
Keesokan harinya. Joe menghubungi Hezkiel. Ia mengajak Hezkiel makan siang bersama. Padahal Hezkiel berencana ingin makan siang bersama Monna, karena Monna sedang senggang. Namun, karena Hezkiel tidak ingin membuat Joe kecewa, ia meminta Joe untuk makan bersamanya juga Monna.
" ... oh, begitu. Baiklah. Aku tidak masalah." jawab Joe.
"Ok. Nanti aku kirim alamatnya." kata Hezkiel.
"Ok," jawab Joe.
Hezkiel mengakhiri panggilan Joe. Tidak ingin menunda, ia langsung menghubungi Monna untuk memberitahukan.
"Ya, hallo ... " jawab Monna.
"Sayang, kau bisa makan siang denganku, kan. Kau kan senggang. Aku akan makan dengan temanku juga. Aku akan kenalkan teman baikku satu-satunya padamu." kata Hezkiel.
Monna mengeryit, "Hm, apa itu baik? apa tidak apa-apa dia melihatku denganmu? nanti dia akan melapor pada orang tua, dan mereka akan menekanku lagi." kata Monna.
"Tidak akan. Aku sudah pernah cerita tentangmu padanya. Tentang keadaan, di mana kau tinggal serumah dengan aku dan Celine. Dan dia hanya menanggapi biasa saja. Karena dia tidak mau ikut campur urusan pribadiku." jelas Hezkiel.
"Oh, ok. Jika seperti itu tidak masalah. Kau jemput aku, ya. Aku akan kirim tempatnya nanti." jawab Monna.
"Ya, sayang. Sampai nanti. Aku mencintaimu." kata Hezkiel.
"Hm, aku juga." jawab Monna, mengakhiri panggilan Hezkiel.
***
Waktu yang ditentukan tiba. Joe sengaja datang lebih awal dan menunggu. Tidak lama Hezkiel datang bersamaan dengan Monna. Sekilas Joe melirik Monna, tidak ada hal istimewa di matanya.
"Oh, ini Monna. Sejak dulu aku melihatnya di foto. Baru hari ini aku bisa lihat dia secara langsung." batin Joe.
"Hei, Joe. Sudah lama datang? apa aku terlambat?" sapa Hezkiel.
Joe tersenyum tampan, "Oh, Hallo. Tidak apa-apa. Aku juga baru datang, Kiel. Dia ... " kata Kiel menatap Monna.
"Ini Monna. Monna, dia sahabat baikku, Joe. Dia selama ini tinggal berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain." kata Hezkiel memperkenalkan.
Joe tertawa, "Hahaha ... ya, ya, ya. Kau membuatku malu di depan Nonamu, Kiel." sahut Joe, kembali menatap Monna.
Monna menatap kagum sejak awal melihat Joe. Mata Monna seakan mendapatkan angin sejuk karena melihat paras tampan Joe.
__ADS_1
"Hallo, aku Monna. Monna Austin. Kau?" sapa Monna, memperkenalkan diri.
"Hallo, juga Monna. Aku Joe, Joe Albert. Senang bertemu dan mengenalmu," jawab Joe tersenyum.
Deg ... deg ... deg ....
Wajah Monna memerah. Monna terlihat tersipu malu.
"Wah, tampan sekali. Senyumnya sangat manis. Suaranya juga seksi." batin Monna.
"Dudulah, sayang." kata Hezkiel. Menarik kursi untuk diduduki Monna.
"Ya, terima kasih." jawab Monna tersenyum cantik. Ia langsung duduk.
Joe dan Hezkiel mengikuti duduk. Joe menatap Hezkiel, lalu melirik sedikit ke Monna. Terlihat jelas Monna menatapnya lekat seakan penasaran akan dirinya.
"Sebenarnya aku tidak nyaman ditatapnya seperti ini. Namun, sepertinya dia memanglah wanita mata keranjang yang suka melihat wajah, ya. Ini menarik. Aku akan memancing rubah licik ini. Kita lihat, apakah dia akan goyah atau dia akan terpancing umpanku." batin Joe.
"Astaga ... bagaimana dia bisa setampan ini. Kenapa akhir-akhir ini aku ditemukan pria tampan? kemarin Leon, sekarang Joe. Ya, Hezkiel memang tampan, tetapi aku sejak awal memang hanya memanfaatkannya saja. Aku tidak benar-benar jatuh cinta ataupin menyukainya. Tipe pria idealku adalah sosok seperti Joe. Ah, pria ini langsung membuatku terpesona dan jatuh cinta pada pandangan pertama." batin Joe.
Hezkiel memanggil pelayan. Ketiganya lalu memesan makan siang masing-masing. Seperti biasa saat bertemu, Hezkiel dan joe berbincang banyak hal. Sesekali Joe tertawa diikuti Hezkiel. Joe sengaja menunjukan sisi kerennya, ingin membuat Monna hanya terfokus padanya.
Monna menggelengkan kepala, "Tidak apa-apa. Aku juga tidak tahu apapun yang kalian bicarakan. Jadi, tidak masalah aku tidak ikut mengobrol." jawab manis Monna diiringi senyuman.
"Apa pekerjaanmu? kau terlihat ... hm, maaf teman. Apa aku boleh memuji sedikit kesayanganmu?" tanya Joe. Mengalihkan pandangan, menatap Hezkiel.
Hezkiel teesenyum, "Apa Joe mengakui, betapa cantiknya Monnaku?" batin Hezkiel.
"Boleh saja. Asal kau tidak merebutnya dariku," jawab Hezkiel.
Joe kaget sesaat, lalu ia sadar dan langsung tertawa. Joe kaget karena ia merasa Hezkiel sudah salah paham padanya. Dan ia langsung tertawa karena ia tidak mau mengacaukan misinya memancing Monna.
"Kau ini. Mana bisa aku begitu. Aku tidak akan mengambil Nonamu, meski sebenarnya ia sangat menarik." dusta Joe.
Mendengar ucapan Joe, membuat Monna besar kepala. Ia merasa Joe menyukainya, juga mengaguminya.
"Ah, semua pria sama saja ternyata. Aku sempat berpikir dia berbeda. Ya, semua laki-laki hanya mencintai kecantikan dan kemolekan. Siapa yang akan menolakku, bukankah dia akan merugi?" batin Monna dengan sombongnya.
Hezkiel berdiri dari duduknya, "Aku ke kamar mandi sebentar." pamitnya yang langsung pergi.
__ADS_1
Monna menatap kepergian Hezkiel, "Ini kesempatanku mendekati Joe." batin Monna.
"Hm, Joe." pangil Monna, menatap Joe.
"Ya, Monna. Ada apa?" tanya Joe dengan nada suara lembut.
"Tidak apa. Hany ingin bertanya. Kau sudah lama kenal dengan Hezkiel?" tanya Monna basa basi.
"Ya, cukup lama. Kenapa?" tanya Joe balik.
Monna tersenyum, "Tidak. Oh, apa kau punya kekasih?" tanya Monna lagi.
"Aha, dia mulai menyerang. Bagus ... " batin Joe.
Joe tersenyum tampan, "Mana ada perempuan yang mau denganku. Aku bukan tipe pria romantis dan manis seperti Hezkiel." jawab Joe.
Monna tersenyum, "Kau rendah hati sekali, ya. Jangan begitu, wanita mana tidak tertarik padamu. Kau itu sangat, sangat, sangat memesona, Joe. Jujur saja aku tertarik padamu. Kau tidak kalah dari Hezkiel, kau juga manis menurutku." puji Monna.
"Oh, begitu. Terima kasih pujianmu. Aku tidak enak mendengarnya, itu berlebihan." jawab Joe.
"Wanita ini. Tidak tahu malu, apa memang tidak punya malu?" batin Joe.
"Itu bukan hanya sekedar pujian, Joe. Ini kesungguhan. Aku ... tertarik padamu." kata Monna. Memegang erat tangan Joe di atas meja.
Joe tersenyum kaku, "Hm, iya. Terima kasih. Bisa kau lepaskan tanganku? ini sedikit ... " kata-kata Joe terpotong.
"Sebentar saja. Aku ingin mencengkram tangan besar dan kokoh ini." sela Monna.
"Gila, dia wanita gila! Tanganku ... " batin Joe tidak senang. Namun, ia tidak bisa menolak keinginan Monna.
"Tangan ini, sungguh luar biasa. Bagaimana rasanya jika tangan ini menyentuh seluru kulit tibuhku, ya?" batin Monna membayangkan.
Joe melirik, ia melihat ekspresi aneh Monna saat mencengkram tangannya. Ekspresi seperti seseorang yang sedang terobsesi akan sesuatu. Senyum yang mencurigakan.
"Apa yang dia pikirkan, sampai-sampai dia tersenyum begitu. Dan ekspresi macam apa yang ia perlihatkan. Wanita ini punya kelaian? atau jangan-jangan dia memang wanita aneh yang seperti itu? Tidak, ini menjijikan." batin Joe.
Joe manahan diri, tangannya disentuh oleh Monna. Sesekali Monna mencengkram kuat tangan Joe seakan memberikan isyarat. Joe tau maksud Monna, tetapi Joe berpura-pura tidak tahu. Ia hanya berharap Hezkiel segera datang.
"Kiel, kumohon. Cepat datang! aku, aku, aku akan gila karena wanitamu ini." batin Joe.
__ADS_1
*****