
Hezkiel*
Aku memutuskan kembali ke Hotel tempatku menginap. Aku hubungi Joe. Memberitahukan pada Joe, jika akan menemuinya nanti saat malam hari. Saat ini, aku tak ingin bertemu siapa-siapa dan pergi ke mana-mana. Pikiranku kacau, hatiku tesasa penuh sesak.
Aku terus bertanya-tanya, apakah dia baik-baik saja selama ini? dan aku sudah mengetahui jawabannya tadi. Dia sangat baik, dia terlihat lebih cantik dan bahagia bersama pria lain. Berbeda saat ia bersamaku.
Bagaimana, ini? aku sangat sedih dan kecewa. Saat pikiranku ingin aku meminta maaf dan harapanku ingin kami kembali memperbaiki hubungan. Namun, jawaban yang kudapatkan justru membuatku tersadar. Jika semua yang ku angankan adalah impian semata.
Itu tak akan terjadi. Hubungan kami ... hubungan kami sungguh sudah hancur lebur. Tak ada hal yang tersisia, kecuali serpihan kenangan buruk pada masa lalu. Aku yang selalu menyakitinya, selalu berkata kasar dan memakinya. Perlakuanku yang tidak layak dan juga mempermainkan perasaanya tanpa memikirkan akibatnya. Semua itu kini menjeratku bagaikan tali gantungan.
Dari tatapan matanya. Terlihat sekali, jika dia tidak menginginkan pertemuan itu. Ya, meski itu adalah pertemuan yang tidak sengaja. Dengan berani, ia menentang kuajak bicara berdua saja secara pribadi. Dari situ aku tahu, jika Celine sangat menghormati sosok Jihyuk, yang kini menjadi suaminya.
Kupejamkan mataku. Aku ingat kembali semua kata dan ekspresi wajah Celine. Semakin ku ingat, semakin kupikirkan. Dadaku semakin sesak. Mataku tiba-tiba terasa panas, aku mengeluarkan sesuatu yang disebut 'Air mata'.
Ya, aku menangis. Aku menangisi nasibku yang tak beruntung ini. Satu kalimat yang mewakili ini semua. Yaitu, 'Penyeselanku sudah terlambat'. Aku tak bisa menggapainya lagi. Tak akan bisa ....
Hiks ....
Hiks ....
Inilah hukuman yang harus kuterima dan kutanggung. Aku yang dulu menyia-nyiakannya, tak pantas lagi untuk mengharapkannya. Aku bersandar ke dinding sampain bersimpuh di lantai. Kupejamkan mataku. Ingatan-ingatan masa lalu yang terus menghantuiku lalu, harapanku untuk bisa memperbaiki hubungan yang rusak ini, semua harus kuakhiri sampai di sini. Aku pun harus menyerah. Aku sudah kalah dalam peperangan ini.
Hahh ... dia sudah bahagia. Aku tak akan mengganggunya lagi. Katanya, aku harus berusaha melupakan rasa ini, kan. Ya, itu akan kulakukan. Aku akan hapus semuanya perlahan.
Saat aku bergumul dengan pikiranku dan mencoba menenangkan hatiku yang sesak. Ponselku di dalam saku jasku berdering. Aku menerima sebuah panggilan rupanya. Siapa, ya? kuambil jasku lalu kurogoh kantungnya untuk mengeluarkan ponselku.
Aku cukup terkejut. Karena ternyata Dion menghubungiku. Kenapa? apa ada sesuatu? pria ini juga selalu mmebuatku bingung. Dia sangat misterius dan tidak tertebak. Karena ponselku terus berdering, aku terpaksa menerima panggilannya.
"Hallo," jawabku.
"Hezkiel, kudengar kau pergi, ya. Aku ada di tempat yang sama di mana kau berada. Oh, ya. Mungkin lebih tepatnya kami, bukan aku saja." pria aneh itu mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti.
"Apa maksudmu, Dion? jangan berbelit denganku. Aku sedang tidak mau banyak berpikir, karena aku lelah." kataku menegaskan.
"Hm, begitu. Jadi, kau sudah bertemu Adikku, ya?" katanya lagi. Dia semakin membuatku penasaran.
__ADS_1
"Apa tujuanmu mebghubungiku. Jika kau hanya ingin bicara omong kosong, maka lupakan saja. Aku tidak tertarik. Aku lelah, aku ingin istirahat." Aku tak ingin banyak bicara lagi dan ingin mengakhiri panggilan ini.
"Turunlah, temui aku di toko kue tak jauh dari hotel tempatmu menginap. Tak akan lama, aku hanya ingin bertemu beberapa menit saja." katanya. Dia semakin mencurigakan.
"Untuk apa? bicara saja lewat panggilan, jika kau ingi n bicarakan sesuatu." kataku.
"Ini yang terakhir," jawabnya yang langsung mengakhiri panggila begitu saja.
Aku mengerutkan dahi, "Apa, ini? dia membuatku penasaran sekaligus kesal. Sungguh pria yang tidak bisa ditebak isi pikirannya." gumammu.
Aku terus berpikir. Apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus menemuinya, atau mengabaikannya. Tapi, aku juga penasaran. Kenapa dia ingin bertemu denganku. Bagaimana ini?
***
Aku pun memutuskan untuk pergi. Saat ini aku sudah sampai di toko kue tak jauh dari Hotel tempat ku menginap.
"Hanya ini toko kue yang ada di sekitaran hotel. Benar di sini, kan?" gumamku.
Aku melangkahkan kaki masuk ke dalamnya. Benar saja. Aku melihat Dion dan ... tunggu, siapa wanita yang bersamanya? wanita itu duduk di hadapan Dion. Wanita berambut pendek dengan bentuk tubuh yang cukup mirip dengan seseorang yabg kukenal.
"Kau sudah datang," kata Dion berdiri dari duduknya.
"Ya," jawabku.
"Aku akan tinggalkan kalian berdua. Bicaralah baik-baik. Ini kesempatan terakhir kalian untuk bertemu, kan." kata Dion semakin membuatku kebingungan.
"Terima kasih, Kak." kata seseorang. Ini suara wanita dan ... suara ini terdengar tidak asing.
Jangan-jangan ... saat ku berpaling melihatb seseorag yang berbicara itu. Aku terkejut. Dia adalah Monna. Sesuai dugaanku. Karena aku sangat hafal suaranya.
"Mo, Monna ... " gumamku.
"Bicaralah kalian berdua. Aku permisi dulu." kata Dion. Dia menghampiri Monna, "Jika sudah selesai, temui aku. Jangan menangis sendirian lagi. Jika kau minta ku menghajar pria jelek ini, maka akan kulakukan." katanya lagi lantas pergi.
Apa yag Dion bicarakan? dan ... kapan Monna jadi sedekat itu denga Dion? apa hubungan mereka? tidak mungkin mereka berkencan, kan. Jangan-jangan ... ahhhh, gila. Pikiranku yang selalu menerka-nerka tak bisa dikendalikan.
__ADS_1
"Daripada menerka, bukankah sebaiknya kau langsung bertanya, Kiel?" kata Monna menatapku.
Aku kaget, "Ah, apa? aku tak paham maksudmu." elakku. Aku tak mau terlihat bodoh di depannya.
Monna tersenyum, "Duduklah. Aku tak akan banyak menyita waktumu. Hanya lima menit saja." katanya.
Deg ... deg ... deg ...
Senyumnya yang cantik selalu membuatku berdebar. Meski dia adalah wanita yang sudah mengkhianatiku, tak bisa kupungkiri, jika dia adalah wanita yang sangat kucintai pada masa lalu.
Aku pun duduk sesuai keinginanya. Dia meletakan sebuah berkas dokumen di atas meja di hadapanku. Dia lalu, menatapku dan tersenyum lagi.
"Terima kasih dan maaf." katanya.
"Untuk apa? aku tak melakukan apa-apa," sahutku.
"Aku akan meminta maaf lebih dulu. Karena pada masa lalu, aku sudah banyak memanfaatkanmu demi kepentingan pribadiku. Sejujurnya, aku memiliki seseorang yang harusnya kulindungi. Tapi, itu tak bisa kulakukan. Aku pun terpaksa mendekatimu karena ingin menjamin keselamatan Mamaku yang sudah di sandera seseorang yang banyak membantuku. Maaf, Kiel. Aku tahu kau amat sangat kecewa. Ini adalah saham dan uang-uang yang sudah kau berikan padaku. Aku kembalikan semuanya padamu, karena aku tidak mau berhutang apapun. Terima kasih, sudah mau datang menemuiku. Jika aku tak minta bantuan Dion, tak mungkin aku bisa menemuimu, kan. Hahhh ... sekarang aku lega. Aku sekalian berpamitan. Aku akan pindah dan menetap di Jepang. Ini adalah pertemuan pertama kita setelah sekian lama. Ini juga akan menjadi pertemuan terakhir kita. Aku menyesal sudah melakukan semua itu, Kiel. Maafkan aku. Aku berharap kau baik-baik saja dan bahagia. Tak apa, jika kau tak bisa memaafkanku. Aku pun tak banyak mengharapkan itu. Karena aku sadar kesalahanku yang terlalu banyak padamu. Maaf ... " Monna nerusaha memberikan penjelasan meski tidak mendetail.
Intinya dia melakukan itu semua karena terdesak demi Mamanya. Benar begitu, kan? akupun mencoba mencerna ceritanya. Saat aku berpikir, tib-tiba Monna berpamitan.
"Karena kau hanya diam saja. Kurasa, tak ada yang ingin kau sampaikan padaku. Aku pergi, ya. Sekali lagi aku minta maaf. Maafkan aku, Kiel." dia berdiri dari duduknya dan langsung pergi begitu saja meninggalkanku.
Aku tak bisa menghentikannya, juga tak bisa terus bersamanya. Bagaimana, ini? lagi-lagi aku dikejutkan oleh pertemuan yang tak kuharapkan. Tanpa sadar, aku teringat pada Celine. Inikah rasanya berada pada posisinya. Sulit menerima, tapi kejam jika harus menolak. Seperti berdiri di atas dahan kayu yang rapuh.
Aku bingung. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Tapi, yang pasti aku merasa lega, setidaknya dia juga terlihat baik-baik saja setelah berpisah denganku. Dia akan pergi, ya. Ke Jepang?
Semoga kau juga selalu baik-baik saja dan bahagia, Monna. Inilah doaku untukmu. Meski sulit memaafkanku, tetapi aku akan mencoba melakukannya. Biarlah semua ini menghilang bersamaan terpaan angin.
Pada akhirnya semuanya Menyerah! Kami harus menjalani kehidupan kami masing-masing.
*****
Note:
"Hidup memang sebuah pilihan. Mau sebaik apapun pilihan yang Anda pilih, pasti ada resiko yang akan Anda ditanggung."
__ADS_1
Terima kasih, sudah kasih semangat. Semoga pembaca selalu sehat dan baik-baik saja. Tetap semangat dan jaga kesehatan guys. Salam kasih~