Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
52. Keluarga Kang (2)


__ADS_3

Sebelum Kang Jihyuk mendapat informasi. Ternyata Sang Ayah Kang SooJi lebih dulu tahu apa yang putranya lakukan. Ia sampai kaget, karena Kang SooHyuk menggunakan universitas sebagai alasan untuk kabur dari rumah.


"Anak itu, berani-beraninya melanggar laranganku." geram Kang SooJi.


"Pak Presdir, tenangkan diri Anda. Mungkin saja Tuan muda kedua punya alasannya sendiri." kata seseorang yang tak lain adalah orang kepercayaan Kang SooJi.


"Ini karenamu juga yang selalu memanjakannya, Pak Park." gumam Kang SooJi.


Park MinHwan terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia memang menyayangi Kang bersaudara melebihi diri sendiri. Itulah mengapa ia menjadi orang kepercayaan yang sangat istimewa bagi Kang SooJi.


Kang Soo-Ji menatap ke arah Park Min-Hwan. Tahu jelas, jika sekretarisnya itu sangat menyayangi dua putranya, ia pun berhenti mengomel meminta Park Min-Hwan lebih memperhatikan Kang Soo-Hyuk lebih lagi. Agar tidak terus menimbulkan kekacauan.


"Aku tahu, Pak Park sayang menyayangi dua putraku. Karena itu, Pak Park selalu menuruti semua permintaan anak-anakku, terutama Soo-Hyuk. Tolong perhatikan dia lebih lagi, Pak Park." Kata Kang Soo-Ji berpesan.


"Ba-baik, Pak Presdir. Saya akan ingat pesan Anda." kata Park Min-Hwan.


"Silakan lanjutkan Pekerjaan Anda, Pak Park." perintah sang Presdir pada Sekretarisnya.


"Ya, Pak Presdir. Saya permisi." pamit sang Sekretaris.


Saat Park Min-Hwan berbalik dan hendak melangkah, ia teringat akan sesuatu dan langsung menanyakan apa yang ingin ia ketahui pada Sekretarisnya itu.


"Oh, Pak Park ... " panggil Kang Soo-Ji.


Park Min-Hwan kembali berbalik dan menatap atasannya, "Ya, Pak. Ada hal yang lainnya?" tanya Sekretaris Park.


"Bagaimana laporan dari kantor yang dibawahi Kang Ji-Hyuk. Apa kantor cabang itu ada perkembangan?" tanya Kang Soo-Ji penasaran.


"Sejauh yang saya dengar dari Sekretaris Han, beliau melakukan segala upaya untuk membangun kembali kestabilan penjualan. Bahkan dalam sehati, beliau bisa menggelar tiga kali rapat untuk mengumpulkan semua staf dan kepala devisi. Bahkan semua yang hadir rapat mengeluhkan sikap dingin beliau. Beberapa mengeluhkannya langsung pada Sekretaris Han." Jelas Sekretaris Park.


Kang Soo-Ji terdiam sejenak, "Ini memang buka hal yang mudah. Itulah kenapa aku memintanya mengelola. Ayo, kita lihat sejauh apa seseorang yang disebut sebagai Ji-monster itu." kata Kang Soo-Ji tersenyum.


"Saya rasa Beliau akan mengatasi krisis di kantor tersebut. Saya tak akan meragukan kemampuan Tuan Muda pertama keluarga Kang." jawab Sekretaris Park.


"Hoho, Pak Park sudah memahami Putra sulungku itu rupanya. bagaimana jika kita bertaruh. Apa Anda berkenan, Pak?" tawar Kang Soo-Ji.


"Bertaruh?" ulang Park Min-Hwan. "Anda ingin bertaruh dengan saya? bertaruh Apa, Pak presdir?" tanya Park Min-Hwan tidak mengerti apa yang dikatakan atasannya tersebut.


"Berapa waktu yang dibutuhkan Kang Ji-Hyuk untuk bisa merubah keadaan menjadi lebih baik lagi. Dalam artian, berapa waktu sampai perusahaan yang hampir bangkrut itu kembali berdiri?" jelas Kang Soo-Ji.


Park Min-Hwan pun diam berpikir, "Berapa lama, ya? Jika itu dilakukan seorang sejenius dan segigih Tuan MUda pertama, Maka tak akan butuh waktu yang lama, kan." gumam Park Min-Hwan dalam hati.


"Menurut saya, tiga bulan." jawab Pak Min-Hwan.


"Tiga bulan? baiklah, aku akan bertaruh satu bulan. Aku sangat yakin dalam sebulan ia akan menyelesaikan masalahnya itu." ucap Kang Soo-Ji merasa sangat yakin. Tentu saja, itu membuat Park Min-Hwan kaget.


"Anda seyakin itu?" kata Park Min-Hwan.

__ADS_1


Kang Soo-Ji menatap Park Min-Hwan, "Kenapa? kau ragu? jangan ragukan ikatan batin antara Ayah dan Anak, Pak Park. Keyakinanku padanya melebihi apapun. Bukankah Kang Ji-Hyuk selalu membanggakan? apa yang ia lakukan, selalu melebihi pemikiranku." dengan tegas Kang Soo-Ji menyatakan keyakinan penuhnya.


Park Min-Hwan menganggukkan kepala, "Saya mengerti akan keyakinan Anda dan potensi yang dimiliki Tuan Ji-Hyuk. Tapi, Anda jangan lupa jika kondisi perusahaan itu sungguh sangat kacau balau." kata Park Min-Hwan.


"Terserah bagaimana pemikiranmu. Aku bertaruh satu bulan. Tidak lebih ataupun kurang." tegas Kang Soo-Ji.


"Saya bertaruh tiga bulan," jawab Park Min-Hyuk.


"Yang kalah mentraktir minum, ya." kata Kang Soo-Ji.


"Sesuai keinginan Anda. Tuan."


Pada akhirnya kedua orang itu melakukan taruhan. Mereka masing-masing punya pandangan yang berbeda terhadap kemampuan Kang Ji-Hyuk.


***


Kang Ji-Hyuk terlihat sibuk. Ia membaca sebuah berkas dokumen di tangannya dengan duduk bersandar. Di mejanya, berserakan berkas dokumen lainnya yang belum terbaca oleh Kang Ji-Hyuk.


"Astaga ... " gumam Kang Ji-Hyuk mengeluh. Ia lalu, menggigit berkas dokumen yang dipegangnya untuk bisa melonggarkan dasi dan membuka kancing kemejanya.


Tok ... Tok ... Tok ....


Pintu ruangan Kang Ji-Hyuk diketuk dari luar. Tidak lama, seseorang membuka pintu dan mengintip.


"Pak, apakah Anda ada sedikit waktu? boleh saya meminta tanda tangan?" kata Sekretaris Han ragu-ragu.


Mendapat izin, Sekretaris Han buru-buru masuk dan berjalan menghampiri atasannya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Han Bo-Mi.


Han Bo-Mi meletakan beberapa berkas di atas meja di hadapan Kang Ji-Hyuk.


"Silakan, Pak." kata Han Bo-Mi.


Kang Ji-Hyuk meletakan berkas yang dipegangnya ke atas meja. Ia lalu, menggulung lengan kemejanya dan mengambil penanya untuk menandatangani berkas-berkas yang butuh tanda tangannya.


"Sudah kau periksa dengan benar dokumen ini? karena aku tak akan menoleransi lagi kesalahan sekecil apapun." kata Kang Ji-Hyuk.


"Sudah, Pak. Silakan Pak CEO periksa kembali." jawab Sekretaris Han.


Kang Ji-Hyuk yang memang sangat teliti, memeriksa kembali berkas dokumen yang hendak ditanda tanganinya. Sekretaris Han berdiri di samping Kang Ji-Hyuk dengan perasaan gugup dan tegang.


"Semoga tidak ada bencana kali ini," batin Han Bo-Mi.


"Sekretaris Han," panggil Kang Ji-Hyuk.


"Ya, Pak? apa ada kesalahan?" tanya Han Bo-Mi tegang.


"Bahaya, kenapa Pak CEO memanggil?" batin Han Bo-Mi.

__ADS_1


"Dia kenapa tegang?" batin Kang Ji-Hyuk. Ia memalingkan pandangan menatap Sekretarisnya.


Dilihatnya Sekretarisnya berdiri kaku seperti patung. Merasa tak nyaman, Kang Ji-Hyuk pun bertanya.


"Sekretaris Han, apa ada masalah dengan kesehatanmu?" tanya Kang Ji-Hyuk.


"A-apa, Pak? saya sehat. Kenapa Pak CEO bertanya saya ada gangguan kesehatan atau tidak?" tanya Sekretaris Han tak mengerti.


"Ane saja. Kau berdiri kaku seperti patung dan terlihat tegang. Perjalanan kita di sini masih panjang, Sekretaris Han. Ini masih permulaannya saja." Kang Ji-Hyuk mengira Sekretarisnya tegang karena beban pekerjaan.


"Pak CEO ini membicarakan apa? apa dia sedang salah mengerti sesuatu?" batin Han Bo-Mi.


"Maaf, Pak. Sepertinya Pak CEO salah mengerti sesuatu di sini. Saya tegang krena menunggu koreksi dokumen dari Anda. Saat Anda memanggil saya, saya mengira ada masalah di berkas dokumen yang saya bawa." jelas Han Bo-Mi.


"Ah, begitu rupanya. Aku mengira kau kelelahan karena terbebani dengan pekerjaan di sini." Kang Ji-Hyuk juga menjelaskan apa yang dipikirkannya.


"Tidak, Pak. Sebelum ikut Anda ke sini, saya sudah mempersiapkan semuanya. Baik mental maupun fisik untuk bekerja dengan semaksimal mungkin." ungkap Han Bo-Mi.


"Inilah kenapa, aku terus mempertahankan posisimu sebagai Sekretaris CEO." sahut Kang Ji-Hyuk.


"Oh, Terima kasih, Pak. Ucapan Anda seperti pujian bagi saya. Saya akan bekerja keras sekuat dan semampu saya." Han Bo-Mi tampak semangat dan percaya diri.


"Ya, tunjukan kemampuanmu." Kang Ji-Hyuk lalu, menandatangani berkas yang sebelumnya ia periksa.


"Pak, Kenapa Anda memanggil saya tadi?" tanya Han Bo-Mi setengah berbisik.


Kang Ji-Hyuk menghela napas, "Hahhh ... aku lapar. Bisa belikan aku makanan ringan dan kopi?" ternyata Kang Ji-Hyuk sedang kelaparan.


Sekretaris Han kaget, "Apa? apa benar ini Pak CEO yang kulayani selama lima tahun?" batin Han Bo-Mi.


"Apa Anda ingin sesuatu? saya akan belikan sesuai apa yang Anda ingin makan." tanya Han Bo-Mi.


"Apa saja. Jangan belikan aku makanan manis, apapun itu. Pergilah dam ambil ini. Sudah ku tanda tangani semua." Kang Ji-HYuk berdiri dari duduknya.


"Pak, Anda ... " kata-kata Han Bo-Mi terpotong oleh Kang Ji-Hyuk.


"Oh, ya. Sekretaris Han juga boleh beli sesuatu yang diinginkan. Anggap ini hadiah karena Kau sudah bekerja keras hari ini." Kang Ji-Hyuk lalu masuk masuk dalam sebuah ruangan yang merupakan ruang penyimpanan buku dan berkas dokumen.


"Hari ini hari apa, ya? Pak CEO aneh sekali. Apa beliau stres karena keadaan di sini sangat kacau? ah, sudahlah. Ini pertama kalinya seorang Kang Ji-Hyuk mengeluh lapar dan ingin dibelikan makan. Lima tahun berlalu, Ji-Monster tahu rasa lapar juga. Hihihi ... " batin Han Bo-Mi mengejek Kang Ji-Hyuk diam-diam.


Pekerjaan kali ini memang terasa sedikit berat. Pasalnya perusahaan yang harus ditangani Kang Ji-Hyuk adalah perusahaan yang terancam bangkrut.


Begitu dipegang Kang Ji-Hyuk. Ia langsung merubah regulasi dan sistem kerja dari pengelola sebelumnya. Ini bertujuan untuk mempermudahnya menilai siapa-siapa saja yang memang niat bekerja dan siapa saja yang hanya bermain-main.


Kedatangan Kang Ji-Hyuk langsung menggemparkan seisi gedung kantor. Ia tidak berbasa basi, setelah memperkenalkan diri ia langsung meminta seluruh data dari setiap devisi, sampai di hari terakhir sebelum kedatangannya.


Dalam tiga hari, ia membuat sibuk seluruh orang dalam gedung kantornya. Termasuk dirinya sendiri. Bagi Kang Ji-Hyuk ini merupakan tantangan yang harus ia hadapi. Bagaimanapun caranya, Ia ingin apa yang dikerjakannya membuahkan hasil.

__ADS_1


*****


__ADS_2