
2 Bulan Kemudian
Setelah sarapan pagi, mommy mengajakku ke taman belakang. Sekedar memandangi bunga-bunga dan berjalan menyusuri kebun anggur.
“Menurut dokter kapan perkiraan lahirnya sayang?” Aku berjalan bersebelahan dengan mommy saat mommy menyentuh perutku yang sudah sangat besar.
Mbak Sari ikut berjalan di belakangku, membawakanku air mineral karena aku yang lebih mudah lelah dan haus.
“Satu minggu lagi mom, nafas sudah berat aja rasanya.” Ya memang kehamilanku saat ini memang lebih terasa berat dari kehamilan pertama, perut yang jauh lebih besar karena apa yang aku mau selalu Steve sediakan.
“Buat berjalan-jalan ya, supaya proses lahirannya mudah.”
“Iya mom.” “Aduhhh..” Aku memegang perutku dan sedikit menunduk.
“Kenapa sayang.” Mommy nampak khawatir memegang lengan dan pinggangku.
“Seperti mulas dibagian bawah mom.” Aku meringis menahan sakit yang tidak lama kemudian menghilang.
“Mbak Sari tolong cepat panggil Steve ya.” Mommy memerintahkan mbak Sari untuk segera memanggil Steve, dan mbak Sari bergerak cepat dengan berlari menuju rumah utama sambil berteriak memanggil Steve.
“Masih kuat sayang?” Aku hanyak mengangguk sambil sesekali merasakan rasa nyeri pada perut bawahku, rasa nyeri yang timbul tenggelam.
“Apa jangan-jangan kamu mau melahirkan sayang?”
“Sepertinya begitu mom. Rasanya seperti dulu saat akan melahirkan Vano.”
“Aduh mana sih Steve ini lama sekali.” Mommy jadi semakin panik.
“Baby kamu kenapa?” Steve berlari sambil berteriak ke arahku.
“Istrimu sepertinya akan melahirkan Steve, cepat bawa kerumah sakit.” Mommy yang panik melihatku masih sesekali meringis menahan sakit.
“Ha? Baby kamu mau melahirkan? Aduh terus gimana ini?” Steve jadi ikut panik yang berlebihan karena kata-kata mommy.
__ADS_1
“Ya di angkat dong, terus bawa kerumah sakit Steve.” Mommy membentak Steve karena Steve yang kebingungan sendiri.
“Sayang, tenang dulu ya huftt..” Aku menarik tangan Steve untuk menenangkannya, sambil mengatur nafasku agar rasa sakit sedikit berkurang.
“Sayang aku masih kuat, bisa kamu antar aku ke rumah sakit?” Aku berkata dengan lirih agar Steve tak panik.
“Ayo ayo..” Steve berjalan cepat.
“Oh anak yang benar-benar b*d*h memang.” Mommy menepuk dahinya sendiri karena melihat tingkah Steve.
“Steveeee, gendong istrimu.” Teriak mommy pada Steve yang sudah berjalan meninggalkan kami.
“Oh Tuhan, maafkan aku sayang aku panik.” Jawab Steve bergegas kembali kearah kami.
Steve segera menggendongku dan membawaku ke arah mobil yang sudah siap dengan Paul yang mengantarkan kami ke rumah sakit. Mommy, daddy dan mbak Sari menyusul menggunakan mobil yang lain.
Sesampainya di rumah sakit aku langsung di observasi dan dilakukan serangkaian test untuk melihat sudah sampai pembukaan berapa proses kelahiran bayiku ini.
Rasa sakitnya mulai intens dan menurut dokter saat ini pembukaan sudah memasuki pembukaan 6. Aku yang merasakan sakitnya dengan Steve yang selalu setia disampingku.
Setelah 3jam berlalu dengan rasa kontraksi yang selalu aduhai, semua terbayar sudah dengan kelahiran seorang bayi yang tidak bisa dikatakan mungil, karena dia lahir dengan bobot 4.250gram. Bayi tampan berambut hitam legam itu memiliki kulit yang putih, entah wajahnya mirip siapa, aku masih belum bisa melihat kemiripannya, mirip Steve atau aku.
Aku yang kelehan setelah proses persalinan pun tertidur, sedangkan bayi gembulku sudah di gendong papinya, dan mungkin akan bergantian dengan oma dan opa nya.
Setelah beristirahat sebentar, ak dikagetkan dengan suara tangisan melengking milik bayi gembulku.
“Mami aku mau nen..” Steve yang sudah berdiri disampingku sambil menggendong bayi gembul itu, menirukan suara anak kecil.
“Uhsss sayang, dicubit papi ya nak? Sini sini sayang nen sama mami dulu sini.” Aku mendudukkan tubuhku dan merentangkan tanganku untuk menerimanya.
“Oh mami minta dicubit nih ya? Cubit yang enak ya mi? Hahaha” Steve meletakkan bayi gembul itu di tanganku, dan aku mulai menjalankan tugasku sebagai seorang ibu, untuk memberikan makanan pada anakku.
“NO papi, kan papi harus puasa lamaaaa. Hahahaha” aku membalas menggoda Steve
__ADS_1
“Oh No, ayolah sayang harus berapa lama aku puasa?” Wajah Steve berubah sedih.
“Ya paling sekitar dua sampai tiga bulan lah Steve.” Jawab daddy dengan wajah yang datar.
“Apa? Daddy juga puasa selama itu dulu? Yang bener aja dad.” Steve terkejut tak percaya dengan jawaban daddy nya, yang di jawab dengan anggukan pasti oleh daddy.
“Yang bener mom? Daddy puasa selama itu?” Steve kembali bertanya pada mommy untuk memastikan kebenarannya, sedangkan aku yang sedang menyusui bayiku hanya tersenyum bahagia saja, akhirnya aku bisa merasakan kembali menimang anakku.
“Kalau kamu berniat lebih lama dari daddymu juga boleh Steve, itu jauh lebih baik untuk Rheyna. Bukan begitu sayang?” Mommy ikut menggoda Steve dan mengerlingkan mata padaku.
“Bener banget mom, malah kalau bisa satu tahun gitu puasanya.” Aku menjawab asal sambil tertawa, yang di ikuti tawa kedua orang tua Steve, sedangkan Steve sudah dapat dipastikan wajahnya yang muram, dengan mulut yang dicondongkan hahaha.
Tawa keceriaan yang mengisi kamar VVIP ini sangat aku harapkan, dan seandainya saja kedua orang tua ku masih ada, mungkin kebahagiaanku jauh lebih lengkap. Dulu saat melahirkan Vano, hanya ada orang tuaku dan Bagas yang menemani, itu pun Bagas tak menemaniku melalui proses persalinan. Dengan Steve yang menemaniku dari awal hingga saat ini, membuatku mengerti betapa dia mencintaiku, walaupun aku belum benar-benar mencintainya.
Setelah kenyang menyusu, akhirnya bayi embull itu kembali tertidur.
“Sini sayang biar aku taruh di keranjangnya lagi.” Steve mengulurkan tangan untuk menerima bayi ini.
“Sayang sudah kamu kasih nama belum?” Tanyaku seraya menyerahkan bayiku.
“Junior Alexander. Bagaimana sayang?” Tanya Steve meminta persetujuanku.
“Bagus sayang. Kenapa gak dikasi nama keluargamu?”
“Biarkan dia berdiri dengan kakinya sendiri baby, jangan ada bayang-bayang kesuksesan orang tua nya, agar kelak dia bisa berhasil dengan usaha dan jeri payahnya sendiri.” Steve menjelaskan alasannya. Aku hanya mengangguk-angguk saja, menyetujui pilihan Steve.
Aku melibatkan Steve dalam semua hal, apa lagi yang menyangkut baby J ini, aku menjadi seorang ibu yang manja pada suaminya. Bukan tanpa sebab aku melakukannya, aku dulu pernah menjadi wanita yang mandiri, tetapi justru aku dikhianati. Biarlah suamiku saat ini merasakan aku sangat membutuhkannya dan menyayanginya.
Bersambung..
Maaf ya author lama update nya, bisa cuaca yang tidak menentu bikin body ora penak hehehe.
Owh iya yang nungguin Pov nya Arlo, sabar ya soalnya belum saatnya Arlo keluar, dia masih ngumpet di bawah ketiak Lila, upsss hahahaha..
__ADS_1
Sehat selalu untuk para pembaca semuanya, kiss kiss love love dari bang Steve..