
Keesokan harinya. Malam hari ....
Monna membujuk Hezkiel yang sedang gelisah. Ia tahu Hezkiel sedang memikirkan Celine. Tapi, dengan cepat Monna mengalihkan perhatian Hezkiel. Sehingga Hezkiel hanya memandangnya seorang.
"Kiel, kau tidak ada acara, kan. Malam ini, mau makan malam denganku?" tawar Monna, tersenyum cantik.
"Lain waktu saja. Aku cukup lelah, Monna. Jika kau ingin makan sesuatu, pesan saja. Kita bisa makan di rumah." tolak Hezkiel. Ia tidak mau pergi ke mana-mana, karena pikirannya sedang kacau.
Monna mengernyitkan dahi, "Kau ini. Apa yang kau pikirkan sampai kau mengabaikanku, Kiel?" tanya Monna kesal.
"Bukan apa-apa." jawab Hezkiel.
"Bohong! apa yang bukan apa-apa. Jangan bilang kau memikirkan wanita rubah itu," Monna mulai emosi.
"Cukup, Monna! jaga sikapmu. Apa-apaan kau ini. Apa maksudmu mengatai Celine sebagai rubah?" sentak Hezkiel yang juga ikut kesal.
"Memangnya kenapa? terserah aku mengatai apa. Dia memang rubah," jawab Monna santai.
"Monna, jangan seperti itu. Celine itu kan bukan orang lain. Dia istriku," kata Hezkiel.
"Lalu, aku? aku ini siapa? aku juga istrimu Hezkiel Winter!" kata Monna bernada tinggi. Emosi Monna semakin memuncak. "Apa maksudmu bicara seperti ini. Seakan hanya Celine yang terlihat di matamu. Benar-benar," omel Monna.
"Maaf, bukan bermaksud membuatmu marah. Kau benar, kau juga istriku. Kau juga orang yang paling kusayangi dan kucintai. Tapi, kuharap kau tidak lagi memanggilnya dengan sebutan buruk seperti itu. Ok." kata Hezkiel.
Monna terdiam sesaat, " Hah, yang benar saja. Kenapa pria ini berubah menjadi seperti ini? apa-apa dia," batin Monna.
"Hm," gumam Monna, malas untuk bicara.
"Pesanlah apa yang ingin kau makan," pinta Hezkiel.
Monna menggelengkan kepala, "Tidak mau. Aku mau kita makan di luar. Jika tidak, maka lupakan saja." jawab Monna merajuk.
Melihat kesayangannya kesal, Hezkiel tidak ada pilihan lain selain mengiyakan permintaan Monna. Ia berpikir, mungkin sebaiknya ia menikmati makan malam yang manis dengan Monna, agar ia bisa melupakan hal-hal yang membuat dadanya penuh sesak.
"Ya, baiklah. Ayo," ajak Hezkiel lembut. Ia mengusap-usap kepala Monna, "Jangan menggerutu lagi. Ayo, makan malam bersama di luar. Sesuai keinginanmu," kata Hezkiel.
__ADS_1
Monna tersenyum, "Yeah ... " ucapnya girang. Ia segera berlari menuju lemari pakaian untuk memilih gaun.
"Oh, ya. Monna ... " panggil Hezkiel.
"Ya," jawab Monna, memalingkan pandangan ke arah Hezkiel.
"Jika ku katakan aku tidak akan memberikan sahamnya sekarang, apa tidak apa-apa?" batin Hezkiel. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, "Mana mungkin Monna akan diam. Dia pasti akan marah," lanjutnya dalam hati.
"Sayang ... "panggil Monna, menepuk bahu Hezkiel.
Hezkiel kaget, "Ah, i-iya ... " jawab Hezkiel gagap.
Monna mengernyitkan dahi, "Ada apa? kau baik-baik saja?" tanya Monna.
"Ya, aku baik-baik saja. Ayo, gantilah pakaian dan kita lekas berangkat," kata Hezkiel.
Monna menganggukkan kepalanya pelan.Ia bergegas berganti pakaian, sesuai yang diperintahkan Hezkiel. Sedangkan Hezkiel pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
***
Melihat Hezkiel dengan Monna, membuat Hans geram. Sesaat Hans mencengkram jemarinya sendiri. Menyadari suaminya kesal, Lily pun merangkul Hans dan berbisik sesuatu.
"Sayang, fokuslah. Ini makan malam yang penting, kan." bisik Lily. Ia berharap Hans tidak memikirkan apa yang dilihatnya.
Seperti Hans, Lily pun juga kecewa pada Hezkiel. Putra yang dibesarkannya ternyata membuatnya kecewa teramat dalam. Hans sadar, jika ia emosi itu hanya akan menimbulkan kekacauan. Maka ia memutuskan untuk mengabaikan Hezkiel.
Hans dan Lily berpaling dan pergi meninggalkan Hezkiel. Tanpa mendengar sapaan Hezkiel lebih dulu.
"Pa ... " gumam Hezkiel mengepalkan tangan.
"Ah, s*al! kenapa kami harus bertemu di saat seperti ini?" batin Hezkiel kesal. Suasana hatinya kembali memburuk.
Monna diam saja. Ia tidak tahu harus apa. Karena ia juga tidak senang melihat kedua orang tua Hezkiel. Dulu, Monna pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Hans dan Lily. Karena menjalin hubungan dengan Hezkiel.
Ingatan masa lalu pun mulai muncul. Di mana Lily dan Hans bersikeras menentang hubungan keduanya. Hans bahkan sampai mengatakan suatu kebenaran yang mengejutkan. Ia sampai membongkar kedok Monna di hadapan Hezkiel. Namun, hal itu tidak membuat Hezkiel gentar untuk menjalin hubungan dengan Monna. Hezkiel yang dulunya polos, seakan tersihir pesona Monna yang begitu kuat. Bahkan Lily sampai kewalahan menghadapi Hezkiel yang terus membangkang.
__ADS_1
Pertengkaran tidak dapat terhindarkan saat itu. Meski sudah ditampar Hans, Hezkiel tetap mempertahankan Monna. Lily yang kesal juga akhirnya menyerah akan Hezkiel. Ia membiarkan putranya menjalani hidupnya sendiri di luar rumah. Dengan kata lain, Hans dan Lily mengusir Hezkiel.
Teringat akan sesuatu yang ingin dilupakan, membuat Monna merasa tidak nyaman. Ia kesal, marah dan benci. Semenjak kejadian itu, Monna terus menaruh dendam pada keluarga Winter. Itulah salah satu dari sekian banyaknya alasan Monna memilih tetap nekad mendekati Hezkiel. Sampai akhirnya berhasil menggenggam Hezkiel sepenuhnya.
Meski tujuan utamanya bukan untuk balas dendam. Dengan pertemuan malam ini, Monna bertekad melakukan sesuatu yang benar-benar gila. Ia ingin membuat Hans dan Lily makin kesal dan murka.
"Lihat saja, kalian yang dulu mengolokku. Akan kubuat kehidupan putra kalian menderita seperti di neraka." batin Monna.
Monna tidak tahu. Jika apa yang ia lakukan sia-sia. Hans dan Lily memang sudah sangat kesal, sampai-sampai keduanya enggan bertemu Hezkiel.
***
Hans dan Lily sedang berbincang dengan beberapa orang. Keduanya menghadiri acara makan malam untuk memperingati ulang tahun salah satu rekan bisnis Hans dari liar negeri yang kebetulan datang. Sebagai teman lama, Hans tidak enak menolak. Maka dari itu, ia mengajak Lily untu ikut serta dengannya.
"Aku senang kau mau datang, teman." kata seseorang pada Hans.
"Bukan maslaah besar. Aku jauh lebih senang melihatmu. Terima kasih sudah mengundangku." ucap Hans tersenyum.
"Tidak, tidak. Akulah yang seharusnya berterima kasih. Kau mau datang, aku sangat senang. Aku malah berpikir kau sibuk," kata teman Hans.
"Ya, itu tidaklah salah. Aku menang sibuk. Akhir-akhir ini aku sibuk. Entah sampai kapan akan sibuk seperti ini." kata Hans mengeluhkan.
Teman Hans kaget, "Kau sibuk? sibuk apa, Hans?" tanyanya.
"Ya, apa lagi. Tentu saja sibuk dengan perusahaan." jawab Hans.
"Bukankah ada putramu yang mengelolanya? kenapa kau turun tangan sendiri?" tanya temannya ingin tahu.
"Tidak lagi. Putraku sangat sibuk sampai ia tidak punya waktu luang mengelola. Ia akan menangani perusahaan anak cabang di luar negeri." jelas Hans.
"Ah, begitu. Anakmu sungguh sibuk, ya. Kegigihanmu menurun padanya," ucap teman Hans.
Menanggapi perkataan temannya, Hans hanya tersenyum tipis. Ia merasa tidak nyaman karena terus membahas tentang Hezkiel. Pikirannya kembali teringat akan kejadian sebelumnya. Di mana ia dan istrinya bertemu dengan Hezkiel dan Monna di depan pintu masuk restoran.
*****
__ADS_1