawabku.


"Mungkin kau berpikir aku jahat. Terserah saja, kau mau berpikir apa. Ini hanya pendapatku pribadi." jawabnya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu, mengembuskan napas perlahan. "Setelah mendengar ceritamu. Aku justru bersyukur kau mengalami hal ini. Maaf, aku jahat karena terkesan senang kau kehilangan calon anakmu. Tapi, pikirkan baik-baik. Jika kau masih bersama anakmu. Apakah kau bisa bebas dari belenggu? setelah kau yang menjadi sasaran, target berikutnya pasti anakmu. Kau kan tidak tahu pasti, wanita itu memiliki sisi seperti apa. Dia saja berani mengatakan hal yang langsung menyerang mentalmu. Bukankah ini lebih baik? anakmu tidak akan merasa tersiksa dan tidak nyaman Aku bicara seperti ini juga dari pengalaman. Kau kan hidup bersama Lidya, si penyihir. Apakah kau merasa nyaman? tidak, kan. Kau bahagia? sudah pasti tidak. Dia justru menganiayamu. Kau mau anakmu dapat perlakuan seperti itu? tidak, kan." panjang lebar dia bicara.


Ucapanya membuatku terdiam berpikir. Setelah ku pikirkan baik-baik. Apa yang dia katakan ada benarnya.


Siane mengusap kepalaku, "Saranku, tinggalkan suamimu dan hiduplah bahagia menjadi Celine seutuhnya." lanjutnya bicara dengan memberiku arahan.


"Apa aku bisa?" gumamku.


"Kenapa tidak?" tanya Siane melebarkan mata.


"Aku ... " aku lalu, terdiam.


"Kau ragu, karena kau tak punya tujuan? kau bingung, harus bagaimana? benar, kan." sahut Siane.


Aku menganggukkan kepala. Karena itu memang yang kupikirkan sejak awal. Aku memang ragu, aku juga bingung.


"Mau kubantu?" ucap Siane tiba-tiba.


Siane tersenyum, "Mau ikut denganku? ya, meski aku bukan orang sekaya Papamu atau pria busuk itu. Kalau hanya untuk menampungmu, aku cukup mampu." katanya lagi.


"Kau, menampungku?" gumamku.


"Ya, aku menampungmu. Jika bukan aku, siapa lagi? kau punya seseorang yang bisa kau jadikan sandaran saat ini?" ucapnya, menjawab gumamku.


"Apa tidak apa-apa begitu?" jujur saja aku ragu. Pikiranku belum sejauh itu.


"Celine, dengarkan aku. Apa kau mau terus seperti ini? atau, jangan-jangan kau mau kembali pada pria gila itu? tidak mungkin kan kau kembali pulang ke rumah keluargamu. Kau tak punya pilihan, temanku." Siane bicara dengan sangat yakin padaku.


Aku terdiam sesaat untuk berpikir. Jika aku pergi begitu saja, akankah semua baik-baik saja? bagaimana, ya? setidaknya harus ada seseorang yang tahu tujuanku pergi agar tidak ada kesalahpahaman. Aku juga butuh dukungan.


"Ok, ayo lita lakukan sesuai perkataanmu. Tapi, sebelum kita pergi. Aku ingin bicara dulu dengan kedua mertuaku. Mereka sangat baik padaku, setidaknya aku tidak mau pergi tanpa berpamitan. Boleh, kan." jawabku. Aku pun akhirnya menyetujui ide Siane.


"Tentu saja. Bagus sekali, kau memang selalu menjadi anak yang baik, ya." pujinya tersenyum.


Ya, mungkin ini yang terbaik. Aku akan pergi, meninggalkan semua orang yang membuatku menderita. Aku tidak seperti pengecut yang lari dari masalah, kan?

__ADS_1


***


Setelah kuhubungi dan meminta Papa juga Mama mertuaku datang. Keduanya pun tiba malam harinya. Mama membawakan makan malam, seperti biasa dia sangat perhatian padaku. Papa dan Mama kukenalkan pada Siane.


Pada saat kami makan malam bersama, kuutarakan juga maksud dan tujuanku memanggil keduanya datang. Setidaknya, aku harus berpamitan.


"Hm, Pa, Ma ... " panggilku.


"Ya, sayang. Katakan, ada apa?" jawab Mama.


"Kenapa, Celine?" tanya Papa.


"Umh, aku ... aku ingin berpamitan." ucapku sedikit menundukkan kepala.


"Berpamitan? kau akan pergi?" tanya Mama. Yang kujawab dengan anggukan kepala.


"Celine, boleh Papa tahu. Kemana kau akan pergi?" tanya Papa.


"Aku akan tinggal bersama temanku, Siane. Ya, ini memang terdengar gila dan tidak masuk akal, karena aku akan menghilang begitu saja. Tapi, aku ingin melupakan semuanya. Baik itu masalah keluarga ataupun masalah pernikahan. Papa dan Mama tentu paham maksudku, tanpa kujelaskan lebih detail lagi." Aku mencoba menjelaskan semampuku.


Kulihat, Papa dan Mama mertuaku saling bertatapan. Mama mertuaku menangis, ia terlihat sedih.


"Baiklah, jika itu kemauanmu. Maka, pergilah. Carilah kebahagiaanmu. Bernapaslah dengan lega tanpa ada sesuatu dan seseorang yang menekanmu." kata Papa.


Di luar dugaanku. Papa bicara seperti itu padaku. Rasanya, aku seperti diterpa angin dan tubuhku terasa sejuk.


"Benar tidak apa-apa?" tanyaku lagi.


"Bohong jika kami tidak sedih, Celine. Kau sudah seperti putriku sendiri. Sejak awal melihatmu, aku memang tahu dan sudah merasakan, jika kau ditekan keluargamu. Termasuk Mamamu. Tapi, Kami tidak berhak ikut campur terlalu dalam, karena tidak ingin kau terluka." jelas Papa.


"Papa ... " panggilku, akupun menangis. Ini sungguh menyesakkan. Aku sedih, juga terharu. Ternyata, masih ada orang yang diam-diam peduli padaku.


Mama memegang tanganku lalu, merangkulku. Beliau mengusap punggungku. Air mataku tidak berhenti menetes, rasanya apa yang kupendam semuanya telah keluar. Semua yang menjadi kekhawatiranku pun lenyap.


"Tapi, sebelum kau pergi. Kami ingin kau benar-benar memulihkan dirimu. Ok." kata Papa.


"Ya, Pa. Itu pasti." jawabku.


"Celine, Mama dan Papa akan mendukung apapun keputusanmu. Jangan berpikir jika kami hanyalah Papa dan Mama mertuamu. Tapi, anggaplah kami seperti Papa dan Mama kandungmu, Nak." kata Mama.


Aku tahu, Hati Kedua orang ini pasti sangat sedih. Mengingat, mereka tidak punya anak lain selain Hezkiel. Meski ini aneh, aku justru merasa lebih dekat dengan Papa dan Mama mertuaku, dibandingkan Papa sendiri.

__ADS_1


*****


__ADS_2