Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Cafe


__ADS_3

Aku mengambil ipad yang ada di kamarku, membawanya ke tepi kolam renang. Aku mulai kembali menggambar, karena batas waktu lomba yang hanya tinggal beberapa hari saja.


Saat ini jam yang tertera di layar ipad ini menunjukkan pukul 10.27, dan ponselku berdering.


Steve Calling..


“Ya Steve?” Aku mengangkat panggilan itu dengan tangan yang masih tetap menggambar.


“Nanti sekitar jam 2 ketemu dicafe kemarin bisa Rhey?”


“Bisa Steve” jawabku sambil mengangguk-angguk, walaupun Steve tak bisa melihat anggukanku.


“Okay, see you”


“Okay” jawabku dan meletakkan ponsel retakku pada meja yang terletak tak jauh dari ku.


Aku masih terus menggambar, semua ide yang ada dikepalaku aku tuangkan dalam gambarku. Hingga waktu menunjukkan pukul 11.53, aku bergegas berdiri dan menghampiri mbak Sari yang sedang menyetrika jaket Steve.


“Mbak saya makan siang diluar ya, mau ambil laptop sekalian ngembalikan jaket itu” aku menunjuk jaket yang sedang di lipat mbak Sari.


“Lama non? Makan malam disini?” Mbak Sari menyerahkan jaket Steve yang sudah rapih dan harum.


“Sepertinya sore juga udah pulang sih mbak, saya makan disini aja”


“Oke non, kalau gitu saya masak nanti sore ya non”


“Iya mbak” aku meninggalkan mbak Sari dan berjalan ke kamarku untuk mandi dan bersiap-siap.


Pukul 12.38 aku sudah siap. Aku membawa paperbag, kotak ipad, sama seperti saat dipinjamkan ke aku beberapa saat lalu. Ipad dan ponsel aku masukkan kedalam sling bag ku.


Aku mengambil kunci mobil, dan berpamitan pada mbak Sari. Aku keluar dari ruang tamu di ikuti mbak Sari yang membukakan pagar. Masuk kemobil dan mengeluarkan mobil secara perlahan dan menjauh dari rumah itu.


Jalanan sedikit padat di jam makan siang seperti ini. Aku menyalakan lagu untuk mengusir sepi, dan lagu dari SO7 berjudul Melompat Lebih Tinggi.


Kita berlari dan teruskan bernyanyi


Kita buka lebar pelukan mentari


Bila ku terjatuh nanti kau siap mengangkat aku lebih tinggi


Seperti pedih yang telah kita bagi


Layaknya luka yang telah terobati


Bila kita jatuh nanti kita siap tuk melompat lebih tinggi


Bersama kita bagai hutan dan hujan


Aku ada karna engkau telah tercipta


Ah


Kupetik bintang untuk kau simpan

__ADS_1


Cahayanya tenang berikan kau perlindungan


Sebagai pengingat teman


Juga sbagai jawaban


Semua tantangan


Aku mengangguk-anggukkan kepalaku mengikuti irama, dan sesekali ikut bernyanyi.


Akhirnya sampai juga di cafe itu, tempat aku dan Steve bertemu untuk pertama kali. Setelah memarkirkan mobil dan aku memasuki area cafe. Memesan beberapa menu dan langsung membayarnya. Tak lupa aku memesan ice cream cokelat yang sudah 2 kali aku makan, dan aku sangat menyukainya.


Sambil menunggu Steve, aku mengeluarkan ipad itu dan meneruskan menggambarku. Sambil sesekali memakan ice cream yang sudah dikirimkan pelayan kemejaku. Aku duduk ditempat yang sama seperti saat bertemu Steve.


Saat sedang asik menggambar, suara seseorang mengagetkanku.


“Rheyna?” Orang itu memanggilku, membuatku menolehkan kepalaku.


“Lho mas Arlo?” Aku sedikit terkejut, pasalnya tak ada yang tahu aku disini.


“Lagi cari inspirasi ya?” Sambil berjalan dan duduk di kursi yang terletak persis di seberangku.


“Eh emm i-iya” jawabku gugup.


“Kenapa pindah gak kasi kabar? Pindah kemana sekarang?” Tanya mas Arlo sembari mengangkat tangan memanggil pelayan.


“Emm maaf mas, saya sudah banyak ngerepotin mas Arlo, sudah saatnya saya hidup mandiri, saya sudah banyak berhutang sama mas” aku menunduk tak berani menatap mata mas Arlo, karena alasan utama aku menjauh adalah karena aku tak ingin merusak rumah tangganya, dan aku takut dia mendekatiku lagi.


“Lantas bayarlah dengan cara yang benar” kata-katanya terdengar angkuh dan seperti menahan emosi.


“Ha? Maksudnya?” Aku terkejut, mengangkat kepalaku dan menatap kedalam matanya.


“Biar aku yang membayar hutang-hutangnya dengan cara yang benar” Steve sudah berdiri di samping kursi yang aku duduki “sorry honey, I'm late” ucap Steve sambil menundukkan badannya dan mencium keningku.


Aku benar-benar terkejut dengan ucapan mas Arlo dan sikap Steve. Begitu pula dengan mas Arlo yang terkejut melihat Steve.


“Mr.Steve?” Mas Arlo bertanya untuk meyakinkan pandangannya.


“Benar tuan Arlo” jawab Steve sambil tersenyum ke arah mas Arlo.


Pelayan datang membawa kopi hitam pesanan mas Arlo.


“Maaf ya sayang, aku terlambat” tangan Steve membelai pipiku dan tersenyum.


“Iya gak pa pa Steve” jawabku lesu


“Tuan Arlo, apakah anda mengenal kekasih saya?” “Dan, sepertinya kita janjian jam tiga, tapi anda sudah datang bahkan 1jam sebelumnya” Steve tersenyum sinis


“Rheyna adalah orang yang aku cin…”


“Mas Arlo ini kakak sepupu Bagas Steve” aku langsung memotong kata-kata mas Arlo.


“Oh I see, your exhusband” jawab Steve sinis.

__ADS_1


“Rhey, kamu sama Mr. Steve?” Mas Arlo bertanya ragu.


“Iya mas, Steve kekasihku” aku menjawab tanpa menatap matanya.


Ponselku berdering dari nomor yang tak ku kenal.


“Maaf aku angkat telepon dulu” di angguki mereka berdua.


“Hallo” Aku mengangkat telepon itu


“Iya hallo, maaf.. ibu yang menjual mobil di iklan yang tahun 2015 itu bu?” Penelepon memastikan kembali


“Iya pak benar itu mobil saya yang mau saya jual” aku memasang wajah serius.


“Bisa kurang ndak ya bu?” Orang itu menawar mobilku


“Maaf pak sudah pas itu” jawabku sambil tersenyum.


Tiba-tiba ponselku mati, dan aku baru ingat jika terakhir kali aku mengisi batrai ponselku kemarin pagi, pantas saja jika ponselku mati.


“Lho mobilmu kamu jual Rhey?” Mas Arlo melipat tangannya didepan dada.


“Iya mas, aku gak butuh mobil soalnya”


“Baiklah Mr. Steve saya akan berpindah meja untuk meeting kita” mas Arlo hendak beranjak dari tempat duduknya.


“Mas..” Aku mencegah mas Arlo untuk pergi “Duduklah sebentar lagi” aku sedikit-sedikit menata ucapanku.


“Ada apa Rhey?” Mas Arlo kembali duduk, dan sejenak menoleh pada Steve.


“Mas maafkan aku, apapun yang terjadi pada kita kemarin-kemarin itu adalah sebuah kesalahan, aku tak ingin merebutmu dari mbak Lila dan anak-anak. Aku mohon mengertilah posisiku, walaupun aku telah berpisah dari Bagas, tapi kita pernah bersaudara karena Bagas. Apa yang kamu rasakan itu bukan cinta mas, karena jika cinta maka kamu akan memahami perasaanku, jika cinta kamu gak akan menyentuhku” aku mulai menitikkan air mataku “semua yang kamu rasakan ke aku itu tak semestinya mas. Belajarlah membuka hatimu untuk mbak Lila, ada anak-anak kalian yang harus kalian jaga bersama.” Aku mengusap air mataku yang jatuh. “Maafkan aku mas, aku tak bisa membalas perasaan mas, aku menghormati mas seperti kakakku sendiri. Terima kasih untuk semua bantuan mas Arlo yang bahkan mungkin tak bisa aku balas, aku hanya bisa mendoakan mas Arlo dan keluarga supaya bahagia.” Aku mengakhiri ucapanku dan tersenyum pada mas Arlo.


“Rhey semua ini tak semudah yang kamu ucapkan” dengan mengusap wajahnya kasar, dia seperti orang yang putus asa.


“Maka berusahalah mas, aku yakin kamu mampu mas. Seperti aku yang tak mudah melupakan rasa sakit, tapi aku menikmati sakit itu hingga akhirnya aku dapat merasakan bahagia” Steve menarik tanganku dan menggenggamnya erat, memberikan aku kekuatan dengan senyumnya.


“Baiklah Rhey aku akan berusaha seperti yang kamu katakan. Tapi bolehkah aku menghubungimu?” Dia mencoba keberuntungannya.


“Boleh kalau sesekali mas, jangan setiap hari. Itu akan lebih menyakitimu” aku tahu ini tak mudah untuknya, tapi semua harus dia biasakan karena dia bukan lelaki single.


“Mr.Steve bisakah meeting hari ini kita tunda besok?” Mas Arlo menatap Steve yang masih setia menggenggam tanganku.


“Oh tentu saja tuan Arlo, sepertinya aku ingin menghabiskan waktu dengan kekasihku juga.” Balasnya dengan senyuman sinisnya.


“Baiklah kalau begitu, saya pamit” mas Arlo berdiri “Rhey mas pamit ya” pamitnya padaku.


“Iya mas, hati-hati” mas Arlo berlalu begitu saja.


Bersambung..


...Hari readers tercinta, terima kasih untuk semua like,vote,komennya. Untuk readers yang merasa cerita saya tidak sesuai dengan yang diharapkan, maafkan saya karena ini murni dari ide-ide saya, dan bukan saya tidak terima dikritik tapi tolong lebih bijaklah untuk mengkritik dengan kata-kata yang lebih sopan 😁😁😁...


...Authornya lagi PMS gaes 🤣🤣(kidding)...

__ADS_1


__ADS_2