Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
61. Penyesalan Hezkiel


__ADS_3

Hezkiel meminta Anha untuk mengumpulkan semua barang-barang Monna. Ia tidak mau satu barang pun tersisa. Monna yang sengaja di hubung Hezkiel untuk datang pun akhirnya datang mengambil barang-barangnya dibantu Managernya.


"Bawa semua. Jangan sampai tersisa satupun barangmu di rumahku." kata Hezkiel memalingkan muka tak mau menatap Monna.


"Ya, terima kasih sudah mau membantu mengemasnya." kata Monna.


"Bukan apa-apa. Aku hanya tak mau melihat sesuatu yang tak ingin kulihat. Selesaikan ini dengan cepat dan pergilah sejauh mungkin, Monna. Aku tidak mau melihatmu lagi. Jadi, mari akhiri semuanya sampai di sini." kata Hezkiel yang langsung pergi meninggalkan Monna sendirian di ruang tengah rumahnya.


Monna mengernyitkan dahi, "Hezkiel ... " panggil Monna.


Hezkiel menghentikan langkah kakinya tanpa memalingkan pandangannya. Monna berjalan perlahan mendekati Hezkiel. Ia berdiri tepat di belakang Hezkiel.


"Maaf ... aku tahu aku bersalah. Aku sungguh-sungguh minta maaf padamu. Maafkan aku, Hezkiel." ucap Monna, sembari memandangi punggung Hezkiel.


"Huh, maaf? hanya maaf? hebat sekali, ya. Setelah apa yang kuberikan selama ini, tanpa mengeluh dan menolak. Hanya maaf yang kau ucapkan?" Hezkiel tersenyum masam menahan kekesalannya. Kedua tangannya mengepal, "Simpan maafmu. Karena aku tak akan pernah memaafkanmu. Maafmu juga tidak bisa mengembalikan semuanya, kan. Kata maaf darimu, justru seperti pisau yang menikamku." lanjut Hezkiel bicara.


"Ya, aku tahu itu. Kau pantas marah. Aku juga tidak bisa mengubah segalanya kembali seperti semula. Aku mengatakannya karena aku menyesal. Sejujurnya pun ku tidak mau melakukan hal kotor seperti ini. Tapi, semua karena aku punya alasannya. Maaf, Kiel. Aku sangat, sangat, sangat menyesali semuanya. Maaf ... " ucap Monna menangis. Air matanya mengalir membasahi dua pipinya.


Hezkiel kesal, "Sudah kukatakan, kan. Hentikan! berhenti meminta maaf, maaf dan maaf. Mau kau menyesal, mau kau tidak menyesal. Itu bukan urusanku. Satu hal yang perlu kau tahu. Luka yang kau gores di hatiku ini, selamanya tak akan pernah kulupakan. Pergilah, Monna. Pergilah ... " jawab Hezkiel, menolak permintaan maaf dari monna.


"Tapi, KIel. Aku ... " kata Monna memegang tangan Hezkiel.


"Jangan menyentuhku!" sentak Hezkiel mengibaskan tangannya. "Aku tak mau disentuh oleh orang sepertimu. Wanita yang rela melakukan apa saja demi keuntungan meski harus membohongi, memanfaatkan dan menghancurkan orang lain. Anggap kali ini aku memang buta dan bodoh, bisa tertipu olehmu. Hahhh ... ini menjengkelkan." Hezkiel pun berjalan pergi meninggalkan Monna.

__ADS_1


"Kiel, Hezkiel ... " panggil Monna. Akan tetapi panggilan Monna diabaikan oleh Hezkiel.


"Hezkiel ... " panggil Monna lagi.


Hezkiel sungguh-sungguh tidak menghiraukan Monna. Sekalipun Monna berteriak-teriak memanggilnya. Tentu saja, hal itu membuat Monna semakin sedih dan semakin merasa bersalah.


***


Di kamar, Hezkiel mengamuk. Ia memporak porandakan isi kamarnya. Ia bercermin, ia menatap dalam dirinya sendiri di cermin. Ingatan-ingatan tentang Celine dan kedua orang tuanya bermunculan. Kata-kata yang dulu diabaikannya demi membela mai-matian satu orang yang ia cintai. Semua ucapan itu sekarang menjadi cambuk untuk Hezkiel.


"Arrrrghhh ... s*alan! wanita s*al! bisa-bisanya, dia mempermainkan perasaanku sampai seperti ini. Aku sangat mencintainya, sehingga aku tak akan pernah bisa menolak semua keinginannya meski dalam hal sulit sekalipun, aku tetap memenuhi keinginannya. Tapi, apa ini? dia tidur bersama pria lain dan dengan mudahnya mengatakan tak punya rasa padaku? gila, ini benar-benar hal gila." kata Hezkiel yang masih menatap cermin.


Pada saat bersamaan, muncul rasa penyesalan Hezkiel yang sebelumnya memperlakukan Celine begitu dingin dan kasar sampai ia menganiaya Celine yang sellau baik padanya. Dibandingkan Monna yang hanya meminta darinya, ia mendapatkan banyak hal dari Celine.


Satu per satu kejadian mencambuk Hezkiel. Sampai kejadian yang terakhir kali. Tidak hanya teringat akan Celine, Hezkiel juga ingat akan ucapan-ucapan Papa dan Mamanya, yang selalu menentang hubungannya dengan Monna.


Selama ini ia dibutakan akan cinta dan pesona Monna. Bahkan Hezkiel tidak segan membantah dan membela Monna. Membuatnya dalam kesulitan sendiri, karena pada akhirnya akan bertengkar dengan Papa dan Mamanya. Demi Monna, untuk Monna, karena Monna. Semua hanya berisikan dengan Monna, baik itu hati ataupun pikiran Hezkiel.


Buuukkk ... buukk ... buukkk ....


Suara pukulan yang dilakukan Hezkiel yang terarah ke cermin. Karena kesal, marah kecewa dan frustasi, Hezkiel melakukan tindakan gila dengan memukul-mukul cermin. Sehingga cermin itu retak dan tangannya terluka.


Jemari serta punggung tangannya yang terluka, tak dihiraukan oleh Hezkiel. Darah segar keluar dari luka, tetapi itu tidak membuat Hezkiel menyudahi tindakannya. Bahkan Hezkiel melakukan hal sama pada tangan kirinya.

__ADS_1


Buukkk ... buukkk ... buukkk ....


Pukulan demi pukulan mendarat ke cermin. Hezkiel bergantian menggunakan dua tangannya untuk memukul cermin. Ia bahkan meracau. Menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi.


"Bodoh, bodoh, bodoh. Kau sangat Bodoh, Kiel. Amat sangat bodoh. Bagaimana bisa kau tertipu oleh seseorang sampai seperti itu. Bagaimana bisa, kau terperdaya olehnya? bodoh! kau bodoh, Kiel." gumam Hezkiel.


"Di mana akal sehatmu? kau menggilai orang yang salah. Kau justru melukai orang yang baik dan tulus melakukan apapun untukmu. Dasar pria bodoh. Kau bahkan melawan ucapan orang tuamu sendiri demi wanita itu. Sampai rela berdebat dan bertengkar demi membelanya. Apa yang kau dapat, Hezkiel? apa? Yang kau dapat hanyalah pengkhianatan." gumam Hezkiel lagi.


"Arrrrrghhh ... " teriak Hezkiel.


Hezkiel melayangkan pukulan ke arah cermin lagi. Kali ini pukulan itu penuh kekuatan, membuat cermin yang retak semakin retak lebih lagi. Darah yang keluar dari luka pun semakin banyak. Tapi, itu sama sekai tidak dirasakan Hezkiel.


"Aku harus apa sekarang? bagaimana bisa aku menjelaskan ini semua pada Mama dan Papa? apa yang harus kukatakan pada mereka? kenapa harus aku yang mengalami ini? kenapa harus Monna yang melakukannya? kenapa?" gumam Hezkiel.


Buukkk ... bukkk ... bukkk ....


pukulan-pukulan kembali melayang. Kiel sangat merasa merasa bersalah. Ia menyesal, menyia-nyiakan Celine dan mengabaikan larangan orang tuanya.


Setelah puas dan merasa lelah memukul cermin, Hezkiel pun bersimpuh di lantai dengan bersandarkan dinding. Napasnya naik turun. Tubuh Hezkiel seketika lemas. Dari kedua tangan Hezkiel, masih keluar darah segar yang disebabkan oleh luka.


Pandangan mata Hezkiel jauh menatap ke depan. Tatapan itu tampak kosong. Mata Hezkiel berkaca-kaca. Beberapa saat kemudian, air mata keluar. Hezkiel pun menangis. Ia meluk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya ke lututnya.


Hiks ... Hiks ... Hiks ....

__ADS_1


*****


__ADS_2