Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Kehilangan


__ADS_3

Pagi hari ini, saat dokter visite untuk memeriksa Vano betapa terkejutnya aku dengan pernyataan dokter,


“Kita pindahkan ke ICU sekarang, ini udah koma anaknya” kata dokter dengan nada keras


“Baik dok” kata suster menanggapi segera


“Ibu apa anaknya tidak menangis atau kejang tadi?” Kata dokter bertanya


“Tidak dokter” jawabku yang mulai panik


“Anak saya kenapa dokter?” Tanyaku yang mulai menitikkan air mata


“Ini koma bu putranya, karena tidak ada respon saat di suntikkan obat, harusnya dia bergerak bu”


“Ya Allah Vanoooo” kataku histeris yang di tenangkan oleh mbak Sari yang mengusap-usap punggungku


“Sabar non tenang dulu” kata mbak Sari yang coba menenangkanku, meski aku tau dia sama terkejutnya denganku


“Tolong selamatkan anak saya dokter” aku berbicara dengan tangis yang mulai pecah


“Saya usahakan semampu kami bu, saya permisi dulu” kata dokter mengakhiri pembicaraan kami


Vano segera di pindahkan ke ruang ICU, aku yang masih shock terduduk di lantai kamar rumah sakit ini, didampingi mbak Sari yang berlutut di sampingku dan berusaha menenangkan tangisku.


“Non sabar ya, yuk kita sholat sama-sama untuk kesembuhan den Vano”


“Vano mbak, Vano sedang berjuang mbak” kataku dengan tangis yang masih menggeru


“Iya non, ayo kita bantu den Vano untuk berjuang non” mbak Sari terus memberiku semangat, dan aku hanya dapat menganggukkan kepalaku lemah


Kami mengambil wudhu untuk menjalankan sholat Dhuha. Kami bersujud dengan kekhusyukan kami sendiri-sendiri, memohon untuk pemulihan Vano. Dengan air mata yang masih setia menghiasi pipiku.

__ADS_1


Setelah selesai sholat, aku keruang ICU dan meminta mbak Sari menungguku di kamar rawat Vano. Sebelum ke ruang ICU aku sudah menghubungi orang tua ku, mengabarkan kondisi Vano dan meminta bantuan doa untuk Vano, aku pun menghubungi orang tua Bagas dan juga sahabatku Retno, agar semakin banyak yang mendoakan kesembuhan Vano. Mereka semua yang aku hubungi terkejut, karena belum ada seminggu yang lalu mereka bertemu Vano yang ceria dan penuh tawa saat pesta ulang tahunnya.


Aku menatap Vano dari balik kaca ruang ICU, tubuhnya di penuhi alat-alat yang dulu hanya aku lihat di film-film kini aku melihatnya secara nyata, mengelilingi anakku yang masih kecil. Hatiku terasa sakit menatap anakku, semangat hidupku tengah berjuang untuk hidupnya, dan aku sebagai ibu tak dapat melakukan apapun selain berdoa memohon pada sang pemilik kami.


Selang satu jam dari aku memberikan kabar orang tuaku tentang kondisi Vano, saat ini mereka ada disisiku,


“Ma…. Pa…. Vano…” tangisku kembali pecah ketika orang tuaku datang menghampiriku di ruang ICU


“Sabar ya nak, banyak dzikir untuk kesembuhannya” kata mama ketika memelukku dan membelai punggungku, memberikan kekuatan untukku


“Dimana suamimu sayang?” Tanya papa yang tak melihat sosok Bagas disisiku, karena papa dan mama terlebih dahulu datang ke ruang rawat inap Vano dan mbak Sari memberitahukan keberadaanku di ruang ICU ini


“Dia gak pulang pa waktu aku bawa Vano kesini” kataku menunduk sedih dan malu karena sebagai istri aku bahkan tak tahu suamiku dimana


Papa hanya diam saja mendengarkan jawabanku. Mungkin papa tak ingin menambah beban pikiranku lagi, dan memilih untuk pergi meninggalkan aku dan mama di depan ruang ICU.


Saat ini pukul 13.23, aku yang sedang duduk dengan mama dan tengah berdzikir dikagetkan dengan suara langkah kaki dokter dan 2 orang suster yang berjalan dengan cepat, terlihat tengah tergesah-gesah dan jantungku langsung berdegub kencang, pandanganku langsung ku alihkan ke kaca di depanku. Aku tak mengerti alat medis tetapi yang aku lihat ada alat yang menunjukkan garis yang biasanya naik turun dan berjalan itu menjadi lurus, mataku beralih ke Vano yang perutnya tak lagi kembang kempis.


“Ibu orang tua anak Vano ya? Silahkan masuk bu” kata suster yang hanya mampu aku jawab dengan anggukan kepalaku


“Ibu yang sabar ya, putra ibu sudah meninggal, maafkan kami sudah berusaha semaksimal mungkin” kata-kata dokter bagaikan sambaran petir untukku


“VANOOOOOO” aku berteriak dan memeluk anak yang selalu menemani hari-hariku


“Dokter tolong dokter, selamatkan anak saya dokter” aku memohon pada dokter itu, menggoyang-goyangkan badannya


“Maafkan saya bu, saya sudah berusaha semampu saya, tapi Allah lebih menyayangi putra ibu”


“Vano kenapa tinggalin mama? Siapa yang temenin mama nak? Ayo bangun Vano kita main sama-sama lagi nak” tangisku semakin menggeru menggoyangkan tubuh Vano agar mau bangun dan sesaat kemudian aku terjatuh tak sadarkan diri.


Saat aku tersadar aku sudah berada di ruang rawat inap dengan mama yang menungguiku.

__ADS_1


“Ma vano pasti sembuhkan ma” kataku yang kembali menangis


“Ikhlaskan nak, jangan di beratin jalannya biar dia bisa tenang” kata mama yang ikut menangis


“Tapi siapa yang temeni aku sekarang ma? Selama ini Vano lah semangatku ma” kataku dengan tangis yang terus terurai


“Kamu punya mama, papa dan Allah nak. Ingat nak, Vano hanya titipan dari Allah, dan saat ini adalah saatnya kamu mengembalikan yang telah Allah titipkan” kata-kata mama menyadarkan aku bahwa semua didunia ini hanya titipan Allah, entah itu harta, tahta, bahkan pasangan.


Papa menghampiri kami diruang rawat ku, disini sudah ada mbak Sari, orang tua Bagas dan mama,


“Jenazahnya sudah selesai di mandikan, papa juga sudah mengurus semua administrasinya, ayo nak kita antar Vano ke tempat peristirahatan terakhirnya” kata papa memberikan kabar untuk memakamkan Vano


“Iya pa ayo” kataku lemah


Aku menaiki ambulance di temani mama dan mbak Sari, sedangkan papa menaiki mobil sendirian, dan mobilku di bawa oleh orang tua Bagas. Kami semua menuju tempat pemakaman Vano.


Sesampainya di pemakaman ternyata sudah banyak keluarga Bagas termasuk mbak Lila dan mas Arlo, dan keluarga Bagas yang lain serta keluarga mama dan papa.


Ada Bagas di sana pula, tengah menunggu kedatangan kami, entah dari mana dia tahu bahwa anaknya telah tiada, aku tak ingin memikirkan Bagas saat ini hanya Vano yang memenuhi pikiranku.


Aku kembali menangis tersedu ketika Vano di masukkan ke liang lahat, tangisku pecah karena kehilangan anak yang selalu menemaniku. Bagas memelukku,


“Mah yang kuat, ikhlaskan ya mah kasian Vano” kata-kata Bagas membuatku emosi


“Kasihan? Dimana kamu saat anakmu berjuang untuk hidup ha? Dimana kamu saat anakmu memanggil mu? Dimana kamu saat anakmu membutuhkan pelukmu? Dan sekarang kamu bilang kasihan? Masih punya hati kamu?” Aku marah, aku meluapkan semua emosiku dan menangis tersedu, tak perduli berapa banyak orang yang akan tahu masalah kami, aku tak lagi perduli. Pandanganku kembali menghitam, dan aku kembali tak sadarkan diri.


Bersambung……


...Hallo teman-teman yukz dukung aku lagi biar makin semangat update nya,...


...yang udah dukung terimakasih ya 😘🥰...

__ADS_1


__ADS_2