
Celine dan Hezkiel sedang dalam perjalanan menuju sebuah Hotel. Untuk menghadiri sebuah pesta ulang tahun rekan bisnis Papa Hezkiel. Sebagai CEO sekaligus calon pewaris keluarga Winter, Hezkiel juga diminta datang.
"Ingat kesepakatan kita," kata Hezkiel.
"Tentu saja. Jika kau ingin aku berperan sebagai istri yang sempurna, tunjukan juga kau bisa melakukan hal yang sama." jawab Celine.
"Ya, itu pasti. Jika disituasi seperti ini, mau tidak mau aku juga harus berperan." kata Hezkiel.
Entah mengapa, Celine merasa tidak suka dengan ucapan Hezkiel. Hatinya terasa nyeri dan sedikit sesak.
"Ayolah, Celine. Jangan jadi wanita yang lemah. Kau passti bisa." batin Celine menyemangati diri sendiri.
"Wanita ini selalu terlihat tenang. Sejak aku bertemu dengannya pertama kali. Aktingnya yang tersenyum mengelabuhi semua orang, terlihat natural. Jadi, malam ini tentu tidak akan ada masalah, kan?" batin Hezkiel melirik ke arah Celine.
Celine melirik kearah Hezkiel, "Ada apa? apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Celine.
Hezkiel menatap lekat wajah Celine. Ia melihat wajah Celine yang cantik memesona. Tanpa sadar sudah membuatnya merona.
"Jika dilihat-lihat, dia memang terlihat sangat cantik malam ini. Mungkin karena saat di rumah, dia tidak memakai make up seperti pada saat pesta. Gaun yang dikenakannya juga bagus. Sesuai dengan warna kulit putihnya." batin Hezkiel.
"Apa yang dia pikirkan? Kenapa serius begitu?" batin Celine.
"Ti-tidak ada apa-apa. Hanya saja, untuk berjaga-jaga, kau tetaplah berada di sampingku. Kemanapun aku pergi nanti, kau tidak boleh lepas dari pengawasanku. Kau mengerti?" jelas Hezkiel.
"Mengerti," jawab lirih Celine.
"Ya, aku tahu jelas maksudnya. Dia pasti mengira aku akan membuat masalah atau melakukan sesuatu yang tidak disukainya." batin Celine.
***
Celine dan Hezkiel masuk dalam ruangan dengan bergandengan tangan. Mereka sungguh menunjukkan kemesraan di hadapan semua mata yang meihat. Senyum Hezkiel lebar mengembang saat pandangannya bertemu dengan Celine.
"Aktingnya boleh juga. Dia mengembangkan senyumannya seperti ini padaku, padahal dia hanya akan seperti ini pada wanita itu." batin Celine, yang juga melebarkan senyuman.
Sandiwara yang sangat bagus. Semua mata berhasil dikelabuhi oleh senyum palsu Celine dan Hezkiel.
"Kiel, Celine, kalian sudah datang rupanya." tegur Lily, Mama Hezkiel.
"Ma-mama ... " sapa Celine.
__ADS_1
"Wah, kau sangat cantik. Mama sampai tidak bisa mengalihkan pandangan padamu, sayang." puji Lily, menilai penampilan menantunya.
"Mama jangan terlu memuji. Mama juga sagat cantik hari ini. Celine cukp iri dengan kemampuan Mami." puji balik Celine.
"Hoho ... mulutmu sungguh sangat manis, sayang. Entah kenapa, Mama menyukainya." kata Lily.
Lily meminta izin pada putranya untuk membawa Celine berkeliling. Ia ingin mengenalkan menantunya itu pada semua teman-temannya yang menghadiri pesta.
***
Celine*
Mama mertuaku mulai altif membwaku berkeliling. Aku dikenalkan pada satu persatu teman beliau. Sejauh ini tidak ada masalah, semua teman beliau ramah dan baik padaku. Beberapa bahkan memujiku cantik juga anggun.
Aku hanya tersenyum, tidak ingin banyak bicara. Sesekali aku menganggukkan kepala dan mengiakan pujian dari teman-teman Mama mertuaku.
Waktu terus berjalan. Tanpa kusadari, aku sudah lebih dari dua puluh menit meninggalkan Heziel. Selesai dengan urusan memperkenalkan diri, aku berpamitan pada Mama mertuaku untuk kembali pada Hezkiel.
"Ma, Celine pamit undur diri lebih dulu. Celine ingin mencari Hezkiel." pamitku dengan sopan.
"Wah-wah, belum sehari berpisah sudah rindu. Ya, baiklah jika itu yang kau inginkan, Nak. Pergilah ... " jawab Mama mertuaku.
Aku juga berpamitan pada beberapa rekan Mama yang lain sebelum beranjak dari kerumunan itu. Ah, ini melelahkan. Aku sebelumnya tidak pernah aktif hadir dipertemuan atau pesta semacam ini. Kalaupun harus datang, aku tidak akan tinggal berlama-lama, karena Lidya pasti akan lebih memendam dendam padaku.
Aku hendak menghampirinya, berharap aku bisa mengajaknya keluar dari dalam ruangan untuk mencari angin segar. Namun, sesuatu hal terjadi. Tanganku ditarik paksa oleh seseoran.
"Eh ... " kataku sesaat setelah tanganku ditarik.
Siapa? siapa yang menarik tanganku? pikirku melihat seorang pria didepanku yang tiba-tiba menarik tanganku. Mataku melebar, aku melihat punggung yang tak asing bagiku.
"Di-dion ... " kataku memanggil.
Sesuai dugaanku, seseorang yang menarik tanagnku, memanglah Dion. Yang tidak lain adalah Kakak tiriku, putra satu-satunya, kesayangan Lidya.
Dion membawaku ke tempat yang agak sepi. Ia melepaskan genggaman tangan yang menarik tanganku dan menatapku.
"Hallo, Adik kesayanganku. Wow, kau tampak sangat, sangat, sangat cantik dan seksi. Bolehkan jika aku ... " kalimat Dion terhenti, karena aku yang memotong ucapannya.
"Hentikan ini, Dion! jangan seenaknya menarik tanganku. KIta tidak sedekat itu, sampai kau bisa enarik tanganku sembarangan." kataku kesal.
__ADS_1
"Wah, kau bisa juga ya seperti ini. Aku kira kau hanya bisa diam dan menangis di pojokan dinding kamar, atau dibalik pintu. Hahaha ... " tawanya, seakan mengejekku.
"Apa yang kau inginkan? kau tidak lihat aku sibuk. Aku tdak punya waktu meladenimu." jawabku sangat kesal.
Sungguh, aku muak dengan satu orang di hadapanku ini. Dia adalah pria sampah yang tidak pantas disebut manusia.
"Hei, kau begitu ingin pergi dariku. Apa kau tidak rindu padaku?" tanyanya tersenyum padaku.
Aku sama sekali tidak tertarik dengan apa yang dia ucapkan. Bagiku, ucapannya hanya sekedar suara bising yang merusak pendengaran. Akupun mendorongnya menjauh dariku.
"Tolong menjauh dariku. Aku sudah menikah dan di sini adalah tempat umum. Tidak pantas kau terus menempel padaku." kataku memperingatkannya.
"Apa benar kau Celine? kau seperti bukan Celine yang kukenal sebelumnya. Bukanka kau selalu diam dan menangis. Sekarang, kau bahkan berani menatap mataku langsung. Apa kau memang sengaja menggodaku, huh." kata Dion yang semakin bertingkah aneh.
Tangannya mulai menjulur, aku yakin dia akan meraba wajahku. Ini tidak benar, Dion sudah melewati batasannya.
"He ... " ucapanku terpotong oleh Hezkiel yang tiba-tiba datang dan memanggilku.
"Sayang, kau sedang apa di sana?" tanya Hezkiel, berdiri di belakang Dion.
Bisa kulihat jelas ekspresi wajah Dion yang langsung berubah saat mendengar suara Hezkiel memanggilku. Akupun merasa lega, aku tidak perlu lagi banyak mengeluarkan tenaga untuk melaan si mesum ini.
Dion langsung berbalik, kulihat Hezkiel mendekat dan menarik tanganku. Pinggangkupun langsung dirangkul oleh Hezkiel.
"Kau ... " kata Hezkiel menatap Dion.
Dion tersenyum canggung, "Hallo, adik ipar. Kita bertemu setelah sekian lama." kata Dion mencairkan suasana yang cukup tegang.
"Oh, hallo juga. Aku pikir siapa orang yang menarik paksa istriku tadi. Maka dari itu, aku langsung mengikuti." jawab Hezkiel.
Dion melebarkan mata, "Maaf, aku tidak bermaksud jahat pada Celine. Kau kan tahu, dia adikku. Aku tidak mungkin menjahati Adikku sendiri, bukan." elak Dion.
Bohong! apa yang dikatakan Dion adalah bohong. Tidak menjahati, tetapi menindas. Apa itu maksudnya? pria ini benar-benar membuat kepalaku meletup-letup.
"Kau tidak apa-apa, sayang? sudah lelah? mau kita istirahat apa kita pulang saja?" cecar Hezkiel menatapku.
Aku sungguh tidak paham, apa maksud Hezkiel sebenarnya. Aku masih menatapnya tanpa bicara apa-apa.
Hezkiel mendekat, "Kau kenapa diam? bukankah kita harus berakting semesra mungkin dihadapan banyak orang?" bisikknya.
__ADS_1
Mataku melebar, hampir saja aku terlena kan ucapannya yang lembut. Aku tidak sadar jika aku masih ada di pesta. Dan aku masih harus menjalankan peranku sebagai 'Istri yang baik' di depan banyak orang.
*****