Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Panti Asuhan


__ADS_3

Tanpa sadar sepanjang perjalanan aku tertidur. Dengan mendengarkan lagu instrumen milik Kenny.G membuat tidurku terasa menenangkan.


“Batalkan dulu untuk meeting pagi ini, pindahkan setelah makan siang.” Sayup-sayup aku dengar seseorang berbicara lirih.


“..”


“Iya, sampaikan permintaan maafku untuknya. Aku ada urusan penting pagi ini” aku membuka mataku dan ku lihat Steve sedang berbicara di ponselnya, dan dia memunggungiku.


“..”


“Okay” Steve mengakhiri panggilan ponselnya, dan menolehkan kepalanya ke arahku.


“Hei sudah bangun?” Dia terkejut melihat aku sudah terbangun.


“Kenapa gak bangunin aku?” Aku mengedarkan pandangan kesekeliling, dan ternyata aku tengah berada di parkir apartemen.


“Baru aja sampai kok, dan aku menelepon sebentar” Steve meletakkan ponselnya.


“Ya udah kalau gitu aku turun dulu, terima kasih banyak Steve untuk semua bantuanmu” aku mengangkat jaket Steve dan membenarkan sweater yang aku gunakan.


“Acaramu apa hari ini?” Steve seperti menahan langkahku yang hendak membuka pintu mobil.


“Aku mau berkemas untuk pindah kerumah mama sementara, menumpang di panti asuhan sambil menunggu mendapatkan rumah kontrakan Steve” aku menjelaskan rencanaku.


“Dimana rumah mamamu?”


“Adalah disuatu tempat, kamu gak perlu tahu Steve, toh aku disana hanya sementara” aku menolak memberi tahukan rumah mama padanya.


“Baiklah Rhey, beritahu saja jika kamu membutuhkan bantuanku” dia tersenyum.


“Baiklah Steve, aku pamit dulu ya, terima kasih” aku membalas senyumnya dan kemudian keluar dari mobil.


Aku berjalan masuk dengan segera tanpa mau menoleh kebelakang lagi. Dengan segera menekan tombol lift, yang membawaku naik ke lantai tujuanku.


“Assalamualaikum” aku membuka pintu apartemen dan memberikan salam.


“Wa’alaikumsalam” jawab mbak Sari dari balkon, sedang mengangkat jemuran.

__ADS_1


“Mbak, ayo segera berkemas” aku menghampiri mbak Sari.


“Mau kemana non?” Mbak Sari menoleh ke arahku sambil memegang jemuran yang sudah di angkat.


“Sementara kita pindah dirumah mama dulu ya mbak, nanti saya sekalian cari rumah. Saya mau iklankan mobil juga soalnya” aku dengan wajah lesu ku .


“Karena den Arlo menyelinap masuk ya non?”


“Ini apartemennya mbak, saya gak punya hak untuk usir dia. Tapi, saya juga gak suka dia mengambil kesempatan dengan menyelinap masuk” aku menjelaskan ketidak sukaanku.


“Baik non, saya ikut yang non rencanakan aja” mbak Sari mengikutiku masuk karena sudah selesai mengambil jemuran.


“Okay mbak, ayo kita segera berkemas mbak. Yang dikulkas biarkan saja mbak. Sudah jam segini, nanti dia keburu datang” jam sudah menunjukkan pukul 09.25, berarti waktu kami tinggal sekitar 2 jam sebelum kemungkinan mas Arlo datang.


“Oke non” kami masuk ke kamar masing-masing dan mulai mengepak semua barang-barang kami.


Mbak Sari sudah selesai terlebih dulu, karena barang-barang mbak Sari yang tak banyak.


1jam berselang aku sudah selesai mengemasi barang-barangku.


“Ayo non, sini saya bantu non” mbak Sari mengangkat 1 tas yang berisi pakaian kotorku tadi, dan aku membawa 1koper yang berukuran sedang dan 1 tas slempang yang berisi ponsel, ipad, dan charge, serta dompetku. Sedangkan perhiasaan-perhiasan aku letakkan di tas bajuku.


Kami meninggalkan unit apartemen itu dan turun ke arah parkir mobil. Meletakkan semua koper disana dan pergi meninggalkan apartemen.


“Assalamualaikum” ketika sampai di rumah mama yang telah beralih fungsi menjadi panti asuhan.


“Wa’alaikumsalam, lho kak Rheyna” Ranti lah yang menjawab salamku. Ranti adalah salah satu gadis penghuni panti asuhan ini, usianya baru 13 tahun.


“Bu Yuli ada dek?” Aku tersenyum dan menanyakan apakah Bu Yuli, kepala panti asuhan ini ada.


“Ada kak, masuk dulu yuk. Ranti panggilkan ibu dulu” setelah mencium tanganku, Ranti beranjak masuk memanggil Bu Yuli.


Aku dan mbak Sari duduk di sofa ruang tamu, menunggu Bu Yuli. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar, tak ada yang berubah hanya saja rumah ini menjadi lebih ramai.


“Lho nak Rheyna, tumben nih kesini?” Tanya Bu Yuli, karena aku yang memang jarang mngunjungi tempat ini.


“Iya bu, mau merepotkan Bu Yuli” aku sedikit tertawa “Bu Yuli sehat?”

__ADS_1


“Alhamdulillah nak, ya ini cuma asam urat aja yang kadang kambuh nak” bu Yuli sambil sedikit memijat kakinya.


“Jaga kesehatan ya bu, anak-anak disini pasti sangat membutuhkan ibu”


“Iya nak, gimana-gimana? Apa yang bisa ibu bantu?”


“Gini bu, kalau saya sama mbak Sari numpang disini sekitar dua sampai tiga hari bolehkah bu?” Aku bertanya dengan sopan, meskipun ini rumah orang tua ku tetapi rumah ini sudah di hibahkan untuk mereka.


“Ya ampun nak, ya tentu boleh dong, rumah ini kan rumah orang tua nak Rheyna yang berarti rumah nak Rheyna juga. Ayo nak mana barang-barangnya, dimasukkan dulu sini yuk, biar di bantu anak-anak” “Nduk, Ranti sini nduk” Bu Yuli memanggil Ranti.


“Iya bu” jawab Ranti menghampiri kami.


“Antar kak Rheyna dan mbak Sari ke kamarmu dulu ya, kamu tidur sama Marni dan Lita dulu ya nduk”


“Baik bu” “Ayo kak saya antar ke kamar” Ranti menggandeng tanganku berjalan masuk ke kamar yang dulunya adalah kamarku.


Aku merebahkan tubuhku sejenak dikamar ini. Mbak Sari yang melihat aku kelelahan dan tertidur pulas, membantuku mengeluarkan semua koper yang ada di mobil dan meletakkannya di kamar. Kemudian mbak Sari membantu bu Yuli memasak untuk makan siang seluruh penghuni panti.


Jam 12.05 mbak Sari masuk ke kamar dan membangunkanku yang tengah tertidur.


“Non, ayo makan dulu” mbak Sari mengguncang bahuku perlahan.


“Eeemmmm iya mbak” aku menarik kedua tanganku ke atas untuk meregangkan otot-ototku, kemudian duduk terlebih dahulu di tempat tidur agar tak migrain, karena jika aku langsung berdiri saat bangun tidur, aku pasti langsung migrain.


Aku dan mbak Sari makan bersama semua anak-anak dan bu Yuli. Makan di satu meja besar dengan banyak kursi disisi-sisinya.


Panti ini di huni oleh anak-anak yang sudah bersekolah, paling kecil berusia 8 tahun dan paling besar berusia sekitar 16 tahun. Ada sekitar 15 orang anak yang tinggal disini, anak laki-laki menempati ruangan atas, sedangkan anak perempuan di lantai bawah.


Sebenarnya ada juga anak bayi dan balita, tetapi bu Yuli tak membawa mereka kemari, karena kamar-kamar disini sudah penuh terisi, jadi bu Yuli sementara meninggalkan anak-anak di Jombang, sambil menunggu rumah ini sedikit-sedikit direnovasi.


Kami makan dalam suasana kekeluargaan, tidak pernah aku meraskan suasana kekeluargaan seramai ini. Aku yang anak tunggal selalu makan hanya bertiga dengan kedua orang tuaku. Saat menikah pun aku hanya makan seorang diri.


Disini aku melihat mereka yang tak memiliki orang tua bahkan saat mereka masih kecil, tetapi mereka tetap bisa berbahagia, lantas aku yang sudah sebesar ini, apa yang kurang ku syukuri.


Bersambung..


...Maaf ya readers tercinta, updatenya bolong-bolong, maklum emak-emak harus ngurusin anak-anak online dulu nih hehehe…...

__ADS_1


__ADS_2