
Hezkiel mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil Celine. Celine kaget, ia mengira jika Hezkiel akan pergi dari kamar setelah melihatnya. Namun, dugaannya salah.
Tok ... tok ... tok ....
"Celine ... " panggil Hezkiel.
Celine mengernyitkan dahi, "Dia tidak pergi? ada apa sebenarnya?" batin Celine.
"Celine, kau bisa dengar aku?" tanya Hezkiel, kembali mengetuk pintu.
"I-iya ... ada apa?" tanya Celine.
"Buka dulu pintunya," pinta Hezkiel.
Celine membuka pintu dan mengintip, "Ya, ada apa?" tanya Celine lagi.
"Hm, kau sudah selesai mandi? bisa bicara sebentar?" tanya Hezkiel.
"Umh, tentu bisa. Namun, ada sesuatu yang perlu kuselesaikan lebih dulu." jawab Celine.
"Apa?" tanya Hezkiel penasaran.
Wajah Celine memerah, "Ah, Uh, itu. Aku, aku harus ganti baju." kata Celine.
"Oh, ya. Gantilah dulu bajumu. Aku akan menunggu. Aku tidak akan melihat, tenang saja." kata Hezkiel.
Celine bingung. Ia tidak mengerti kenapa Hezkiel begitu Padanya. Celine menutup kembali pintu kamar mandi, ia mengambil handuk lalu melilitkan handuk di tubuhnya. Setelah itu ia keluar dari kamar dengan langkah kaki yang hati-hati.
Celine membuka lemari pakaian. Ia mengambil pakaian ganti. Ia berjinjit mengambil gantungan baju yang posisinya sedikit lebih tinggi darinya. Tanpa disadari oleh Celine, lilitan handuknya terlepas dan handuk pun jatuh ke lantai. Pada saat bersamaan, Hezkiel memalingkan wajah inginĀ melihat Celine apakah sudah selesai apa belum.
"Ce ... " ucapan Hezkiel terhenti, saat ia melihat tubuh indah istrinya.
Celine kaget, "Ah, i-iya. Tu-tunggu." gagap Celine bingung.
Hezkiel membalikan tubuhnya, "Sial! apa lagi yang kulihat. Kenapa wanita itu ... " batin Hezkiel.
Belum saja ucapan dalam hatinya selesai diutarakan, Hezkiel mendengar suara teriakan kesakitan dari Celine.
"Aduh ... sshhh ..." teriak Celine.
Hezkiel berbali, ia segera menghampiri Celine dan bertanya apa yang terjadi pada Celine.
"Ada apa? kau kenapa?" tanya Hezkiel.
__ADS_1
"Ah, ini. Rambutku tersangkut," jawab Celine.
Rambut Celine tersangkut di salah satu resetling gaun. Sehingga posisi kepalanya setengah masuk ke dalam lemari. Hezkiel membantu Celine, mencoba melepaskan rambut Celine yang tersangkut.
Deg ... deg ... deg ....
Jantung keduanya berdegup kencang. Posisi mereka begitu dekat, ditambah Celine yang masih polos belum berganti pakaian. Celine yang malu, menutup bagian depan tubuhnya dengan pakaian ganti yang dia pegang.
"Aku malu sekali. Kenapa hal ini terjadi," batin Celine menunduk dan memejamkan mata.
Hezkiel berusaha tenang, meski jantungnya teramat berisik. Ia masih fokus melepaskan rambut Celine yang tersngkut.
Beberapa saat kemudian. Rambut Celine yang tersangkut sudah terlepas. Hezkiel mengusap kepala Celine dengan lembut.
"Pasti sakit. Apa tidak apa-apa? kau merasa pusing?" tanya Hezkiel begitu ramah.
Celine menganggukkan kepala, "Ya, sakit. Terima kasih sudah membantuku." jawab Celine.
"Tidak perlu ini bukan apa-apa." jawab Hezkiel.
Hezkiel menatap Celine, lalu mengalihkan pandangan melihat ke arah cermin. Ia melihat tubuh bagian belakang istinya lewat pantulan cermin. Seketika wajah Hezkiel merona.
Celine yang penasaran, karena Hezkiel hanya diam saja berdidi di hadapannya. Ia melihat ke arah pandang Hezkiel dan kaget, ia langsung membalikan tubuhnya begitu saja. Kini, Celine dan Hezkiel sama-sama menatap ke arah cermin.
Celine tidak sadar, tubuh bagian belakangnya yang terbuka, menempel pada tubuh Hezkiel. Sebagai seorang pria dewasa yang normal, Hezkiel tidak bisa meredam gejolak di hatinya.
Hal manis terjadi. Seakan kehilangan kesadarannya, dan bukan seperti dirinya sendiri, Hezkiel memperlakukan Celine begitu lembut. Celine tidak tahu, apakah ia harus senang atau tidak. Jantungnya terus berdebar, tetapi juga ada rasa kesal yang menggumpal, jika teringat bukan dirinya yang ada di hati suaminya.
***
Hezkiel sadar, ia merasa sudah melakukan kesalahan. Di saat bersamaan, ia teringat akan wajah Monna yang tersenyum padanya.
"Gila! apa yang sudah aku lakukan?" batin Hezkiel.
Ia segera turun dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi. Dengan cepat ia membersihkan diri, lalu keluar dari kamar mandi dan pergi meninggalkan kamar tidur Celine.
"Apa yang sudah aku lakukan. Aku telah mengkhianati kepercayaan Monna." batin Hezkiel. Ia berjalan kembali ke ruang kerjanya.
Sementar itu, di kamar. Celine duduk di tepi tempat tidur dengan tubuh lemas. Ia menunduk, air matanya menetes membasahi pahanya. Celine kecewa atas sikap Hezkiel yang pergi begitu saja setelah apa yang dilakukan padanya.
"Apa yang kau harapkan Celine? dia bukan pria yang akan memandangmu sebagai wanita. Baginya kau hanya istri yang terpajang dan bermain di atas tempat tidur. Tidak lebih dari itu. Tidak lebih!" batin Celine.
Celine mencengkram selimut, "Kau pergi begitu saja setelah kau dapatkan apa yang kau inginkan, Kiel. Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini. Kenapa? tidak bisakah kau bersikap lebih baik dari ini?" gumam Celine.
__ADS_1
Hiks ... hiks ... hiks ....
Celine menangis. Ia sampai bersimpuh di lantai memeluk selimutnya sendiri. Istri mana yang tidak akan sedih, setelah suaminya memperlakukan sedemikian rupa, lalu tiba-tiba saja suaminya pergi karena teringat akan sang kekasih.
Dari sini Celine tahu pasti. Bagaimana perasaan Hezkiel padanya sejauh ini. Tidak pernah sekalipun Hezkiel menaruh hati padanya. Ia hanya menginginkan apa yang menjadi haknya sebagai suami. Celine sadar, meski suaminya berada dekat dengannya, ia tidak akan pernah bisa menggapainya. Ia akan merubah pikirannya, keputusannya kali ini sudah bulat. Celine tidak mau lagi menggantungkan harapan semu pada Hezkiel. Ia akan menyesuaikan sikap dan perlakuannya pada suaminya itu.
"Jika ini yang kau mau, aku akan kabulkan. Ini terkahir kalinya aku menginginkanmu, Kiel. Tidak ada lagi alasanku ingin ada di hatinu. Kau hanya inginkan hakmu, aku juga akan inginkan hakku. Ini adalah yang terbaik untuk kita." batin Celine.
Celine terdiam cukup lama. Sampai Anha datang dan mengetuk pintu kamarnya. Anha membuka pintu lalu mengintip, ia tidak mendapati Nyonya majikannya.
"Nyonya ... " panggil Anha.
Celine menyeka air mata, "Ya, Bi. Masuklah, tidak apa." jawab Celine.
Anha kaget melihat Nyonya majikannya bersimpuh di lantai dengan hanya memeluk selimut. Ia melihat mata Celine sembab. Anha meletakan mangkuk berisi strawberry dan lalu menghampiri Celine.
"Nyonya, Anda baik-baik saja? apa yang sudah terjadi?" tanya Anha.
Celine menggeleng, ia tidak sanggup lagi bicara. Anha memeluk Celine, mengusap punggung Celine dengan lembut.
"Jangan ditahan, silakan menangis." bisik Anha.
"Bi ... " panggil Celine menangis.
Hiks ... hiks ... hiks ....
Celine mengeratkan pelukan. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Anha. Mendengar isak tangis Celine, membuat Anha sedih. Matanya ikut berkaca, dan hatinya terasa nyeri.
"Meski baru beberapa bulan Anda menjadi majikan saya. Namun, saya sudah sangat menyukai Anda. Anda adalah seseorang yang baik dan hangat. Seperti Nyonya besar. Tidak apa-apa, Nyonya Muda. Tidak apa-apa. Menangis saja. Ada saya yang akan menemani Anda." kata Anha, masih menepuk-nepuk punggung Celine.
Puas menangis, Celine melepas pelukan dan menyeka air mata. Anha menyeka air mata Celine, mencium kening Celine.
"Bertahanlah walau ini sakit, Nyonya. Jika tidak, posisi Anda akan goyah. Jika posisi Anda goyah, orang lain akan dengan mudah menginjak Anda. Jangan tunjukan sisi lemah Anda pada orang lain. Anda mengerti, kan." jelas Anha.
Celine menganggukkan kepala. Anha mengusap bahu Celine, lalu mengusap kepala Celine. Masih mencoba menenangkan majikannya itu.
"Sekarang, lebih baik Anda membersihkan diri. Saya akan mengganti alas kasur dan selimut dengan yang baru. Agar setelah mandi, Anda bisa beristirahat." kata Anha.
"Ya, Bi." jawab singkat Celine.
Celine berdiri dibantu Anha. Ia dipapah Anha menuju kamar mandi. Setelah melepas sang majikan masuk ke kamar mandi, Anha bergerak cepat mengganti alas tempat tidur, dan selimut Celine.
*****
__ADS_1