
Hening mulai menyelimuti kamar ini,aku rasakan hembusan nafas Steve yang awalnya perlahan tiba-tiba berubah menjadi tarikan nafas panjang dan dalam,tak selang berapa lama tangan Steve yang memeluk lenganku mulai mengendur dan terjatuh disamping tubuhnya…..
“Sayang…” Jantungku tiba-tiba berdegup kencang,aku memanggil Steve tetapi tidak ada jawaban.
“Sayang,ayo sarapan. Kamu belum makan kan?” Tanyaku masih dengan perasaan dan jantung yang berdegup kencang.
Aku bangun dari posisi tidur di dadanya,melihat Steve memejamkan mata dan tersenyum air mataku mengalir begitu saja.
“Sayang ayo bangun” Aku mulai membelai pipinya,tetapi tidak ada pergerakan apapun.
“Sayang aku mohon ayo bangun” Tangisku makin pecah.
“Sayang aku mohon jangan bercanda seperti ini.” Aku mengguncang tubuhnya,tetapi tetap juga tidak ada pergerakan apapun.
“Sayang…..” Aku berteriak yang membuat mbak Sari berlari ke kamarku.
“Non ada apa?” Tanya mbak Sari dengan raut wajah panik.
“Steve mbak,dia…” Aku menjeda ucapanku.
“Aku bangunin tapi gak ada reaksi apapun mbak,liat mbak dia gak bernafas.” Aku meletakkan jari-jariku di depan hidung Steve,untuk menunjukkan pada mbak Sari.
“Ya Allah Tuan,ada apa?” Mbak Sari ikut menangis denganku.
“Biar aku panggil Ambulance.” Kataku sambil mengambil ponselku.
Ketika panik maka otak dan tangan jadi tidak singkron,otak memerintahkan telepon Rumah Sakit tapi tangan menekan tombol telepon yang lain.
“Iya halo Rheyna.” Suara diseberang sana mengejutkan aku.
“Maaf mas aku salah telepon,aku mau telepon Ambulance.” Jawabku hendak mematikan sambungan telepon.
“Tunggu Rhey,untuk apa kamu butuh Ambulance?”
“Steve mas, Steve…” Hanya mendengar nada suaraku saja dia bisa tau kemungkinan yang terjadi.
“Kamu tunggu di rumah,jangan panik ya biar aku yang hubungi Ambulance. Om Agus biar aku suruh menyiapkan IGD.”
Aku hanya mengangguk yang sudah jelas mas Arlo tidak akan tahu jawabanku.
Aku terduduk lemas disamping suamiku,menangis disamping tubuhnya yang diam tak bergerak sedikitpun.
__ADS_1
“Sayang,aku mohon jangan tinggalkan aku.”
“Kamu tahu anak-anak sangat butuh kamu sayang.”
“Non,sebenarnya apa yang terjadi? Tanya mbak Sari.
“Steve kena kanker otak stadium akhir mbak,aku baru tahu semalam.” Aku sedikit menjelaskan pada mbak Sari.
“Ya Allah tuan.” Mbak Sari sambil menutup mulutnya tidak percaya dengan yang terjadi pada Steve.
15 menit berlalu,dan Ambulance sudah ada didepan rumah kami. Satpam yang sudah diberitahukan oleh para asisten rumah tangga kami pun dengan sigap langsung membukakan pintu gerbang rumah kami. Beberapa tim medis langsung menuju kamar kami dengan diantar oleh mbok fitri. Saat beberapa tim medis melihat Steve,mereka saling bertatapan dan salah seorang tim medis yang bertugas memeriksa Steve,menggelengkan kepalanya pada rekannya.
“Ibu,kami akan membawanya ke rumah sakit terlebih dahulu.” Kata tim medis.
“Lakukan apapun yang terbaik untuk suami saya.” Jawabku cepat.
Setelah memindahkan Steve ke blankar,mereka mendorong blankar itu menuju Ambulance. Aku melihat mas Arlo ada disamping Ambulance.
“Rhey…” Mas Arlo menghampiriku saat melihat aku keluar dari pintu utama mengikuti blankar Steve yang sedang didorong.
Aku hanya menangis menatap mas Arlo.
“Kamu mau ikut Ambulance atau bareng aku?” Aku hanya menjawab dengan menunjuk ke arah Ambulance.
“Non,saya temani ya?” Mbak Sari menawarkan diri.
“Gak usah mbak,mbak Sari tunggu disini aja ya,tolong jagakan anak-anak ya mbak,jangan bilang apapun terutama pada Junior. Bilang aja kami keluar sebentar ada urusan.” Aku memberikan instruksi pada mbak Sari.
“Baik non.”
Ambulance sudah berjalan keluar dari halaman rumah kami,dan disusul dengan mobil mas Arlo dibelakangnya,suara sirine pun telah dinyalakan dengan suara yang keras dan tempo yang cepat, menandakan bahwa di dalam Ambulance terdapat pasien kritis.
Ada masker oksigen yang terpasang dipasang diarea hidung dan mulut Steve. Aku genggam tangan Steve saat duduk di sampingnya didalam Ambulance. Tiba-tiba aku rasakan ada sedikit pergerakan dari jari Steve saat aku genggam tangannya.
“Sayang…” Aku coba untuk memanggilnya dia tak ada jawaban, hanya saja sedikit senyum tersungging dari bibirnya yang tertutup masker oksigen.
Dilayar monitor jantung dan nadi tiba-tiba berbunyi nyaring dan panjang,yang awalnya hanya berbunyi “tit…tit…tit” beberapa waktu sekali ,dan sekarang berbunyi “tiiiiiiiittttttt……” membuat jantungku semakin tak karuan dibuatnya,aku takut dan bingung.
Perawat sibuk dengan alat-alat yang aku tak tahu fungsinya. Tiba-tiba pintu Ambulance sudah terbuka ,kami sudah sampai di IGD rumah sakit.
Dengan sigap para perawat segera menurunkan blankar dari dalam Ambulance dan segera mendorongnya masuk. Aku turun dibantu oleh mas Arlo, dan aku setengah berlari menyejajarkan langkahku dengan brankar Steve,tiba didepan ruang ICU aku dihalau oleh Prof. Agus.
__ADS_1
“Tunggulah disini Rheyna.” Kata Prof. Agus menghalangi langkahku.
“Tapi Prof….” Prof. Agus sudah berlalu meninggalkan aku sebelum aku selesai berbicara.
“Kita tunggu disini saja ya Rhey, biar om Agus yang memeriksa suamimu. Berdoalah agar kamu diberikan yang terbaik.” Mas Arlo membawaku duduk di kursi ruang tunggu ICU.
Air mata yang masih terus mengalir dengan otak yang penuh dengan pikiran,mulut yang tak henti menyebut namaNya,dalam suara yang sangat lirih dan nyaris tak terdengar aku berucap “Jika memang ini yang terbaik untukku menurut kehendakMu,maka aku ikhlas ya Allah” Entah apa yang aku pikirkan hingga aku bisa berucap seperti itu.
Aku baru teringat dengan mommy dan daddy,aku belum menghubungi mereka dan belum memberi tahu kondisi Steve saat ini. Aku segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku sweaterku,aku masih menggunakan baju yang sama seperti semalam. Aku menekan tombol calling,tak berapa lama ada suara diseberang sana yang menjawab.
“Hai sayang,tumben telpon mommy jam segini? Ini masih jam tiga low.” Pasti mommy sedang terlelap tidur saat aku menghubunginya.
“Steve mom…” Jawabku dengan suara tangis yang mengimbangi.
“Steve kenapa sayang?” Terdengar nada khawatir dari suara mommy.
“Steve gak sadarkan diri mom.”
“Apa? Oh no Steve.” Terdengar isakan tangis mommy diseberang sana. “Tunggu mommy sama daddy sekarang beli tiket ke sana sayang.”
“Iya mom,Rheyna tunggu mommy. Take care mom.” Aku menutup sambungan telepon dengan mommy dan masih menunggu harap-harap cemas.
Waktu berjalan begitu lambat saat aku menunggu kepastian keadaan Steve, belum ada 1 orang pun yang bisa aku tanya tentang keadaan Steve.
30menit berlalu,nampak seorang suster berjalan terburu-buru keluar dari ICU, aku bergegas berdiri dari duduk ku dan menghampiri suster tersebut.
“Sus, bagaimana keadaan suami saya?” Tanyaku,untuk menghentikan langkah kaki terburu-buru suster tersebut.
“Dokter sedang menanganinya bu,mohon ditunggu ya bu. Permisi.” Suster itu kembali melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan aku yang sedang tertegun dengan kondisi suamiku yang tak jelas.
“Duduklah Rhey,tunggu om Agus saja untuk lebih pastinya.” Mas Arlo menyadarkan ku dari lamunanku. Aku kembali ke tempat duduk ku semula.
15menit setelah suster itu keluar,kini Prof. Agus yang keluar. Wajah itu datar,bahkan terkesan sedih.
“Prof. Bagaimana kondisi suami saya?”
Prof. Agus menarik nafasnya dalam,kemudian menghembuskannya dengan berat.
“Maafkan saya Rheyna.” Sambil menggelengkan kepala dan menunduk.
“Jangan Prof. Jangan.” Aku menangis histeris.
__ADS_1
Bersambung…