
Setelah menempuh perjalanan yang panjang. Celine dan Siane telah tiba di negara Siane tinggal. Celine tampak menikmati perjalannya. Wajahnya cerah, secerah sinar mentari.
"Tampaknya, kau bahagia sekali, ya ... " kata Siane.
"Ya, tentu saja. Sudah lama sekali aku mendambakan ini, kan. Akhirnya, setelah sekian lama. Aku bisa menikmati kebebasanku." jawab Celine, mengungkapkan perasaanya.
"Syukurlah, jika kau merasa senang. Aku juga ikut senang." timpal Siane.
Celine memeluk Siane, "Terima kasih kau mau datang dan membawaku pergi bersamamu." ucap Celine berterima berterima kasih.
Siane mengusap punggung Celine lembut, "Jangan sungkan. Kita kan teman baik sejak kecil. Aku akan membuatmu bahagia mulai dari sekarang." jawab Siane.
Pelukan terlepas. Siane lalu, meminta cEline untuk istirahat di kamar tamu yang ada di rumahnya.
"Di sini hanya ada dua kamar. Kamar tamu, bisa kau gunakan mulai dari sekarang. Jangan merasa terbebani, Celine. Anggap saja ini seperti rumahmu sendiri." kata Siane, membuka pintu kamar tamu yang akan digunakan sebagai kamar Celine kedepannya.
Celine mengikuti Siane dari belakang, "Kau merawat rumahmu sendiri?" tanya Celine.
Siane menganggukkan kepala, "Ya, siapa lagi? aku tidak punya Asisten rumah tangga. Jadi, aku kerjakan di saat akhir pekan atau hari liburku kerja. Kulakukan sebisaku saja." jawab Siane menanggapi pertanyaan sahabat baiknya.
"Kalau begitu, kedepannya aku yang akan bersihkan ini semua. Anggap saja bantuan selama aku tinggal di sini, kan." kata Celine.
"Tidak, Celine. Kau itu tamuku, bukan Asisten rumah tangga. Aku membawamu dan memintamu tinggal bersamaku, untuk bisa hidup tenang bahagia. Bukan untuk kerja keras sebagai apapun, terlebih untuk membalas budi atau apalah itu. Kau mengerti maksudku, kan." siane menolak keras perkataan Celine yang akan mengurus rumahnya.
"Mana bisa seperti itu, Siane. Jangan pernah melarang apa yang akan kulakukan. " Celine bersikeras.
"Sekali tidak, tetap tidak. Kau tidak bisa melakukan apa yang tidak diperlukan, cEline. NIkmati saja, dan tenangkan hati, juga pikiranmu. pIkirkan hal-hal yang menyenangkan saja. Jangan pikirkan hal lain selain kebahagiaanmu." tanggapan Siane perihal kegigihan Celine.
Celine sampai tidak bisa berkata-kata dibuat Siane. Pada akhirnya, Celine mengajukan penawaran pada Siane, sahabatnya itu.
"Ok-ok. Daripada kita meributkan sesuatu hal yang percuma. KIta lakukan saja bersama-sama, bagaimana?" tawar Celine, menatap sahabatnya.
Siane tersenyum, "Baiklah. Ayo, kita lakukan itu bersama-sama. Sekarang, lebih baik kau istirahat.Nanti aku ajak kau belanja kebutuhan dapur. Aku mau mengecek bahan dan keperluan dapur dulu." kata Siane.
Tak mau membuat sahabatnya kesal, Celine hanya mengiyakan apa yang diminta Siane.
"Ya, aku mau berbaring sebentar. Aku sedikit lelah," alasan Celine agar Siane tidak merasa kecewa.
"Ok, tidurlah barang sebentar. Akku keluar, ya. Panggil saja, jika kau butuh sesuatu." kata Siane lagi.
"Iya, temanku." jawab Celine.
Siane menatap lagi sahabatnya sebelum pergi. Ia lalu, pergi meninggalkan Celine seorang diri di dalam kamar. Sedangkan ia pergi menuju dapur untuk mengecek keadaan dapurnya setelah berhari-hari ditinggalkan.
***
Celine dan Siane pergi ke supermarket di sore harinya. Siane pergi menyusuri lorong supermarket untuk mencari apa yang ia butuhkan di dapurnya. Sedangkan Celine, membeli sesuatu untuk kebutuhan pribadinya.
"Celine, tunggu sebentar di sini, ya. Aku mau ambil sesuatu di rak belakang." pinta Siane.
"Oh, ok. Aku sudah selesai dengan apa yang kubutuhkan. Aku akan di sini menunggu." jawab Celine.
Siane berjalan perlahan menjauhi Celine bersama keranjang belanjaannya. Celine melihat-lihat isi keranjang belanjaan. Tiba-tiba, ia ditabrak oleh seseorang.
"Ahh ... " Celine terdorong ke arah keranjang belanjaan.
Ia melihat ada beberapa barang yang berjatuhan ke lantai. Celine yang melihat lalu, ikut memunguti barang-barang yang berjatuhan. Ia membantu seseorang yang menabraknya itu.
"Maaf, aku tak melihat jalan." kata seseorang yang menabrak Celine.
"Tidak apa-apa. Aku juga tidak melihatmu lewat. Ini," Celine memberikan beberapa barang belanjaan seseorang itu yang berjatuhan.
Saat keduanya saling bertatapan, Celine kaget. Ternyata seseorang itu adalah Joe, teman Hezkiel. Joe juga kaget, ternyata yang ditabraknya adalah Celine.
"Celine ... " panggil Joe.
__ADS_1
"Joe ... " panggil Celine.
Mereka memanggil satu sama lain secara bersamaan.
"Kau di sini?" tanya Joe, melihat ke kiri kan kanan. Seolah sedang mencari seseorang atau sesuatu.
"Kau, mencari sesuatu?" tanya balik Celine. Ia juga ikut melihat ke kiri dan kanan, mengikuti arah pandang Joe.
"Di mana Hezkiel? kau sedang berlibur dengannya?" Joe bertanya pertanyaan yang tidak terduga.
"Oh, aku tidak bersamanya. Kami tak akan pernah bersama lagi, Joe. Jangan lagi bertanya soal Hezkiel padaku." jawab Celine.
Joe kaget, "Apa?" gumam Joe tidak paham.
"Apa temanmu itu tidak cerita? kami sudah bercerai." Celine memberitahu Joe, apa yang terjadi padanya dengan Hezkiel.
"Hah? kau serius? kenapa? dan, bagaimana bisa?" cecar Joe semakin penasaran.
"Hm ... " gumam Celine melihat ke kiri dan kanna. "Sepertinya kita harus pindah tempat, jika kau ingin tau cerita lengkapnya. Tapi, saat ini aku sedang bersama temanku. KIta tunggu dia kembali, baru bicara lagi." kata Celine.
Tidak lama, Siane kembali dengan barang yang dibutuhkan. Melihat sahabatnya dengan seseorang asing, Siane pun segera mendekat karena khawatir.
"Celine, apa terjadi sesuatu?" tanya Siane.
Celine menatap Siane, "Hai, Siane. Kau kembali. Oh, bukan apa-apa. Aku akan jelaskan nanti setelah kita berbelanja." jawab Celine.
"Oh, ok. Ayo, kita berkeliling mencari bahan yang belum ada." ajak Siane.
"Hm, Joe. Kau sudah selesai?" tanya Celine.
"Aku sudah selesai. Tapi, aku akan menunggu kalian sampai selesai belanja. Tidak apa-apa," jawab Joe.
"Begini saja, kau tunggu kami di kedai kopi sebelah supermarket. Kami akan selesai dalam beberapa menit. Apa tidak apa-apa?" usul Siane.
"Boleh juga. Aku akan tunggu di sana.Jangan pedulikan waktunya. Kalian bisa menghabiskan waktu sebanyak yang kalian mau. Hari ini aku sedang kosong. Jadi, aku punya banyak waktu luang." jawab Joe tak ingin membatasi Celine dan Siane berbelanja.
"Tidak apa-apa. Santai saja. Aku duluan ke kasir, sampai nanti." pamit Joe.
"Ok, sampai nanti." jawab Celine.
Joe pun pergi meninggalkan Celine dan Siane. Melihat kepergian Joe, Siane bertanya apakah Celine mengenal Joe.
"'Kau kenal pria tadi?" tanya Siane.
"Ya, dia teman Hezkiel. Ayo, sambil belanja akan ku ceritakan." ajak Celine.
Keduanya pun berjalan, mereka menuju tempat di mana ada bahan kebutuhan yang mereka inginkan. Sambil berbelanja, Celine menceritakan tentang Joe pada Siane. Mendengar cerita Celine, Siane cukup kaget. Ia merasa tidak senang, karena Joe merupakan teman baik Hezkiel.
"Jangan salah paham. Aku hanya ingin bicara ha biasa saja dengannya. Ada kau juga kan nanti." kata Celine menjelaskan.
"Tak masalah. Silakan saja kau bicara dengannya. Aku hanya tidak suka, ia ternyata teman baik pria busuk itu." jawab Siane.
Celine tersenyum, "Kau ini kenapa? kau kesal sekali pada Hezkiel. Yang dia sakiti itu kan aku. Kenapa kau yang kesal." goda Celine.
"Aku kesal, meski hanya mendengar. Kau tahu? rasanya aku ingin mencakar muka mantan suamimu itu. Juga, merobek mulut wanita itu. Aku tidak habis berpikir, kenapa baru sekarang wanita itu mengatakannya. Kenapa tidak dari awal saja. Aku rasa, ada sesuatu hal yang membuatnya bertindak seperti itu." omel Siane. Sambil memilih sayur mayur yang ingin ia beli.
Celine diam berpikir, "Ya, sepertinya begitu. Mungkin saja dia kesal karena aku terus menyebutnya sebagai orang ketiga di antara aku dan Hezkiel. Tapi, kenyataanya, akulah orang ketiganya." sahut Celine lirih.
Siane menatap Celine, "Bukan! kau bukan orang ketiga, Celine. Mereka saja yang mempermainkanmu. Hezkiel pura-pura menerimamu padahal ia tahu ia sudah menikah. Meski ia dipaksa, tidak seharusnya ia bersikap demikian. Dia kan bisa menolak keras. Mengatakan yang sejujurnya, jika ia sudah menikahi wanita bernama Monna itu. Apa yang membuatnya sampai sebegitunya menutupi semuanya? hanya karena ia takut jatuh miskin tanpa harta dari keluarganya? cih! pria itu memang busuk dan pendek akal. Jika itu aku, aku tidak akan menyakiti perasaan orang lain dan menerima segala konsekuensinya. Berani berbuat, harus juga berani bertanggung jawab. Dan, wanita itu. Mau-maunya dia membiarkan suaminya menikah lagi. Istri macam apa itu? ahhh ... aku jadi kesal." omel Siane panjang lebar. Seketika emosinya meluap-luap.
"Hei, hei, hei. Siane, tenangkan dirimu. Aku tahu kau sangat kesal. Marah juga tidak ada gunanya. Aku dan dia sudah berakhir sekarang. Tenanglah, Ok." Celine berusaha menenangkan sahabatnya.
Siane menarik napas dalam lalu, menembuskan napasnya perlahan. Ia mencoba menenangkan hatinya. Meski berusaha menenangkan hatinya, rasa kesal dan ingin membalas dendam terselip dalam benak Siane.
"Semoga mereka hidup menderita!" batin Siane seakan mengutuk.
__ADS_1
"Ayo, kita lanjutkan ke rak lain. Kasian pria tadi jika terlalu lama menunggu" ajak Siane.
Celine menganggukkan kepalanya, "Ya, ayo." jawab Celine.
Mereka pun berpindah tempat.
"Oh, ya. Besok aku kan mulai bekerja. Ku harap kau tidak keberatan, jika tidak kutemani lama-lama di rumah." kata Siane.
Celine tersenyum, "Memangnya aku anak kecil. Kau sampai segitunya khawatir aku kenapa-kenapa. Tenang saja. Aku tidak apa-apa kau tinggal ke mana saja." jawab Celine.
"Aku tahu kau sudah dewasa, Celine. Tapi kan tetap saja aku khawatir. Ini adalah tempat yang asing bagimu. Meski begitu, ku harap kau bisa perlahan beradaptasi." ucap Siane.
Celine merangkul Siane, "Terima kasih, sayangku. Kau itu memang sahabat terbaik. Aku sangat bersyukur ada kau di sisiku saat ini." ungkap Celine. Ia pun melepaskan rangkulannya, agar Siane bisa melanjutkan memilih kebutuhan yang diinginkan.
Tiba-tiba, Celine teringat akan sesuatu. Saat pertama kali Siane menghubungi Celine, Siane mengatakan sesuatu. Seingat Celine, Siane ingin mengatakan sesuatu yang penting, maka dari itu menemuinya. Tapi, karena sibuk dengan urusannya, Siane tidak pernah membahas apa-apa atau mengatakan apa hal yang menjadi kepentingannya itu.
Celine menatap Siane yang sibuk memilah-milah. Ia melihat sahabatnya itu begitu tenang dan santai, seperti tidak punya masalah atau beban pikiran. Ia pun kembali berpikir, apa hal yang membuat Siane begitu ingin bertemu dengannya saat itu. Terlebih, mengatakan ingin mengatakan sesuatu yang penting.
"Penting seperti apa, ya?" batin Celine bertanya-tanya dalam hatinya.
Kepikiran dengan apa yang ingin disampaikan Siane, Celine pun sampai melamun. Siane sudah selesai memilih, ia memalingkan pandangannya menatap Celine. Ternyata temannya itu sedang melamun.
"Celine ... " panggil Siane.
"Hei, Celine." panggil Siane lagi.
Beberapa kali dipanggil, Celine tak juga menjawab. Membuat Siane, mau tak mau menepuk bahu Celine. Agar sahabatnya itu tersadar dari lamunan.
"Hei, kau ok?" tanya Siane, menepuk bahu Celine pelan.
Celine kaget, ia tidak sadar jika Siane terus memanggilnya. Sampai bahunya ditepuk.
"Ah, eh ... " gumam Celine linglung.
Siane menggelengkan kepala, "Ck,ck,ck ... kau kenapa melamun? ini bukan saatnya kau memikirkan hal yang tidak perlu, Celine." kata Siane.
Sepertinya Siane salah paham, mengira jika Celine sedang memikirkan sesuatu berkaitan dengan Hezkiel dan Monna atau kejadian lainnya yang membuat Celine sedih, juga stres.
"Apa? apa maksudmu?" gumam Celinewe bingung.
"Kau sedang melamunkan apa yang kita bah tadi, kan?" tanya Siane.
Dahi Celine berkerut, "Apa?" jawab Celine kaget, "Kau sepertinya salah paham, Siane. Aku tidak memikirkan itu sama sekali. Kenapa kau berpikir aku memikirkan mereka? aku kan sudah katakan, aku dan mereka sudah tidak akan punya hubungan lagi. Jika perlu, aku tidak akan pernah mau bertemu mereka lagi. Apapun alasannya. Jadi, tolong jangan berpikir macam-macam." jelas Celine. Mengatakan apa yang sebenarnya ia pikirkan.
Siane terkejut, "Lalu, apa yang kau pikirkan sampai kau melamun begitu?" tanya Siane penasaran. Ia sama sekali tidak punya pikiran lain selain Celine memikirkan kejadian sebelumnya.
"Itu ... hm, apa ya?" gumam Celine seperti orang bingung. "Entahlah, aku bingung. Aku tidak tahu ini benar untuk kutanyakan atau tidak. Maksudku, aku tidak yakin ini adalah saat yang tepat." Celine lalu, diam begitu saja.
"Katakan, Celine. Apa yang kau pikirkan. Jangan buat aku berpikiran macam-macam dan bingung sendiri karena rasa penasaranku." Siane seakan mendesak Celine untuk bicara.
Celine tetap ragu, tetapi ia juga penasaran. Ia pun menatap Siane, sahabtanya dengan, penuh rasa penasaran.
"Ok. akan kukatakan. Kau ingat, pada saat kau menghubungiku pertama kalinya? kau mengatakan, jika kau datang ke rumahku. Dan kau juga mengatakan sesuatu. Kalau tidak salah ingat, kau mengatakan ada sesuatu hal penting yang ingin kau bicarakan. Sehingga kau meminta ingin bertemu denganku terburu-buru. Kau ingat?" Celine berusaha menjelaskan, apa yang ingin ia sampaikan.
Siane kembali mengingat, "Ah, mungkin saja. Aku sudah lupa. Maaf, kau kan tahu aku cemas dan khawatir padamu. Karena itu aku memutuskan untuk fokus membantumu." jelas Siane, yang ternyata juga lupa apa yang ia ingin katakan saat itu.
Celine tampaknya sedikit kecewa, tetapi ia tidak mau mendesak Siane lebih jauh lagi. Meski ia memendam rasa penasaran yang teramat besar.
"Maaf, lain kali akan kukatakan saat aku ingat. Ok. Aku kan langsung mencarimu terburu-buru, berarti itu juga hal yang sangat penting. Yang ingin kusampaikan padamu." jawab Siane, mencoba menjelaskan.
"OK. tidak masalah. Tapi, apa benar kau datang hanya karena ingin mengunjungi makan kedua orang tuamu saja? tidak ada hal lain?" tanya Celine. Ia menyimpan sejuta tanda tanya untuk Siane.
Perlu diketahui, jika kedatangan Siane merupakan suatu hal yang tiba-tiba. Itu saja sudah membuat Celine curiga, apalagi pada saat Siane mengatakan ada sesuatu hal yang penting.
"Ya aku memang mengunjungi makan kedua orang tuaku. Sekalian melihat-lihat rumah lama yang dulu Papa dan Mama tinggali. Aku teringat padamu, makanya aku datang ke rumahmu. Dan begitulah, aku tidak menemukanmu di sana." jelas Siane.
__ADS_1
Celine hanya bisa menerima penjelasan Siane tanpa berkomentar apa-apa lagi. Setelah cukup lama berbincang, dan memilih semua yang dibutuhkan, keduanya berjalan perlahan beriringan menuju kasir.
*****