
Peringatan!!!
Bacaan di bawah ini mengandung unsur 21+ yang mana tidak cocok untuk pembaca dibawah umur. Dimohon pembaca bijak dalam menyikapi isi bacaan. Terima kasih.
Monna dan Antonio selesai membayar tagihan. Antonio mengajak Monna pergi, karena mereka juga sudah selesai makan malam.
"Kita ke mana?" tanya Monna pada Antonio.
"Ke mana saja. Kau mau kita berduaan di mana? tidak mungkin kan kau dan aku bercinta di luar ruangan." kata Antonio blak-blakan.
Monna terdiam, "Sudah kuduga. Malam ini pun aku tidak bisa langsung pulang." batin Monna.
"Jangan harap aku akan membuatmu tenang, Monna. Aku akan menerkammu dan terus membuatmu berteriak di atas tempat tidur." batin Antonio.
***
Keduanya melangkah keluar dari restoran menuju parkiran yang lokasinya tidak jauh. Ternyata, dari jauh Hezkiel sudah menunggu.
Hezkiel melihat, Monna dan Antonio masuk ke dalam sebuah mobil bersama-sama. Hezkiel mulai kesal, ia mencengkram kuat setir kemudi mobilnya. Saat mobil yang ditumpangi Monna melaju perlahan meninggalkan area parkiran, mobil Hezkiel pun mengikuti.
"Untungnya aku memakai mobil Sebastian. Monna tak akan tahu, jika ini aku. Hahh ... gila! ini gila!" gumam Hezkiel, ia gelisah dan cemas.
Sepanjang jalan hati dan pikiran Hezkiel kacau. Ia takut, jika pada kenyataannya ia dibohongi oleh Monna. Ia takut, jika ternyata Monna punya hubungan khusus dengan pria yang tidak dikenalnya itu.
"Tidak, tidak, tidak! Monna bukan wanita seperti itu. Ya, aku yakin dia bukan wanita yang akan menduakan pasangannya. Tenangkan dirimu, Hezkiel. Ayo, tenanglah." batin Hezkiel perang dengan pikirannya.
Mobil yang dikendarai Hezkiel terus melaju mengikuti mobil yang ditumpangi Monna. Sampai pada saat, mobil itu memasuki lobby Hotel dan masuk ke dalam parkiran yang ada di dalam gedung hotel tersebut. Tanpa ragu lagi, Hezkiel mengikuti.
Mobil yang ditumpangi Antonio dan Monna sampai di tempat parkir. Keduanya pun langsung turun dari dalam mobil bersama-sama dan masuk ke dalam lewat pintu yang berada tida jauh dari mereka. Sementara itu, Hezkiel juga memarkir mobilnya. Ia buru-buru turun dan mengikuti Monna dan Antonio.
***
Antonio dan Monna langsung menuju resepsionis untuk check in. Setelah mendapatkan kartu akses kamar, Antonio dan Monna segera pergi menuju lift. Mereka akan naik ke lantai, di mana kamar mereka berada.
Dari balik dinding, Hezkiel mencengkram kuat kedua tangannya. Ia lalu pergi ke bagian resepsionis dan meminta untuk diberikan kamar di samping Monna dan Antonio, dengan alasan, masih satu keluarga. Meskipun hanya keluarga jauh.
Meski awalnya ragu-ragu dan sulit, Tetapi akhirnya resepsionis itupun luluh oleh wajah tampan Hezkiel. Dan segera memberikan kartu akses yang diperlukan. Dengan segera ia pergi meninggalkan resepsionis itu. Tak lupa, Hezkiel berterima kasih atas bantuan yang resepsionis itu berikan.
Hezkiel segera masuk dalam lift. Ia menekan tombol lantai kamar yang akan ia tuju. Hatinya sudah kacau, perasaannya juga campur aduk. Kesal, kecewa dan bingung. Semua itu juga tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Kenapa? apa yang sedang mereka lakukan di kamar Hotel? ada apa ini? aahhh ... aku bisa gila!" Hezkiel bergumam-gumam tidak jelas karena kacau.
Tidak lama, ia sampai. Pintu lift pun terbuka, dan Hezkiel langsung mencari keberadaan kamarnya. Sepintas ia bayangan yang masuk ke sebuah kamar. Ya, itu adalah Monna dan Antonio yang baru saja tiba di kamar mereka.
Hezkiel memperlambat langkah kakinya, ia mengendap-endap. Melihat monna dan Antonio sudah masuk dan pintu kamar tertutup, ia langsung berlari kecik menuju kamarnya, untuk masuk dalam kamar tersebut.
Deg ... deg ... deg ....
Jantung Hezkiel berdegup kencang. Bukan karena ia sedang jauh cinta. Melainkan karena perasaan cemasnya yang berlebihan.
__ADS_1
***
Tanpa menunggu perintah, Monna langsung tahu apa yang ia harus lakukan. Monna langsung menanggalkan gaunnya juga pakaian dalamnya. Ia berjalan dengan gerakan meliuk mendekati Antonio yang sedang duduk di tepi tempat tidur.
Monna menahan dagu Antonio sehingga wajah itu menadah ke arahnya. Monna lalu, tersenyum cantik pada Antonio. Melihat itu, tentu saja Antonio terpesona. Ia tak akan bisa menolak pesona seorang Monna.
"Kau menggodaku?" tanya Antonio.
"Ya, aku menggodamu. Kenapa? kau tidak suka?" tanya Monna.
"Siapa yang mengatakan aku tidak suka. Aku menyukai sisimu yang seperti ini. Ini adalah sosok terbaikmu, sayang." puji Antonio, mengusap paha mulus Monna. "Kita langsung mulai? apa sebaiknya kita mandi dulu?" tawar Antonio.
"Mandi dulu. Ayo, kita mandi bersama." ajak Monna.
"Aku tidak boleh membuatnya kesal hari ini. Bagaimanapun, Mama masih ada padanya." batin Monna.
Antonio pun berdiri dari duduknya di tepi tempat tidur. Ia lalu, menggendong Monna. Membawa Monna masuk ke dalam kamar mandi.
Di kamar mandi ....
Monna dan Antonio ternyata sedang berendam di bath up. Keduanya saling berhadapan dan mereka pun berbincang.
"Kau sudah beritahu suamimu? ahh, maksudku Hezkiel. Jika belum, katakan padanya untuk tidak menunggumu. Malam ini aku akan menghabiskan banyak waktuku untukmu. Jadi, tidak ada alasan bagimu untuk menolak. Kau mengerti?" Antonio mulai mendominasi Monna.
Monna menganggukkan kepalanya, "Ya, aku mengerti." jawabnya, tanpa penolakan.
Pandangan Antonio lekat menatap Monna. Ia lalu, bertanya apa alasan Monna begitu lama dan sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Sebenarnya, tanpa Monna bicara pun Antonio sudah tahu apa yang terjadi. Bahkan sampai tahu mengenai perceraian Hezkiel dan Celine.
Monna membalas tatapan mata Antonio, "Sebelum aku menjawab pertanyaanmu. Aku ingin bertanya lebih dulu." kata Monna ragu-ragu.
"Ya, silakan saja. Hal apa yang ingin kau tanyakan padaku, sayang." jawab Antonio.
"Ba, bagaimana keadaan Ma, mamaku?" tanya Monna dan langsung menunduk.
Antonio tersenyum, "Mama, ya? hmm ... " gumam Antonio. Dilihatnya lagi Monna yang sedang murung.
"Kenapa wanita ini jadi menyedihkan seperti ini? ini bukan Monna yang kukenal." batin Antonio.
Antonio merasa Monna berubah. Ia sendiri tidak sadar, jika ia juga berubah. Ia menjadi punya sisi baik ya tidak seperti biasanya.
"Monna," panggil Antonio, merasa tidak tega.
Monna memalingkan pandangan menatap Antonio," Ya?" jawab Monna.
"Apa kau sungguh ingin tahu keadaan Mamamu?" tanya Antonio.
Monna pun mengangguk, "Ya, aku sungguh-sungguh."jawab Monna.
"Mamamu baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir dan cemas. Sesuai dengan apa yang sudah kita sepakati. Kau bisa melihat dan bahkan bisa membawa Mamamu pergi bersamamu. Bukankah keinginanmu yang utama adalah bisa hidup bebas bersama Mamamu? Antonio langsung bicara pada inti pokok pembahasan mereka.
__ADS_1
"Bagaimana pria ini tahu? batin Monna.
"Tidak perlu repot memikirkan dari mana aku tahu. Pikirkan saja tentang apa yang kuminta kau lakukan." kata Antonio.
"Ya, aku mengerti." jawab Monna.
Pada saat itu juga. Monna pun menceritakan apa yang terjadi di rumah tempatnya tinggal dengan Hezkiel dan Celine. Semua diceritakan Monna, sampai kejadian tidak terduga yang dialami Celine. Monna juga menceritakan tentang keadaan Hezkiel selama sebulan ini yang terlihat frustasi dan sering pergi meninggalkannya. Panjangnya cerita Monna, membuat Antonio sedikit bosan.
Hal tidak diduga terjadi. Pada saat Monna sedang bercerita, Antonio justru mendekat dan mencium bibir Monna gemas. Ia lantas meminta Monna berhenti bercerita dan hanya fokus padanya.
Ciuman terlepas, "Berhenti bercerita. ayo, kita lakukan hal lain saja. Aku sudah tidak sabar menikmatinya." bisik Antonio.
Monna tersenyum, "Baiklah. Kita lakukan di sini saja, sisanya kita lakukan di tempat tidur." bisik Monna. Ia mengigit daun telinga Antonio dan dihisapnya lembut.
Wajah Antonio memerah. Ia tidak sangka, jika Monna sangat berani dan bersikap lebih agresif dari biasanya. Monna tampak begitu liar. Terbukti dari banyaknya jejak ciuman yang ia buat di tubuh Antonio.
"Ahh ... aku suka," bisik Antonio, ia kembali mencium bibir Monna.
Keduanya pun berciuman panas. Bibir keduanya semakin menempel lebih rekat. Tangan Antonio juga sudah bergerilya ke mana-mana tanpa tujuan. Sampai tangan itu berhenti di area milik Monna. Sentuhan demi sentuhan yang Antonio berikan, mampu memuat Monna bergejolak.
Air mandi yang digunakan berendam terasa seperti air panas yang mendidihkan tubuhnya. Tubuh Monna tidak menolak perlakuan Antonio. Monna justru ingin Antonio bisa melakukan lebih lagi agar ia merasa puas.
"Lakukan sesuatu yang lebih. Aku ingin lebih. hmmm ... " ucap Monna dengan tatapan mata memohon.
Antonio tersenyum, "Kau sangat menikmatinya, ya? kenapa? apa si b*rengs*k itu tidak menyentuhmu selama ini?" kata Antonio.
"Kami hanya beberapa kali melakukannya sebulan ini. Itupun, dia sampai kelelahan tanpa bisa memuaskanku. Karena itu, buatlah aku puas. Buat aku berteriak agar kau menyudahinya." jawab Monna tanpa ragu-ragu lagi.
"Kau yakin? kau tahu, betapa aku tidak bisa menahan diri, jika aku sudah menyentuhmu." kata Antonio.
"Aku sangat yakin, sayang. Ayo lakukan," pinta Monna.
"Baiklah. Sesuai permintaanmu. Jangan sampai kau mengatakan, jika aku monster liar yang rakus saat aku menikmati tubuhmu ini." kata Antonio.
Antonio mulai beraksi Ia meminta Monna duduk di pangkuannya, menghadap ke arahnya. Wajah mereka saling berhadapan, mata mereka saling bertatapan. Monna mengalungkan tangannya ke leher Antonio, lalu mencium bibir Antonio.
Ciuman yang awalnya lembut, berubah menjadi ciuman kasar dan liar. Antonio membiarkan begitu saja Monna memegang kendali permainan. Tak mau kalah, tangan Antonio kembali bergerilya ke area-area yang lebih sensitif. Di area itu, jemari Antonio bermain. Permainan tangan Antonio ternyata mampu membuat Monna meracau. Membuat Monna semakin ingin lebih gila lagi, lagi, dan lagi.
"hhhh .... "
"Lagi, lanjutkan lagi. Jangan berhenti di sana," kata Monna.
Monna menadahkan kepalanya, ia terlihat sangat menikmati permainan tangan Antonio. Monna benar-benar dibuat resah oleh Antonio.
***
Di kamar sebelah, Hezkiel sudah seperti cacing kepanasan. Ia mondar mandir seperti setrika. Terlihat Hezkiel mengomel sendiri, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, agar dia tau Monna dan Antonio sedang apa di dalam kamar.
"Apa yang mereka lakukan? apa yang sebaiknya kulakukan?" Perasaan bingung dan campur aduk, menggumpal menjadi satu. Hezkiel benar-benar kacau.
__ADS_1
*****