
Keesokan harinya, Hezkiel datang ke rumah sakit. Ia membawa satu buket bunga untuk Celine. Meksi tahu kemungkinan besar kedatangannya akan ditolak, Hezkiel tidak menyerah untuk menemui Celine dan meminta maaf.
Benar saja. Melihat Hezkiel datang. Celine langsung mengusirnya begitu saja. Celine bahkan menyiram air ke wajah Hezkiel dan memaki Hezkiel dengan kata-kata yang kasar.
"Pergi!" sentak Celine.
"Celine, tolong dengarkan dulu, apa yang ingin kusampaikan. Aku janji aku akan pergi setelahnya." kata Hezkiel memohon.
Celine menggelengkan kepalanya, "Tidak, Kiel. Aku tidak mau dengar apa-apa lagi. Pergi, atau aku hubungi keamanan untuk mengusirmu secara tidak hormat. Kau, kau jangan buat aku menjadi orang jahat sepertimu." Celine merasa sangat kesal. Entah mengapa, kini ia begitu membenci Hezkiel.
"Celine, aku mohon." kata Hezkiel berlutut.
Celine menarik napas dalam-dalam lalu, mengembuskan napasnya perlahan. Ingin sekali Celine menarik rambut pria jahat di depannya atau bahkan mendorongnya sampai terluka. Tapi, Celine berusaha meredam keinginanya.
"Aku tidak mau bertemu lagi denganmu, Kiel. Kumohon, jangan temui aku lagi. Ok." kata Celine menegaskan.
Hezkiel kaget, "Jangan seperti itu. Bagaimana bisa kau memintaku menjauhimu. Aku ... aku ... aku ... aku tidak bisa." kata Hezkiel menatap ke arah Celine.
Celine memalingkan pandangan menatap Hezkiel, "Apa? tidak bisa? lalu, kau mau apa? kau mau kita terus bersama setelah ini? lelucon apa ini, Kiel. Jangan serakah!" sahut Celine mulai geram.
"Tidak bisa. Jika aku dan Celine benar-bernar berpisah, maka aku tidak akan bisa memperbaiki reputasiku di depan Papa dan Mama. " batin Hezkiel.
"Ya, aku memang serakah. Aku tidak bisa, juga tidak mau berpisah denganmu. Aku akan lakukan apa saja agar kau mau tetap bertahan denganku. Ok." kata Hezkiel gigih pada pendiriannya.
"Pria gila! dia mau sejauh apa bertindak memuakkan seperti ini." batin Celine.
Celine menekan dahinya yang mulai nyeri, "Kurasa, kau juga perlu menjalani pemeriksaan. Aku akan hitung sampai lima, jika kau tidak segera pergi. Aku pastikan kau akan menyesal." kata Celine tidak senang.
"Celine ... " panggil Hezkiel bersikeras.
"Satu ... " Celine mulai menghitung.
"Dua ... " lanjut Celine menghitung. Hezkiel masih diam di tempat memperhatikan Celine.
"Celine, dengar dulu!" seru Hezkiel.
"Tiga ... " sambung Celine. Tidak memperhatikan ucapan Hezkiel.
"Celine!" sentak Hezkiel.
__ADS_1
"Empat ... "lanjut Celine tidak peduli.
"Ah, s*al!" umpat Hezkiel. Ia lalu, pergi meninggalkan Celine seorang diri di dalam ruangan.
"Lima ... " gumam Celine selesai menghitung. "Hahhhh ... gila! dia benar-benar sudah tidak waras. Bagaimana bisa dia berpikir aku harus tetap bertahan dengannya. Dasar tidak tahu malu," oceh Celine menggerutu.
Celine mengambil gelas berisi air putih. Ia langsung meneguk habis air dalam gelas dengan sekali minum. Digenggamnya kuat gelas di tangannya.
***
Sementara itu, di luar. Hezkiel pergi menemui dokter untuk bertanya tentang keadaan Celine lebih jauh. Hezkiel dan dokter pun berbincang. Dengan seksama Ia mendengar penjelasan dokter.
Sepuluh menit kemudian ....
Usai berbincang dengan dokter, Hezkiel pun berpamitan. Ia sudah memahami keadaan Celine setelah mendengarkan penjelasan dokter. Karena ia sudah tidak ada keperluan lagi, ia lantas segera pergi meninggalkan rumah sakit. Celine tidak mau melihat Hezkiel, tak ada pilihan bagi Hezkiel selain menghindar untuk sementara. Ia menunggu amarah dan kekesalan Celine mereda, baru berencana menemui Celine lagi.
***
Pada saat Hezkiel dan mobilnya baru saja pergi meninggalkan parkiran. Lidya dan Dion datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Celine. Dion memarkirkan mobilnya dan menghentikan laju mobilnya. Ia dan Mamanya segera keluar dari dalam mobil.
Lidya diminta Christian untuk menjenguk Celine. Awalnya Lidya menolak, tetapi Christian menegur dan menegaskan, jika itu adalah kewajiban seorang Ibu untuk merawat Anaknya yang sakit. Maka, dengan setengah hati Lidya pergi. Ia meminta Dion, putra kesayangannya untuk mengantarnya.
Lidya menatap Dion tajam, "Beraninya kU bersikap kurang ajar, Dion. Aku itu Mamamu!" sentak Lidya.
Dion mengangkat dua bahunya, "Aku hanya mengatakan kebenaran. Kenapa Mama tersinggung?" kata Dion makin tidak senang.
"Anak ini, kau itu belajar tata krama dari mana? Mama tidak pernah mengajarimu seperti ini," sahut Lidya kesal. Ia menekan-nekan keningnya, "Bagaimana bisa aku punya anak sepertimu, Dion. Astaga ... kau membuat Mama sakit kepala." keluh Lidya.
"Hah, banyak sekali keluhannya. Dia kan hanya diminta merawat Celine dengan baik. Seharusnya yang mengeluh aku, bagaimana bisa aku punya Mama sepertinya. Jahat dan kejam." batin Dion.
"Kenapa Mama tidak pernah sekalipun menyukai Celine? Bukankah Celine selalu menuruti ucapan Mama. Sampai-sampai harus diam saja di depan Papanya. Mama jangan keterlaluan padanya." Dion mengomeli Mamanya. Ia tidak senang dengan sikap Mamanya.
"Kau mencoba menasihati Mama, ya. Kau sendiri tidak sadar perlakuanmu kepada Celine seperti apa. Dasar anak ini. Kau ini anakku atau orang lain? beraninya kau bicara seperti ini padaku." Lidya tidak terima Dion menasihatinya.
"Memangnya aku apakan Celine? aku lebih baik dari Mama yang suka menyiksanya." sanggah Dion membela diri. Dion mengernyitkan dahinya, "Aku memang kasar, tetapi aku tidak pernah sekalipun tega menyakitinya. Aku hanya senang menggertak saja." jelas Dion.
"Sama saja. Kau jangan lagi banyak bicara. Ayo, cepat. Kita harus segera bertemu Celine." jawab Lidya.
Keduanya berjalan menuju ruangan rawat Celine. Dion memandu jalan untuk Mamanya. Pada saat mereka kurang mengerti, Dion lah yang bertanya kepada perawat yang sedang berjaga.
__ADS_1
" ... Terima kasih." ucap Dion usai bertanya.
Lidya hanya melirik. Matanya menatap sekeliling. Ia berjalan mengikuti anaknya yang sudah lebih dulu berjalan.
"Kenapa juga pria itu menyuruhku susah payah begini. Di rumah sakit ini 'kan sudah ada dokter dan perawat yang akan menjaga dan mengawasinya. Kenapa harus aku yang merawat. Menyebalkan sekali, membuatku kesal saja." batin Lidya mengomel. Sepanjang jalan, ia mengomel tiada henti.
Cukup lama berjalan, mereka akhirnya tiba di ruangan Celine. Dion dan Lidya berdiri di depan pintu.
"Ini kamarnya?" tanya Lidya.
"Ya," jawab Dion.
Dion membuka pintu. Keduanya masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan, Celine kaget mendapati dua orang yang tidak ingin ia lihat datang ke ruangannya.
"Mama, Dion ... " batin Celine mengernyitkan dahi.
Lidya memasang muka masam. Ia berdiri di samping tempat tidur pasien dan menatap Celine dengan tatapan mata yang penuh dengan rasa kesel.
"Ma, mama ... " sapa Celine pelan.
"Ya, ini aku. Kau ini, menyusahkan saja. Tidak bisakah kau melakukan segalanya dengan baik, Celine. Kau membuatku harus susah payah datang." omel Lidya.
"Maaf, Ma." jawab Celine murung.
"Dan lagi, bagaimana bisa kau jatuh? jika kau kehilangan bayimu, apa keluarga Winter masih mau menerimamu? Jangan berulah, Celine. Kau bukan lagi anak-anak." Lidya terus mengomel. Ia sangat tidak senang karena harus dipaksa datang hanya demi melihat dan merawat Celins yang merupakan putri tirinya.
"Mama, tenanglah! kita baru saja sampai. Lebih baik Mama duduk dulu." Dion mencoba meredam suasana. Ia menarik tangan Mamanya dan meminta Mamanya untuk duduk di sofa.
Dion menatap Celine sesaat. Begitu juga Celine yang menatap Dion penuh keheranan. Celine tidak tahu, apa yang Dion pikirkan.
"Aneh sekali. Kenapa Dion seperti, ini? bukankah dia selalu patuh pada ucapan Mamanya?" batin Celine.
"Lagi-lagi kau begini, Dion!" seru Lidya meninggikan suara.
"Mama juga, lagi-lagi Mama mengomel tidak jelas. Kenapa Mama selalu membuat kesal diri Mama sendiri? duduk dan tenanglah, jangan bicara apa-apa lagi." kata Dion, menekankan ucapannya.
Lidya mengernyitkan dahi. Ia tidak menyangka jika Putranya akan membela Celine sampai sedemikian. Ia langsung merasa kesal, karena Putra kesayangannya tidak memihaknya.
****
__ADS_1