Aku dan Simpanan Suamiku

Aku dan Simpanan Suamiku
81. Yang Termanis


__ADS_3

Celine*


Deg ... deg ... deg ....


Suara degup jantungku. Rasanya tubuhku mulai lemas. Bagaimana tidak? ini sangat manis. Ciuman ini .... ah, aku bisa gila!


Tak pernah terbayangkan olehku. Jihyuk akan seberani ini. Dia yang kukira tak pernah memiliki rasa ketertarikan padaku, ternyata ... bisa meluluh lantakkan hatiku. Aku juga bisa merasakan deru napasnya.


Tak berapa lama, ciuman kami terlepas. Kami masih saling lekat memandang satu sama lain. Dia lantas mencium keningku dengan lembut. Jemarinya mengusap-usap wajahku.


"Meski aku suka. Jangan lakukan ini lagi. Jangan buat aku ... " ucapannya terjeda.


"Aku ... " sambungku. Aku penasaran, apa yang ingin dia katakan sebenarnya.


"Ah, bukan apa-apa." jawabnya.


"Aku apa?" tanyaku lagi.


Jihyuk hanya tersenyum dengan mengelus rambutku, "Bukan apa-apa. Aku hanya asal bicara." jawabnya.


Aku tahu. Dia sedang menyembunyikan sesuatu. Dia bicara dengan wajah yang memerah. Aku langsung menangkup wajahnya, kudekatkan wajahku ke wajahnya. Dia terlihat kaget dan langsung melebarkan mata.


"Bicara yang jelas. Lanjutkan ucapanmu yang tadi. Kau berkata, 'Jangan buat aku ... ' aku apa? kenapa berhenti bicara? " Aku tak akan menyerah begitu saja sebelum tahu jawabannya.


"Kau sungguh ingin tahu?" tanyanya.


Kepalaku ku anggukkan, "Ya." jawabku singkat.


"Lakukan lagi," katanya.


Apa maksudnya lakukan lagi? aku tidak paham ucapannya.


"La, lakukan lagi? apa yang harus kulakukan?" tanyaku bingung.


"Yang harus kau lakukan adalah ... menciumku." jawabnya. Dan jawabannya itu membuatku kaget.


"Menciummu?" ulangku.


Aku terdiam. Tiba-tiba aku ingat, jika tadi aku sudah melakukan kesalahan. Aku ... ah, aku sudah menciumnya. Meski sebenarnya aku hanya ingin membuatnya kaget tadi. Supaya dia lengah. Tapi, aku sadar sekarang. Yang aku lakukan kan tetap saja aneh. Aku menciumnya juga tiba-tiba.


"Kenapa diam? kau tidak mau? kalau begitu, biar aku yang lakukan. Boleh, kan?" kata-katanya langsung membuatku malu. Aku yakin, wajahku sudah seperti kepiting rebus sekarang ini.

__ADS_1


Aku memalingkan pandanganku, "Kenapa tiba-tiba? maaf, tadi aku membuat kesalahan." rasanya, aku ingin sembunyi di lubang tikus. Karena sangat malu.


Jihyuk memalingkan wajahku kembali, agar pandangan kami bertemu. Aku melihat ia tersenyum.


"Kenapa memalingkan pandangan? apa kau malu?" tanyanya padaku.


"Tidak, aku tidak malu. Aku, aku, aku ..." belum sampai aku menyelesaikan ucapanku. Jihyuk kembali mengecup bibirku sekilas lalu berbalik dan pergi berjalan menuju tempatnya yang tadi.


"Aku akan selesaikan dengan cepat steaknya. Tolong kau urus saladnya, ya." katanya saat pergi menjauh dariku.


Aku sempat tertegun untuk sesaat. Aku terdiam dan tidak tahu harus apa. Tapi, aku langsung menyadarkan diriku. Akupun melakukan apa yang ia perintahkan padaku.


***


Makan siang kami sudah tersaji di atas meja. kami pun bersiap untuk duduk dan makan. Lagi-lagi, aku dibuat kaget oleh jIhyuk. Saat aku akan menarik kursi untuk ku duduki. Tanganku di tarik ke pangkuannya.


"Ehh ... a, apa yang kau lakukan, Jihyuk? tanyaku menatapnya.


"Memangkumu dan ingin menyuapimu. Kenapa? tidak boleh?" jawabnya menatapku dalam.


Gilaaaaaaa! gilaaaa gilaaaaa ... ingin rasanya aku berteriak kencang, Tapi itu mustahil, jika tidak ingin diangggap orang gila sungguhan oleh tetangga sekitaran tempat tinggalku.


Bagaimana aku tidak shock dan gila. Jika aku sering-sering bertatapan dengan wajah tampan yang ketampanannya melebihi seorang aktor ini. Dan lagi, dia memperlakukanku begitu manis. Ini sangat manis seperti lelehan ice krim cokelat.


Pria ini sibuk memotong steak. Dia bahkan tidak mendengarkan ucapanku, dia mengacuhkanku.


"Buka mulutmu," Jihyuk menyodorkan garpu yang mana di ujung garpu itu ada potongan steak yang susah payah ia buat.


Aku tak bisa menolak. Aku membuka mulutku dan garpu itu masuk dalam mulutku. Aku mengunyah steak yang ad dimulutku. Daging yang gurih dan lembut, ini terasa enak. Bukan, sangat enak! ya, sangat enak sampai mataku berbinar merasakan kelezatannya.


"Apa enak?" tanyanya.


"Ya, enak. Sangat enak." jawabku cepat.


"Hahh ... syukurlah. Aku sudah tidak yakin tadi. Aku senang kau menyukai masakanku. Nah, buka lagi mulutmu. Kau harus makan yang banyak." katanya tersenyum, dia pun menyuapiku lagi.


"Jihyuk ... " panggilku pelan.


"Ya," jawabnya lembut tanpa menatapku. Pandangannya tertuju pada piring berisi steak di atas meja.


"Kau tidak makan juga?" tanyaku.

__ADS_1


"Aku bisa makan setelah ini. Tidak apa-apa, makan perlahan saja. Aku juga belum terlalu lapar." jawabnya, masih dengan nada suara lembut.


"Tidak bisa seperti ini. Kau juga harus makan." kataku.


Aku mengambil garpu dari tangannya. Kutusuk potongan steak dengan garpu dan kuminta dia untuk membuka mulut.


"Buka mulutmu. Aaaa ... " pintaku.


JIhyuk tersenyum. Tidak lama dia membuka mulut dan aku menyuapinya. Ini pertama kalinya aku menyuapi seseorang, terlebih seseorang itu adalah laki-laki.


Aneh rasanya. Ini seperti mimpi, tetapi ini bukanlah mimpi. Dengan pria ini, aku melakukan banyak hal yang belum pernah kulakukan. Cemas, gelisah, khawatir sampai tersenyum dan tertawa. Hanya pria ini yang bisa melakukan semua itu padaku.


Secara tidak sadar. Aku seperti sedang berjalan di sebuah hutan. Di sana aku menemukan sungai yang jernih dan mengikuti aliran sungai itu hingga aku ingin sampai ke ujungnya. Entah seberapa jauh dan lama, itu hanya soal waktu.


Tiba-tiba, aku merasa sesuatu menyentuh tepi bibirku. Aku menoleh, ternyata itu adalah tangan Jihyuk yang sedang membersihkan sekitaran bibirku. Jihyuk lalu, menjilat tangannya itu dan tersenyum padaku.


Demi apa, ini? dia terlihat tampan dan seksi sekali. Wajahku oh wajahku. Pasti kali ini wajahku juga memerah seperti tomat.


"Setelah ini kau mau apa? mau pergi atau bersantai saja di rumah?" tanyanya.


"Hm, entahlah. Aku ttidak punya rencana. Karena hari ini kita pergi begitu mendadak." jawabku. "Oh, ya. Soal kepergianmu ke Inggris. Apa sebelumnya kau pernah ke sana? maksudku, apa perusahaanmu sedang menjalin kerja sama atau kau sedang meninjau perusahaan cabangmu?" tanyanku panjang. Karena aku juga penasaran.


"Aku baru ini pergi ke sana. Sebelumnya, orang lain yang pergi ke sana. Karena aku sudah menggantikan posisi orang lain itu, mau tidak mau aku harus pergi. Karena ini bukan kerjasama biasa." jelasnya.


"Ah, begitu. Ya, meski aku tidak seberapa memahami bisnis. Tapi, kurang lebih aku paham penjelasanmu." sahutku.


"Bukankah kau lahir di sana? Di Inggris." tanyanya.


"Ya, aku lahir, tinggal dan besar di sana." jawabku.


"Lalu, kenapa memilih pergi?" tanya Jihyuk tiba-tiba.


"Itu karena ... " ucapanku terhenti. Aku ingin mengatakannya, tetapi aku merasa ini bukan waktu yang tepat. "Aku akan ceritakan itu saat kau kembali nanti. Menceritakan alasan, kenapa aku pergi dan memilih tinggal di sini. Tidak apa-apa, kan?" jawabku, menatapnya.


Jihyuk mengelus kepalaku, Tidak apa-apa.Aku tak mau memaksamu bercerita sesuatu hal yang sebenarnya tidak ingin kau ceritakan. Dengarkan aku dan ingat ini baik-baik, Celine. Apapun itu, ceritakan apa yang ingin kau ceritakan. Cerita yang tidak membuatmu menangis dan menderita. Karena harus mengenang kesedihan dan luka. Mungkin, ada saatnya kau berpikir, jika aku harus tahu. Tapi, aku tidak menginginkan itu. Aku tidak mau aku tahu sesuatu dan membuatmu harus menangis, ok. Kecuali, jika kau memang benar-benar siap melakukannya. Aku pasti akan dengar semua ceritaku, keluh kesahmu dan apapun itu. Sepanjang apapun, selama apapun. Aku akan diam dan dengarkan." katanya panjang lebar. da itu membuatku terharu, sampai tanpa sadar air mataku menetes dengan sendirinya.


"Terima kasih. Kau memang Yang termanis, Jihyuk. Terima kasih." ucapku.


Jihyuk menyeka air mataku, "Baru saja kukatakan, aku tidak mau kau menangis.Dan Apa, ini? kau sedang menangis sekarang?" katanya mengomel. Tapi, tangannya masih sibuk menyeka air mataku.


Setelah ia menyeka air mataku, ia mendekapku. Kepalaku disandarkannya ke dada bidangnya, Dia mengelus-elus kepala dan punggungku dan menepuk sesekali. Rasanya hangat dan nyaman. Dan ini hal pertama yang kurasakan selama aku hidup. Kehangatan yang tidak pernah kuterima, baik dari keluarga maupun pernikahan.

__ADS_1


*****


__ADS_2