
Keesokan harinya ....
Celine bangun lebih pagi dan membuat sarapan untuknya dan Siane. Siane yang baru bangun pun kaget, melihat sahabat baiknya sudah bangun bahkan sudah memasak sarapan.
"Celine, kau kenapa bangun pagi sekali?" tanya Siane heran.
Celine memalingkan wajah menatap Siane, "Hallo, selamat pagi." jawabnya tersenyum cerah. Ia mendekat dan memberikan segelas susu hangat untuk Siane, "Ini, minumlah selagi hangat." pinta Celine.
Siane menerima gelas berisi susu pemberian Celine, "Terima kasih," ucapnya.
"Aku tidur cepat dan bangun awal, itu saja. Aku tidak terpaksa bangun pagi. Jadi, kau tidak perlu cemas." ucap Celine.
"Oh, ok. Lain kali jangan membebani diri. Kau tidak harus memasak sarapan untukku. Kau bisa mengabaikan aku, tidak apa-apa." kata Siane serius.
Maksud Siane tidaklah buruk. Ia hanya ingin Celine bisa melakukan sesuatu yang disukai atau melakukan apa yang diinginkan tanpa harus memikirkannya, sehingga membuat Celine ragu, karena merasa terbebani.
Mendengar ucapan Siane, membuat Celine merasa tidak senang. Bagi Celine, ia merasa senang dan sama sekali tidak terbebani, melakukan hal sederhana untuk sahabat baiknya.
"Apa yang kau katakan? aku tidak pernah berpikir kau itu beban, Siane. Percayalah, aku melakukan ini karena aku senang dan ingin saja. Ok." jawab tegas Celine.
Siane meminum susu di dalam gelas sedikit, "Ya, ok. Apa maumu saja. Aku juga tidak akan dan tidak bisa melarangmu." sahut Siane.
Celine hanya tersenyum menanggapi sahutan sahabatnya itu. Ia lantas bertanya perihal aktivitas Siane hati itu.
"Oh, ya. Hari ini, kau kerja, kan. Kau berangkat jam berapa? apa kantormu letaknya jauh?" tanya Celine ingin tahu.
"Aku berangkat pukul tujuh. Ya, lumayan jauh. Karena saat ini aku kan dipindahkan ke kantor induk." jawab Siane memberitahu.
"Induk?" gumam Celine, "Apa maksudmu kantor Pusat?" tanya Celine lagi.
"Ya, kau benar. Kantor pusat." jawab Siane. "Kenapa? kau mau juga bekerja di kantorku? akan kuminta temanku mencari tahu apakah ada lowongan atau tidak," lanjut Siane menatap Celine.
Celine menggelengkan kepala, "Tidak, Siane. Aku hanya bertanya saja. Aku tidak berbakat untuk menjadi orang kantoran. Kau kan tahu aku bahkan tidak pernah masuk ke gedung kantor Papaku" jawab Celine.
"Itu kan karena Mama tirimu. Dia selalu mendorong Dion untuk melampauimu." sahut Siane.
"Ya, Dion kan punya potensi. Sedangkan aku?" kata Celine murung.
"Aku apa? kau akan anak pembisnis besar. Tidak mungkin kau tidak tahu apa-apa. Karena kau tidak pernah ke kantor, bukan berarti kau buta akan segalanya, kan. Satu hal yang bisa kukatakan untukmu. Kau hanya tak punya kesempatan. Itu saja." kata Siane tegas.
Celine menganggukkan kepalanya pelan, Ya, ya, ya ... " gumamnya.
Siane membantu Celine menyajikan sarapan. Mereka lalu, duduk bersama dan sarapan. Celine meminta izin pada Siane untuk jalan-jalan. Agar ia bisa mengenal lingkungan sekitar. Siane awalnya ragu, ya ... meski di hari sebelumnya ia juga sudah mengajak Celine berkeliling untuk menunjukkan jalan. Tapi, melihat mata Celine yang menatapnya dengan tatapan mata yang memelas, membuat Siane tidak tega. Siane akhirnya mengizinkan Celine. Dengan syarat, Celine harus berhati-hati. Jawaban Siane membuat Celine senang.
***
Celine*
Ah, aku senang sekali. Ini adalah hari keduaku di negara asing ini. Kota yang menjadi tempat tinggalku adalah kota modern yang cukup ramai. Bukan, lebih tepatnya ramai. Sangat ramai.
Untuk sementara waktu ini, aku tinggal dengan sahabat baikku, Siane. Sampai kapan? itu masih menjadi tanda tanya besar. Jika ada yang bertanya, apakah aku Tak punya mimpi? tak punya angan atau keinginan? jawabanku adalah, aku punya semuanya. Baik itu keinginan, mimpi dan angan-angan.
Gila rasanya, jika aku memimpikan akan menjadi orang yang sangat sukses kedepannya. Impianku, aku bisa menjalani hidupku dengan baik dan bahagia, tanpa merepotkan dan bergantung pada orang lain. Aku ingin meraih semua anganku dengan kemampuanku. Bukan dengan menjadi bayangan, juga menjadikan orang lain sandaran. Cukup sekali aku mengalami hal buruk. Cukup sekali aku hidup menjadi bayangan.
Gila! aku terlalu jauh bermimpi rupanya. Ini siang hari, dan aku masih bermimpi tanpa usaha. Hahhh ... dasar Celine bodoh!
__ADS_1
Sepanjang jalan aku berpikir, bermimpi, berangan, dan berkeinginan. Aku juga memaki diri sendiri yang terlalu memaksakan keinginan. Entah apapun itu, mulai sekarang aku harus bisa menata masa depanku sendiri. Siane tidak mungkin selamanya akan ada bersamaku. Dia juga pasti akan menikah dan punya keluarga. Sebagai teman, aku tidak mau menghalanginya untuk bahagia.
Di perjalanan, aku melihat sebuah toko buku. Aku tertarik dan memutuskan untuk datang ke toko itu. Penjaga sekaligus pemiliknya sangat ramah menyapaku yang baru saja datang.
"Hallo, selamat siang, selamat datang." sapanya tersenyum.
Terlihat seorang bibi berusia sekitar lebih dari lima puluh tahun. Ya, mungkin beliau seusia Lidya.
"Hallo, apa boleh saya melihat-lihat?" izinku sopan. Aku tidak mau membuat bibi itu kesal dengan bersikap seenaknya.
"Tentu saja boleh. Silakan saja," jawabnya tersenyum lagi.
"Terima kasih, Bi." ucapku.
Aku langsung berjalan berkeliling di toko buku tersebut. Toko ini memang kecil, tetapi tempatnya cukup nyaman. Aku mencari buku yang kira-kira bisa kubaca.
"Hallo, Bi. Maaf aku terlambat. Pesananku sudah ada?"
Aku mendengar suara seseorang. Aku memalingkan pandanganku, kulihat seorang pria muda sedang berbincang dengan Bibi pemilik toko. Dari samping, pemuda itu nampak gagah dan keren. Sepertinya dia akrab dengan Bibi pemilik toko, sehingga ia terlihat sering melepas senyuman.
"Ah, itu dia. Pesananmu sedikit terlambat dikirim. Apa kau mau menunggu? mungkin sebentar lagi datang." Bibi itu terlihat merasa tidak enak pada pria muda itu.
Pria itu memandangi jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, "Oh, ok. Aku akan tunggu. Benar dikirim hari sekarang, kan?" tanyanya seakan memastikan.
"Ya, kurir mengatakan sedang dalam perjalanan. Aku tidak kira kau akan datang awal begini." kata bibi.
"Ya, aku kebetulan lewat, Bi." jawab pria itu.
Aku menemukan buku yang ingin kubaca. Aku lalu, duduk untuk melihat-lihat buku yang ingin kubaca ini. Tidak lama, pria itu ikut duduk. Dia duduk persis di hadapanku.
Saat aku menatapnya, aku terkejut. Wajahnya tampan. Ah, tidak! mungkin bisa kukatakan sangat tampan. aku memang biasa melihat pria rupawan, tapi kali ini pria yang kulihat berbeda. Ia memiliki pesonanya sendiri.
Aku langsung menutup wajahku dengan buku. Seakan tidak tahu , jika ia menatap dan tersenyum padaku.
"Hyuk, aku boleh menitipkan toko sebentar? aku mau ke toko bunga disebelah memberikan ini." Bibi itu memeluk sebuah amplop cokelat dan sepertinya sedang bicara dengan pria di depanku ini.
"Ya, Bibi. Aku akan jaga." jawabnya santai.
Aku terdiam berpikir, Bibi tadi memanggilnya Hyuk? Hyuk itu nama atau apa, ya? Dia memang terlihat seperti orang asing. Dia orang China? kurasa bukan. Jepang? tidak, Celine. Nama orang Jepang tidak ada yang seperti itu. Ah, iya. Korea. Dia pasti orang Korea.
Krena sibuk dengan pikiranku, aku sampai tidak sadar, jika toko buku mulai ramai. Pria itu pun dengan ramah dan tersenyum tampan menyapa pelanggan toko yang datang. Aku lebih kaget lagi, ternyata dia punya penggemar. Pria itu sepertinya populer dikalangan wanita, baik wanita dewasa ataupun anak muda.
Mataku terus menatap, bagaimana pria itu menyikapi para penggemarnya. Ya, dia cukup kaku. Dia hanya tersenyum, dan menghindar, jika ingin disentuh. Dia tidak banyak bicara, semua pertanyaan dijawabnya dengan senyuman.
Sesaat aku tersadar. Untuk apa juga aku memperhatikannya. Sudahlah, lupakan saja. Aku jadi tidak fokus membaca, tetapi yang jelas aku mau beli buku ini. Akan kubaca nanti di rumah.
Pada saat aku ingin berdiri dari posisi dudukku. Aku merasakan sesuatu yang aneh. Ya, seperti ada mata yang menatapiku. Dan, benar saja. Saat kupalingkan pandanganku, kulihat mata wanita-wanita itu menatapku tajam. Pria itu juga menatapku dan lagi-lagi tersenyum. Kali ini senyumnya lebar. Aneh sekali, apa yang terjadi? pikirku kebingungan.
Wanita itu tidak lagi mengerumuni pria itu, tetapi seorang wanita datang padaku. Dia bertanya sesuatu hal yang membuatku amat sangat terkejut.
"Hallo, aku Alexa. Aku mau bertanya padamu, Nona. Ah, maksudku Nyonya. Apakah pria itu, suamimu? pria itu mengatakan kami tidak boleh lagi mendekat, karena istrinya sedang mengawasi." kata wanita yang mengaku bernama Alexa, yang saat ini berdiri di hadapanku.
"A-a-apa?" jawabku kaget dan langsung melebarkan mata.
Langsung saja aku menatap ke arah pria itu, pria itu menatapku penuh harap dan memelas. Dia berharap aku membantunya. Tapi, apa? istri? apa pria itu sinting? au baru saja bercerai dan dia mengaku-ngaku menjadi suamiku? dasar, pria aneh! kuhapus semua kata-kata pujianku tentangnya. Bagiku, pria itu adalah, 'Orang aneh dan gila' juga jelek.
__ADS_1
"Kau diam saja? apa dia hanya mengaku-ngaku saja, agar kami tidak mengerumuninya?" tanya wanita itu lagi.
Aku bingung. Di sisi lain, aku ingin menolak. Dan aku juga ingin tahu alasan pria aneh itu menjadikanku perisainya seperti ini. Pada akhirnya, aku mengiyakan ucapan wanita itu. Aku pun berpura-pura mengaku sebagai istri dari pria aneh itu.
"Ya, aku istrinya." jawabku tegas.
"Siapa juga yang ingin jadi istrinya. Menjengkelkan," batinku menggerutu.
Apa yang kukatakan, berbanding terbalik dengan hatiku. Aku mas, tetapi aku sangat ingin tahu motif pria itu. Awas saja, jika pria itu tidak menjawab apa yang kutanyakan. Atau, jika ia tidak menjelaskan. Akan kuhajar dia.
Wanita yang bernama Alexa itupun meminta maaf padaku. ia bahkan mengatakan jika ia tidak akan mengganggu pria itu lagi. Ia mengaku, jika ia menyukai pria itu pada pandangan pertama sejak ia datang ke toko buku. Akan tetapi, pria itu hanya tersenyum tanpa menjawab bahkan merespon perasaannya.
Aku jadi semakin bingung. Entah kenapa aku punya hari-hari mengejutkan dalam hidupku sejak datang ke negara ini. Apa ini pertanda baik? tidak, tidak, tidak. KUrasa ini adalah pertanda buruk. Bagaimana bisa, aku setidak beruntung ini.
Setelah panjang lebar wanita di hadapanku bicara. Ia akhirnya membeli apa yang ia butuhkan dan pergi bersama teman-temannya. Hal itu dilakukan semua wanita yang tadi menempel seperti lem pada pria itu.
Aku diam menunggu semua orang pergi. Satu hal yang ingin kutanyakan pada pria itu. Apa maksud semua ini? Sekitar sepuluh menit kemudian, toko buku kosong. Aku langsung menghampiri pria itu dan menegurnya.
"Hei, kau. Jelaskan, apa maksudnya ini?" tanyaku tidak senang.
Pria itu melihat sekeliling. Ia seakan sedang memastikan sesuatu. Lalu, ia menatapku dan meminta maaf.
"Maaf, Nona. Aku terpaksa melakukannya. Aku tahu kau terkejut, tetapi aku tidak punya pilihan. Setiap datang ke sini, dan membantu Bibi, wanita-wanita tadi seperti lebah yang ingin menyengat. Kaena di sini, hanya kau satu-satunya wanita asing yang tidak pernah mereka jumpai. Makanya aku mengatakan, kau adalah istriku. Maaf. Kau bisa hukum aku," Pria itu menjelaskan detail alasan dia melakukan hal konyol seperti ini. Ia juga terus minta maaf.
Hahhh ... aku menghela napas panjang. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena dia juga terlihat tidak nyaman dikerumuni seperti itu.
"Baiklah. Anggap saja kau beruntung bertemu denganku. Aku terima permintaan maafmu. Aku mau bayar ini, bungkuslah." katakku memberikan buku yang kupegang
Pria itu menerima buku yang kuberikan lalu, dimasukannya buku itu ke dalam tas.
"Ambilah, aku belikan buku ini untukmu sebagai permintaan maaf." katanya memberikan tas dan menatapku.
Aku merasa tidak enak. Tapi aku juga tidak mau rugi. Aku pun menerima dan berterima kasih, karena dia mau membayar bukuku. Setidaknya aku punya harga atas apa yang kulakukan padanya.
"Ok. Thank you. ucapku.
"Ya, terima kasih kembali sudah membantuku." ucapnya.
Aku diam, aku berbalik dan hendak pergi. Namun, tiba-tiba dia memanggilku lagi.
"Oh, Nona ... " pangggilnya.
Aku memalingkan pandanganku, "Ya?" jawabku.
"Maaf ini terdengar tidak sopan. Tappi, apa boleh aku bertanya? apa kau baru datang ke kota ini? maksudku, kau baru berkunjung ke toko ini?" tanyanya terlihat penasaran.
"Ya, anggap saja begitu." jawabku yang langsung pergi.
Aku tidak mau lagi terlibat urusan dengan orang asing. Terlebih itu seorang pria. Cukup aku terlibat masalah dengan Dion dan Hezkiel saja. Dua pria yang benar-benar ingin ku hempaskan dari permukaan bumi ini.
Aku berjalan lagi menyusuri jalan. Sesaat aku merasa, JIka aku akan mengalami hal yang tidak terduga lagi ke depannya. Aku tidak tahu pa, tetapi instingku mengatakan itu.
Jika seperti ini, bagaimana bisa aku menata masa depan? Kemarin Joe, hari ini pria aneh, besok apa lagi yang akan terjadi? seolah semuanya menunggu giliran untuk memusingkan kepalaku.
Apa mimpi dan angan-anganku terlalu tinggi? apa aku sungguh seseorang yang bernasib sial? Aaaaaah ... aku akan gila sungguhan jika memikirkannya terus. Pada saat pikiran kacau begini, paling enak memakan makanan yang manis. Ya ... ayo, cari toko dessert atau kedai kopi yang ada di sekitaran sini.
__ADS_1
Tenanglah pikiranku, tenanglah. Ayo, kita berburu yang manis-manis. Jangan berpikir macam-macam. Ayo, ayo, ayo. Ku pasti bisa Celine. Aku pun menyemangati diriku sendiri.
*****