Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
32. Masa Lalu Monna (1)


__ADS_3

Monna mendapatkan pesan dari Antonio. Yang isinya ancaman jika Monna tidak bisa cepat menyelesaikan misinya, ia akan menerima akibat yang buruk. Membaca pesan dari Antonio, Monna kesal.


"Si*l*n! Pria tua itu mengesalkan sekali. Dia pasti akan menyakiti Mama jika aku tidak bisa memenuhi permintaannya." batin Monna. Ia menggigit ujung ibu jari tangan kanannya sambil menatap ponsel.


Monna ingin marah, tetapi ia tidak bis bertindak sembarangan. Satu-satunya hal yang bisa membuatnya bebas dari cengkraman Antonio adalah saham Alexias. Meski terlihat baik, Antonio juga memiliki sisi jahat yang kasar. Pernah beberap kali, Antonio memukul Monna, sampai tubuh dan wajah Monna lebam.


Dahi Monna berkerut kala mengingat masa lalunya, "Tidak, aku tidak mau ingat itu!" batin Monna.


Kilas balik*


Meski ia tidak punya Papa, ia punya Mama yang mau bekerja keras membanting tulang deminya. Namun, semua harapan Mamanya untuk terus bsekerja harus pupus, karena Mamanya mengalami kecelakaan dan menjadi lumpuh. Selama bertahun-tahun, Monna mencoba memberikan pengobatan, tetapi semua tidak ada hasilnya.


Sampai akhirnya sesuatu hal terjadi, saat Monna bekerja sebagai pelayan sebuah Caffe. Ia bekerja paruh waktu. Saat itu, Bos Monna melecehkan Monna. Merenggut kesucian Monna dan membuat Monna hampir mengakhiri hidup. Beberapa kali Monna mencoba mengakhiri hidupnya, tetapi selalu saja gagal. Nyawanya seakan tidak boleh terbuang sia-sia.


Lelah dengan keadaan yang ada. Monna pun mencoba jalan lain. Ia merasa dirinya sudah rusak, maka tidak ada pilihan selain merusaknya lagi. Monna membenci dirinya sendiri yang kotor, tetapi ia lebih benci karena keadaanya yang hanya bisa direndahkan oleh orang lain.


Ia memberanikan diri menjadi perempuan penggoda betebal muka. Monna yang pada saat dilecehkan memutuskan berhenti kerja, ia mendatangi Bosnya itu dengan suatu tujuan. Ya, ia ingin dirinya diakui. Yang artinya, Monna akan menyerahkan semuanya yang ia miliki asal diberi harga yang sesuai.


***


Monna menekan bel rumah Bosnya. Dan dibukakan oleh seorang wanita yang hanya mengenakan pakaian dalam berbalut piama tidur yang tidak diikat.


"Apa Tuan ada?" tanya Monna.


"Oh, ada. Masuklah," jawab wanita yang membuka pintu. "Aku akan panggilkan, duduklah sembari menunggu Tuan datang." lanjutnya bicara.


Wanita itu langsung berbalik dan masuk dalam sebuah ruangan yang diyakini adalah sebuah kamar tidur. Monna segera masuk, ia mengamati dalam rumah mantan Bosnya itu. Monna melihat jika semua furniture dan perabot rumah itu serba mahal. Monna berjalan mendekati sof dan duduk.


Cukup lama Monna menunggu. Sekitar sepuluh menit kemudian, seseorang keluar dari dalam kamar dan menghampiri Monna di ruang tamu. Seseorang itu duduk di sofa, di hadapan Monna.

__ADS_1


"Oh, kau. Apa kau sda urusan denganku? bukankah kau sudah memutuskan untuk pergi setelah mencar wajahku saat itu?" kata Pria paruh baya berparas tampan yang tidak lain adalah Antonio.


"Aku datang, karena ingin membuat kesepakatan denganmu." kata Monna.


"Wow, kesepakatan? apa jaminanya? kau sangat yakin aku akan membantumu, huh." Antonio memandang rendah Monna.


"Tubuhku!" jawab Monna tegas.


Antonio kaget, "A-apa kau bilang? katakan sekali lagi," perintah Antonio.


Monna menatap tajam ke arah Antinio, "Aku berikan tubuhku. Dengan syarat tertentu. Bukankah Tuan Antonion yang membuatku seperti ini? aku tidak akan meminta pwrtanggung jawaban. Cukup beri aku bayaran yang seuai agar aku tidak direndahkan oleh orang lain." jelas Monna.


"Apa, ini. Apa wanita ini sedang mempermainkanku? tapi, tawarannya boleh juga. Keindahannya sudah kunikmati, bukankah lebih baik dia kumiliki saja? hahahaha ... " batin Antonio senang.


"Hm, aku masih ragu kau memiliki ketulusan. Bagaimana, ya ... " gumam Antonio tersenyum licik.


"Gila, dia pria tua gila! bagaimana dia bisa tersenyum licik begitu. Aku sudah menebalkan mukaku datang, dan menahan amarahku sebisa mungkin. Jika aku tidak menekan emosiku, aku pasti meledak dan akan membuatnya membayar perbuatan jahatnya dengan nyawanya." guman Monna.


"Jadilah pemuasku. Tidak hanya kemarin, tetapi setelah kesepakatan kita terjalin, kau hanya kan melayaniku di atas tempat tidur. Kau tidak boleh menolak, karena kau membutuhkan kekuatan dan uangku, kan. Juga status sebagai seorang gadis simpanan." jelas Antonio.


Tubuh Celine bergerar hebat. Ia mengepalkan dua tanganya, dipangkuannya. Ia merasa kesal, jengkel dan marah. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan Monna saat itu. Jika menolak, Monna tidak tahu lagi harus apa dan bagaimana dengan nasibnya dan Mamanya yang tinggal di tumah petak yang sempit dengan kekurangan makanan.


"Ba-baik. Ayo buat perjanjiannya. Aku memiliki beberapa poin untuk mencegah Anda membohongiku." tegas Monna tidak mau menyia - nyiakan kesempatan.


"Ya, tulis saja. Apa yang ingin kau lakukan dan kerjakan, tulis semuanya tanpa penekanan. Ungkapkan semuanya apa maumu, nanti akan ku pertimbangkan." jawab Antonio.


"Ini kesempatanku. Aku harus memanfaatkannya dengan baik. Jika tidak, aku hanya akan terus menjadi sampah yang dipijak." batin Monna.


Antonio minta Asistennya mengambil kertas dan pena. Beberapa saat kemudian, Asisten Antonio kembali dan menyerahkan kertas juga pena pada Monna.

__ADS_1


Monna menatap Antonio, "Tapati janji anda, Tuan." kata Monna, mencengkram erat pena di tangannya.


"Pasti. Kau bisa pegang ucapanku. Soal uang kau tidak perlu pikrikan. Aku juga akan berikan tempat tinggal yang layak untukmu dan Ibumu, sekalian kuberi perawat untuk menjaganya." jelas Antonio.


Monna terdiam sejenak. Ia masih bimbang dengan apa yang ingin ia tulis. Sampai, sesuatu hal muncul di benaknya. Ia menulis apa yang ia pikirkan. Monna memang gadis miskin yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Namun, dengan adanya Antonio, ia ingin melanjutkan sekolahnya. Ia ingin Antonio membiayainya masuk universitas sampai ia lulus. Ia juga ingin di beri uang tunjangan bulanan untuk belanja pakaian, kebutuhan sehari-sehari.


"Hal segini, dia pasti akan menyetujuinya, kan. Yah, ini memang keterlaluan. Namun, aku tidak bisa memaafkanny yang sudah mengambil keuntungan dariku. Aku tidak bisa mendapatkan kembali kegadisanku, gantinya aku akan mulai lagi hidupku mulai dari nol. Akan kumanfaatkan dia, bila perlu kuperas semua harta kekayaannya sampai tidak tersisa." batin Monna kesal.


Monna kembali menulis, Antonio hanya melihat Monna tanpa berkomentar. Melihat Monna yang serius, senyum Antonio mengembang.


"Aku menyesal sebenarnya. Bisa-bisanya aku melakukan hal itu saat kesadaranku hilang. Tapi, semua sudah terjadi. Air yang tumpah ke tanah tidak akan bisa dimasukan lagi ke dalam gelas. Aku akan berikan semua yang dia inginkan. Ini sebagai balasan rasa penyesalanku." batin Antonio.


Sepuluh menit kemudian ....


Monna selesai menulis semua yang ia inginkan. Ia lalu menyerahkan kertas yang berisi keinginanya pada Antonio. Kertas diterima Antonio, lalu dibaca. Terlihat dahi Antonio mengkerut, ia lalu tertawa.


"Hahaha ... " tawa Antonio. "Dasar rubah licik! Kau sungguh memanfaatkanku dengan baik, ya." lanjut Antonio bicara, Antonio tersenyum.


"Apa, kenapa? kenapa ekspresi wajahnya seperti itu?" batin Monna.


"Apa Anda setuju?" tanya Monna, menatap Antonio.


"Ya, aku setuju. Apapun yang kau inginkan, akan aku berikan. Namun, ada dua hal yang harus kau ingat, Monna. Ini hal yang tidak boleh kau langgar." jawab Antonio.


"Ya, apa? katakan saja," sahut Monna penasaran.


"Satu, kau tidak boleh mengelak dan banyak alasan saat aku ingin kau melayaniku. Sesuai kesepakatan awal kita, ada kerja ada upah. Kau bebas berteman dengan siapapun. Yang kedua, tidak boleh tidur dengan pria lain. Aku tidak suka berbagi wanita. Paham?" Antonio menekankan ucapanya.


Monna terdiam sesaat. Baginya, semuanya sulit, tetapi ia tidak bisa mundur lagi. Ia sudah sampai di tengah jalan, tidak mungkin baginya untuk berputar arah dan mulai dari nol. Ia hany harus terua berjalan, bagaimanapun medan jalan yang ia tempuh. Ia harus berhasil sampai ujung tujuan.

__ADS_1


*****


__ADS_2