
Hezkiel masuk ke dalam kamar. Ia melihat Monna sudah terlelap tidur. Lalu, ia berjalan mendekati tempat tidur dan duduk di tepinya. Perlahan tangan Hezkiel membelai wajah Monna dengan penuh kasih.
"Maafkan aku, Monna. Aku tidak bermaksud menolak keinginanmu, tetapi aku sungguh tidak bisa jika sampai Papaku murka dan hubungan kita terungkap. Apa saja akan kuberikan, asal kau tidak meminta saham." lirih Hezkiel bicara.
Ia menghela napas panjang. Hatinya sedih, saat ia harua bertengkar dengan Monna dan membuat kesayangannya itu marah atau kesal. Hezkiel memang tidak pernah bisa jika dipisahkan dengan Monna. Baginya, Monna adalah segalanya.
"Selamat tidur sayang. Mimpi indah," bisik Hezkiel, mencium kening Monna dengan sangat lembut.
Karena tahu Monna akan marah jika ia masuk dalam kamar, Hezkiel pun pergi dan memilih tidur di kamar lain.
***
Keesokan harinya ....
Celine bangun terlambat. Ia merasa tubuhnya lelah dan pegal-pegal. Padahal, ia merasa tidak melakukan aktivitas berat. Anha mengetuk pintu lalu masuk, ia meluhat Nyonyanya duduk bersandar menatap ke arahnya.
"Selamat pagi, Nyonya. Anda bangun terlambat pagi ini," Anha mendekati Celine, lalu memberikan segelas susu hangat.
"Hai, Bi. Pagi. Terima kasih," jawab Celine menerima segelas susu pemberian Anha.
Celine menatap susu di dalam gelas yang dipegangnya. Tiba-tiba, ia merasa mual dan ingin muntah.
"Ugh ... ukkkh ...."
Celine segera meletakan gelas susu di nakas dan buru-buru turun dari tempat tidur. I membekap mulutnya berlari menuju kamar mandi. Anha terkejut, karena tiba-tiba saja mual.
***
Di dalam kamar mandi, Celine berkumur dan menyeka mulutnya. Ia menatap cermin di hadapanya.
"Apa ... " gumamnya terjeda. Seakan ia teringat akan sesuatu, "Jangan-jangan aku hamil," lanjutnya dalam hati.
Celine melebarkan mata, ia tidak memiliki alat tes kehamilan. Mau tidak mau ia harua beli dan memeriksanya lebih dulu sebelum pergi dokter. Ia membasuh mukanya, lalu mengambil handuk dan mengeringkan wajahnya dengan gerakan lembut.
"Bi, Bibi masih di luar?" tanya Celine, saat ia membuka pintu kamar mandi dan keluar dari kamar mandi.
"Ya, Nyonya. Saya di sini," jawab Anha.
"Bi, aku akan keluar sebentar." kata Celine memberitahukan.
__ADS_1
"Ke mana, Nyonya? saya akan segera beritahu supir jika Anda akan pergi.
"Pergi ke toko obat untuk beli vitamin dan kesupermarket. Ada sesuatu yang ingin ku beli," jelas Celine.
"Saya pamit undur diri," pamit Anha yang langsung pergi setelahnya.
Celine langsung berganti pakaiannya. Ia lalu keluar dari kamar sambil menenteng tas. Langkah kakinya cepat menyusuri kamar sampai ia tiba di ruang tengah. Lalu, ia berpamitan pada Bibi Anha sekali lagi.
"Bi, aku pergi. Bibi tidak ingin menitip sesuatu?" tanya Celine.
"Tidak, Nyonya. Tolong hati-hati di jalan," pesan Anha untuk Celine.
Celine menganggukkan kepala, "Ya, Bi. Sampai nanti," jawabny yang langsung melangkah pergi meninggalkan Anha.
Dari jauh, Marie melihat. Ia bersembunyi di balik dinding dekat lemari. Ia mengamati Celine dan Anha yang sedang bicara. Marie masih tetap menjadi mata-mata bagi Monna. Karena itu, Monna selalu dapat informasi terbaru dan akurat dari Marie perihal situasi dan kondisi dalam rumah.
***
Setelah membeli semua keperluan di apotek, Celine pergi ke supermarket membeli sesuatu. Pada saat berkeliling mencari sesuatu yang di carinya, ia melihat seorang wanita paruh baya juga sedang berbelanja terlihat kesulitan mengambil sesuatu di rak.
"Permisi, boleh saya bantu, Nyonya?" tawar Celine, menghentikan langkah kakinya.
"Sebentar," kata Celine. Rupanya ia menepikan trolinya dan membantu mengambilkan barang yang diinginkan perempuan paruh baya itu.
Setelah diambil, Celine memberikan barang itu pada perempuan itu.
"Silakan," Celine tersenyum memberikan.
"Terima kasih, Nak." perempuan itu berterima kasih pada Celine.
"Sama-sama. Oh, apakah Bibi butuh bantuan lain? biar aku bantu," karena merasa jika seseorang yang dibantunya kesulitan. Celine pun menawarkan diri.
"Apa tidak apa-apa? maaf, aku baru tinggal di sekitar sini. Jadi masih asing dengan supermarket ini. Ini pertama kalinya untukku," kata perempuan itu sedih.
Celine tersenyum, "Ayo, Bi. Aku bantu. Berikan daftar belanjaan Bibi dan aku akan tunjukan di mana Bibi bisa menemukannya." Celine tampak antusias ingin membantu.
Kedua orang itu pun melanjutkan langkah kakinya. Mereka menuju rak-rak yang menyediakan barang kebutuhan yang mereka ingin beli. Sembari belanja, mereka juga berkenalan.
Celine dengan sabar menunjukan setiap lorong yang ada di supermarket. Ia mengenalkan perempuan paruh baya itu pada Manager dan juga beberapa pegawai supermarket yang dikenalnya. Tujuannya, tidak lain adalah. Agar seseorang itu bisa meminta bantuan atau bertanya jika ada kesulitan.
__ADS_1
" Nak, siapa namamu?" tanya perempuan itu.
"Nama? oh, aku Celine. Celine Winter." jawab Celine menatap perempuan di sampingnya. "Nama Bibi?" tanya balik Celine.
"Merry. Kau bisa memanggilku Mey." jawab Merry memberitahukan.
"Baik, Bi. Senang bertemu Bibi dan salam kenal." Celine tersenyum senang.
"Terima kasih untuk bantuanmu, Celine. Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi padaku tanpamu. Kau banyak membantuku, sampai kau lupa pada tujuanmu ke sini." jelas Merry.
"Tidak perlu sungkan, Bi. Rumahku tidak jauh juga dari sini. Bibi bisa datang beerkunjung jika senggang. Kebetulan, suamiku jarang di rumah karena sibuk." kata celine basa-basi.
Merry tampak canggung. Senyumnya terkesan kaku. Ia terlihat cemas dan ketakutan saat Celine menawarkan padanya, untuk datang berkunjung ke rumah Celine.
"Bibi ini kenapa? apakah baik-baik saja? tatapan matanya aneh, dan terlihat gelisah." batin Celine.
"Oh, ya ... a-aku akan pergi ji-jika a-ada waktu. Ya, aku akan berkunjung." jawab Merry terbata-bata.
"Jika aku meminta tolong padanya. Apa dia mau menolongku?" batin Merry gelisah.
Celine makin bingung, tetapi ia tidak mau terlalu menekan Merry untuk bercerita. Celine lantas berpura-pura tidak tahu apa-apa dan tersenyum.
"Aku tidak bisa terlalu ikut campur urusan pribadinya. Jika Bibi ini bercerita, aku akaj dengar dan tanggapi. Jika tidak, aku tidak akan mengorek atau ingin tahu apapun tentangnya. Ya, kurasa begini juga sudah cukup." batin Celine.
"Bibi datang ke sini bersama siapa? apakah Bibi tinggal sendiri?" tanya Celine memulai percakapan, agar suasana tidak tegang dan canggung.
"Ya, a-aku tinggal sendiri. Aku datang juga sendiri." jawab Merry.
"Memangnya, ke mana anak-anak Bibi?" tanya Celine tiba-tiba.
Merry kaget, matanya membulat. Ia teridiam tidak menjawab. Melihat rekasi Merry yang tegang dan aneh, membuat Celine mengurungkan pertanyaannya.
"Kenapa Bibi ini langsung kaget? apa terjadi sesuatu pada keluarganya. Ah, aku sudah lancang dengan asal bertanya." batin Celine khawatir.
"Ma-maafkan aku, Bi. Aku lancang bertanya hal yang tak seharusnya. Lupakan saja, anggap aku tidak pernah bertanya apa-apa." Celine meminta maaf pada Merry. Ia tidak ingin Merry tersinggung.
Merry yang terdiam, akhirnya bicara. Ia tidak mempermasalahkan pertanyaan Celine. Hanya saja, ia sedikit kaget. Ia teringat akan anak satu-satunya yang ia miliki. Yang hidupnya sudah dan tertekan.
*****
__ADS_1