Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Arlo Pov I


__ADS_3

Nama ku Arlo Yudhistira, aku adalah suami dan ayah dari dua orang putri cantik yang masih berusia 6 tahun dan 2 tahun. Aku adalah saudara sepupu Bagas.


Aku pemilik beberapa buah perusahaan yang sedang ku kembangkan,aku mulai membangun usahaku sejak aku lulus SMA dan mencoba membiayai kuliahku dengan usahaku sendiri,karena aku terlahir bukan dari keluarga yang berada. Tiga belas tahun aku bekerja keras membangun dan mengembangkan usahaku hingga aku bisa memiliki beberapa usaha yang lainnya.


Saat pernikahanku memasuki usia 5tahun dan putri pertamaku berusia 4tahun,aku bertemu seorang gadis saat aku sedang mengurus rekening perusahaanku yang baru,aku memang pemilik perusahaan tetapi aku selalu mendatangi bank jika aku memerlukan bantuan untuk pembukaan rekening perusahaanku,walaupun dari pimpinan cabang sudah menawarkan aku untuk duduk manis saja dan dia yang mengurus semuanya,tetapi aku tak menginginkannya. Gadis manis yang membuat aku selalu ingin memandangnya. Gadis dengan rambut yang di gelung rapih,dengan senyumannya yang manis,dan kulit sawo matangnya,matanya yang indah dengan bulu matanya yang lentik,dan hidungnya yang mancung,membuat aku selalu tersenyum menatapnya,melihatnya menyapa para nasabah dengan ramah dan sopan,membuat aku diam-diam mengaguminya, Ya aku hanya mampu mengaguminya dalam diamku karena aku sadar statusku yang sudah memiliki istri,walaupun aku tak benar-benar mencintainya,karena aku menikahinya atas desakan orang tuanya yang adalah rekan bisnisku sekaligus kawan lama orang tuaku.


Terakhir aku mendatangi Bank itu satu minggu sebelum pernikahan Bagas,aku berniat memberanikan diri untuk berkenalan dan meminta nomor ponselnya,tetapi sayang dia sudah tak lagi bekerja menurut pimpinan cabangnya dia akan meneruskan kuliahnya. Aku pikir itu cara Tuhan untuk menjauhkan dia dariku agar aku tak menyakiti istri dan anakku. Aku berhenti berharap,ya ada rasa kecewa di hatiku namun aku tahu mungkin ini yang memang harus terjadi.


Betapa terkejutnya aku saat menghadiri ijab khabul pernikahan Bagas,wanita yang dipersunting Bagas adalah gadis manis yang sering membuatku tersenyum hanya karena melihat senyumnya. Seolah semakin menyadarkanku harus bagaimana mengelolah sikapku kedepannya. Aku memutuskan untuk melupakan gadis itu,gadis yang baru aku ketahui namanya saat Ijab khabulnya Rheyna Aurora,nama yang cantik untuk gadis yang manis.


Setelah ijab khabul selesai aku menghampiri Bagas dan gadis manis itu, mengulurkan tanganku dan mengucapkan selamat pada Bagas,


“Selamat ya gas,semoga langgeng sampai kakek nenek” aku mengucapkan selamat pada Bagas


“Aamiin, makasih mas” Bagas menjawab sambil tersenyum


“Selamat ya mbak” Aku beralih pada gadis manis itu dan mengucapkan selamat


“terima kasih mas” Gadis itu membalas tanganku dan tersenyum


“Eh Rhey belum kenal sama mas Arlo kan?” Tanya Bagas pada istrinya,yang hanya di jawab dengan gelengan kepala dan senyuman


“Mas Arlo ini bos dikantorku Rhey,dia yang punya punya perusahaan,anak Budhe Lusi” Bagas menjelaskan siapa aku pada gadis manis itu


“Salam kenal mas Arlo” kata gadis manis itu dan kembali tersenyum


“Sama-sama” jawabku salah tingkah,melihat senyumnya saja membuat jantungku berdetak lebih cepat


“Aku pamit dulu ya,kasian mbak Lila cuma ditemani si mbok ngurus dua anak” kataku menjelaskan

__ADS_1


“Iya mas,nanti kalau libur aku main sana,sekalian nengokin ponakan yang baru lahir” jawab Bagas,dan gadis manis itu hanya kembali tersenyum padaku,dan lagi-lagi aku hanya bisa membalas senyumannya itu dan berlalu pergi meninggalkan acara tersebut.


***


Seminggu setelah bertemu dengan gadis manis itu saat acara pernikahannya,Bagas membawa gadis manis itu kerumahku untuk melihat putri ke dua ku yang lahir 4 bulan yang lalu,saat Lila melahirkan hanya orang tua Bagas saja yang mengunjungi kami,dan kini Bagas baru mengunjungi kami lagi.


Gadis manis yang tidak terlalu banyak bicara dan hanya menjawab apa yang di tanya saja itu seperti menyimpan banyak kepedihan di hatinya,entah mengapa aku seolah merasakan kepedihan dari senyum manisnya itu.


“Rheyna kerja dimana?” Tanya Lila pada gadis manis itu


“Di Bank NIB mbak” jawab gadis manis itu


“Ow ya? Bank NIB mana? Mas Arlo Nasabah prioritas di bank itu low,ya kan Yah?” Pertanyaan Lila membuat aku malas,karena lagi-lagi dia berusaha menyombongkan kekayaanku dan aku tak menyukai itu


“Bank NIB Panglima Sudirman mbak,saya cuma teller kok mbak,masih pegawai rendahan” jawaban gadis manis itu membuat aku semakin tak enak hati


“Orang tuamu kerja dimana Rhey?” Tanya Lila kembali


“Yuk makan dulu,ngobrolnya dilanjutkan nanti lagi” kataku menyela pembicaraan mereka,karena semakin lama yang ku dengar Lila semakin berusaha merendahkan Rheyna dan berusaha menyombongkan kekayaan kami


Saat makan malam….


“Bagas sekarang pegang proyek punya mas Arlo yang apa?” Tanya Lila membuka pembicaraan


“Masih proyek yang lama kok mbak” jawab Bagas santai


“Kerja yang lebih giat gas,udah punya istri biaya lebih banyak low,apa lagi kalau istrinya hobby shopping dan belanja barang mewah” kata-kata Lila membuat aku semakin malas menyelesaikan makanku,


“Untungnya Rheyna orang yang hemat mbak,gak suka shopping juga” jawab Bagas masih dengan nada santai dan cueknya

__ADS_1


“Jangan samakan semua orang dengan kebiasaanmu dong ma” jawabku telak,


“Ya kan yang penting suamiku mampu,kalau suamiku gak mampu masih ada orang tuaku yang mampu membiayai hidup mewahku” jawab Lila semakin membuatku muak


“Orang kaya mah bebas mbak” jawab Bagas sembari tertawa


“Tuh Bagas aja paham yah,ayah aja yang gak paham” jawab Lila


Aku menyudahi makanku dan kembali ke ruang keluarga untuk bermain bersama anak pertamaku Salsa, tak lama berselang Bagas,Rheyna dan Lila menyusulku ke ruang keluarga.


Salsa senang bermain dengan Rheyna,dia sabar menanggapi tingkah manja Salsa,dan dia itu membuat Salsa betah bermain dengan Rheyna.


Aku mencari Bagas kesekitar rumah,karena waktu sudah menujukan pukul 20.35,Bagas tiba-tiba menghilang meninggalkan Rheyna yang sedang bermain dengan Salsa. Saat itu aku berpikir mungkin Bagas mencari tempat untuk merokok,dan aku mencarinya di taman belakang rumahku ternyata dia gak ada di sana,aku berjalan menuju ruang tamu dan aku melihat pintu ruang tamu sedikit terbuka,saat aku akan membuka lebar pintu itu,aku mendengar suara Bagas,


“Ah sayang kamu gemesin banget sih,bikin aku makin kangen kamu deh” kata Bagas entah pada siapa dia bicara


Aku masih berusaha mencuri dengar percakapannya,aku ingin meyakinkan pendengaranku bahwa itu benar suara Bagas,


“Iya sayang besok kita ketemu ya,aku jemput kamu besok ya,miss you sayang” kata-kata mesra itu jelas bukan untuk Rheyna karena aku tahu Rheyna sedang bermain bersama Salsa,dan benar itu suara Bagas


Aku membalikkan badanku dan berusaha menjauh dari pintu dan berpura-pura berteriak memanggil Bagas


“Gas…. Bagas….” Aku berpura-pura memanggil


“Ya mas” Bagas menjawab panggilanku dan kemudian masuk dari pintu yang sedikit terbuka itu


“Ajak istrimu pulang gas,sepertinya dia sudah lelah dan ini juga sudah cukup larut” aku menyuruh Bagas membawa isrinya pulang


“Iya mas ini mau pulang juga mas” jawab Bagas,

__ADS_1


Tak lama berselang Bagas dan Rheyna pulang,aku terusik dengan pikiranku sendiri,mempertanyakan siapa orang yang berbincang mesra dengan Bagas di telepon tersebut,teteapi aku tak punya hak apapun untuk mencampuri urusan Bagas.


Bersambung…..


__ADS_2