
Sebulan kemudian ....
Sesuai kesepakatan. Antonio dan Monna bertemu. Mau tak mau, Monna harus menemui Antonio karena sudah berjanji. Meski ia tahu, ia akan mendapatkan hukuman, karena masih belum bisa mendapatkan saham dari Hezkiel.
"Hai, sayang. Kau tampak cantik malam ini." puji Antonio, saat melihat kedatangan Monna.
"Pembohong besar! kau memujiku untuk menghukumku, kan?" batin Monna.
"Ya, terima kasih untuk pujianmu." jawab Monna tersenyum paksa.
Mata Antonio lekat menatap Monna, "Kau mengira aku berbohong, ya? tidak, Monna. Aku tidak berbohong. Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Kau memang berbeda malam ini. Terlihat sa, sangat cantik." ucap Antonio memuji lagi, dengan wajah bersemu merah.
Ponsel Monna berdering, "Ah, maaf. Aku lihat dulu siapa yang menelepon." kata Monna. Yang diikuti anggukan kepala oleh Antonio.
Monna merogoh dalam tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Ia melihat Hezkiel menghubunginya. Dahinya langsung berkerut, ia melirik ke arah Antonio.
Antonio menatap Monna, "Terima saja. Siapa tahu ada hal penting yang ingin dia katakan." katanya. Seakan tahu jika seseorang yang menghubungi Monna adalah Hezkiel.
"Apa tidak apa-apa? aku kan sedang bersamamu. Apa tidak menganggumu?" tanya Monna memastikan.
"Tidak masalah. Selama nanti dia tidak menganggu kesenangan kita." jawab Antonio santai.
Meski hatinya ragu-ragu, tetapi ia langsung menerima panggilan dari Hezkiel.
(Percakapan di telepon)*
"Ya, ha, hallo?" jawab Monna.
"Sayang, maaf. Aku baru membaca pesanmu. Apa kau sudah pergi?" tanya Hezkiel memastikan.
"Ya, aku sudah pergi. Aku juga sudah sampai di restoran tempat janjian dengan teman-teman modelku. Apa ada sesuatu? kau di mana?" tanya Monna ingin tahu.
"Aku baru sampai di restoran tempat janjian dengan dengan temanku. Tapi, aku masih di parkiran dan menghubungimu. Apa kau mau kujemput nanti?" tanya Hezkiel lagi.
Monna melebarkan mata melirik Antonio, "Ti, tidak perlu. Aku akan langsung pemotretan. Mungkin akan pulang terlambat, atau bahkan tidak pulang. Tidak apa-apa, kan." dusta Monna. Ia mengarang cerita untuk membohongi Hezkiel.
"Baiklah. Semangat bekerja, ya. Hubungi aku sewaktu-waktu, jika kau butuh bantuan atau apapun itu. Jaga dirimu juga."' kata Hezkiel lembut.
"Ya, terima kasih. Boleh kututup panggilanmu? aku merasa tidak enak dengan teman-temanku." Monna merasa tidak enak, karena Antonio terus menatapnya lekat.
__ADS_1
"Ya, sayang. Maaf, sudah menganggu waktumu." kata Hezkiel, merasa tidak enak hati. "Aku mencintaimu, muach ... " lanjut Hezkiel, memberi kecupan perpisahan.
"A, aku juga. Bye ... " Moona pun mengakhiri panggilan Hezkiel.
"Kenapa dia menghubungiku di saat seperti ini? harusnya kau cukup membalas pesanku, Kiel." batin Monna.
"Aku juga apa? apa dia menyatakan cinta? aku jadi cemburu," Tiba-tiba Antonio bersuara. Membuat Monna terkejut.
"A, apa?" tanya Monna bingung karena kaget.
Antonio mengubah posisi duduknya sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya terus melekat ke arah Monna tanpa mengalihkan pandangannya ke arah lain sedikit pun.
"Kenapa pria ini?" batin Monna semakin kebingungan.
"A,apa ada sesuatu? ke, ke, kenapa kau menatapku begitu?" tanya Monna ragu-ragu.
"Aku bertanya. Apa yang pria itu katakan di akhir ucapannya. Apa dia sedang menyatakan cinta padamu? dan kau membalasnya dengan menjawab , 'Aku juga' ?" Antonio merasa cemburu, tetapi ia tidak mau perasaan cemburunya terungkap.
"Kenapa cemburu? bukankah aku ini hanya milikmu? kau kan tahu, aku hanya berpura-pura dengan Hezkiel. Aku hanya menjalankan peranku sebagaimana mestinya." jawab Monna. Ia mencoba menenangkan amukan gelombang.
Antonio tersenyum, "Inilah yang membuatku semakin mencintaimu, Monna. Kau tahu posisimu dengan baik dan tahu batasan." kata Antonio memuji Monna.
Monna diam, ia tidak mau banyak bicara lagi. Antonio juga diam, tak lama ia memanggil pelayan untuk memesan hidangan makan malam.
***
Sudah satu bulan lamanya, ia berusaha keras mencari teman yang bisa membantunya memberi pekerjaan sementara waktu. Ia juga mencari teman ynag bisa diajaknya bekerja sama. Tetapi apa yang ia pikirkan, tidak mudah dijalani.
Meski Hezkiel tergolong anak orang kaya. Akan tetapi ia sekarang sedang dalam masa hukuman yang entah sampai kapan hukuman itu dibebankan padanya. Satu bulan ia tidak bekerja, ia sibuk ke sana-sini mencari orang yang bisa diajaknya kerja sama. Tapi, kebanyakan dari orang yang ditemui Hezkiel menolak. Meski di tolak dengan alasan pada umunya, Hezkiel merasa aneh. Ia menduga Papanya ikut campur.
"Kenapa susah sekali? bukankah mereka semua sudah lama mengenalku? aku hanya meminta sedikit bantuan, dan mereka langsung menolak tanpa mau mendengarkan penjelasanku lebih dulu. Mengesalkan sekali." gumam Hezkiel kesal.
Tidak lama, ia melihat sebuah mobil parkir di samping mobilnya. Dan ternyata itu adalah mobil seseorang yang sedang Hezkiel tunggu kedatangannya.
Melihat seseorang yang ditunggu sudah datang, ia langsung bersiap dan keluar dari dalam mobilnya. Ia lantas menghampiri seseorang yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Hallo, Tuan Gregory. Selamat malam." sapa Hezkiel.
Seseorang memalingkan wajah menatap Hezkiel, "Oh, hallo. Anda di sini, Tuan? apa Anda baru tiba?" tanya seseorang itu.
__ADS_1
"Saya sudah sejak tadi. Ya, sekitar lima menit yang lalu. Saya sengaja menunggu Anda. bukankah lebih baik kita masuk bersama-sama daripada seorang diri?" kata Hezkiel mengutarakan niatannya.
"Ya, benar juga. Ayo, kita masuk dan lekas pesan makan malam." ajak seseorang itu.
Hezkiel dan seseorang itu pun berjalan bersamaan menuju restoran yang ada tidak jauh dari parkiran. Mereka berbincang santai tentang pekerjaan di perjalanan menuju restoran.
Tidak lama, mereka pun sampai. Seorang pelayan mendekat dan menyambut Hezkiel dengan seseorang yang dipanggil 'Tuan Gregory' oleh Hezkiel. Seseorang itu, sebelumnya reservasi tempat atas namnaya.
"Hallo, selamat malam. SElamat datang. Apakah Tuan-tuan sudah memesan tempat, Tuan?" tanya pelayan. Setelah ia menyapa dengan ramah pelanggannya.
"Sudah. Atas nama Nathan Gregory." jawab seseorang yang sudah membuat janji makan malam dengan Hezkiel.
"Oh, baiklah. Saya lihat dulu di daftar." Jawab pelayan itu.
Pelayan itu melihat buku daftar pelanggan yang sudah memesan tempat dan mencari nama yang sudah disebutkan. Ternyata memang ada reservasi atas nama tersebut.
"Baik, Tuan. Silakan. Anda berdua ingin memilih meja di mana? di sini, di belakang atau di dalam? tanya pelayan.
Hezkiel dan Nathan saling bertatapan.
"Bagaimana, Tuan Winter?" tanya nathan.
"Apa kata Anda. Mau di mana saja tidak masalah." jawab Hezkiel tidak mempermasalahkan.
"Ok." jawab Nathan. Ia memalingkan pandangan ke arah pelayan, "Kami ambil ruangan dalam saja." Nathan menjawab pertanyaan pelayan.
"Baik, silakan lewat sini." Pelayan pun menunjukan menuju sebuah pintu. Di mana dibalik pintu itu ada sebuah ruangan lagi.
Hezkiel dan Nathan masuk ke dalam ruangan dan langsung mencari meja yang diinginkan. mereka duduk dekat jendela kaca transparan. Dimana dari dalam bisa melihat ke luar, begitu juga sebaliknya.
Keduanya langsung memesan hidangan makan malam dan minuman agar tidak menunda waktu. Hezkiel melihat sekeliling. Ia lalu, melihat ke arah luar dari jendela. Ia melihat cukup banyak pelanggan yang datang.
"Untungnya kita tidak duduk di sana tadi. Ramai sekali, kan?" tanya Nathan, yang juga melihat ke arah yang sama dengan Hezkiel.
"Ya, Anda benar. Sepertinya tempat belakang jadi tempat favorit pelanggan restorant ini, ya?" jawab Hezkiel.
"Ah, soal itu saya kurang tahu. Mungkin saja begitu. Anda lihat, banyak pasangan yang makan di sana. Saya juga berpikir seperti apa yang Anda pikirkan." jawab Nathan.
Hezkiel hendak memalingkan pandangannya, tetapi pandangannya justru terfokus pada sesuatu. Ya, matanya seperti melihat seseorang yang tak asing.
__ADS_1
"Monna ... " batin Hezkiel kaget dengan mata melebar.
*****