
Mobil yang dia lajukan berjalan cepat meninggalkan rumah wanita itu. Membelah jalanan yang tak lagi ramai.
“Maafkan aku membuatmu membuang waktu untukku” aku membuka pembicaraan
“Santai aja, aku yang mendatangimu untuk membantumu kok, jadi jangan gk enak hati ya” sambil menepuk pundakku pelan
“Kasian anak istrimu kamu tinggal” kataku menyesal
“Mereka sedang baik-baik saja, sedangkan kamu lebih membutuhkan dukungan”
“Siapa kamu sebenarnya? Aku merasa mengenalmu tapi aku bingung siapa kamu?” Kataku sambil menatap dia yang sedang menyetir.
Dia tertawa terbahak-bahak,
“Hahahaha, mau tau ya? Mau tau banget atau mau tau aja?” Dia menjawab dengan bercanda
“Hemmm, ya udah kalau gak mau kasih tau” jawabku sambil memalingkan wajah dan menatap ke arah luar jendela,
“Dih ngambek nih” sambil melirikku, menepikan mobil di pinggir jalan yang mulai lengang.
“Ngadep sini dong, katanya pengen tau” dia membujuku untuk kembali menghadapnya. Aku memutar badanku kembali untuk melihat siapa dia sebenarnya.
Dia membuka topinya dan membenarkan tatanan rambutnya.
Aku terkejut dengan mata yang membulat,
“KAMU…..” aku menutup mulutku karena terlalu terkejut dan tak percaya, sosok yang memang aku kenal
“Iya ini aku Rhey, Arlo” sambil membuka maskernya dia menyebutkan siapa dirinya
“Ya Allah mas Arlo, kenapa bisa?” Aku masih dengan keterkejutanku, tak percaya bahwa yang memperhatikanku selama ini adalah saudara sekaligus boss Bagas.
“Nanti aku jelaskan semua ya” katanya sambil tersenyum
“Kok bisa sih” kata-kata itu yang berkali-kali aku ucapkan.
“Udah gak usah dipikirin, aku anter pulang dulu ya” katanya menginterupsi
__ADS_1
“Aku pulang kerumah mama aja mas” aku yang malas bertemu Bagas memilih untuk pulang ke rumah mama
“Jangan ke rumah orang tua mu dulu Rhey, kasian mereka kalau melihat kondisimu seperti ini” yang dikatakan mas Arlo memang benar, kalau mama papa melihat kondisiku yang seperti ini pasti mereka akan sangat khawatir.
“Ya udah mas, turunin aku di hotel saja” kataku kemudian yg di jawab dengan anggukan kepala mas Arlo
Selang beberapa saat mas Arlo memasukkan mobilnya ke arah parkiran apartemen mewah di tengah kota ini,
“Mas kok ke aprtemen?” Kataku yang ingin menolak
“Dari pada kamu sewa hotel berbayar, mending kamu tempati apartemenku ini Rhey, bisa bantuin aku bersihkan juga karena gak pernah di tempati juga” dia meminjamkan apartemennya untuk aku tinggali sementara,
“Tapi mas, aku gak enak sama mbak Lila” ya aku gak mau dikira orang wanita simpanan
“Tenang aja dia gak tau aku punya tempat ini, ini tempat persembunyianku kalau lagi banyak masalah” katanya sambil tersenyum ke arahku
“Ayo turun” ajaknya yang sudah memakai masker dan topi nya kembali
“Kenapa dipakai lagi? Takut ada yang lihat ya? Takut dikira selingkuh ya?” Kataku mengejek
“Takut banyak yang iri sama kamu, karena bisa bersama lelaki setampan aku hahahaha” katanya kemudian turun dari mobil
Untunglah apartemen ini tak terlalu ramai sehingga aku tak terlalu malu untuk berjalan dengan mas Arlo, bukan karena dia tak tampan tapi karena dia suami orang, aku malu dikira pelakor.
Kami menaiki lift dan mas Arlo menekan tombol 38, aku berdiri di pojokan paling belakang lift, dan mas Arlo berdiri di depanku tetapi dia berada di ujung dekat tombol lift. Tiba-tiba ada dua orang pemuda yang ikut masuk kedalam lift bersama kami. Pemuda yang pertama kali masuk berdiri di dekatku, sedangkan temannya menekan tombol lift. Nampaknya mereka tengah mabuk, dari aromanya tercium bau alkohol. Pemuda yang berdiri di sampingku menatapku tak berkedip, seperti hendak menerkamku.
“Sayang udahan dong ngambeknya” tiba-tiba mas Arlo mendekatiku dan memposisikan adirinya di antara aku dan pemuda itu, aku yang terkejut hanya bisa berkata “Ha?”
Pemuda itu sedikit mendorong mas Arlo,
“Mas nya mau godain dia ya?” Kata pemuda mabuk itu
“Maaf mas dia istri saya lagi ngambek” kata mas Arlo mengarang cerita dan semakin membuat aku terkejut
“Ah bohong, mana buktinya?” Pemuda itu tak percaya dengan omongan mas Arlo
“Udah deh din, loe mah resek ih” kata temannya menarik pemuda itu untuk menjauh dari kami
__ADS_1
“Pa’an sih, itu masnya mau ngambil inceran gue” kata pemuda mabuk itu
“Itu bininya cuy” kata temannya memberi tahu
“Bukan, tuh dia gak bisa buktiin, lakinya aja kagak pake cincin kawin” katanya masih menyakal
Kami hanya bisa diam saja, aku yang mulai takut hanya bisa menunduk saja
“Kalo bener itu bini loe, cium dia sekarang, kalau dia gak nolak berarti bener itu bini loe, cium dibibirnya jangan pipi kayak temenan aja hahahaha” kata pemuda itu ngaco.
Mas Arlo menghadap ke arahku, memegang daguku agar aku mendangak menatap dia, kemudaian berkata “Maaf”
‘Cup’ bibirnya menempel pada bibirku, aku yang terkejut hanya bisa membolakan mataku, seperti patung untuk beberapa saat. Ketika aku mulai sadar dan hendak mendorongnya, mas Arlo malah memeluk pinggangku erat dengan tangan kirinya, dan tangan kanan di gunakan untuk memegang tengkukku dan membelainya.
Aku terbuai sejenak hingga suara denting lift berbunyi di lantai 35 dan kedua pemuda itu keluar dari lift,
“Maaf ya mas, silahkan dilanjutkan” kata teman pemuda mabuk itu meminta maaf, di jawab dengan lambaian tangan mas Arlo yang dia kibas-kibaskan ke atas seolah tengah mengusir nyamuk.
Aku kembali tersadar dan mendorong mas Arlo untuk menjauhiku. Jantungku berdegub kencang, aku malu karena aku sempat terbuai. Aku terdiam dan mengatur nafasku karena jantungku yang berdetak sangat kencang. Aku menunduk bingung harus apa.
‘Ting’ pintu lift pun terbuka
“Yuk” mas Arlo menarik tanganku, entah kapan dia membenarkan letak topi dan maskernya.
Aku berjalan sambil menunduk karena bingung, jantungku yang tak berhenti berdetak dengan cepat. Tangan mas Arlo masih setia menggandengku sampai dia berhenti di depan pintu, menekan password dan kemudian ‘Ceklek’ pintu pun terbuka.
“Yuk masuk” ajaknya, dia sudah tak lagi menggandeng tanganku
Aku masuk dengan perlahan, berdiri di balik pintu sedangkan mas Arlo sedang menyalakan lampu-lampu diruangan itu.
Ruangan yang cukup besar untuk ditinggali seorang diri. Aku mengedarkan pandangan pandangan, apartemen yang bergaya modern minimalis ini terasa mewah. Terdapat dua kamar tidur disini, ada ruang tamu yang merangkap sebagai ruang televisi, ada dapur dan meja makan di ujung sebelah pintu utama.
“Kok jadi bengong gitu? Ayo duduk sini” katanya sambil menepuk-nepuk sofa panjang di ruang itu.
Aku berjalan dengan perlahan dan duduk pada sofa single yang terletak di sebelah sofa panjang.
Bersambung…
__ADS_1
...Hai teman-teman dukung aku terus ya,...
...Terima kasih buat yang sudah dukung 😘...