Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
23. Tiba Tiba


__ADS_3

Keesokan harinya, selesai memasak sarapan. Celine mendapatkan panggilan dari Christian, Papanya. Cristian ingin sekalian Celine bisa datang dengan mengajak Hezkiel. Karena ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan.


Ponsel Celine bergetar di atas meja dapur. Celine mengambil ponselnya lalu melihat layar ponselnya. Dahinya langsung berkerut.


"Papa ... " gumamnya.


Celine menerima panggilan Papanya, "Ya, Pa." jawab Celine.


"Hallo, Celine. Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Christian.


"Umh, baik. Aku baik, Pa. Ada apa? apa ada sesuatu sampai Papa menghubungiku?" tanya Celine penasaran.


"Papa ingin makan malam denganmu dan Hezkiel. Bisa kau datang? sampaikan undangan makan malam ini untuk suamimu. Ada hal yang ingin Papa sampaikan juga padanya." jelas Christian.


Celine terdiam sesaat, "Nanti malam? mendadak sekali, Pa. Aku tidak bisa pastikan Hezkiel bisa atau mau datang. Dia kan orang yang sibuk." jawab Celine.


"Tolong, kau coba dulu. Pastikan. Jika, memang tidak bisa tidak apa-apa. Kau bisa datang, kan? tanya Christian lagi.


"Ya, aku akan usahakan. Siang ini aku ada janji bertemu Mama Hezkiel. Jadi mungkin akan datang terlambat. Kita liat lagi nanti seperti apa." jawab Celine.


"Ya, baiklah. Papa harap kau bisa datang. Kami semua merindukanmu, Celine. Papa, Mama dan Kakakmu pasti akan senang dengan kehadiranmu." kata Christian.


Wajah Celine langsung murung, "Hm, ok. Aku masih harus menyiapkan sarapan, Pa. Nanti aku hubungi lagi." jawab Celine.


"Oh, ok. Papa tunggu kabarmu." kata Christian.


Celine mengakhiri panggilan dari Christian. Ia menarik napas dalam lalu mengembuskan napas perlahan. Hezkiel baru saja selesai berolah raga, ia melihat Celone sedang diam sembari memenga ponsel di tangan.


"Ada apa? kenapa ekspresi wajahmu seperti itu?" tanya Hezkiel mengejutkan Celine.


Celine menatap Hezkiel, "Oh, kau sudah selesai olah raga?" tanya balik Celine.


Hezkiel meletakan gelas yang baru saja ia gunakan minum. Ia mendekati Celine dan menatap Celine tajam.


"Aku bertanya, kau justru bertanya balik. Apa kau baik-baik saja?" tanya Hezkiel lagi.


"Hm, bukan apa-apa sebenarnya. Hanya panggilan dari Papaku." jawab Celine.


"Oh, aku mengira kau ada apa-apa. Papamu memerlukan sesuatu? katakan saja jika keluargamu membutuhkan sesuatu." kata Hezkiel.


"Kiel ... " panggil Celine.


"Hm," gumam Hezkiel menatap Celine. "Ada apa?" lanjut Hezkiel bertanya.


"Apa kau ada waktu malam ini? Papa memintaku membawamu untuk makan malam. Itu jika kau tidak sibuk." jelas celine.


Hezkiel diam sejenak, "Apa aku bisa menolak, ya? jika aku menolak, Celine pasti akan kesulitan. Belum lagi jika Mama atau Papa tahu, aku bisa langsung kena marah." batin Hezkiel.


"Hm, ada sedikit pekerjaan sebenarnya. Boleh aku datang terlambat?" tanya Hezkiel.

__ADS_1


"Jika kau sibuk, tidak apa-apa. Tidak ada paksaan untuk kau datang, Kiel." jawab Celine.


"Aku bisa. Hanya saja, aku sudah ada janji temu. Tidak bisa ditunda, tetapi jam pertemuan kami bisa kumajukan." jelas Hezkiel.


"Oh, begitu. Ya, tidak apa-apa. Aku akan sampaikan pada Papa nanti." jawab Celine.


"Kau bisa pergi lebih dulu, Celine. Aku akan menyusul sepulang dari pertemuan." kata Hezkiel.


Celine mengangguk, "Ya, aku mengerti. Mandilah dan bersiap. Aku sudah buatkan sarapan untukmu. Aku juga ingin istirahat, cukup lelah memasak sarapan pagi ini." kata Celine.


Celine melepas apron yang ia kenakan. Ia meletakan apron di tempat asal dan langsung pergi meninggalkan Hezkiel di dapur. Baru beberapa langkah Celine berjalan, ia dipanggil oleh Hezkiel.


"Celine, tunggu ... " panggil Hezkiel.


Celine menghentikan langkahnya, "Ya?" jawab Celine berbalik menatap Hezkiel.


"Maaf ... " ucap Hezkiel.


Celine mengernyitkan dahi, "Maaf? untuk?" tanya Celine.


"Untuk semua. Aku mandi dulu," jawab Hezkiel, ia segera melangkah pergi melewati Celine.


Celine memandangi kepergian Hezkiel, "Ada apa dengannya? aneh sekali." batin Celine.


Celine merubah ekspresi wajahnya. Ia menghela napas sejenak lalu kembali berjalan menuju kamarnya.


***


"Kau sendiri?" tanya Christian melihat sekeliling.


"Ya, Hezkiel akan menyusul nanti. Dia masih ada pekerjaan." jawab Celine menjelaskan.


"Oh, syukurlah kalau dia mau datang. Papa senang." kata Christian.


Celine menatap Lidya, "Hallo, Ma." sapa Celine.


"Hm," gumam Lidya.


"Kau pasti lelah, naiklah ke kamarmu atau jalan-jalan dulu ke belakang rumah. Nanti Papa akan panggil jika sudah tiba waktu makan malam." kata Christian.


"Ya, Pa." jawab Celine.


"Mau aku temani ke taman belakang, Adik?" tawar Dion.


"Tidak perlu, aku mau ke kamarku saja." jawab Celine sembari berlalu.


Celine lewat di samping Dion. Dion tersenyum masam melirik ke arah Celine.


"Lalukan semua sesukamu, sayang." bisik Dion.

__ADS_1


Celine mengernyitkan dahinya. Jantungnya berdetak kencang. Ia merasakan sesuatu, dadanya terasa sesak. Seakan ia masuk sedang tenggelam ke dalam danau dan kehabisan napas. Meski begitu, Celine tetap melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


"Kenapa aku selalu ada di situasi seperti ini? baik sebelum atau sesudah aku menikah, Ibu dan Anak itu tidak akan tinggal diam begitu saja." batin Celine.


Celine berjalan naik menyusuri anak tangga menuju kamarnya. Sementara itu, Christian pergi kembali ke ruang kerja, Lidya pergi ke dapur ditugaskan Christian melihat hidangan yang akan dinikmati bersama saat makan malam. Sedangkan Dion, ia berjalan kembali ke kamarnya. Kamar Dion juga terletak di lantai dua. Ia menaiki anak tangga, tidak jauh dari Celine.


"Dion naik?" batin Celine, Celine tiba-tiba panik. "Aku harus cepat masuk ke kamar. Jika tidak, Dion akan ... " lanjut Celine dalam hati.


Belum sampai Celine selesai dengan kata hatinya, Dion menarik tanggannya dengan cepat saat Celine baru saja menginjak anak tangga terakhir.


"Ah ... " serak Celine kaget, saat tangannya ditarik paksa oleh Dion.


"Ikut aku," kata Dion.


"Lepas, Dion!" sentak Celine meronta.


Dion mendorong Celine ke dinding dekat lemari kaca. Ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Celine. Dipandanginya wajah cantik Adik tirinya itu, lalu diusapnya lembut.


"Kau semakin cantik, Celine. Rasanya, kecantikanmu tidak memudar." kata Dion.


Celine mendorong Dion menjauh darinya, "Entah ucapanmu pujian atau ejekan. Aku tidak ingin bicara denganmu, Dion. Minggirlah," jawab Celine.


Dion mencengkram dua tangan Celine. Ia menaikan dua tangan Celine dan dipegangnya kuat. Celine melebarkan mata, ia manatap tajam penuh kekesalan pada Dion.


"Lihat, kau tampak begitu seksi dengan tatapanmu itu." kata Dion tersenyum.


"Lepas atau aku akan teriak!" seru Celine kesal.


"Diam atau aku akan menciummu!" jawab Dion.


Celine kaget, "Apa?" kata Celine.


Dion mendekatkan wajahnya ke leher Celine. Ia menghirup aroma wangi tubuh Celine.


"Kau tau, Celine? aku selalu ingin seperti ini sejak dulu. Aku ingin bersikap baik padamu, tetapi kau tidak pernah menghargai niat baikku." bisik Dion.


Celine memalingkan wajah, "Hah, niat baik? kau selalu menggangguku dan terus mengusikku. Kau selalu mmebuatku kesal juga marah. Niat baik dari mananya? Aku katakan sekali lagi. Lepas atau kau akan menyesal Dion Greey." kesal Celine.


Dion menempatkan posisi wajahnya pas di hadapan wajah Celine. Ia menempelkan hidungnya ke hidung Celine. Tentu saja,.Celine merasa aneh dan tidak mengerti akan sikap Dion.


"Apa yang harus kulakukan, Celine? bagaimana caranya agar kau percaya?" kata Dion sedih.


"Apa-apaan pria jahat ini. Dia sedang memasang tampang sedih sekarang? sial! Aku harus segera melepaskan diriku darinya. Aku tidak mau dekat dengan pria aneh ini." batin Celine.


"Celine, lihat mataku." pinta Dion.


"Tidak mau," jawab Celine menutup matanya.


Dion kaget saat tiba-tiba Celine menutup mata. Ia lalu tersenyum tipis. Dikecupnya kedua kelopak mata Celine bergantian. Lalu direngkuhnya tubuh Celine. Membuat Celine seketika membuka mata karena kaget.

__ADS_1


*****


__ADS_2