
Hezkiel*
Jujur aku lelah. Sebulan ini aku hanya begini-begini saja tanpa perkembangan. Aku sudah berusaha mencari bantuan, tetapi tidak ada satupun yang mau membantuku dengan alasan yang sama. Sampai-sampai aku heran, apa yang salah denganku sebenarnya. Orang yang kutemui adalah orang-orang yang memang menjalin hubungan dan kerjasama yang baik denganku.
Percuma juga aku mengharap dari papa dan Mama. Keduanya masih marah padaku atas kejadian yang sebelumnya. Padahal, aku sudah meminta maaf dan memohon-mohon sampai menangis. Entah sampai kapan Papa dan Mama akan seperti itu.
Hari ini pun aku juga tidak beruntung. Dari pagi sampai sore aku tidak mendapatkan hasil dari apa yang ku inginkan. Mungkin benar dugaanku, jika Papa ikut campur dalam masih ini. Aku tidak tahu apa yang Papa lakukan untuk mempengaruhi mereka yang menolakku. Tapi, aku hanya menyayangkan sikap Papa yang tega kepada darah dagingnya sendiri.
Hahhh ... aku hanya bisa menghela napas. Harapan terakhirku hanya Nathan Greorgy. Salah seorang rekan bisnisku yang kebetulan ia sedang berada di kota ini. Saat aku menceritakan apa yang menjadi keresahan dan keluh kesahku, ia menawarkan untuk bertemu saat jam makan malam, agar kami bisa lebih leluasa bicara.
Pada saat ini, aku sudah sampai di restoran, tempatku dan Nathan ingin makan malam bersama. Sebelum aku masuk dalam restoran, aku memeriksa ponselku lebih dulu. Ternyata, ada pesan dari Monna.
"Sayang, malam ini aku akan pergi makan malam dengan teman-teman seprofesi. Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja. Aku mencintaimu.
Begitulah, isi pesan yang kuterima dari Monna. Karena aku sibuk sendiri, aku sampai tidak sempat membaca pesan darinya. Aku merasa bersalah, seharusnya aku tidak mengabaikannya. Dia pasti sedih dan mersa tidak kupedulikan. Akhir-akhir ini, aku memang terlalu fokus dengan diriku sendiri yang frustasi karena kehilangan pekerjaanku.
Aku pun menghubunginya. Kami bicara hanya beberapa kata. Sepertinya ia sedang asik bersama teman-temannya. Aku cukup lega, mendengar suaranya yang biasa saja. Tidak ada tanda-tanda jika ia sedang kesal padaku karena kesibukanku sendiri.
Panggilan kami pun berakhir. Tak mau menahannya lebih lama bicara denganku, aku pun mengucapkan kalimat perpisahan. Dan,panggilan kami pun akhirnya benar-benar berakhir.
Ku lihat jam di tanganku. Ponselku kembali berdering, ternyata Nathan memberitahuku jika ia sudah hampir sampai. Ia mengatakan, jika aku bisa masuk lebih dulu dan menunggunya. Aku hanya mengiyakan, karena merasa tidak nyaman jika aku menolaknya. Setelah itupun, panggilan kami berakhir.
Entah mengapa aku merasa tidak nyaman. Dadaku terasa penuh sesak tanpa sebab. Aku memutuskan untuk tinggal beberapa saat di dalam mobil, sekalian menunggu kedatangan Nathan.Benar saja, tak lama sebuah mobil masuk ke area parkir dan memarkir mobil persis di sisi mobilku. Aku langsung tahu, jika itu adalah mobil yang membawa Nathan. Aku pun lalu keluar, menyapanya.
Setelah bertegur sapa, kami langsung memutuskan masuk ke dalam restoran yang lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi parkiran. Seperti yang ia katakan padaku sebelumnya, pada saat memintaku menunggu di dalam restoran. Ia sudah memesan tempat untuk mempermudah kami.
Singkat kata, kami masuk dan duduk di dalam sebuah ruangan. Ya, seperti ruangan yang memang di sediakan khusus untuk orang-orang yang tidak atau kurang suka keramaian di luar ruangan.
__ADS_1
Di ruangan itu sepi. Hanya ada beberapa orang saja. Aku dan Nathan langsung memesan, agar menghemat waktu jam yang memang sudah waktunya makan malam. Aku tak memesan sesuatu yang istimewa. Aku menyesuaikan menu yang sesuai dengan milik Nathan.
Pandanganku teralihkan ke arah luar. Tempat kami duduk, tepat di samping kaca. Yang merupakan pembatas antara ruangan dalam dan luar. Jadi, dari sini aku bisa melihat ke luar, begitu juga sebaliknya. Pandanganku melihat sekeliling. Di luar nampak ramai.
Saat pandanganku beralih. Aku melihat, seperti seseorang yang kukenal ada di sana. Ku tatap benar-benar, apakah itu sungguh seseorang yang kenal atau bukan. Dan, setelah ku perhatikan baik-baik. Aku melihat Monna sedang bersama seseorang. Anehnya, ia bersama seorang pria yang usianya cukup jauh di atasku.
Pikiranku mulai berpikir macam-macam. Aku ingat kembali ucapannya saat bicara denganku di telepon. Dengan jelas, ia mengatakan sedang makan bersama teman-teman modelnya. Apa pria itu termasuk model? Dahiku pun langsung berkerut. Dibandingkan pria itu, aku sepertinya lebih cocok jadi model.
Karena penasaran, mataku terus lekat menatap dua orang yang sedang makan malam di luar sana. Aku sampai tidak mendengarkan, jika Nathan memanggilku berkali-kali. Sampai Nathan menepuk bahuku dan itu membuatku terkejut.
"Ah, i, i, iya ... " kataku karena kaget.
"Anda baik-baik saja? saya sudah beberapa kali memanggil nama Anda, tetapi Anda hanya diam saja tanpa menjawab panggilan saya." kata Nathan.
"Ah, iya. Maafkan aku." ucapku seperti orang kebingungan.
Aku pun jadi tidak fokus. Pandanganku masih terus menatap ke luar. Ku lihat lagi, pria yang duduk di hadapan Monna tertawa lalu, memegang tangan Monna.
"Tuan. Apa ada seseorang ynag Anda kena di luar sana?" tanya Nathan ingin tahu. Karena mungkin ia melihat tingkahku yang aneh.
Aku bingung menjawab aku, dan memilih diam. Namun, sepertinya Nathan tahu apa yang menjadi permasalahanku dan kegelisahan hatiku.
"Anda kenal yang mana? yang wanita atau pria?" tanya Nathan
Aku kaget, "A, anda tahu?" tanyaku menatapnya.
Nathan tertawa, "Semua sudah jelas terlihat, Tuan Winter. Jika Anda tidak keberatan, bisa Anda beritahu saya?" Nathan sudah menyadari, jika aku menatap ke arah Monna sejak tadi.
__ADS_1
"Wanita itu. Dia adalah istriku. Saat tadi bicara di telepon, ia mengatakan jika ia makan bersama teman-teman seprofesinya. Menurut Anda, apakah pria tua itu model?" tanya Hezkiel.
Nathan menatap baik-baik. Ia tidak mau membuat kesalahan.
"Tidak mungkin. Dibandingkan dengannya, Anda lebih cocok menjadi Model." puji Nathan..
Aku cukup merasa tersanjung. Entah itu ucapan yang sungguh-sungguh atau hanya sekedar hiburan. Tapi, nyatanya hal itu tetap belum menghilangkan rasa resah di dadaku ini.
"Coba hubungi istri Anda dan tanya dia sedang apa. Tanyakan juga kapan dia pulang. Katakan saja Anda merindukannya. Kita bisa lihat reaksinya dari sini, kan. Ini juga untuk mengetes , apakah panggilan Anda penting atau tidak." usul Nathan padaku.
Setelah kupikirkan, aku pun mencobanya. Tidak ada salahnya kucoba, karena aku juga penasaran. Dan ternyata benar, panggilanku diabaikan. Aku coba lagi, dan diabaikan lagi. sampai panggilan ketigaku, dia menolak panggilanku dan langsung mengirimiku pesan.
"Jangan hubungi aku dulu. Aku tidak enak, karena teman-temanku sedang makan. Nanti kuhubungi kembali."
Itulah isi pesan Monna yang dikirimkan padaku. Aku pun menunjukan pesan itu pada Nathan. Hal itu membuat Nathan kaget dan menatapku dengan serius.
"Apa wanita itu sungguh istri Anda? ucapannya acuh tak acuh seperti orang yang tidak senang saat melihat panggilan masuk dari Anda. Dari pesannya terlihat jelas, Tuan." kata Nathan menanggapi pesan yang dikirim oleh Monna.
Dahiku berkerut lagi. Ini seperti mimpi, tetapi aku sungguh ada dikenyataan yang menyakitkan. Monna sudah berbohong padaku, ia makan hanya dengan satu orang, tetapi ia berbicara seolah makan bersama beberapa orang. Ia mengabaikan panggilanku demi bicara dengan pria di hadapannya.
Mataku lekat menatap ke arah mereka, sampai aku mengabaikan makan malamku dan Nathan. Pikiranku mulai kacau. Rasa penasaran ini sungguh sangat menyesakkan. Aku terus bertanya tanya. Siapa orang yang sedang makan malam dengan Monna.
Aku melihat, mereka bersiap, seperti ingin pergi. Dengan tidak tahu malu, aku pun berpamitan dan meminta maaf pada Nathan. Aku tidak tenang, jika tidak mengikuti Monna dan pria itu pergi.
"Tuan Gregory. Maaf. Saya kacau sekali malam ini. Apakah saya boleh pergi? maafkan saya, Tuan. Saya sampai tidak tahu malu seperti ini." ucapku. Jujur aku merasa tidak enak pada Nathan. Tapi, aku lebih penasaran soal Monna.
"Silakan saja, Tuan. Selesai makan saya juga akan langsung pergi. Tidak masalah, jika Anda pergi lebih dulu. Saya mengerti apa yang Anda pikirkan, dan rasakan. Apapun yang terjadi, tolong kontrol emosi Anda. Ini pesan saya sebagai sesama pria. Semoga tidak terjadi hal buruk." kata Nathan.
__ADS_1
Untungnya Nathan bisa mengerti. Setelah aku berpamitan, aku pun langsung pergi meninggalkan Nathan. Saat pergi, ku lirik Monna dan pria itu masih sibuk dengan seorang pelayan. Aku tidak pedulikan itu, aku harus segera ke parkiran. Aku tidak bisa dia saja.
*****